Minggu, 07 Juli 2019

KELAS BRAILLE & STEAM


oleh  
Supriyanto, M.Pd*


Sebagaimana biasanya ketika hari Jum’at, sebelum kami para anggota Delegasi Pendidikan Kota Surabaya berangkat ke Masjid Ar Rahmah untuk menjalankan ibadah salat jum’at maka kami akan belajar dulu di beberapa kelas. Hari ini para siswa ABK Visual Impairment, Delegasi Pendidikan Kota Surabaya belajar di dua kelas. Kelas pertama adalah kelas Braille sedangkan kelas kedua adalah kelas STEAM.

Di kelas Braille, Mrs. Houey dan Mrs. D. Waits memperkenalkan berbagai peralatan bantu khusus untuk penyandang Visual Impairment. Diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Tablet/Notebook yang terhubung dengan internet dan keyboardnya berhuruf braille. Semua instruksi yg diberikan dengan menekan tombol-tombol yang ada atau dengan keyboard Braille akan menghasilkan suara sesuai instruksi sehingga penggunanya yang buta bisa memahami apa yang sedang bekerja atau tampil di tablet/notebook.
  2. Alat Scan Pembesar yang cara kerjanya seperti cara kerja mikroskop. Hanya saja pemindainya bukan lensa cembung dan kaca tapi scanner pembaca naskah dan dokumen lainnya. Semua tulisan dan gambar akan bisa dizoom dan tampak lebih besar di monitor dari pada naskah aslinya.
  3. Radio dan Audio Player yang terhubung juga dengan internet. Hanya saja pada alat ini tidak terdapat monitor atau layar screen. Yang bisa tampil/muncul hanya suara seperti radio. Jika pengguna mengakses situs-situs dalam internet, maka alat ini akan membacakan teks atau konten situs tersebut. Alat ini juga dilengkapi dengan remote kontrol untuk memindah channel radio atau situs internet.
  4. CD player khusus untuk visual impairment. Alat ini bisa memutar CD atau file-file MP3 dan sebagainya dengan tombol-tombol besar yang mudah dioperasilan oleh para pengguma dari kalangan Visual Impairment.
  5. Mesin Ketik Braille. Kalau mesin ketik jenis ini di Indonesia sudah banyak digunakan di semua sekolah luar biasa tuna netra. Para ABK Surabaya dilatih oleh Mrs. Houey untuk mengenal kode-kode dalam mesin ketik braille ini. Setelah itu, para ABK dilatih mengetik menggunakan mesin tersebut.

Semua alat yang dikenalkan di kelas ini memang buatan Inggris sendiri. Bukan produk impor. Semua asli teknologi Inggris. Karena itu tak heran jika mereka memperkenalkannya kepada para Delegasi Pendidikan Kota Surabaya dengan bangga.

Di kelas kedua, kami belajar tentang STEAM (Science, Technology, Enginering, Art and Mathematic) bersama Ms. Allison. Di negara-negara maju, pendidikan STEAM memangmenjadi sesuatu yang wajib. Saat kami belajar sebagai Delegasi Pendidikan di Korea pun, kami juga dikenalkan dengan STEAM ala Korea. Kalau di Indonesia, STEAM ini lebih banyak diterapkan di tingkat SMA dan SMK. Nah di Inggris ini rupaya pendidikan STEAM sudah mulai diterapkan sejak jenjang SD.

Pada sesi ini Ms. Allison memperagakan cara pembuatan parasut mainan / terjun payung. Biasanya ketika mengajar murid2 beliau sendiri, Ms Allison tidak pernah memberikan contoh. Beliau meminta para siswa meciptakan sendiri kreatifitasnya. Akan tetapi saat mengajar para ABK Surabaya ini beliau memberikan contohnya dan para siswa mengikuti apa yang beliau contohkan.

Setelah beberapa saat lamanya, para siswa ABK pun berhasil membuat parasut mainannya dari bahan bahan yang ada, yaitu kertas folio, kertas tissue, tali plastik, gunting dan isolatif. Para siswa pun gembira sekali menerbangkan mainan parasut buatan mereka sendiri.

Bahkan agar lebih mengasikkan, Ms Allison mengajak para siswa ABK untuk menerbangkan parasut mereka dari atas balkon Chapelle sekolah. Mereka, para siswa ABK Surabaya dan siswa ABK St Vincent School gembira sekali ketika melihat parasut mereka bisa melayang-layang tinggi.

Semoga kelak mereka akan berhsil menciptakan temuan-temuan baru di bidang Sains, teknologi, mesin, seni dan matematika. Allah SWT tidak pernah menciptakan produk gagal. Ketika Dia menciptakan anak-anak dengan kebutuhan khusus ini, yakinlah bahwa Allah SWT pun telah membekali mereka dengan potensi luar biasa yang khusus diberikan kepada mereka, tidak kepada yang lain. Tugas kitalah para guru dan orang tua mereka untuk menggali, memoles dan melejitkan berbagai potensi khusus itu. Salah satunya dengan cara belajar STEAM ini.**************** Asrama St Vincet's School
Jum'at, 5 Juli 2019 pukul 22.25 Waktu Liverpool

Penulis : SUPRIYANTO, M.Pd• Delegasi Pendidikan Kota Surabaya di Liverpool United Kingdom• Guru dan Staff Kurikulum SMPN 40 Surabaya• Kadiv Lembaga Pelatihan dan Kurikulum JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur• Kabid Humas dan Publikasi PP FKG IPS Nasional PGRI • Kabid Penelitian dan Pelatihan HISPISI Jawa Timur• HP / WA : 0813 3741 8475