Rabu, 17 Juli 2019

KEBERSAMAAN DALAM SECANGKIR KOPI

oleh

Enang Cuhendi


Jambi, 5 Mei 2018, siang itu di saat seminar berlangsung  suhu udara Kota Jambi memang sangat panas. Menurut informasi suhu mencapai 340 C dan katanya ini merupakan suhu terpanas yang pernah ada di Jambi. Duduk di deretan kursi paling depan dengan diiringi hembusan angin dari samping yang berasal dari blower akhirnya membuat mata terkantuk-kantuk. Hal yang sama juga dirasakan Pak Ketum yang duduk di samping penulis. Posisi duduknya sudah mulai tidak stabil. Entah berapa saat kami pun sempat terlelap dan tidak mampu lagi mendengar apa yang ada di sekeliling.

Begitu sadar kami saling berbisik untuk mencari minuman yang bisa mengurangi rasa ngantuk. Pikiran pun tertuju pada kopi. Tapi kemana harus mencari sebab panitia tidak menyediakannya. Akhirnya kami pergi keluar ruangan dan duduk di bawah pohon sambil ngobrol dengan rekan-rekan panitia. Obrolan pun akhirnya berujung pada upaya untuk mendapatkan secangkir kopi. Akhirnya berkat kebaikan kawan-kawan panitia kami bisa menikmati kopi yang  kental dan manis yang tersaji di teko.

Sebenarnya sudah lebih dari setahun terakhir penulis menghindar untuk meminum kopi dengan gula. Kopi yang biasa dinikmati cukup kopi murni tanpa gula. Walau pahit tapi sehat. Akan tetapi demi menghormati kebaikan teman-teman, penulis menikmati kopi yang ada.

Kopi yang disajikan memang kopi murni khas Jambi. Kopi ini ber-merk dagang “AAA”. Di stand bazzar di ruang seminar sebenarnya ada stand kopi AAA, tapi kopi gratisan ternyata lebih terasa nikmat, hehehe ....


Berbicara tentang kopi, Jambi sebenarnya tidak dikenal ulung dalam dunia perkopian seperti  halnya Jawa yang terkenal dengan kopi Jawa-nya, Aceh terkenal dengan kopi Gayo, Sulawesi dikenal dengan kopi Toraja, Papua terkenal kopi Wamena, dan lainnya. Jambi lebih dikenal dengan kelapa sawit dan karetnya. Coffee shop juga masih jarang di Jambi. Walau behitu Jambi punya beberapa daerah penghasil biji kopi pilihan untuk jenis arabika, robusta dan liberika.

Sebagaimana dikutip dari www.antaranews.com  menurut Dinas Perkebunan Jambi luas perkebunan kopi di luar kawasan hutan mencapai 26 hektar. Sedangkan kalau ditotal dengan yang berada di kawasan hutan mencapai 120 hektar. Perkebunan kopi yang di luar hutan bisa ditemui di wilayah Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, Kerinci, Merangin dan Sungaipenuh. Jenis kopi yang ditanam meliputi jenis robusta, arabica dan leberika. Uniknya Jambi menjadi satu-satunya provinsi yang mampu menghasilkan tiga varietas yang berbeda. Jenis Arabica tumbuh di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh, Robusta di Merangin dan Liberika di Tungkal.

Salah satu merk Kopi Jambi tertua yang ada dipasaran adalah merk “AAA”. Pertama kali mengenal kopi Jambi “AAA”  ketika kepala sekolah memberi 250 gram kopi ini sekitar setahun yang lalu. Cita rasanya memang khas. Bagi yang belum biasa memang agak pahit.

Kopi Bubuk “AAA” Jambi adalah salah satu usaha kopi di Kota Jambi yang sedang mengalami perkembangan. Terbukti dengan Kopi Bubuk “AAA”  yang hanya diproduksi di Kota Jambi masih berkembang sejak tahun 1965 hingga sekarang dengan mengalami fase persaingan yang sangat ketat dengan produk kopi lainnya yang berada di Jambi. Kopi “AAA”  diproduksi oleh Perusahaan Kopi Bubuk NEFO Jambi – Indonesia. Sebagai pemilik, Bapak Hidayat berusaha untuk membuat nama khas dari Kopi AAA ini menjadi lebih dikenal di kota-kota sekitar Jambi. Produk Kopi “AAA”  khas Jambi ini sebenarnya sudah terkenal ke berbagai kabupaten dan kota dengan ciri khas kopi dengan tekstur dan bewarna hitam pekat, rasanya lebih pahit dan aroma harum alami dan wangi kopi yang baru ditumbuk.

Sejak keberangkatan dari rumah menuju Jambi kopi “AAA” sudah menjadi incaran penulis. Alhamdulillah keinginan pun terwujud. Bahkan lebih dari itu berawal dari segelas kopi hitam Jambi persahabatan dan kebersamaan antara guru IPS Jabar dengan Jambi menjadi semakin kokoh. Semoga!

Dikutip dari FKGIPS Jabar, 2018, Setapak Jejak di Tanah Jambi, Bandung, MG Publisher.