Minggu, 21 Juli 2019

Gerakan Literasi Sekolah “Satu Hari, Satu Kalimat”



Oleh:
Tengku Marni Adriyah, S.Pd.
(SMPN 10 kejuruan Muda, Aceh Tamiang)



Literasi makin akrab di telinga para pendidik sejak pencanangan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Literasi menurut konteks GLS merupakan kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas, sementara Education Development Center (EDC) menafsirkan literasi lebih dari sekadar kemampuan baca tulis. Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensinya.

Lantas mengapa selama ini literasi dianggap hanya kegiatan pembiasaan membaca buku milik perpustakaan sekolah? Mengapa keberhasilan literasi hanya dipindai dari ruangan kelas yang memiliki pojok baca penuh kreasi siswa dan wali kelasnya? Padahal literasi perpustakaan hanya satu dari lima komponen GLS. Merujuk pada tujuan, GLS lebih ditekankan pada upaya menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Mari meninjau kembali prinsip-prinsip GLS:
    Dilaksanakan secara berimbang; menggunakan berbagai ragam teks dan memperhatikan kebutuhan peserta didik.
           Berlangsung secara terintegrasi dan holistik di semua area kurikulum.
           Literasi dilakukan secara berkelanjutan.
           Melibatkan kegiatan kecakapan berkomunikasi lisan.
           Mempertimbangkan keberagaman.

Bukankah kita wajib mencapai tujuan di atas melalui pengembangan varian cara, ide, kreativitas, dan ilmu pengetahuan? Mata pelajaran IPS sebagai bagian varian ilmu pengetahuan pada jenjang sekolah menengah pertama membentangkan masalah yang serupa untuk kaum pendidik. Paradigma bahwa IPS merupakan pelajaran yang dianggap mudah dibanding empat pelajaran pokok yang di-UN-kan menyebabkan anak tidak tertarik menggeluti IPS. Mata pelajaran tersebut terkesan dianaktirikan. Padahal IPS sebagai induk tiga cabang ilmu (Geografi, Ekonomi dan Sejarah) merupakan pelajaran menarik yang berperan penting dalam penanaman karakter anak menjadi pembelajar sepanjang hayat. Kenyataan ini sesuai dengan tujuan GLS yang telah dicanangkan, bukan?

Hakikatnya semua anak memiliki rasa ingin tahu yang besar; sebagian anak aktif mengomunikasikannya, tetapi sebagian lagi memilih pasif. Namun penulis yakin bahwa semua anak yang berada di SMP mampu menulis. Minat anak yang berbeda-beda melahirkan sudut pandang yang berbeda. Ambil contoh pada kasus “hujan”. Ya, anak yang begitu berminat pada pelajaran geografi akan langsung teringat tentang berbagai fenomena hujan yang terjadi di dunia. Bayangkan anak-anak takjub terhadap hujan apel yang terjadi di Coventry, Inggris.

Pada peristiwa lain, anak peminat pelajaran ekonomi akan memikirkan pengaruh hujan terhadap tindakan alternatif ekonomi dan anak yang pecinta pelajaran sejarah mulai berimajinasi tentang asal muasal payung yang digunakan oleh gurunya; mengapa bentuk payung tidak sama pada gambar materi penjajahan kolonial, misalnya.

Sesungguhnya siswa adalah pemerhati kehidupan. Mereka pemerhati cara guru mengajar, cara orang tuanya mendidik, cara lingkungan masyarakat merespon perubahan dan memperhatikan berbagai fenomena alam yang kadang tidak mampu diterjemahkan oleh akalnya. Tentu guru menjadi mitra belajar bagi anak-anak yang kaya minat tersebut.

Gerakan menulis “Satu Hari, Satu Kalimat” merupakan salah satu cara sederhana yang patut diuji membangun semangat literasi anak sekaligus meningkatkan minat anak pada pelajaran IPS. Menurut KBBI ‘kalimat’ adalah satuan bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan menyatakan makna yang lengkap. Benar, ‘kalimat’ merupakan satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Bagaimana tahapan menunaikan gerakan“Satu Hari, Satu Kalimat”? Mari menyimaknya bersama-sama!
1.      Dimana mereka menulis?
Setiap anak dapat menulis kalimat pada buku yang sudah dipersiapkan di awal semester. Biarkan anak memberi judul buku itu, seperti “Catatan Tanya Diana” atau “Buku, Aku Mau Tahu Semuanya”.
2.      Kalimat apa yang akan mereka tulis?
Setiap anak dapat menuliskan apa saja, baik kalimat informatif maupun kalimat yang mengandung pertanyaan tentang hal-hal yang mereka lihat, baca, dan tonton (pada jam pelajaran IPS). Mereka juga dapat membuat kalimat puisi atau kalimat bebas (di luar jam pelajaran IPS).
3.      Bagaimana cara mengarahkannya agar sesuai dengan tema pembelajaran?
Siswa akan menuliskan gugusan kalimat berdasarkan tema yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya. Oleh karena itu guru hendaklah tidak lupa menyampaikan tema pada pertemuan sebelumnya. Jangan lupa,  berikan kebebasan siswa menulis kembali sesuai dengan minat dan sudut pandangnya (ingat contoh kasus “hujan”). Jadwalkan pengumpulan buku agar guru punya kesempatan mempelajari apa yang telah ditulis anak.
Kapan kalimat-kalimat itu dibahas?
10 menit di awal pembukaan pembelajaran kita dapat mengefisienkan waktu  agar anak-anak terpancing menceritakan apa yang mereka tulis. Pastikan guru sudah memilih kalimat yang sesuai dengan tema, serta kalimat tanya yang paling menarik untuk dibahas.
Kemudian, 15 menit di akhir pelajaran, ajaklah anak menarik kesimpulan bersama dan selipkan kalimat-kalimat yang sudah mereka tulis. Hal ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak, karena tulisan mereka diapresiasi oleh guru dan teman sekelasnya.
Apa kesinambungan programnya?
Selesai satu tema, guru memiliki catatan; bagaimana kemampuan bertanya anak, cabang mata pelajaran IPS apa yang diminati, dan sebagainya. Lantas, catat mana anak yang perlu bimbingan dan mana yang berhak memperoleh hadiah.
Begitulah gerakan “Satu Hari, Satu Kalimat“ penulis rancang demi mengamini petuah Ki Hajar Dewantara: “Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita.”