Selasa, 30 Juli 2019

Metode Ular Tangga dari Tanah Jambi



Oleh
Junrotun(SMPN 13 Muaro Jambi)


Jika pengalaman adalah salah satu guru yang terbaik, maka menjadi seorang guru adalah salah satu pengalaman yang terbaik

Menjadi guru adalah profesi dengan panggilan jiwa. Jiwa yang siap dengan kerepotan administrasi dan permasalahan semua siswa. Walau begitu menjadi guru kita akan menjadi kaya pengalaman yang berharga. Setiap hari berinteraksi dengan siswa yang memiliki latar belakang yang berbeda.  Ada siswa yang cerdas dalam pengetahuan, tetapi ketika berhadapan dengan mapel olahraga seperti bola besi yang dilempar ke air. Tenggalam, kaku dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sebaliknya ada siswa yang sangat menyukai olah raga dan menggemari kegiatan fisik di lapangan, tetapi untuk duduk di kelas agar bisa belajar dengan tertib seperti cacing kepanasan. Ada juga yang hanya tertarik dengan angka ketika berhadapan dengan mapel IPS, dahinya berkerut kebingungan. Bermacam-macam karakteristik anak, bermacam pula cara kita menghadapinya.
Saya adalah seorang guru IPS di SMPN 13 Muaro jambi. Sekolah yang berjarak  sekira 2 jam perjalanan ke ibukota provinsi Jambi dan berjarak  sekira 3 jam dari ibukota kabupaten Muaro Jambi. Ini bukan salah tulis, memang beginilah kondisi kami. Saya tidak akan bercerita tentang jarak, karena saya akan bercerita tentang pengalaman menjadi guru IPS.
IPS terkenal dengan mapel “hapalan”, membuat mengantuk, membosankan. Sebagian siswa saya dulu beranggapan begitu. Untuk merubah stigma tersebut, saya berusaha menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Setelah saya melakukan sedikit riset ditemukan fakta bahwa ternyata siswa-siswa lebih menyukai pembelajaran yang diselipi dengan permainan.
Saya melakukan permainan ular tangga untuk materi Hindu Budha dikelas VII A yang terdiri dari 26 siswa. Kegiatan pembuka sama seperti pembelajaran lainnya. Rupanya ada 1 orang siswa yang tidak masuk karena sakit. Kegiatan inti berlangsung dengan tahap eksplorasi. Pada tahap eksplorasi berjalan seperti biasa, siswa bekerja dalam kelompoknya untuk menyelesaikan LKS. Tahap yang menarik adalah saat bermain ular tangga. Mereka sudah familiar dengan permainan ular tangga, tangga untuk naik dan ular untuk turun. Mereka duduk dalam kelompok yang terdiri 5 orang dan mengocok dadu untuk menentukan giliran. Berbeda dengan ular tangga biasa, setelah mereka mengocok dadu untuk menjalankan poin mereka harus mengambil kartu soal dan menjawab pertanyaannya. Kemudian di cocokkan dengan kartu jawaban, jika benar mendapat poin 100 dan jika salah poinnya berkurang 50. Poin dituliskan dalam lembar nilai yang sudah disiapkan.
Untuk lebih memeriahkan suasana, di antara kartu soal diselipkan kartu bonus dan kartu denda. kartu bonus isinya adalah bonus poin 100, sedangkan kartu denda isinya adalah hukuman yang harus dilakukan siswa. Misalnya menyanyikan lagu wajib di depan kelas, memungut 5 sampah dan lain-lain. Kelas pun menjadi sangat heboh dan riuh. Ada yang histeris karena jawabannya salah sehingga poinnya berkurang, ada juga yang melompat kegirangan karena jawabannya tepat. Di depan kelas ada siswa yang malu-malu menyanyikan lagu Padamu negeri, sedangkan di luar kelas ada siswa yang menggerutu karena mendapat kartu denda mengambil 5 sampah. Beberapa siswa berteriak kecewa saat dadu mereka berhenti di ular yang menandakan mereka harus turun. Dinamika ekspresi yang sangat menyenangkan untuk dilihat. Walaupun tak jarang guru di kelas sebelah mampir untuk melihat apa yang terjadi di kelas tersebut.
Kejadian kurang menyenangkan adalah saat kelompok  terlibat adu mulut. Dua siswa berbeda pendapat tentang angka pada dadu. Keduanya bersikeras pendapat mereka adalah yang benar. Guru mengambil keputusan untuk mengulang pengocokan dadu dan meminta siswa yang lain agar mengkuti permainan dengan lebih cermat agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi. Seperti anak-anak yang lain, mereka pun dengan cepat melupakan perselisihan tersebut. Permainan pun dilanjutkan sampai selesai. Pemenang di dapat dari setiap kelompok. Senyum manis terpancar dari raut para juara ketika mereka di panggil ke depan kelas. Mereka mendapat bingkisan kecil yang sudah dipersiapkan guru sebelumnya. Bingkisan yang tak berharga namun tetap membuat bangga. Waktu dua jam pelajaran berlangsung dengan singkat.
Ketika permainan berlangsung, peran guru hanya memantau jalannya permainan agar berlangsung dengan lancar. Sesekali guru mengingatkan siswa agar tidak bersuara terlalu lantang ketika mengekpresikan perasaannya. Sebagai guru tidak jarang saya ikut tertawa melihat tingkah konyol mereka. Kebahagiaan kecil yang didapat seorang guru adalah saat muri-siswanya tersenyum senang saat belajar. Kebahagiaan lebih besar saat mereka bertanya “Bu, besok kita main lagi, ya?” InshaAllah di waktu akan datang akan dicoba berbagai jenis permainan menarik lainnya.
Pernah suatu kali ada yang bertanya”motivasi apa yang bisa membuat guru agar selalu semangat mengajar “? Jawaban dari seseorang yang ditanya, memberikan jawaban berupa pertanyaan kembali, namun tak membutuhkan jawaban. “ketika bertahun-tahun lamanya telah berlalu dan ada siswa yang selalu ingat akan apa yang telah gurunya lakukan, dan ajarkan untuk kebaikan, lalu motivasi apa lagi yang dibutuhkan oleh seorang guru ?” Semoga kita semua menjadi guru yang bisa dirindukan, menginspirasi dan selalu memotivasi siswa-siswa.


Senin, 29 Juli 2019

Materi Unit Pembelajaran PKB Melalui PKP Berbasis Zonasi Jenjang SD dan SMP Semua Mata Pelajaran


Tujuan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) Melalui Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) Berbasis Zonasi adalah meningkatkan kompetensi siswa melalui pembinaan guru dalam merencanakan, melaksanakan sampai dengan mengevaluasi pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS).

Selengkapnya Berikut kami bagikan Pedoman Program PKB Melalui PKP Berbasis Zonasi 2019 Dan Materi Unit Pembelajaran Untuk SD dan SMP Melalui Link dibawah ini :

- Pedoman Program PKP : http://bit.ly/PedomanPKP2019
- Materi Unit Pembelajaran SD : http://bit.ly/PKPSD2019
- Materi Unit Pembelajaran SMP : http://bit.ly/PKPSMP201

Untuk Unit Pembelajaran SMP sila unduh pada link mata pelajaran di bawah ini. Unit Pembelajaran SMP ini memberikan bahasan dan contoh pembelajaran dalam sebuah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Aktifitas ini melibatkan peserta didik dengan menggunakan model-model pembelajaran yang bervariasi dan mengacu pada Pembelajaran berorientasi HOTS, untuk mencapai keterampilan abad 21 dalam muatan pelajaran SMP Sbb :

1⃣ Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS)
http://bit.ly/PKPSMP2019

2⃣ Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
http://bit.ly/PKPSMP2019

3⃣ Matematika
http://bit.ly/PKPSMP2019

4⃣ Bahasa Indonesia
http://bit.ly/PKPSMP2019

5⃣ Bahasa Inggris
http://bit.ly/PKPSMP2019

6⃣ Bimbingan Konseling
http://bit.ly/PKPSMP2019

7⃣ Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan ( PPKn)
http://bit.ly/PKPSMP2019

8⃣ Seni Budaya ( SBdP)
http://bit.ly/PKPSMP2019

9⃣ Pendidikan Jasmani , Olahraga dan Kesehatan ( PJOK)
http://bit.ly/PKPSMP2019

🔟 Informatika
http://bit.ly/PKPSMP2019

Sila buka juga https://www.datadikdasmen.com/2019/07/unit-pembelajaran-pkb-melalui-pkp_28.html
Semoga Bermanfaat , Silakan Bagikan.

Minggu, 28 Juli 2019

SENI MEMBELAJARKAN SISWA



Oleh :
Dewi Ratna K Surya, M.Pd

(SMPN 4 Kota Cimahi-Jabar)

Tujuan pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan Jasmani dan rohani, memiliki kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Apabila kita mencermati isi dari tujuan pendidikan Nasional, maka alangkah beratnya amanat yang dibebankan pada guru, dengan tuntutan untuk menciptakan anak-anak bangsa yang sempurna. Sementara guru adalah manusia biasa dengan segala kelemahan dan keterbatasannya. Walau demikian itu bukan merupakan alasan yang menjadikan guru pesimis dalam mewujudkan cita-cita mulia seperti yang telah tercantum dalam tujuan  pendidikan nasional. Ini merupakan tantangan yang harus dihadapi. Bagaimana tidak, guru yang nota bene adalah generasi X harus berhadapan, membimbing, mengarahkan, dan mengajar  generasi Z. yang hidup ditengah kemajuan Ilmu Pengetahuan, teknologi dan  informasi yang begitu pesat, membuat guru harus berlari dalam mengimbangi pola kehidupan generasi zaman ini.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya agar output pendidikan kita dapat menyesuaikan dengan persaingan global yang sekarang tengah kita alami. Dimulai dari penyempurnaan kurikulum yang menitik beratkan kompetensi siswa pada pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Selain itu, peningkatan kualitas guru yang terus dilakukan, agar dapat menunjang dan mengimbangi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari upaya-upaya tersebut sebenarnya guru patut berbangga diri, karena ketercapaian semua tujuan ini bertumpu pada guru yang berada di garda terdepan baik secara teknis ataupun  non teknis. Secara teknis guru harus mampu membelajarkan siswa melalui proses belajar mengajar yang dilakukannya, sedangkan  non teknis selain dalam bidang administrasi, guru diharuskan memiliki kemampuan dalam menyusun dan mengembangkan strategi dalam mendukung kegiatan belajar mengajar.
Mengutip pendapat Robert M Smith (Sudjana : 2000) dalam bukunya Learning How to Learn menjelaskan bahwa belajar berarti :
a.        Transformasi yang terjadi dalam pemikiran manusia dan upaya pemecahan masalah.
b.       Proses yang terjadi dalam diri manusia yang menyebabkan terjadinya perubahan perilaku.
c.   Pembinaan dan pertukaran keterkaitan antar pemikiran manusia dan antar pengertian yang bermakna.
d.      Perubahan disposisi atau kemampuan yang diperoleh manusia, bukan karena pertumbuhan fisik.
e.       Proses perubahan pemaham, pandangan, harapan atau pola pikir.

Berdasarkan pada pendapat Robert M Smith di atas, dapat dilihat dengan jelas bahwa belajar itu suatu proses agar manusia dapat berubah atau bertransformasi baik dalam hal intelektual, keterampilan, dan karaternya.  Semua itu tidak terlepas dari adanya  bimbingan dan pembinaan dari guru, sehingga walaupun lahirnya paradigma baru dalam proses pembelajaran berupa student center akan tetapi peran guru tidak dapat diabaikan begitu saja dalam proses pembelajaran, ditambah lagi dengan karakter siswa saat ini yang bisa dikategorikan sebagai generasi Internet maka pengetahuan merupakan hal yang sangat mudah untuk diakses tetapi mereka masih menyadari pentingnya guru untuk memberikan motivasi  sehingga guru harus dapat menciptakan suasana belajar sedemkian rupa dan dapat memberikan kesan yang bermakna dalam diri siswa.
       Mengajar adalah seni, di mana guru harus mengkolaborasikan antara teknik dan strategi mengajar dengan rasa dan karsa yang di dimiliki dalam dirinya , sehingga terjadi harmonisasi antara keduanya. Dari Kondisi ini pada akhirnya akan  melahirkan emosi yang saling mempengaruhi antara guru dan siswa. Dengan melibatkan emosi inilah maka keterikatan antara guru dan siswa akan terjalin. Untuk  mengarahkan dan membibing siswa dalam mencapai kompetensi yang diharapkan. Emosi ini akan berperan sebagai pendorong  siswa dan guru untuk menciptakan suasana belajar yang bermakna. Apabila kesan bermakna telah didapatkan melalui pembelajaran yang aktif dan kreatif  maka hal ini akan sangat mendukung terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran.
Berdasarkan pada pandangan di atas, penulis memiliki keyakinan bahwa membelajarkan siswa merupakan seni yang yang bisa dikembangkan oleh guru dengan cara menggali, mendalami, memahami emosi yang dimiliki oleh siswa. Dengan kata lain guru harus memiliki keingan yang kuat dan ikhlas untuk membentuk siswa yang cerdas secara intelektual, sosial dan emosional.  Untuk mencapai itu semua diperlukannya frekuensi yang sama antara guru dan siswa. Dalam menselaraskan frekuensi ini yang siswa butuhkan adalah motivasi.
Untuk memberikan motivasi pada setiap siswa tentu memerlukan cara dan strategi yang berbeda sehingga guru  juga harus mampu mendalami emosi siswa. Cara yang dapat kita lakukan untuk mendalami emosi siswa guru harus mengikuti dan masuk kedalam dunia siswa, guru memberikan kebebasan tetapi dengan menggunakan rambu – rambu yang jelas dan mengikat. Dengan cara ini kemungkinan akan melahirkan kepercayaan siswa, seningga guru tidak dianggap sebagai sosok yang menakutkan tetapi dijadikan sebagai figur yang patut di gugu dan ditiru. Untuk meraih kepercayaan ini sikap dan karakter guru itu sendiri menjadi hal yang sangat penting. Dari semua langkah ditas, modal utama yang harus diiliki oleh guru adalah fikiran positif karena apa yang kita pikirkan hal itu yang akan terjadi. Jadi dengan berfikir positif terhadap keberhasilan  siswa maka keberhasilan yang sesungguhnya akan terjadi pada siswa.
Apabila kita telah berusaha melakukan langkah – langkah di atas, berati kita sebagai guru telah mendukung semboyan pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hjar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sungtulodo, Ing Madyo mangun Karso, Tut Wuri Handaayani yang berati di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat dan di belakang memberi dorongan.
Semoga dengan langkah ini kita dapat mewujudkan cita – cita mulia sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional.

Sabtu, 27 Juli 2019

PW FKGIPS PGRI KALIMANTAN TIMUR MENGGELAR SEMNAS DAN WORKSHOP PEMANFAATAN TIK

Kaltim.Socius Media, 27/7. Sabtu 27 Juli 2019 bertempat di Gedung Ruhul Rahayu Kantor Gubernur Kalimantan Timur sebanyak 229 Guru se-Kalimantan Timur mengikuti kegiatan Seminar Nasional dan Workshop "Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran di Era Milenial".  

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Forum Komunikasi Guru IPS Nasional PGRI (FKG IPS PGRI Wilayah Kalimantan Timur) bekerjasama dengan Provinsi Kalimantan Timur menghadirkan narasumber: H. Hadi Mulyadi, S.Si., M.Si. (Wakil Gubernur Kalimantan Timur), H. Djoko Iriandono, SE., MA. (Wakil Ketua PGRI Kalimantan Timur) dan Wijaya, S.Pd., M.Pd. (Ketua Umum PP FKG IPS Nasional PGRI).

Kegiatan yang menerapkan pola In-on yang dilanjutkan dengan pembelajaran melalui media daring selama 10 hari kedepan.

Dalam kesempatan ini Hadi Mulyadi menyampaikan bahwa tugas guru bukan hanya mengajar akan tetapi lebih utama adalah mendidik, tepatnya mendidik dengan cinta. Selalu mengupdate dan meng-upgrade Kompetensi terlebih dalam pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran yang akhirnya mampu melahirkan generasi emas sebagai bonus demografi 2045. 

Berbeda dengan Hadi, narasumber kedua, Djoko menyampaikan materi terkait dengan tugas pokok dan fungsi guru termasuk beban kerja dan penilaian angka kredit. Guru perlu menerapkan pembelajaran yang mampu mengasah dan membentuk kemampuan 4K sebagai tantangan Pembelajaran abad 21. Sembari memutar video singkat Gubernur DKI mengenai pentingnya membentuk akhlak, kemampuan berfikir kritis dan literasi. 

Sesi akhir dilanjutkan dengan workshop pemanfaatan HP sebagai sumber, media dan gawai Penilaian Pembelajaran oleh Wijaya. Peserta dengan antusias mempraktekkan materi yang bertalian dengan pemanfaatan Smartphone berbasis Android untuk penilaian. Acara yang dimulai dari jam 8 dan berakhir jam 17 ditutup dengan quiz online dengan reward bagi peserta yang meraih nilai tertinggi. 








Selasa, 23 Juli 2019

KOMODITAS POLITIK ITU BERNAMA MUSLIM UIGHUR

Hasil gambar untuk UIGHUR
tirto.id

oleh : Yanuar Iwan.

SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jawa Barat

"Yang Lebih Penting Dari Politik Adalah Kemanusiaan" ( Gus Dur )

Sepekan yang lalu, 22 negara barat mengeluarkan pernyataan bersama yang ditujukan kepada Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, mereka mengkritik Beijing atas "penahanan dalam skala besar dan larangan serta pengawasan berlebihan" terhadap Muslim Uighur.

Sehari berselang, 37 negara menyatakan pembelaan terhadap Beijing dan membantah laporan mengenai penahanan sewenang-wenang lebih dari dua juta Muslim Uighur diXinjiang.

Yang membuat miris dan sekaligus ironis beberapa negara dengan mayoritas penduduk  Muslim seperti Pakistan, Qatar, Suriah, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi  dengan gagah berani membela Beijing "Dihadapkan pada tantangan besar terorisme dan  ekstrimisme, China sudah mengambil serangkaian upaya kontra - terorisme dan deradikalisasi di Xinjiang, termasuk membangun pusat pelatihan dan edukasi vokasi." Demikian bunyi surat tersebut seperti dilansir Reuters.
Dilain sisi banyak laporan-laporan mengenai pelanggaran HAM yang dibuat oleh pelarian Muslim Uighur dinegara-negara penerima mereka mengaku dipaksa menanggalkan Islam dan berjanji setia kepada pemerintah Partai Komunis China. Lantas mengapa beberapa negara yang penduduknya mayoritas Muslim justru mendukung kebijakan China terhadap Muslim Uighur ?  Masalah Muslim Uighur adalah masalah dengan ongkos politik yang besar, dalam dua dekade terakhir China sudah menjelma menjadi raksasa ekonomi dunia, menjadi negara pemberi pinjaman terbesar didunia China memiliki konsorsium-konsorsium besar di  Timur Tengah dilansir dari The Economist, proyek terbesar Timur Tengah saat ini menggunakan uang China. Konsorsium China ingin berinvestasi sekitar 10 milyard dollar AS untuk membangun zona industri seluas 1000 hektare di Oman, tahun lalu China memberi pinjaman dan hibah kenegara-negara Arab sebesar 23 Milyard dollar AS, mereka juga menandatangani kontrak investasi dan kesepakatan konstruksi sebesar 28 milyard dollar AS dikawasan tersebut. Negara-negara Timur Tengah menganggap kehadiran investasi China sangatlah penting untuk memajukan dan mengembangkan ekonomi mereka diluar minyak dan gas bumi yang sewaktu-waktu bisa habis. Jadi mengutak-atik masalah HAM China menjadi sangat sensitif dan tidaklah terlalu penting. Negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim tersebut lebih mengutamakan kepentingan nasionalnya dibandingkan dengan solidaritas dunia Islam.

Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Qatar tiga negara muslim terkaya diTimur Tengah mendukung China karena mereka terbelenggu oleh persoalan HAM, masalah pembunuhan jurnalis Jamal Khasogi menjadi isu politik panas dinegara-negara barat.

Amerika Serikat menggunakan isu HAM muslim Uighur untuk meningkatkan daya tawar politik dan ekonominya terhadap China dan negara-negara dikawasan Timur Tengah. Dengan menerima perwakilan Muslim Uighur digedung putih pekan lalu, membuat Beijing khawatir adanya peningkatan sentimen anti China dinegara-negara Muslim khususnya di Timur Tengah, walaupun pemerintahnya mendukung kebijakan China atas Muslim Uighur, pertanyaan politiknya menjadi seperti ini Trump yang kebijakan politiknya sering kali memarginalkan kaum Muslim, malah mendukung Muslim Uighur, lantas mengapa pemimpin-pemimpin Muslim di Timur Tengah malah mendukung China di tengah isu pelanggaran HAM di  Xinjiang. Hal ini bisa memicu konflik baru di Timur Tengah, jika terjadi konflik baru AS yang diuntungkan melalui perdagangan senjata bukan rahasia lagi Timur Tengah dan negara-negara Arab sangat tergantung dengan pasokan senjata dari AS, China secara militer belum bisa menandingi kehandalan dan kepraktisan persenjataan buatan AS. Masalah isu HAM Muslim Uighur bisa dijadikan alat peringatan kepada negara-negara Arab bahwa jangan berpaling dari AS. Sedangkan untuk China AS bisa meningkatkan daya tawarnya terhadap perang dagang dengan China, oleh karena itu bisa kita pahami mengapa hingga hari ini AS belum mengeluarkan sikap resminya terkait masalah isu HAM Muslim Uighur di Xinjiang tentunya bisa dihubungkan dengan daya tawar tadi.

Indonesia bersikap abstain dalam masalah Muslim Uighur dalam arti tidak mengecam dan tidak mendukung China. Indonesia bukan negara yang lazim mengeluarkan pernyataan bersama. "Namun disisi lain membela posisi kita selama ini dalam konteks pembahasan HAM atau resolusi kita sangat tidak nyaman dengan yang sifatnya menuding suatu negara." ( juru bicara  Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah )

Bagaimanakah nasib Muslim Uighur di Xinjiang kita hanya bisa merasakan sakitnya  tubuh mereka dari kejauhan apabila mereka disakiti diiringi dengan doa dan harapan. Karena negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim sudah terjebak kedalam kepentingan masing-masing.

Cipanas, 23 Juli 19. Di Perpustakaan SMPN 1 Cipanas.

Minggu, 21 Juli 2019

APA PENTINGNYA KITA BERSEKOLAH


oleh : Kiki Kurniati Rizki, SPd, 

Guru IPS SMP Al-Halim Garut Jawa Barat


Dulu tidak terbayang akan menjadi seorang guru. Cita-cita saya waktu kecil adalah memiliki ruko dan menjadi pedagang yang sukses. Bahkan sempat terpikir apakah penting bagi perempuan untuk sekolah  tinggi-tinggi, toh pada akhirnya dia akan menikah dan mengurus anak-anak di rumah. Bahkan banyak orang bilang bahwa perempuan itu ujung ujungnya dapur dan kasur.
Namun ibu begitu membesarkan hati saya. Beliau mengatakan bahwa warisan terbaik yang akan beliau berikan adalah pendidikan. Akhirnya setelah lulus SMA, saya dan kakak perempuan saya yang tahun sebelumnya sakit mencoba mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) di tahun yang sama. Atas ijin Alloh kami sama sama diterima di Universitas Pendidikan Negeri yang ada di Bandung.
Pertama masuk kampus, semua mahasiswa baru harus menjalani Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK). Tugas-tugas yang nyeleneh, mulai dari pakaian dengan pernak-pernik yang tak biasa, membawa benda benda dengan sebutan yang aneh, sampai dikejar dikejar deadline tugas-tugas dari senior membuat saya sempat kelelahan. Untunglah ibu yang mendampingi kami selama masa orientasi selalu memberi motivasi bahwa semua pasti terlalui. Setelah masa OSPEK selesai, kegiatan itu justru meninggalkan segudang cerita yang selalu menggelitik dan membuat saya  dan teman teman tertawa jika mengenang masa masa itu. Saya menyadari bahwa kesulitan itu memang penting diberikan sepanjang sesuai dengan porsinya, karena dengan kesulitan itu akan menumbuhkan daya juang dan sikap menghargai sesuatu yang tidak kita dapat dengan mudah.
Awal masa-masa kuliah, saya sempat aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa. Saya bertemu dengan banyak senior yang memiliki wawasan dan keilmuan yang lebih banyak. Saya mulai mengikuti kajian-kajian keIslaman di lingkungan kampus. Hal inilah yang membuat wawasan keagamaan saya semakin bertambah. Semua itu membuat saya semakin mantap dalam menjalankan agama dan membuat saya semakin marasa haus untuk terus menggali ilmu agama.
Setelah saya lulus, saya pernah mencoba mengajar di beberapa tingkatan pendidikan mulai dari SD sampai SMK. Pengalaman itu membuat saya belajar mengenal dan memahami karakter peserta didik dalam berbagai tingkatan usia. Tentu saja perjalanan mengajar itu tidaklah mudah, namun memberikan saya pelajaran berharga bahwa modal menjadi guru itu bukan hanya sekedar cerdas tapi memiliki kematangan emosi untuk bersabar, mau mendengar dan belajar mengerti.
Sekarang saya sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Dan nilai-nilai hidup yang saya dapat dari pengalaman hidup yang saya lalui, menjadi sesuatu yang begitu berharga sebagai modal untuk mengarungi bahtera rumah tangga dan mendidik anak-anak. Kini saya sudah mendapatkan jawaban, apakah pentingnya kita sebagai perempuan bersekolah. Bahwa dengan bersekolah, kita bukan sekedar mengejar gelar dan orientasi untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan, lebih dari itu dengan bersekolah seseorang menemukan lingkungan pergaulan dan proses hidup yang memungkinkannya merubah cara berpikir, bersikap, dan berperilaku sehingga menjadi pribadi yang lebih baik.
Ditulis oleh : Kiki Kurniati Rizki, SPd, guru SMP Al-Halim Garut Jawa Barat, Peserta pelatihan online Guru IPS Menulis angkatan 2 Kelas C FKGIPS PGRI.
Jum’at, 12 April 2019


Potret Suram Moral Anak Bangsa



oleh : Dewi Ratna KS

SMPN 4 Kota Cimahi-Jawa Barat 


Bercermin dari kasus Audrey siswa SMP di pontianak yang dikeroyok dan dianiaya oleh 12 orang siswa SMA merupakan suatu protret ketidakberhasilan pendidikan karakter yang beberapa tahun terakhir ini digembar gemborkan, betapa tidak sekelompok siswi SMA yang berusia 17 tahun yang dalam keseharian mereka seharusnya lebih banyak dihabiskan di sekolah memiliki sikap yang brutal dan tidak memiliki rasa perikemanusiaan, hanya karena urusan asmara mereka tega melakukan kekerasan pada orang yang tidak ada hubungannya dengan masalah mereka sehingga mengakibatkan luka fisik dan psikis bahkan luka itu akan berbekas selama hidup kobannya dan lebih parah lagi setelah semua tindakan yang mereka lakukan dengan bangganya mereka berfoto tanpa ada rasa penyesalan.
Pendidikan karakter yang dikembangkan di indonesia berlandaskan pada etika, moral dan religius pada kenyataannya belum sampai pada tujuan yang ingin dicapai hal ini bukan saja terbukti pada kasus Audrey, tetapi banyak kasus kasus lain sebelumnya seperti penganiayaan siswa pada guru, perkelahian, pencurian bahkan pembunuhan dimana melibatkan siswa sebagai pelakunya. Ini menunjukan bahwa pada saat ini indonesia sedang mengalami krisis karakter, krisis moral yang sangat parah, lalu akan dibawa kemana negeri ini dengan potret generasi muda yang tidak beretika dan tidak bermoral.
Dalam masyarakat Indonesia yang memiliki nilai budaya luhur terkenal dengan tenggang rasa dan toleransi serta kehidupan yang religius sebetulnya sudah tersirat pilar pilar pendidikan karakter tersebut hanya tidak tersurat dalam suatu dokumen yang resmi, artinya adat istiadat di dalam setiap masyarakat indonesia telah mendidik dan mengarahkan manusia pada kehidupan yang baik ini terbukti pola pendidikan tradisional telah berhasil menciptakan bangsa indonesia yang berbudi luhur, memilikii etika dan moral yang baik serta taat menjalankan ajaran agamanya dan sekarang di era modern ini justru karakter bangsa bukan semakin kuat. 
Dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ditunjang pula oleh arus informasi yang semakin deras mengakibatkan perubahan yang cukup besar bagi bangsa indonesia, keberadaan budaya lain seolah menggeser nilai budaya asli hal ini menunjukan bahwa bangsa indonesia khususnya generasi muda secara mental tidak siap untuk menghadapi serangan global ini akhirnya bangsa kita menjadi bangsa yang goyah, hilang identitas karena pengaruh negatif dari luar lebih diminta membentuk kepribadian mereka.
Dari kondisi ini kiranya belum terlambat untuk diperbaiki banyak strategi yang dapat kita lakukan dalam mencegah dan menyelamatkan anak bangsa dari kondisi yang memprihatinkan ini, tindakan pemberian sanksi sangat tepat dilakukan untukemberikan efek jera pada pelaku tindakan brutal ini, apabila kita hanya berlindung di balik undang – undang  perlindungan anak tentunya tidak akan menyelesaikan masalah, langkah pertama undang – undang  harus dirubah bukan saja memuat konten perlindungan semata tetapi harus memuat sanksi juga bagi anak yang melakukan pelanggaran. Kemudian yang tidak kalah penting adalah peran orang tua dan guru. Pembentukan karakter utama seorang anak ada pada lingkungan keluarga dan guru sifatnya hanya mengarahkan karakter yang sudah terbentuk sebelumnya jadi jalan terbaik untuk memantau perkembangan anak adalah menjalin komunikasi antara orang tua, guru dan siswa itu sendiri kemudian kenali lingkungan tempat anak bergaul karena pergaulan juga akan membentuk karakter anak apabila anak bergaul dalam lingkungan yang baik maka akan terbentuk karakter baik dan sebaliknya apabila lingkungan tempat bergaulnya buruk maka akan terbentuk karakter yang buruk pula.


GURU-GURU IPS JATIM DILATIH PENULISAN JURNAL

Gresik. Socius Media. (21/7).  Universitas Negeri Surabaya (UNESA) bekerjasama dengan Pengurus Daerah FKGIPS PGRI Kabupaten Gresik dan MGMP IPS Kabupaten Gresik mengelar Workshop Penulisan Jurnal Internasional.

Workshop digelar pada Minggu, 21 Juli 2019 bertempat di Aula SMPN 2 Kebomas Gresik Jatim. Diikuti sekira 130 orang guru IPS yang berasal dari Gresik, Surabaya, Mojokerto, Kediri, Lamongan, Tuban, Pasuruan, Sragen, Bojonegoro, dan Bangkalan.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka Pengabdian Pada Masyarakat dosen Jurusan Pendidikan Sejarah, FISH UNESA tahun 2019. Tampil sebagai nara sumber antara lain Dr. Agus Supriyono, M.Si, Dr. Wisnu, dan Dr Thomas Aji . Peserta mendapat materi tentang Penelitian Tindakan Kelas sebagai Sumber Artikel Jurnal, Batang Tubuh Pengetahuan Artikel Jurnal Ilmiah, Batang Tubuh Pengetahuan Artikel Jurnal Ilmiah, Pemanfaatan Google Doc dan Grammarly dan Teknik Pengutipan Otomatis.

Dalam kesempatan tersebut Dr. Agus Supriyono, M.Si yang juga Pembina PW FKGIPS PGRI Jawa Timur menekankan pentingnya guru -guru untuk bisa membuat jurnal. Menurutnya hal ini terkait dengan salah satu syarat pengajuan kenaikan pangkat. Enang Cuhendi-Socius Media.

(Disusun berdasarkan reportase Endang Susilowati dari Gresik). 






KONSEP DAN PENDEKATAN GEOGRAFI (Acuan Khusus pada Pendekatan Keruangan)




Prof. Dr. H. Hadi Sabari Yunus, M.A; DRS.
Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
ABSTRAK
Makalah ini bertujuan untuk memberikan masukan kepada  para geografiwan, dalam rangka untuk memantapkan pemahamannya mengenai konsep dan pendekatan Geografi di satu sisi dan di sisi lain mengaitkannya dengan aplikasinya. Makalah ini dibuat atas dasar permintaan dari Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang dan masukan dari para alumni bahwa sejauh ini masih terdapat kegamangan pemahaman dari ilmu Geografi serta aplikasinya untuk mengupas sesuatu masalah.  Apabila hal ini berlangsung terus dikhawatirkan akan terjadi marginalisasi keilmuan baik dalam pengembangan ilmunya maupun dalam hal aplikasi untuk kepentingan pembangunan. Kecenderungan terjadinya marginalisasi Geografiwan telah disinyalir dalam waktu yang lama dan sampai saat ini hal tersebut masih saja terjadi, karena kurang mantapnya / solidnya pemahaman konsep dan pendekatan Geografi itu sendiri. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan karena mengakibatkan ”adverse negative impacts” yang tidak dikehendaki baik bagi perkembangan ilmu Geografi itu sendiri maupun peranan Geografiwan dalam pembangunan.  Untuk maksud mencapai ”reempowerment”, makalah ini melontarkan ide-ide praktis untuk menuju pemahaman Konsep dan Pendekatan Utama Geografi yang solid, karena di sinilah letak keunggulan komparatif dan kompetitif ilmu Geografi dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain.  Kemantapan partisipasi geografiwan sangat ditentukan oleh kemantapan pemahaman keilmuannya. Fitrah Geografi dengan Tiga Pendekatan Utama (spatial, ecological dan regional complex approach) merupakan substansi yang harus dijiwai oleh setiap geografiwan sehingga ”scientific dignity” ilmu ini tidak redup tetapi menjadi bercahaya kembali.. Hal ini bukan berarti menutup diri dari pengembangan ilmu pengetahuan dan keterkaitannya dengan ilmu lain, namun setiap adopsi pendekatan keilmuan dari ilmu lain harus selalu didasarkan pada jati diri Geografi itu sendiri sehingga marginalisasi peranan ilmu Geografi dan para geografiwan dalam pembangunan tidak termarginalisasi.  Berdasarkan permintaan, bagian kedua makalah ini menyoroti secara khusus mengenai  pendekatan keruangan (spatial approach) dan beberapa contoh terapannya dalam perspektif geografi. Walaupun demikian penyaji menghimbau para geografiwan juga memperdalam tentang ”ecological approach” dan ”regional complex approach” agar supaya pemahaman dan penjiwaan kegeografiannya menjadi solid.
PENDAHULUAN
Makalah ini bertujuan memberikan pengarahan pemahaman ilmu Geografi agar supaya para geografiwan memahami jati dirinya serta mampu mengaplikasikan pada semua obyek geosfer.  Sesorang geografiwan tidak akan mampu memantapkan peranannya dalam setiap program pembangunan kalau tidak mampu mengaplikasikan ilmunya dan hal ini tergantung pada pemahaman terhadap jati dirinya sebagai geografiwan.  Kemampuan apa yang dimilikinya dan tidak dimiliki oleh ilmuwan lainnya sehingga sumbangan pemikirannya benar-benar bermanfaat ditinjau dari segi keilmuan. Makalah ini bertujuan untuk memantapkan dan meluruskan arah perkembangan keilmuan Geografi yang disinyalir melenceng dari jati dirinya. Geografi merupakan ilmu yang sangat istimewa, karena sifatnyamulti-variate  dimana beberapa bidang kajian yang berbeda-beda dipelajari dan membentuk satu kesatuan ilmu yang solid.  Sifat inilah yang menguntungkan mereka yang mempelajari Geografi karena bidang kajian ini bersifat poly entry yang menguntungkan bagi mereka yang mempelajarinya karena memberikan peluang lebih banyak bagi mahasiswa Geografi untuk memperoleh pekerjaan. Lain halnya dengan ilmu-ilmu lain yang kebanyakan bersifat mono entry sehingga untuk memasuki bidang pekerjaan tertentu harus sejalan dan terbatas dengan bidang yang secara khusus dipelajarinya.
Di samping sifat multi-variate ini merupakan kekuatan bidang kajian Geografi, namun sifat ini pula yang dapat menjadi titik kelemahan utama bidang kajian Geografi apabila tidak mengetahui cara-cara  atau kiat-kiat mengatasinya.  Pada saat ini tidak banyak lulusan Geografi yang mempunyai posisi kardinal dalam berbagai program pembangunan.  Penyebab utamanya adalah tidak memahami sepenuhnya kajian Geografi dengan benar sehingga dalam berbagai kegiatan pembangunan tidak mampu berbicara atau berbuat banyak karena kurang penguasaan ilmunya.  Sifat multi-variate ini terkadang menjerumuskan seseorang menjadi merasa menguasai semua, atau merasa tidak menguasai semua.  Kedua macam persepsi ini sama-sama tidak menguntungkan.  Sifat merasa menguasai semua ilmu pengetahuan adalah sangat keliru, karena tidak ada satu orangpun di dunia yang akan mampu menguasai berbagai ilmu pengetahuan.  Sifat merasa tidak menguasai semua bidang kajian pendukung dalam Geografi juga tidak benar, karena akan mengakibatkan seseorang merasa rendah diri dan tidak mampu sehingga tidak banyak yang diperbuat dalam menyumbangkan ilmunya.
Paper ini bertujuan untuk menyadarkan para Geografiwan mengenali  keunggulan keilmuan dirinya dan membangkitkannya sehingga mampu berkiprah lebih banyak dan lebih mantap dalam setiap pembangunan berbasis wilayah di negeri ini  dan secara khusus akan menyoroti pendekatan keruangan.

DARI MARGINAL MENUJU KARDINAL
Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa ada kecenderungan marginalisasi Geografi dalam berbagai bidang, baik bidang pendidikan maupun pembangunan berbasis wilayah.  Dua penyebab marginalisasi dapat dikemukakan dalam paper ini yaitu penyebab eksternal dan penyebab internal. Penyebab eksternal terkait dengan anggapan / pendapat umum (public opinion) mengenai disiplin ilmu Geografi, sedangkan penyebab internal terkait dengan penguasaan keilmuannya. Marginalisasi eksternal terkait dengan pendapat umum yang telah berkembang dalam masyarakat dan hal ini tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan sistem pendidikan. Di bidang pendidikan, ditandai oleh munculnya pendapat bahwa ilmu Geografi dianggap tidak penting dan kurang berperanan dalam pembangunan dan hal ini berdampak pada kurikulum pendidikan di sekolah mulai dari tingkat sekolah dasar, menengah bahkan sampai dengan perguruan tinggi. Akibat nyata yang ada adalah munculnya pendapat umum mengenai kurang berperanannya ilmu Geografi di dalam pembangunan dan hal ini terbukti adanya kenyataan bahwa tidak banyak lembaga pemerintah maupun swasta yang secara luas mengumumkan kebutuhannya akan tenaga yang berkompeten di bidang Geografi. Kesalahan sistem pendidikan di tingkat sekolah mulai dari sekolah dasar sampai menengah yang kurang pas memberikan pengarahan pemahaman arti disiplin ilmu Geografi mengakibatkan kebanyakan orang tidak memahami secara benar akan arti Geografi sesungguhnya.  Geografi dianggap sebagai ilmu yang hanya menghafalkan nama-nama secara deskriptif, kualitatif, statis dan bukan ilmu yang bersifat analitis dinamis.  Adalah sangat ironis bahwa Indonesia yang mempunyai wilayah begitu luas, keragaman wilayah yang begitu bervariasi, sumber daya alam yang begitu kaya hanya mempunyai sedikit institusi pendidikan Geografi yang mampu menciptakan ahli-ahli pengembangan wilayah.  Ahli-ahli mana diharapkan mampu berkiprah secara nyata dalam merumuskan tata ruang dan tata wilayah yang mampu mengantarkan pembangunan negara ini ke pembangunan regional yang sustainable. 
Secara internal, penyebab marginalisasi dipicu oleh dua penyebab yaitu yang pertamakarena adanya kecenderungan spesialisasi yang makin tajam serta yang kedua adanya adopsi pendekatan dari berbagai bidang kajian lain yang tidak berbasis wilayah ke dalam ilmu Geografi.  Ke duanya mengakibatkan menjauhnya para geografiwan dari sifat hakiki Geografi sebagai ilmu yang mempunyai ciri khusus. Akibatnya adalah menjauhnya para ”geografiwan” dari sifat fitrah Geografi dan memudarnya pemahaman ilmu Geografi secara utuh sebagai suatu entitas keilmuan.   Makalah ini lebih ditekankan pada upaya mengatasi sebab-sebab internal, karena dapat secara langsung dilaksanakan dan hal ini merupakan problematik mendesak yang perlu segera mendapat perhatian khusus.  Sementara itu upaya mengatasi penyebab eksternal lebih terkait dengan kebijakan politik dalam jangka yang lebih panjang dan untuk itu perlu pemikiran yang matang untuk bertindak dan hal ini akan menjadi bahan diskusi menarik dalam rangka menyusun strategi kebijakan jangka panjang pada kesempatan lain.

Adopsi pendekatan keilmuan dari disiplin di luar Geografi:
Adopsi pendekatan ilmu-ilmu sosial lain telah memunculkan berbagai kajian yang melabelkan dirinya sebagai pendekatan Geografi  dan tidak jarang para geografiwan telah masuk terlalu jauh ke domain bidang kajian lain, sehingga analisis Geografinya menjadi kabur dan demikian pula analisis dalam bidang kajian lain juga kabur.  Akibat nyata yang timbul adalah tidak mantapnya seseorang menguasai ilmu Geografi dan apalagi ilmu lain karena dasar-dasar pengetahuan yang mendasari ilmu lain tersebut tidak pernah diperoleh dalam studi Geografi.  Dari sinilah kemudian muncul marginalisasi ilmu Geografi itu sendiri, karena scientific dignity Geografi menjadi kabur dan mereka yang menganut atau terjebak dalam arus keilmuan ini  tidak mampu berperan sentral dalam setiap kegiatan pembangunan maupun keilmuan.  Untuk masuk ke domain ilmu lain jelas kalah oleh bidang kajian lain itu sendiri, karena ilmu-ilmu dasar pendukungnya tidak dikuasainya dan apabila masuk kembali ke bidang Geografi telah lupa akan jati dirinya.
Pada pertengahan abad 20 telah terjadi revolusi kuantitatif yang sangat hebat dan pengaruhnya dalam bidang ilmu pengetahuan sungguh luar biasa.  Dalam bidang Geografi, berbagai teknik analisis kuantitatif telah mendominasi kajian Geografi, sehingga seolah-olah setiap kajian Geografi yang tidak menggunakan analisis kuantitatif dianggap tidak ilmiah atau mempunyai kualifikasi keilmuan yang rendah.  Kecenderungan spesialisi sangat marak terjadi, khususnya analisis keruangan dengan berbagai teknik analisis kuantitatif yang canggih, walaupun akhirnya disadari bahwa teknik kuantitatif tersebut ternyata tidak memuaskan dalam menjawab permasalahan  Geografi yang muncul, sehingga teknik analisis kualitatif tetap diperlukan sebagai bagian yang komplementer dari teknik analisis kuantitatif.



Spesialisasi yang tidak terarah dan kebablasan:
Boulding (1968) dalam artikelnya yang berjudul The General System Theory: The Skeleton of Science telah mengemukakan bahwa spesialisasi yang berlebihan atau kebablasan akan mengakibatkan sulitnya komunikasi ilmiah antar sub-disiplin itu sendiri, sehingga akan kehilangan kesatuan makna ilmu yang utuh.  Dalam tulisannya sarjana ini mengungkapkannya dengan sangat tajam sebagai berikut:
………Specialisation has made communication among disciplines and among sub-disciplines increasingly difficult, causing isolated sub-cultures with only tenuous lines of communication between them.  In the course of specialisation, not only the domain of science but the receptors of information, the scientists, become specialised.  The more that science breaks into sub-groups, and the less the amount of cross-communication that take place, the more likely that the growth of knowledge is being inhibited. “Specialised deafness” is the result.

Pada akhir ungkapannya dikemukakan bahwa hasil yang terjadi adalah specialised deafnessatau ketulian spesialisasi, karena masing-masing spesialisasi hanya memikirkan bidang kajiannya sendiri-sendiri dan tidak mau mendengarkan spesialisasi yang lain walaupun berada dalam batang ilmu yang sama.   Hal ini tidak hanya terjadi pada bidang Geografi saja namun juga mewarnai bidang kajian lain.  Selanjutnya, sinyalemen yang menyangkut kajian Geografi juga telah diungkapkan oleh beberapa sarjana lain beberapa dekade yang lalu, di antaranya adalah Fisher (1970) dan Coffey (1981) yang memperkuat sinyalemen yang dikemukakan oleh Boulding di atas.
Fisher (1970) mengemukakan kekhawatirannya terhadap kecenderungan spesialisasi yang makin menjauh dari fitrah Geografi sehingga scientific dignity Geografi menjadi hilang.
………geography is in serious danger… of over extending its periphery at the expense of neglecting its base………..

Makin dalamnya spesialisasi dikhawatirkan akan makin melemahkan hubungan intelektual masing-masing spesialisasi sehingga warna Geografinya sendiri semakin tidak kentara.  Demikian pula Coffey (1981) mengemukakan hal senada:
……..within a fragmented discipline, one lacking a distinguishable conceptual framework, there may be the danger that individual sub-fields will become isolated from one another and will maintain little intellectual intercourse…… 


Makin mendalamnya spesialisasi akan makin menjauhkan keterkaitan keilmuan antara satu bidang spesialisasi dengan yang lain, sehingga scientific dignity Geografi juga akan terlupakan dan di sinilah awal malapetaka itu yang tidak lain adalah marginalisasi Geografi.  Apabila hal ini tidak segera disadari oleh geografiwan maka lambat laun ilmu Geografi akan kehilangan jati diri dan orientasi keilmuannya sehingga marginalisasi Geografi maupun geografiwan dalam pembangunan akan terus berlanjut.   Permasalahan besar yang menjadi tantangan geografiwan masa kini adalah mengubah kecenderungan yang negatif (marginalisasi Geografi) ini menjadi kecenderungan positif dalam artian kembali ke jati diri Geografi itu sendiri atau kembali ke fitrah Geografi, sehingga  scientific dignityGeografi menjadi jelas dan peranan geografiwan maupun ilmu Geografi tidak lagi marginal namun menjadi sentral dan kardinal.  Penulis sangat setuju dengan apa yang dikemukakan oleh Brian Goodall (1987) yang mensinyalir bahwa beberapa subdisiplin Geografi banyak mengalami pengaruh adopsi pendekatan ilmu lain dan spesialisasi internal, sehinggascientific dignitynya menjadi memudar.  
Brian Goodall (1987) mengemukakan bahwa apapun pengayaan keilmuan (scientific enriching) yang diadopsi dan apapun spesialisasi keilmuan (scientific specialising) yang dilakukan, kajian Geografi harus selalu mengacu pada  tiga tema utama studi Geografi yang dikenal, yaitu (1) penekanan pada pendekatan keruangan dengan mengangkat ruang sebagai variabel (spatial approach); (2) penekanan pada inter-relasi antara hubungan manusia dengan lingkungannya (ecological approach) dan (3) penekanan pada sintesis antara pendekatan spasial dan pendekatan ekologikal (regional complex approach).  Secara spesific Goodall (1987) mengemukakan contohnya untuk Human Geography sebagai berikut:
……Like Geography as a whole, human geography covers three related themes: (1) spatial analysis – the recording and description of human phenomena around the erath’s surface, with special attention to the significance of spaceas a variable; (2) the study of the inter-relationships between human beings and their environment, both natural and socio-economic; (3) a regional synthesis which combines the first two themes in specified localities.

Ternyata pendapat Goodall (1987) tersebut merupakan konfirmasi dari apa yang pernah dikemukakan oleh Haggett (1983) mengenai tiga pendekatan utama Geografi yang disimpulkannya melalui elaborasi panjang dan mendalam. Baik Geografi Manusia maupun cabang-cabang Geografi yang lain hendaknya mengacu pada tiga pendekatan ini dalam setiap analisisnya apabila tidak mau terjebak pada perangkap marginalisasi keilmuannya. Pemantapan jati diri Geografi hanya dapat dilakukan dengan memantapkan pemahaman ketiga pendekatan ini.  Dari sinilah titik tolak Konsep dan Pendekatan Geografi dapat dilakukan.  Dengan mendasarkan setiap analisis fenomena geosfer pada pendekatan utama Geografi ini, peranan Geografi dalam setiap program pembangunan berbasis wilayah (regional based development) akan berperan sentral dan kardinal karena tidak ada satupun program pembangunan berbasis wilayah yang tidak berkaitan dengan wilayah, lingkungan, manusia, sumber daya dan ruang.   Pendekatan utama Geografi adalah pendekatan yang tidak muncul secara instan, namun melalui proses perkembangan paradigma keilmuan Geografi yang sangat lama sampai saat ini dan hal ini akan dibahas pada paragraf selanjutnya.

 PERKEMBANGAN PARADIGMA KEILMUAN GEOGRAFI
Paradigma keilmuan Geografi yang ada pada saat ini tidak muncul secara instan, namun melalui proses yang lama.  Dalam sub bab yang berjudul The Legacy of the Past, Haggett (1983) mengemukakan 3 fragmen penting yang menandai perkembangan pemikiran Geografi.  Fragmen waktu yang pertama muncul dari penelitian-penelitian mandiri yang dilakukan oleh individual scholar; fragmen ke dua muncul dari penelitian-penelitian yang dilaksanakan oleh kelompok-kelompok ilmuwan dan masyarakat serta fragmen yang ke tiga muncul dari penelitian-penelitian yang dilaksanakan oleh organisasi kemasyarakatan yang lebih luas skalanya baik di tingkat nasional maupun internasional.
Fragmen pertama lebih menekankan pada masalah-masalah kebumian praktis seperti metoda survai permukaan bumi, navigasi, pembuatan peta dan juga pencetakan atlas.  Banyak masalah yang semula masih menjadi teka-teki manusia dapat dipecahkan dan dijelaskan dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh para geografiwan pada saat itu.  Keterangan yang dapat dikumpulkan kemudian diplot pada peta yang dihasilkan sehinga informasi kebumian menjadi semakin terang dan apresiasi tentang eksistensi ilmu kebumian menjadi semakin baik. Periode in terjadi pada abad 18 sampai permulaan abad 19.
Fragmen waktu kedua terjadi mulai abad 19.  Upaya menggabungkan penelitian-penelitian yang telah dilaksanakan sebelumnya oleh kelompok ilmuwan dan terlihat ada 4 kelompok ilmuwan yang terlibat. Kelompok pertama muncul di negara-negara tertentu dan kegiatan eksplorasi yang dilaksanakan telah menambah informasi yang lebih komprehensif tentang bagian-bagian dunia yang lain.  Kelompok kedua adalah kelompok peneliti yang lebih professional dan anggautanya tidak begitu banyak namun penelitian yang dihasilkan lebih akurat dan detail.  Kelompok ketiga adalah kelompok peneliti yang berorientasi pada bidang pendidikan semata.  Kelompok keempat adalah kelompok tertentu yang merupakan sub bagian dari kelompok professional yang menekankan penelitiannya lebih spesifik.  Hal ini mulai muncul pada pertengahan abad 20 sejalan dengan munculnya revolusi kuantitatif dan nampaknya sampai saat ini arah penelitiannya masih terlihat dengan nyata.
Fragmen waktu ketiga diwarnai oleh organisasi-organisasi  nasional maupun internasional yang mencoba mencoba memecahkan permasalahan nasional maupun global.  Sejalan dengan hal ini, dibentuklah organisasi geografiwan dalam tingkat nasional maupun internasional sebagai wahana dan media para ilmuwan untuk berkomunikasi.  Hal ini terlihat dengan munculnya IGU pada tahun 1922 dan kemudian mengadakan pertemuan rutin seiap 4 tahun sekali serta di dalamnya terdapat komisi-komisi yang menangani bidang-bidang  kajian khusus.  Sementara itu di masing-masing negara  muncul berbagai organisasi yang mempunyai obyek kajian permukaan bumi.
Perkembangan penelitian yang kemudian memunculkan pemikiran-pemikiran Geografi tersebut menghasilkan kategorisasi paradigma Geografi.  Secara garis besar dikenal ada 2 paradigma utama, yaitu: paradigma tradisional dan paradigma kontemporer (Herbert dan Thomas, 1982; Johnston,  et al. 2000). Paradigma tradisional ditengarai oleh 3 macam paradigma, yaitu: (1) exploration paradigm; (2) environmentalism paradigm dan(3) regionalism paradigm.  Sementara itu paradigma kontemporer diwarnai oleh 2 macam paradigma, yaitu (1) quantitative paradigm dan (2) quantitative and qualitative paradigm. Paradigma-paradigma tersebut kemudian menelorkan pendekatan utama Geografi yang dikenal saat ini. Untuk jelasnya lihat tabel berikut.


KETERKAITAN PARADIGMA KEILMUAN GEOGRAFI
DENGAN PENDEKATANNYA

Paradigma


Karakteristik

Pendekatannya

Traditional Paradigm (1):
Exploration Paradigm
Pemetaan dan penggambaran daerah baru yang memotivasi penelitian dan menghasilkan tulisan-tulisan sederhana tentang daerah baru berupacognitive descroption semata
Belum mempunyai ciri khusus, karena dianggap belum berupa metoda ilmiah
Traditional Paradigm (2):
Environmentalism Paradigm
Analisis yang lebih sistematik tentang peranan elemen lingkungan terhadap pola kegiatan manusia.  Analisis morfometrik dan kausalitas mendominasi serta difokuskan hanya pada wilayah tertentu

Ecological Approach
Traditional Paradigm (3):
Regionalism Paradigm
Analisis lebih mendalam dan lebih luas dengan membandingkan wilayah satu dengan yang lain dalam penekanan pada keterkaitan antara elemen lingkungan dengan kegiatan manusianya


Regional Complex Approach
Contemporary Paradigm (1):
Spatial Analysis Paradigm (quantitative analysis)

Analisis pada ruang yang lebih khusus di mana space dianggap sebagai variabel utama di samping variabel lainnya.  Teknik-teknik analisis kuantitatif mendominasi setiap penelitian



Spatial Approach
Contemporary Paradigm (2):
Spatio-temporal Analysis Paradigm (quantitative and qualitative analyses)
Analisis pada ruang dan wilayah dalam dimensi temporal dengan menekankan pada pendekatan kualitatif dan kuantitatif, karena pendekatan kuantitatif semata belum mampu mengungkapkan “the real world

Spatial Approach /
Ecological Approach/
Regional Complex Approach
Sumber: Herbert & Thomas, 1982; Johnston, et al., 2000; Yunus, 2005

Perkembangan Paradigma Tradisional:
Tiga macam paradigma yang muncul pada masa ini mempunyai sifat yang berbeda-beda dan produknya merupakan pencerminan perkembangan tuntutan kehidupan serta perkembangan teknologi penelitian serta analisis yang ada.

Paradigma Eksplorasi (Exploration Paradigm) merupakan perkembangan  awal dari  ”geographical thought” yang pernah dikenal arsipnya.  Kekhasan paradigma ini terlihat dari upaya-upaya pemetaan, penggambaran tempat-tempat baru yang belum banyak diketahui dan pengumpulan fakta-fakta dasar yang berhubungan dengan daerah-daerah yang sebelumnya belum banyak diketahui.  Dari kegiatan inilah kemudian muncul tulisan-tulisan, gambar-gambar, peta-peta daerah yang baru dan menarik sehingga menumbuhkan motivasi yang kuat bagi para peneliti untuk lebih menyempurnakan produk yang sudah dihasilkan sebelumnya baik berupa tulisan-tulisan maupun peta-petanya.  Penemuan-penemuan daerah baru yang sebelumnya belum banyak dikenal oleh masyarakat luas mulai bermunculan pada saat itu.  Sifat dari produk yang dihasilkan berupa deskripsi dan klasifikasi wilayah beserta fakta-fakta lapangannya. 
Suatu hal yang mencolok adalah sangat terbatasnya latar belakang  teoritis yang mendasari penelitian yang dilaksanakan.  Inilah sebabnya mengapa ada beberapa pihak yang berpendapat bahwa untuk menganggap perkembangan pemikiran Geografi (geographical thought) pada masa itu sebagai hal yang kurang pas.  Oleh Harvey (1969) hal ini disebut sebagai cognitive description  yang hanya mengemukakan deskripsi sederhana tentang apa yang diketahui dan dihasilkan dari pengaturan (ordering) dan klasifikasi (classification) data yang masih sangat sederhana.  Oleh karena sifatnya yang sangat sederhana, belum dapat diklasifikasikan sebagai metode ilmiah sehingga pada era ini tidak muncul pendekatan yang khas.
Paradigma kelingkungan (Environmentalism Paradigm) muncul sebagai perkembangan selanjutnya dari metode sebelumnya.  Pentingnya sajian lebih akurat dan detail telah menuntut peneliti-peneliti untuk melakukan penelitian lebih mendalam mengenai elemen-elemen lingkungan fisik di mana kehidupan manusia berlangsung.  Paradigma ini terlihat mencuat ke permukaan pada akhir abad 19, di mana pendapat mengenai peranan yang besar dari lingkungan fisik terhadap pola-pola kegiatan manusia di permukaan bergaung sangat nyata.  Hal inilah yang kemudian dikenal sebagai pola pikirgeographical determinism.  Bahkan sampai dengan pertengahan abad 20 saja, ide-ide ini masih terasa gemanya.  Bentuk-bentuk analisa morfometrik dan analisa kausalitas mulai banyak dilakukan.
Dalam beberapa hal analisa morfometrik pada taraf awal masih berakar pada deskripsi kognitif semata namun pengembangan sistem geometris permukaan bumi, koordinat dan klasifikasi data yang dilaksanakan mulai lebih lengkap dan akurat sehingga telah membuahkan sistematisasi dan klasifikasi data yang lebih akurat pula  dibandingkan dengan teknik-teknik yang dipakai sebelumnya.   Munculnya analisis jaringan (network analysis)  untuk memeplajari pola-pola dan bentuk-bentuk kota, misalnya, merupakan salah satu contohnya dan kemudian sampai pada batas-batas tertentu dapat dimanfaatkan untuk membuat prognostasi dan simulasi.  Sebagai contoh yang menarik adalah apa yang dikemukakan oleh Walter Christaller (1933).
Upaya untuk menjelaskan terkondisinya fenomena tertentu, khususnya human phenomena oleh elemen-elemen lingkungan fisik mulai dilaksanakan lebih baik dan lebih sistematik.  Akar dari pada latar belakang analisis hubungan antara manusia dengan lingkungan alam bermula dari sini.  Perkembangannya kemudian nmpak bahwa analisis hubungan antara manusia dan lingkungan alam telah memunculkan pandangan baru dalam menempatkan manusia dalam ekosistemnya.  Manusia tidak lagi sepenuhnya didikte atau dikontrol oleh lingkungan alam, tetapi manusialah yang mempunyai peran lebih besar dalam menentukan bentuk-bentuk kegiatannya di permukan bumi (geographical possibilism dan probabilism).  Dalam era ini memunculkan kekhasan pendekatan keilmuan dalam Geografi yang kemudian dikenal sebagai pendekatan ekologis (ecological approach).
Paradigma Kewilayahan (Regionalism Paradigm):
Paradigma ini adalah fase terakhir dari perkembangan paradigma tradisional.  Di sini nampak unsur fact finding tradition of exploration di satu sisi dan upaya memunculkan sintesis hubungan manusia dengan lingkungannya di sisi lain nampak mewarnai paradigma ini.  Konsep-konsep region bermunculan sebagai dasar pengenalan ruang yang lebih detail.  Wilayah ditinjau dari segi tipenya (formal and functional regions); wilayah ditinjau dari segi hirarkinya (the first order, the 2nd order, the 3rd order etc. regions)  dan wilayah ditinjau dari segi kategorinya the single topic, double topic, multiple topic, combined topic, total regions adalah beberapa contoh konsep-konsep yang muncul sejalan dengan berkembangnya paradigma regionalisme ini dalam membantu analisis.  Di samping itu temporal analysis sebagai salah satu bentuk dimensi dalam causal analysis berkembang pula pada periode ini ( Rostov,1960; Harvey, 1969).  Sementara itu Ley (1977) mengatakan bahwa penekanan studi wilayah ini adalah tetap pada bentuk bentuk karya manusia dan keterkaitannya dengan bentang alamnya yang sangat berpengaruh terhadap kegiatan manusia itu sendiri.
regional studies may involve the identification of uniform regions, the description of segments of the earth surface and specialized regional monographs.  Its focus was on human artefacts rather than on people, and landscape is taken as a palimpset of human activity……………….

  Paradigma keilmuan pada era ini merupakan akar munculnya pendekatan Geografi yang saat ini dikenal sebagai pendekatan kompleks wilayah (regional complex approach).

Perkembangan Paradigma Kontemporer:
Pada masa ini mulai terjadi perkembangan baru di bidang metoda analisis kuantitatif danmodel building. Perkembangan paradigma Geografi pada masa ni juga disebut sebagai periode paradigma analisis keruangan (the spatial analysis paradigm).  Coffey(1981) mengemukakan ciri-ciri paradigma Geografi kontemprer sebagai berikut:
..is characterized by diversity rather than unity; specialisation rather than generalized coherence.  The discipline, as engaged to-day , is the end product of a complex series of multiple fagmentations.  Among these we may identify (1) the human-physical dichotomy, (2) the tendency to create special fields as the result of the stress placed upon the non spatial properties of phenomena under investigation and (3) the emphasis upon techniques attendant on the rise of quantitative methodologies, (4) there is a distinction between quantitative and non quantitative methodologies and (5) there is a dichotomy structure versus process..
Pendapat di atas menyiratkan bawa salah satu ciri-ciri Geografi komtemporer adalah adanya kecenderungan spesialisasi dan gejala ini merupakan hal yang kemudian dikhawatirkan oleh banyak pakar akan menjadi pemicu marginalisasi peranan Geografi itu sendiri karena telah menjauh dari fitrah Geografi. Ditinjau dari teknik analisisnya, periode perkembangan paradigma kontemporer dibedakan menjadi periode perkembangan analisis kuantitatif dan perkembangan penggabungan analisis kuantitatif dan kualitatif. Paradigma kuantitatif muncul sejalan dengan munculnya revolusi kuantitatif dengan ditemukannya alat hitung elektronik dan teknik-teknik analisis baru. Pada pendekatan ini, variabel yang dianalisis lebih terbatas dan tertentu sifatnya sesuai dengan hupotesis yang dikemukakan, sehingga hasil yang diperoleh terbatas pada uji hipotesis yabg dikemukakan sebelumnya.  Hal ini menjadi salah satu kelemahan paradigma ini di mana peneliti tidak mampu mengungkapkan keterkaitannya dengan variabel lain yang sebenarnya ada dalam dunia nyata.  Setiap fenomena yang akan diteliti ditentukan batas-batasnya terlebih dahulu sehingga peneliti hanya melihat sepotong kejadian dari the real world itu sendiri.  Atas dasar inilah para pakar menyadari pentingnya analisis kualitatif sebagai sesuatu yang melengkapi analisis kuantitatif untuk mampu memahami the real world yang merupakan fokus penelitian Geografi.
Paradigma kedua, menggabungkan pendekatan kuantitatif dengan kualitatif.  Hal ini muncul sebagai akibat tidak mampunya pendekatan kuantitatif untuk menjawab realita kehidupan tentang suatu sistem yang diwarnai bentuk hubungan antar komponen wilayah dan tidak berdiri sendiri tetapi sangat kompleks sifatnya. Analisis kuantitatif mengarahkan pada konsistensi penilaian dan sementara itu analisis kualitatif mengungkapkan kedalaman makna hubungan antar variabel yang sangat kompleks.  Keduanya bersifat komplementer serta menutupi kelemahan masing-masing.
Fragmen-fragmen perkembangan penelitian dan pemikiran tersebut kemudian memunculkan berbagai macam definisi Geografi (lihat lampiran).  Namun demikian, dari sekian definisi Geografi dengan berbagai versi tersebut ternyata mengungkapkan kesamaan-kesamaan mendasar dalam pandangannya.  Ada 3 kesamaan pandangan mendasar yang dapat diperas dari berbagai definisi Geografi, yaitu:
(1) obyek studi Geografi adalah permukaan bumi  sebagai sasaran studi yang nyata dan bukan sesuatu yang abstrak.  Obyek ini selalu dikaitkan dengan kepentingan manusia (human oriented / human centered in nature) sebagai environment of humanity, yaitu an environment that influences how people live and organize themselves and at the same time an environment that people helped to modify and build.
(2) studi Geografi menekankan pada ”spatial organization” dan hubungan ekologisnya dengan manusia (Abler et al. 1971).  Bagaimana pemanfaatan ruang dengan baik, pemanfaatan sumber daya dengan baik dan bagaimana organisasi wilayah dapat ditata untuk mencapai visi ”sustainability”.
(3) studi Geografi menyadari adanya sistem yang di dalamnya terdapat komponen yang banyak dan kompleks yang saling terkait satu dengan yang lainnya.  Hal ini mengisyaratkan adanya ide bahwa gangguan atau perbaikan pada salah satu komponen wilayah dapat berimbas positif maupun negatif terhadap komponen yang lain baik dalam skala wilayah lokal, nasional dan bahkan global.
  
PENDEKATAN UTAMA GEOGRAFI
Dari latar belakang perkembangan penelitian dan pemikiran seperti dijelaskan terdahulu, muncullah 3 pendekatan utama Geografi yang saat ini diikuti oleh geografiwan dunia, yaitu pendekatan keruangan (spatial approach); pendekatan ekologikal (ecological approach) dan pendekatan kompleks wilayah (regional complex approach).  Pada masa perkembangannya pada abad 20 memang terdapat tarik menarik antara ketiga pendekatan tersebut.  Sampai dengan tahun 30an, penelitian-penelitian cenderung ke pendekatan regional dan perkembangan selanjutnya menunjukkan pergeseran yang sigifikan.  Sampai dengan pertengahan abad 20 (tahun 50an) penelitian cenderung menekankan pada pendekatan keruangan..  Sampai dengan akhir abad 20 dan permulaan millenium ketiga, penelitian-penelitian bergeser ke pendekatan ekologikal.
Pada perkembangan selanjutnya memang muncul pendekatan-pendekatan baru yang diadopsi dari disiplin ilmu lain, namun demikian pendekatan baru tersebut sifatnya komplementer terhadap pendekatan utama Geografi.  Pendekatan komplementer ini muncul bukan dari regional based concept sebagai fitrah Geografi, tetapi dari topik kajian.  Disinilah letak krusialnya studi Geografi apabila menjadikan pendekatan komplementer sebagai pendekatan utama dan akibatnya adalah marginalisasi peranan Geografi itu sendiri dalam analisis.  Untuk pemantapan peranan geografiwan dalam berbagai bidang pembangunan, kita harus kembali ke fitrah Geografi dan memahami secara mendalam akan pendekatan-pendekatan utama Geografi sebagai scientific dignity sehingga keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif dapat ditampilkan.  Atau dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa dengan pemahaman  yang mendalam tentang pendekatan utama Geografi ini, dapat mengarahkan geografiwan dalam memposisikan dirinya dalam pembangunan secara tepat pada bidang keahliannya sendiri (the right man on the right place) dan tidak terjebak ke domain ilmu lain sehingga tidak mampu menampilkan kinerja yang maksimal.  Seseorang harus menyadari keterbatasannya dan untuk itu perlu pengarahan  minat khusus (spesialisasi) agar mempunyai ketajaman analisis yang memadai dalam kerangka keilmuan Geografi.
Berikut ini akan dikemukakan pemahaman pendekatan utama Geografi berserta contoh aplikasinya, sehinga geografiwan dapat dengan mudah memahami kehandalannya dan sekaligus keterbatasannya.

Pendekatan Keruangan (Spatial Approach):
Pendekatan keruangan tidak lain merupakan suatu metoda analisis yang menekankan analisisnya pada eksistensi ruang (space) sebagai wadah untuk mengakomodasikan kegiatan manusia dalam menjelaskan fenomena geosfer.  Oleh karena obyek studi Geografi adalah geosheric phenomena, maka segala sesuatu yang terkait dengan obyek dalam ruang dapat disoroti dari berbagai matra antara lain (1) pola (pattern); (2) struktur (structure); (3) proses (process); (4) interaksi (interaction); (5) organisasi dalam sistem keruangan (organisation within the spatial system); (6) asosiasi (association); (7) tendensi atau kecenderungan (tendency or trends), (8) pembandingan (comparation) dan (9) sinergisme keruangan (spatial synergism).  Ke sembilan matra tersebut merupakan penggalian penulis dari berbagai sumber textbooks, journals dan hasil-hasil penelitian yang diterbitkan oleh para pakar Geografi.  Dengan demikian, minimal ada 9 tema analisis dalam spatial approach yang dikembangkan oleh disiplin  Geografi, yaitu:
(1) spatial pattern analysis;
(2) spatial structure analysis;
(3) spatial process analysis;
(4) spatial interaction analsis;
(5) spatial association analysis;
(6) spatial organisation analysis;
(7) spatial tendency / trends analysis;
(8) spatial comparison analysis;
(9) spatial synergism analysis.

Dalam mengaplikasikan pendekatan keruangan, seseorang tidak cukup hanya menyebutnya saja namun harus secara eksplisit dan jelas menyebutkan tema apa yang akan dianut serta penjelasan mengenai operasionalisasi pendekatannya.  Aplikasi analisis pendekatan keruangan, minimal meliputi 9 macam dan apabila ke sembilan macam tema analisis tersebut harus silaksanakan maka akan menghabiskan waktu yang lama, tenaga yang banyak, biaya yang besar, penguasaan teknik analisis yang mendalam serta kemantapan keilmuan yang memadai.  Masing-masing tema analisis mempunyai spesifikasi sendiri yang terkait dengan spesifikasi obyek kajian yang akan dilaksanakan. Salah satu atau gabungan dari beberapa di antaranya sangat dimungkinkan untuk dilaksanakan tanpa mengurangi kadar keilmuannya.
Oleh karena alat inderawi manusia sangat terbatas kemampuannya untuk mengamati kebnampakan Geografis di sesuatu wilayah atau di permukaan bumi, maka untuk maksud analisis keruangan seseorang memerlukan alat bantu.  Di sinilah peranan model visualisasi permukaan bumi diperlukan kehadirannya.  Ketersediaan peta, foto udara maupun citra satelit sangat diperlukan dalam analisis.  Namun demikian, gambaran yang ditampilkan dalam peta, foto udara ataupun citra satelit ternyata masih sangat rumit dan kompleks sifatnya, sehingga peneliti dituntut untuk mampu mengabstraksikannya ke dalam visualisasi yang managable.  Simbul-simbul yang lebih sederhana sangat diperlukan dalam hal ini, sehingga analisis dapat dilaksanakan dengan lebih mudah.  Simbul-simbul yang secara konvensional dan masih dipakai sampai saat ini berujud simbul-simbul titik, garis maupun bidang.  Visualisasi dari salah satu atau gabungan dari padanya sangat tergantung dari sifat data dan tujuan analisis.
Spatial Pattern Analysis: penekanan utama dari analisis ini adalah pada ”sebaran”elemen-elemen pembentuk ruang.  Taraf awal adalah identifikasi mengenai aglomerasi sebarannya dan kemudian dikaitkan dengan upaya untuk menjawab geographic questions.  Seperti telah diketahui bahwa geographic questions yang dimaksud adalah pertanyaan What, Where, When, Why, Who dan How atau terkenal dengan 5 W dan 1 H.  Sebagai contoh dapat dikemukakan adanya sebaran kenampakan tertentu (misalnya permukiman) yang mengelompok pada bagian tertentu dan menyebar pada bagian lain.  Dalam hal menjawab 5W dan 1H akan timbul pertanyaan yang utama yaitu (1) fenomena apa yang akan diteliti (what); dimana gejala tersebut terjadi (where); kapan kenampakan gejala tersebut ada (when); mengapa terjadi pengelompokan seperti itu (why); siapa yang mendiami (who); dan bagaimana proses pengelompokan tersebut dapat terjadi (how).  Di dalam penelitian uraian yang mengemukakan mengenai jawaban 5W dan 1H ini mestinya akan tercermin dalam daftar isi yang dibuat oleh peneliti.  Kemendalaman analisis akan terlihat dari penekanan jawaban yang dimunculkan.   
Spatial Structure Analysis menekankan pada analsis susunan elemen-elemen pembentuk ruang.  Dalam hal ini perlu dipahami bahwa struktur elemen-elemen keruangan dapat dikemukakan dari berbagai fenomena baik fenomena fisikal maupun non fisikal.  Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini adalah struktur ruang atas dasar komposisi bentuk pemanfaatan lahannya (dari segi fisik) atau dari segi struktur mata pencaharian penduduknya (dari segi non fiisik). Sebagai contoh kongkrit adalah dari ruang tertentu yang terdiri dari 75% pemanfaatan lahan agraris dan 25% pemanfaatan lahan non agraris dan sementara itu di bagian lain terdapat 25% pemanfaatan lahan agraris dan 75% pemanfaatan lahan non agraris dan seterusnya.   Demikian pula halnya degan analisis struktur keruangan, tugas utama yang pertama adalah mengidentifikasi susunan keruangan yang ada baru kemudian dikaitkan dengan upaya menjawab geographic questions. Jenis pertanyaan What, When, Where merupakan pertanyaan yang bersifat deskriptif sedangkan pertanyaan Why, Who dan How merupakan pertanyaan yang bersifat analitis.
Spatial Process Analysis menekankan pada proses keruangan yang biasanya divisualisasikan pada perubahan ruang.  Perubahan elemen-elemen pembentuk ruang dapat dikemukakan secara kualitatif maupun kuantitatif. Setiap analisis perubahan keruangan tidak dapat dilaksanakan tanpa mengemukakan dimensi kewaktuannya, maka dimensi temporal mempunyai peranan utama dalam hal ini.  Minimal diperlukan dua titik waktu untuk mengenali perubahan. Sebagai contoh adalah penelitian mengenai perkembangan fisik kota dari tahun 1990 sampai dengan 2005. Dengan membandingkan peta, foto udara atau citra satelit yang multi temporal maka dapat diketahui mengenai proses keruangan yang terjadi.  Pertanyaan analitis yang perlu dijawab adalah mengapa terjadi perubahan, bagaimana perubahan itu terjadi dan dampak apa saja yang mungkin  timbul dari perubahan tersebut?
Spatial Interaction Analysis menekankan pada interaksi antar ruang.  Hubungan timbal balik antara ruang yang satu dengan yang lain mepunyai variasi yang sangat besar, sehingga upaya mengenali faktor faktor pengontrol interaksi menjadi sedemikian penting.  Tahap selanjutnya adalah menjawab mengapa terjadi interaksi dan bagaimana interaksi  terjadi?  Sebagai contoh yang kongkrit adalah proses pengaruh mempengaruhi antara desa dan kota atau antara Kabupaten X dan Kabupaten Y atau antara Kecamatan A dan Kecamatan B.  Hal ini memang tidak dapat dipisahkan dari analisis organisasi keruangan.
Spatial Organisation Analysis   bertujuan untuk mengetahui elemen-elemen lingkungan mana yang berpengaruh terhadap terciptanya tatanan spesifik dari elemen-elemen pembentuk ruang.  Penekanan utamanya pada keterkaitan antara kenampakan yang satu dengan yang lain secara individua Sebagai contoh kongkrit adalah adanya setting dari kota besar, kota menenengah dan kota kecil yang berada pada suatu wilayah.  Apakah tatanan keruangannya menunjukkan adanya dominasi pengaruh dari kota tertentu terhadap kota yang lain?  Bagaimana dan mengapa hal tersebut dapat terjadi?   Perbedaan utama dengan Spatial Pattern Analysis  adalah pada visualisasi kenampakannya.  Pada analisis pola, penekanan utamanya pada  kekhasan aglomerasi sedangkan pada analisis organisasi terletak pada keterkaitan / hubungan antar elemen dan hirarki peranan elemen secara individual.  Analisis ini kebanyakan diaplikasikan pada organisasi keruangan sistem kota-kota atau sistem permukiman di suatu wilayah yang luas.
 Spatial Association Analysis bertujuan untuk mengungkapkan terjadinya asosiasi keruangan antara berbagai kenampakan pada sesuatu ruang.  Apakah ada keterkaitan fungsional atas sebaran keruangan atau gejala tertentu dengan sebaran keruangan gejala yang lain?  Apakah ada hubungan antara hilangnya lahan pertanian dengan makin banyaknya pendatang-pendatang di suatu daerah / meningkatnya lahan permukiman baik dalam jumlah maupun luasannya?  Apakah ada asosiasi keruangan antara kepadatan penduduk dengan peningkatan tindak kriminal di beberapa tempat di kota?  Untuk mengetahui ada atau tidaknya asosiasi keruangan antara variabel sati dengan variabel lain dapat dilaksanakan dengan analisis yang mendasarkan pada visualisasi data pada peta ataupun dapat dilaksanakan dengan metode analisis statistik.
 Spatial Tendency/Trend Analysis  adalah suatu analisis yang menekankan pada upaya mengetahui kecenderungan perubahan suatu gejala.  Hal ini dapat dilakukan berdasarkan space based analysis, time based analysis maupun gabungan antara space dan time based analysis.  Sebagai contoh adalah untuk mengetahui apakah terjadi kecenderungan perkembangan kota ke arah tertentu?  Faktor-faktor apa yang menjadi determinan dan bagaimana proses terjadinya serta konsekuensi keruangan apa yang bakal terjadi baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang?  Dengan mengeplot beberapa unsur morfologi kota baik dalam dimensi multi temporal ataupun bukan, seseorang akan mampu membaca kecenderungan yang akan terjadi dengan asumsi semuanya berjalan seperti apa yang telah terjadi sebelumnya.  Dalam penelitian untuk program doktor, hal ini mernjadi tuntutan yang harus dikerjakan oleh peneliti karena menyangkut prognostasi keruangan yang menjadi salah satu persyaratan kualifikasi ilmiahnya. Analisis ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari tema-tema analisis sebelumnya, seperti spatial pattern anlysis, spatial structure analysis, spatial process analysis dan mungkin jugaspatial association analysis.
 Spatial Comparison Analysis  merupakan suatu analisis yang bertujuan untuk mengetahui kelemahan atau keunggulan sesuatu ruang dibandingkan dengan ruang yang lain.  Hal ini sangat penting dilaksanakan dalam studi banding yang mendalam mengenai sesuatu wilayah dalam rangka mempelajari kelebihan-kelebihan wilayah lain untuk digunakan sebagai dasar penentuan kebijakan pengembangan wilayah, sehingga wilayahnya dapat mengalami kemajuan yang lebih besar.  Kebanyakan studi banding yang dilakukan oleh ”para pejabat” tidak dilaksanakan secara mendalam ilmiah, namun lebih banyak diwarnai oleh wisata yang tidak diikuti oleh analisis mendalam mengenai obyek kajiannya.  Mestinya, suatu studi banding harus melibatkan akademisi yang kompeten di bidangnya dan bertugas untuk melaksanakan comparative analysis yang mendalam ilmiah sehingga pengalaman wilayah lain baik berupa pengalaman negatif ataupun positif dapat dijadikan sebagai pelajaran yang bermanfaat bagi daerahnya.  Sebagai contoh nyata adalah studi banding mengenai upaya mengatasi degradasi lahan di sesuatu wilayah.  Hal-hal terkait dengan bentuk degradasi lahan, penyebab degradasi lahan, dampak degradasi lahan dan upaya mengatasi degradasi lahan dapat dikemukakan dan hal ini dapat dilaksanakan dengan baik oleh pakar yang berkompeten mengenai degradasi lahan.
 Spatial Synergism Analysis merupakan perkembangan baru yang saat ini menjadi sorotan ilmu pengetahuan, karena sangat terkait dengan erat dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, khusus teknologi di bidang transportasi dan komunikasi.   Makin majunya sistem transportasi dan komunikasi telah memungkinkan terjadinya mobilitas barang, jasa, informasi dan orang menjadi senakin tinggi, sehingga dinamika keruangan juga mnenjadi semakin tinggi.  Dalam era teknologi informasi yang mengglobal, batas-batas wilayah dalam kegiatan manusia menjadi semakin kabur.  Hal inilah semestinya dimanfaatkan sedemikian rupa dalam setiap program pembangunan, khususnya pembangunan wilayah untuk menciptakan kerja sama antar wilayah / antar ruang, sehingga nilai lebih yang ditimbulkan oleh kerja sama tersebut jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan tanpa kerja sama antar wilayah / ruang atau berdiri sendiri-sendiri.  Bidang ini apabila dikemas dengan baik sebenarnya merupakan kompetensi ilmu Geografi yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif.  Saat ini ide-ide spatial synergismmasih berupa wacana yang kabur, sebagai contoh adalah ide Joglo Semar, Kartamantul dan sejenisnya, belum merupakan suatu konsep pembangunan yang mantap dalam mencapaispatial synergism yang mantap atau bahkan nyaris kabur. Spatial synergism hanya akan berfunmgsi efisien dan efektif apabila disertai dengan konsep functional synergism.
Beberapa tema analisis keruangan yang dijelaskan di atas dapat berdiri sendiri-sendiri maupun dapat merupakan gabungan dari beberapa tema analisis tergantung dari pada tujuan dan kemendalaman pengetahuan yang akan dicapai peneliti.  Sebagai contoh upaya analisis kecenderungan keruangan mungkin dapat dimulai dari identifikasi pola sebaran atau struktur tentang fenomena geosfera yang akan diteliti dan kemudian dilanjutkan dengan analisis proses keruangan.  Apabila diperlukan dapat pula analisis interaksi dan asosiasi keruangannya dan akhirnya baru dianalisis kecenderungan keruangan yang terjadi berdasarkan fakta empirisnya.

 Pendekatan Ekologis (Ecological Approach):
Oleh karena pendekatan ini mengacu pada kajian ECOLOGY maka perlu dipahami terlebih dahulu mengenai makna ekologi itu sendiri.  Menurut Worster (1977) secara garis besar ekologi adalah ilmu yang mempelajari tentang keterkaitan antara organisme dengan lingkungannya. Namun dalam perkembangannya, ilmu ini mempunyai arah yang bermacam-macam dan paling tidak ada 3 macam arah perkembangannya.  Arah perkembangan pertama terfokus pada analisis keterkaitan  atau interaksi antar organisme dan juga dengan lingkungan biotik dan abiotiknya dan bagaimana akibat yang ditimbulkannya.  Arah perkembangan kedua sering disebut sebagai scientific ecology  atau professional ecology. Hal ini merupakan subdisiplin dari biologi. Arah perkembangan yang ketiga berkaitan dengan masalah politik / kebijakan publik dan selalu dikaitkan dengan ide-ide normatif dalam masyarakat sehingga analisisnya selalu terkait dengan norma-norma yang berkembang dalam masyarakat.  Namun demikian pengertian ekologi yang luas, dianut adalah pengertian yang pertama.              
Dalam Geografi, seseorang harus membatasi diri dalam analisis karena adanya keterbatasan-keterbatasan akademik yang dipunyai oleh ilmu Geografi itu sendiri dan jangan sampai terjebak ke dalam scientific ecology yang dikembangkan oleh disiplin biologi, karena ilmu Geografi tidak mempunyai kemampuan untuk itu.  Sebagai contoh adalah analisis yang berusaha mengungkapkan mengapa terjadi penurunan populasi badak jawa di daerah suaka margasatwa Ujung Kulon.  Dalam hal ini bidang scientific ecologylebih cocok dibanding dengan bidang lainnya karena pengetahuan mendalam mengenai karakteristik anatomis badak, kondisi habitat, penyakit, analisis laboratoris tentang komposisi makanannya dan lain sebagainya dapat dilakukan oleh ahli biologi dan bukan oleh ahli Geografi.  Ilmu Geografi tidak dibekali dengan ilmu pengetahuan seperti disebutkan.
Berdasarkan uraian di atas timbul pertanyaan mendasar yaitu pendekatan ekologi seperti apa yang kemudian dikembangkan dalam disiplin Geografi?  Seperti dikemukakan pada bagian terdahulu, bahwa Geografi adalah ilmu yang bersifat ”human oriented”  sehingga manusia dan kegiatan manusia selalu menjadi fokus analisis dalam keterkaitannya dengan lingkungan biotik, abiotik maupun lingkungan sosial, ekonomi dan kulturalnya (Dangana and Tropp,1995).  Manusia dalam hal ini tidak boleh diartikan sebagai makhluk biologis semata yang setaraf dengan makhluk hidup lainnya, namun adalah sosok yang dikarunia daya cipta, rasa, karsa dan karya atau makhluk yang berbudi daya.  Dengan demikian interrelasi antara manusia dan atau kegiatannya dengan lingkungannya akan menjadi tekanan analisis dalam pendekatan ekologi yang dikembangkan dalam disiplin Geografi.  Berdasarkan inventarisasi penelitian yang ada dapat disimpulkan bahwa pendekatan ekologi dalam Geografi mempunyai 4 tema analisis utama, yaitu:
(1) human behaviour – environment theme of analysis;
(2) human activity (performance) – environment theme of analysis;
(3) physico natural features (performance) – environment theme of  analysis;
(4) physico artificial features (performance) – environment theme of analysis;

Tema analisis human behaviour – environment interactions memfokuskan pada perilaku manusia baik perilaku sosial, perilaku ekonomi, perilaku kultural dan bahkan perilaku politik baik yang dilakukan oleh seseorang atau komunitas tertentu.  Sebagai contoh dapat dikemukakan di daerah tertentu terdapat sekelompok penduduk yang selalu menebangi kayu pada hutan lindung.  Untuk mencari jawaban mengenai latar belakang mengapa komunitas tersebut berperilaku seperti itu, arus dicari unsur-unsur internal maupun eksternal yang terkait dengan perilaku tersebut.  Apa latar belakangnya, bagaimana prosesnya, apa dampaknya serta apa dan bagaimana upaya mengatasinya menjadi pembahasan sentral dari analisis yang bertemakan “human behaviour – environment analysis” ini.
 Tema analisis human activity – environment interactions menekankan pada kinerja dari bentuk-bentuk kegiatan manusia.  Latar belakang perilaku bukan menjadi pembahasan sentral namun kegiatan manusianya yang menjadi pembahasan sentral.  Perilaku lebih menekankan pada attitude sedangkan kegiatan manusia lebih difokuskan pada external performance dari  attitude itu sendiri.  Kegiatan terkait dengan tindakan manusia dalam menyelenggarakan kehidupannya sedangkan perilaku terkait dengan sikap batiniah dan persepsi seseorang atau sekelompok orang terhadap lingkungannya.  Dalam hal ini dikenal berbagai kegiatan manusia dalam menyelenggarakan kehidupannya antara lain kegiatan pertanian, pertambangan, perikanan, industri, pembangunan perumahan, transportasi, turisme dan lain sejenisnya.  Sebagai contoh dapat dikemukakan adanya usaha industri genting di berbagai daerah.  Di daerah yang satu terlihat kemajuan yang sangat bagus, di tempat lain tidak menunjukkan adanya kemajuan dan bahkan kemunduran.  Dalam hal ini seseorang dituntut untuk mampu mengungkapkan penyebab terjadinya dengan mengidentifikasi faktor-faktor internal (yang terkait dengan industri) dan faktor-faktor eksternal yang merupakan elemen-elemen lingkungannya dan kemudian menganalisisnya, sehingga ditemukan faktor-faktor mana yang paling menentukan dan faktor-faktor mana yang tidak.
Tema analisis physico natural features – environment interactions menekankan pada keterkaitan antara kenampakan fisikal alami dengan elemen-elemen lingkungannya.  Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini adanya sebuah danau alami yang menunjukkan gejala peningkatan polusi air dan kemudian mengakibatkan banyaknya biota danau khususnya ikan yang mati.  Gejala menurunnya kualitas air danau dapat ditelusuri dengan menganalisis keterkaitan antara faktor-faktor internal (danau itu sendiri) maupun faktor-faktor eksternal (lingkungan di sekitar danau/di luar danau) seperti kondisi curah hujan, kondisi tata guna lahan, cara pengolahan lahan, penggundulan hutan, industri yang membuang limbah ke air yang bermuara di danau, daerah permukiman di sekitar danau maupun daerah hulu dan lain sejenisnya.  Dengan meneliti keterkaitan faktor-faktor tersebut diharapkan dapat menemukan jawaban mengapa terdapat penurunan kualitas air danau dan sekaligus seorang geografiwan akan mampu mencari solusinya baik preventif, kuratif maupun inovatif.
Tema analisis physico artificial features – environment interactions memfokuskan pada keterkaitan antara kenampakan fisikal budayawi dengan elemen lingkungan di mana obyek kajian berada.  Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini yaitu di suatu daerah permukiman tertentu yang semula tidak terjadi penggenangan namun pada akhir-akhir ini terjadi penggenangan sehingga mengakibatkan terjadinya deteriorisasi lingkungan yang hebat.  Kompleks permukiman merupakan bentukan artifisial yang bersifat fisikal.  Dalam hal ini peneliti dapat bertitik tolak dari faktor-faktor internal (permukiman itu sendiri) dan juga faktor-faktor eksternal (di luar permukiman tersebut) yang diperkirakan mempunyai keterkaitan erat dengan munculnya penggenangan.  Apakah terdapat perubahan iklim khususnys curah hujan, perubahan alur sungai, kondisi laut, kerusakan hutan, penambahan luas pengerasan permukaan tanah yang berakibat bertambahnya run off, hilangnya kantong-kantong penampung air karena faktor alami atau faktor non alami (kebijakan pembangunan yang salah) dan lain sebagainya.  Dengan meneliti keterkaitan antara permukiman dan faktor-faktor lingkungannya dapat diketahui penyebab utamanya dan sekaligus geografiwan akan mampu memberikan masukan tentang berbagai alternatif pemecahannya.

Pendekatan Kompleks Wilayah (Regional Complex Approach):
Pendekatan ini tidak hanya kombinasi antara pendekatan keruangan dan pendekatan ekologis namun merupakan integrasi dari pendekatan keruangan dengan pendekatan ekologis.  Dalam hal ini perlu disadari dan dipahami secara benar tentang pemakaian istilah regional complex.  Istilah ini mengisyaratkan adanya pemahaman yang mendalam tentang property yang ada dalam wilayah yang bersangkutan dan merupakanregional entity.  Kompleksitas gejala menjadi dasar pemahaman utama dari eksistensi wilayah di samping efek internalitas dan eksternalitas dari padanya.  Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini adanya gejala environmental deterioration yang terjadi di Kawasan Dieng.  Di samping upaya untuk menemukan penyebab proses, dampak deteriorisasi di kawasan tersebut peneliti dituntut tetap menelusuri dampak yang mungkin timbul di kawasan lain di luar kawasan Dieng, seperti pada dataran rendah di bagian selatannya termasuk Waduk Mrica bahkan sampai ke Kabupaten Cilacap.  Ternyata kerusakan lingkungan Di Kawasan Dieng juga mempunyai dampak luas terhadap pendangkalan Waduk yang sangat berguna bagi pertanian di dataran rendah (The Domino Effect).  Tingginya pengendapan sedimen akibat erosi di daerah hulu akan berakibat terhadap umur waduk.  Tanpa pengendalian terpadu eksistensi waduk akan terancam dan kalau ini sampai terjadi maka social cost yang timbul tidak terkirakan besarnya karena menyangkut sustainabilitas produk pertanian dan kesejahteraan petani.
Akibat yang jauh terlihat juga di Kabupaten Cilacap walaupun akibat kerusakan di daerah Dieng bukan penyebab satu-satunya.  Hal ini khusus terlihat pada tingginya  proses sedimentasi di muara sungai Serayu.  Apabila hal ini tidak segera mendapat perhatian maka pada waktu yang akan datang eksistensi pelabuhan Cilacap beserta kehidupan nelayan di sekitarnya akan mengalami gangguan yang signifikan di samping adanya gangguan lain yang berasal dari sedimentasi yang berasal dari Sungai Citanduy.  Dengan membandingkan citra satelit yang ada intensitas sedimentasi di muara sungai Serayu dapat dipantau dan gejala ini tidak dapat dilepaskan dari proses deteriorisasi yang terjadi di kawasan hulu Sungai Serayu khususnya Kawasan Dieng.  Analisis terpadu dari berbagai disiplin ilmu memang diharapkan adanya untuk memecahkan masalah yang terjadi, khususnya mencari umbi permasalahannya, mengindentifikasi the working forces, mengidentifikasi the working process, mengidentifikasi the impacts dan akhirnya dapat dirumuskan alternatif pemecahannya.
Berdasarkan identitas keilmuan disiplin Geografi, sangat jelas bahwa kompetensi pokoknya adalah kepakaran dalam tata wilayah, karena obyek kajian utama disiplin ini adalah permukaan bumi.  Oleh karena itu peranan Geografiwan dalam setiap program pembangunan wilayah seharusnya menduduki posisi kardinal dan bukan marginal. Hal ini dapat diraih apabila jati dirinya sebagai Geografiwan dengan penguasaan pendekatan utamanya dapat dilakukan, karena hal inilah yang sebenarnya merupakan keunggulan komparatif dan kompetitif ilmu Geografi.  Tanpa pemahaman dan penguasaan yang mantap mengenai pendekatan utama ini sangatlah sulit berperanan dalam program pembangunan berbasis wilayah di mana setiap program pembangunan berbasis wilayah pasti selalu mempertimbangkan aspek keruangan (spatial aspects), aspek kelingkungan (environmental aspects) aspek kewilayahan (regional aspects).       

PENUTUP
Sebagai penutup uraian, secercah harapan muncul di hati penyaji semoga apa yang diuraikan dapat menjadi iluminasi teman-teman dosen dan adik-adik Geografiwan di Universitas Negeri Malang.  Pendekatan Geografi yang merupakan jati diri disiplin geografi ini harus betul-betul dipahami dan dihayati, khususnya para dosen, karena di atas pundaknyalah kualitas generasi penerusnya berada.  Bagaimana mungkin seorang dosen mengarahkan, membimbing, mengajar mengenai disiplin ilmu tertentu, tetapi dirinya tidak memahami jati diri keilmuannya dengan mantap?
Dalam kesempatan ini pula saya mengucapkan terima kasih pada para alumni Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada yang sekarang mengemban tugas di Jurusan Geografi, FIS, Universitas Negeri Malang atas prakarsanya mengundang saya untuk berbagi ilmu di forum ini.  Semoga sedikit uraian ini dapat menjadi obat rindu, dan bermanfaat bagi pengembangan ilmu Geografi.  Saya menyadari bahwa uraian saya tidak dapat mencakup keseluruhan materi karena terbatasnya waktu dan saya betul-betul menghimbau untuk memahami secara mendalam pula mengenai ecological approach, regional approach dan regional complex approach.  Di samping itu saya sangat bahagia melihat kemajuan belajar staf pengajar di jurusan ini, semoga semakin sukses dan kerja sama dalam melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi dengan Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada semakin erat.      

R E F E R E N S I
Ad Hoc Committee on Geography. 1965.  The Science of Geography. Washington D.C.: Academy of Sciences.
Abler, R.; J.S.Adams; P.Gould . 1971. Spatial Organization: The Geographers View of the World.  New Jersey: Prentice Hall, Inc.
Ackerman, E.A.  1963.  Annals of the Association of American Geographers. 53.
Boulding, Kenneth E. 1968. General System Theory: The Skeleton of Science,  in Walter Buckley (ed.), Modern Systems Research for the Behavioural Scientist.  Chicago: Aldine.
Coffey, W.J. 1981. Geography: Towards A General Spatial Systems Approach. London: Methuen and Co., Ltd.
Dangana, L and Tropp, C. 1995. “Human Ecology and and Environmental Ethics”. In M.Archia and S.Tropp (eds.) Environmental Management: Issues and Solution. Chichester: John Wiley and Sons.
Dicken, P. 1998. Global Shift: The Transformation of the Global Economy.London: Sage.
Featherstone, M (ed.) .1990. Global Culture. London: Sage.
Haggett, P. 1983. Geography: A Modern Synthesis.  New York: Harper and Row Publishers.
Hartshorne, R. 1959 Perspectives on the Nature of Geography.  London: Murray.
Herbert, D.T. and Colin J. Thomas. 1982. Urban geography: A First Approach.New York: John Wiley and Sons.
Hirst, P and Thompson, G. 1996. Globalization in Question.  Cambridge: Polity Press.
Johnston, R.J; Derek Gregory; Geraldine Pratt and M.Watts. 2000. The Dictionary of Human Geography.  Oxford: Blackwell Publishers Ltd.
Waters, M. 1995. Globalization. London: Routledge.
WCED. 1987. Our Common Future.  Oxford: Oxford University Press.
Worster, D. 1977. Nature’s Economy: A History of Ecological Ideas.  Cambridge: Cambridge University Press.
Yeates, M. 1968.  Introduction to Quantitative Analysis in Economic Geography.  New Jersey: Englewood Cliffs.
Yunus, Hadi Sabari 2005.  Metode Penelitian Geografi Manusia: Pendekatan dan Permasalahan PenelitianDisampaikan dalam Forum Seminar Pendekatan dan Metode Penelitian Geografi dalam Rangka Penyusunan Disertasi.  Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.
Yunus, Hadi Sabari 2006. Megapolitan: Konsep,  Problematika dan Prospek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Yunus, Hadi Sabari 2010.  Metodologi Penelitian Wilayah Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.