Selasa, 19 Oktober 2021

Numberred Heads Together (NHT) Sebuah Alternatif Model Pembelajaran di Masa PTM


Oleh : Atjih Koerniasih, S.Pd

Guru SMP Negeri 1 Cipanas-Cianjur 


Tulisan ini lahir dan terinspirasi saat penulis mengamati seorang rekan sesama guru  mata pelajaran mengajar. Ita Suwarmita. Model Numberred Heads Together (NHT) sebagai model pembelajaran pilihannya.

Apa yang menarik sehingga penulis  terinspirasi untuk menuangkannya dalam tulisan?. Padahal saya yakin sebahagian besar guru, termasuk penulis  sudah  mengenal model tersebut. Mungkin saja sudah sering atau minimal pernah menerapkannya.

Jawabannya adalah,  karena NHT yang digunakan pada saat dan waktu yang berbeda dengan biasanya. Maksudnya model ini digunakan saat pemberlakuan Pembelajaran Tatap Muka (PTM)  terbatas saat  Pandemi Covid -19 mulai melandai. Saat siswa kembali ke sekolah setelah kurang lebih satu setengah tahun belajar dari rumah. Baik dalam jaringan (Daring) maupun di luar jaringan (Luring)  Sebuah pembelajaran yang memiliki banyak keterbatasan. 

Kerbatasan disini dalam hal jumlah siswa, waktu, materi maupun dalam keterbatasan berinteraksi antar siswa di sekolah maupun di kelas. Kesemuanya diatur dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam rangka protokol kesehatan untuk mencegah adanya penularan covid -19

Saat guru dan peserta didik harus melaksanakan protokol kesehatan,  salah satunya di antaranya  tidak boleh berkerumun,di sisi lain juga guru sebgai fasilitator harus mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mengembangkan kecakapan abad 21. Berpikir tingkat tinggi, memiliki kreatifitas, berkomunikasi dan berkolaborasi dalam mencari, menemukan, dan mengolah sebuah informasi dalam rangka memecahkan masalah (Problem Solving)

Muncul permasalahan, model pembelajaran yang bagaimana yang dapat kita gunakan dalam upaya  meningkatkan kompetensi abad 21 tersebut  dan sekaligus menantang dan menyenangkan  sedangkan di saat   yang sama tetap dalam prosesnya tidalk melanggar protokol kesehatan ?. 

Mengapa pertanyaan ini muncul?. Karena  berdasarkan pengalaman proses pembelajaran yang memiliki karakteristik seperti di atas biasanya tidak lepas dari berkerumun, berdialog dan bekerja sama. Hal mana tentunya  bertentangan dengan aturan PTM itu sendiri. Akhirnya muncul sebuah keadaan kelas yang kaku. 

 Coba saja kita perhatikan saat PTM. Peserta didik duduk sendiri, agak jauh. Ini artinya sama saja peserta didik tidak boleh berdekatan. Berkerumun. Al hasil yang terjadi proses interaksi hanya dua arah. Guru dan siswa. Hal ini terlihat pada awal awal proses pembelajaran tatap muka terbatas. Fenome siswa banyak diam,  takut berbicara, ditanya diam hal yang sering terjadi. Akibatnya bisa kita bayangkan. Sebuah kelas yang sepi, kurang bergairah, dan kurang menantang. Mungkin saja dikarenakan siswa juga harus beradaptasi kembali dengan belajara secara tatap muka. Apalagi bagi kelas delapan dan kelas tujuh. Belajar di kelas sebuah pengalaman baru tentunya.  

Fenomena tersebut tentunya harus dicari solusinya. Guru sebisa mungkin harus merancang model apa yang bisa digunakan. Model yang mampu membuat kelas bergairah, menantang penuh kreatif, penuh komunikasi tetapi tetap patuh pada protokol kesehatan. 

Pertanyaan penulis  tersebut terjawab saat penulis mengamati  Bu Ita Suwarmita. Beliau menggunakan model NHT untuk membahas materi Benua/negara Australia yang oleh beliau dikatakan Game kepada peserta didik. Tentunya sebutan itu untuk menimbulkan motivasi, gairah, rasa ingin tahu mereka. Terbukti saat Bu Ita mengatakan game saja penulis melihat reaksi mereka penuh rasa ingin tahu serta terlihat gembira. Saya jadi teringat “kalimat sakti”  dari Booby de porter yang bunyinya “masuki dunia mereka, dan antarkan dunia kita kepada mereka” Ya Games bagi mereka adalah dunianya. Bu Ita telah memasuki dunia mereka untuk masuk dan mengantarkan pelajaran. 

Bu Ita dalam awal kegiatan inti mengawali nya dengan memaparkan secara garis besar materi. Untuk memunculkan rasa ingin tahu peserta didik. Kemudian anggota kelas di bagi kelompok. Karena membahas Benua Australia maka Bu Ita menamai kelompok sesuai nama nama kota di Australia. Tentunya menamai seperti itu dengan maksud agar peserta didik minimal hapal kota kota tersebut. Sebuah trik  hapalan yang menurut hemat penulis jitu efektif. 

Kemudian menentukan peserta didik masuk ke kelompok mana. Setiap peserta didik oleh beliau  diberi nomor kepala. (Nomor untuk panggilannya) seperti si A Brisbane 1 artinya masuk kelompok Brisbane anggota nomor 1  begitu seterusnya. 

Setelah menentukan nomor kepala beliau membagikan sobekan kertas soal yang olehnya  disebut "surat cinta". Sobekan kertas beirisi beberapa nomor soal yang harus dicari, ditemukan dan diolah jawabannya. Peserta didik dipersilahkan untuk mencari, menemuksnnya baik secara literasi baca maupun literasi secara digital. 

Setelah dianggap cukup proses mencari, menemukan dan mengolah maka langkah berikutnya mengkomunikasikan. Beliau setelah memaparkan aturan main gamenya,  memerintahkan peserta untuk.menutup buku paket maupun HP. Terlihat suasana kelas sedikit tegang. Hal tersebut wajar karena mereka menduga duga siapa yang akan dipanggil dan tidak dipanggil nama tetapi nomor kepala yang sudah ditentukan. Contoh Brisbane 2.1 artinya kelompok Brisbane nomor kepala 2 soal nomor 1 yang harus dijawab. 


Sesi Game NHT peserta didik betul betul harus fokus. Fokus akan nama kelompoknya, fokus nomor kepalanya dan fokus akan jawaban dari tiap tiap nomor soal. Ini lah yang menurut hemat penulis peserta didik sedikit agak tegang, sehingga saat ada seorang peserta yang dipanggil bukan untuk menjawab tetapi membantu beliau suasana riuh terjadi. "Yaaaa ibu ...mah

Tegang, menyenangkan, rame itulah yang penulis dengar saat mereka refleksi. Proses setelah kegiatan “merayakan dan mengapresiasi peserta didik”. Salah satu konsep TANDUR yang dikemukakan eh Bobby  the porter dalam bukunya Quantum Teaching. Yang kemudian ditutup oleh Bu Ita dengan penguatan agar tidak terjadi kesalahan konsep.

Setelah penulis amati dan menyaksikan rekan kerja menggunakan model NHT model ini rasanya  cocok dalam PTM karena tetap prokes tetapi kelas menjadi bergairah menyenangkan dan menantang. Walaupun kecakapan bekerjasama masih belum terlihat. Karena memang adanya aturan tidak boleh berkerumun. Namun setidaknya sebuah usaha untuk menjadikan kelas bergairah, menyenangkan telah terjadi. Sebuah kondisi kelas yang sangat, sangat dirindukan oleh peserta didik. Semoga saja pembelajaran tatap muka secara normal kembali terwujud. Bersamaan dengan meredanya pandemi covid -19. Insya Allah