Jumat, 05 Juli 2019

MENELUSURI SEBAGIAN JEJAK SEJARAH CANDI MUARO JAMBI


oleh:
Enang Cuhendi*


Judul tulisan ini sengaja menggunakan kata “sebagian” karena memang yang berhasil penulis telusuri hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan masa lalu Jambi, khususnya yang ada di Kompleks Candi Muaro Jambi. Keterbatasan waktu yang hanya sehari dan luasnya area kompleks candi jelas tidak menungkinkan penulis untuk menelusuri secara keseluruhan wilayah situs purbakala ini.

Minggu, 6 Mei 218 setelah melewati perjalanan menyusuri Batang Hari, sejauh 26 Km ke arah timur atau sekitar 30 menit dari Kota Jambi akhirnya mobil berhenti tepat di tempat yang kami tuju, yaitu Kompleks Percandian Muaro Jambi. Kami pun turun dan membayar tiket masuk. Harga tiket sangat terjangkau, hanya Rp 8.000 per orang. Selanjutnya untuk melanjutkan perjalanan ke dalam ada dua opsi yang bisa diambil, yaitu berjalan kaki atau menggunakan kendaraan.

Untuk menelusuri kompleks percandian ini mobil dilarang masuk. Untuk itu pengelola menyediakan fasilitas transportasi berupa sepeda dan bentor alias becak motor. Sewa sepeda hanya 10 ribu rupiah, sedangkan bentor 50 ribu rupiah. Kita bisa menggunakan seharian sepuasnya berkeliling area situs. Penulis dengan beberapa teman memutuskan untuk menggunakan sepeda, sedangkan yang lainnya ada yang menggunakan bentor dan berjalan kaki.

Panas yang cukup terik bukan halangan untuk kami mengayuh sepeda dengan semangat ‘45. Moda sepeda kami pilih dengan pertimbangan bisa menyusuri seluruh kompleks candi secara leluasa dengan harga sewa yang murah. Akan tetapi apa yang dipikirkan itu sangat meleset jauh. Jangankan untuk menyusuri lokasi secara keseluruhan, hanya untuk 1% -nya saja kami tidak sanggup. Karena dari informasi yang kami dapat ternyata luas kompleks situs ini mencapai 3.981 Hektar. Artinya untuk mengitari 1%-nya   kami harus menyelesaikan sekitar 39 Hektar. Sungguh luar biasa, karena berarti hampir 8 kali lipat luas kompleks Candi Borobudur.

Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi memang sebuah kompleks percandian agama Hindu-Budha terluas di Indonesia. Lokasinya berada di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Terletak pada tanggul alam kuno Batang Hari. Di dalam  Kompleks Percandian Muaro Jambi secara total terdapat 61 bangunan candi yang sebagian besar masih berupa gundukan tanah (menapo) yang belum digali (diokopasi). Di situs ini baru sembilan bangunan yang telah dipugar, yaitu: Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano. Kesembilan candi tersebut semuanya bercorak Buddhisme. Candi-candi ini kemungkinan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu yang berkembang pada sekitar abad ke-9 sampai abad ke-12.

Kompleks percandian Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1823 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Baru tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin R. Soekmono. Berdasarkan aksara Jawa Kuno pada beberapa lempeng yang ditemukan, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan peninggalan itu berkisar dari abad ke-9 sampai ke-12 Masehi.


Candi Gumpung

Setelah melewati jalan lurus sekitar 500 meter dari gerbang masuk kami mulai memasuki kompleks candi pertama. Di atas lapangan yang luas kami mendapati sebuah candi yang disebut candi Gumpung. Nama Candi Gumpung berasal dari kata “gampung” yang artinya patah. Candi Gumpung merupakan candi terbesar kedua setelah candi Kedaton di kompleks Candi Muaro Jambi ini. Di dalam Candi Gumpung hanya terdapat bata, tidak ada ruangan.

Berdasarkan keterangan yang ada di papan informasi diketahui bahwa secara astronomis Candi Gumpung terletak pada 01028’39.5” LS  dan  103040’02.0”. Pertama kali ditemukan oleh F.M.Schnitger dalam laporan tahun 1937. Berdasarkan kajian prasasti emas yang ditemukan di dalam candi, arkeolog Boechari memperkirakan Candi Gumpung dibangun pada sekitar abad ke-9 sampai awal abad ke-10 M. Secara keseluruhan Candi Gumpung memiliki halaman seluas 150 m x 155 m yang dibatasi dengan pagar keliling berbentuk bujur sangkar.  Bangunan induk Candi Gumpung berukuran 17,9 m x 17,3 m menghadap ke Timur sesuai kedudukan gapura utama yang juga menghadap ke Timur.

Papan Nama Candi Gumpung

Tata ruang kompleks Candi Gumpung terbagi atas beberapa ruang yang masing-masing berpagar bata dengan dilengkapi pintu gerbang masuk. Pagar-pagar dan pintu masuk hanya tersisa sebagian  selebihnya sudah hilang. Proyek pemugaran yang dilakukan tahun 1982 hanya berhasil mengembalikan struktur bangunan yang masih tersisa. Sisa reruntuhan pagar yang masih asli berada di sisi utara di bawah bangunan pelindung (cungkup).
Candi Gumpung

Selain dapat menyaksikan kemegahan candi, di kompleks candi Gumpung ini juga terdapat sebuah telaga, yang berdasarkan informasi bahwa telaga tersebut merupakan tempat pemandian para raja zaman dahulu. Bisa juga kita berimajinasi secara liar, bahwa telaga ini kemungkinan juga bisa sebagai tempat bersuci para bikhu atau bikhuni sebelum mereka melakukan peribadatan atau juga sebagai air sumber kehidupan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.


Candi Tinggi

Tidak jauh dari kompleks Candi Gumpung, terdapat candi lain yang tidak kalah menariknya, yaitu kompleks Candi Tinggi. Kompleks Candi Tinggi ini terletak di sebelah timur laut kompleks Candi Gumpung. Bangunan candi tinggi ini memiliki lahan seluas 2,92 hektar, dan terdiri dari satu bangunan induk yang berdenah bujur sangkar berukuran 16 meter persegi, dengan tinggi 7,6 meter. Enam bangunan pendukung, dan pagar keliling serta dikelilingi parit yang diberi jembatan agar wisatawan yang berkunjung mudah menyeberang. Komplek candi ini terletak di Timur Laut komplek Candi Gumpung, pada koordinat 01028'33.7"LS dan 103040'07.3" BT.

Sama seperti Candi Gumpung, Candi Tinggi ditemukan pertama kali oleh F.M. Schnitger pada tahun 1934. Secara keseluruhan komplek bangunan candi telah mengalami pemugaran pada tahun 1980 hingga tahun 1982. Menurut hasil penelitian arkeologi pada saat pemugaran, diketahui bahwa pada bangunan induk pernah dilakukan perluasan struktur bangunan. Struktur bangunan Candi Tinggi yang lebih tua ditemukan masih tetap utuh pada bagian dalam bangunan, sedangkan bangunan yang lebih muda dibangun menutupi struktur bangunan yang lama seperti saat ini pada bangunan Candi Tinggi. Sedangkan bangunan pendukung berbentuk bujur sangkar terletak menyebar di Timur Laut, Barat, Barat Daya dan Selatan dari bangunan induk Candi Tinggi. Kondisi saat ini dari bangunan tersebut yang tersisa hanyalah bagian pondasi serta sedikit bagian kaki. Sedangkan gapura masuk berada di pagar sisi timur, serta sebuah gapura yang lebih kecil lagi berada di pagar sisi barat dari bangunan 


Candi Tinggi

Saat penemuan dan pemugaran Candi Tinggi ini banyak ditemukan benda-benda emas, dan batu-batu mulia di dalamnya. Selain itu, adapula benda-benda lain seperti kaca Persia, paku besi, benda logam yang terbuat dari perunggu, dan fragmen arca batu. Sedangkan di halaman Kompleks Candi Tinggi ini, banyak ditemukan pecahan keramik China dari masa dinasti T'ang, Song, Yuan, Ming, dan Qing.


Candi Tinggi I

Tidak jauh dari candi Tinggi di sebelah Selatan ada Candi Tinggi I. Membingungkan sebenarnya apakah ini namanya candi Tinggi 1(satu) atau candi Tinggi I (i kapital). Karena kalau candi Tinggi dimaknai satu maka harus ada Candi Tinggi 2, 3 dan seterusnya, tapi ini tidak ada. Saya maknai saja I di sini seperti halnya ‘A (A aksen) untuk sekedar membedakan dengan candi Tinggi.

Candi Tinggi I

Ukuran candi ini tidak semegah Candi Tinggi. Besar kemungkinan ini hanya berupa pondasi dari sebuah bangunan yang pernah berdiri di atasnya. Entah itu berupa tempat tinggal, ruang kantor atau tempat ibadah. Penemuan candi Tinggi I relatif baru. Pada sekitar tahun 2000 di atasnya hanya berupa gundukan tanah. Saat tanah tersebut disingkap ternya terdapat sejenis bangunan candi, yang kita kenal sebagai candi Tinggi I sekarang.

Hal unik yang bisa dijumpai dari Candi Tinggi I ini adalah susunan batu bata di struktur luar yang polanya berbeda dengan susunan batu bata di struktur dalam. Perbedaan cara menyusun batu bata ini diduga akibat dari perbedaan masa pembangunan. Jadi, ada dugaan bahwa di zaman dulu, Candi Tinggi I ini pernah mengalami pengembangan dan perluasan bentuk bangunan.

Candi Kembar Batu

Sekitar 250 meter agak ke Timur sedikit dari Candi Tinggi I terdapat candi lain yang disebut candi Kembar Batu. Candi ini disebut demikian karena memang memiliki dua bangunan yang hampir mirip alias kembar. Candi kembar seperti ini merupakan kali kedua yang penulis temukan selama melakukan perjalanan menelusuri jejak peninggalan bangunan candi. Yang pertama penulis temukan di situs Candi Ploasan Lor, di Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Hanya bedanya di Ploasan Lor terbuat dari batu dan hasil akulturasi antara Hindu dengan Budha, sedangkan Candi Kembar Dua terbuat dari batu bata dan murni peninggalan Budhisme. Sayangnya, wujud dari candi kembar di Jambi ini tidak semolek Candi Plaosan. Sebab, yang saat ini terlihat hanya bagian kaki candinya saja. Candi Kembar Batu dipugar pada tahun 1994 – 1995.

Candi Kembar Batu

Selain keberadaan dua bangunan kembar, Candi Kembar Batu ternyata dikelilingi oleh sejumlah bangunan lain. Secara keseluruhan, Candi Kembar Batu dikelilingi oleh sembilan bangunan yang kesemuanya dipagari oleh pagar batu dan dilindungi parit.

Sedikit berimajinasi secara liar. Kemungkinan dulunya Candi Kembar Batu ini merupakan suatu kompleks hunian atau tempat tinggal bagi orang yang memiliki kedudukan penting. Bisa jadi tempat tinggalnya pejabat kerajaan, pemuka agama atau yang mirip-mirip dengan itu. Yang jelas, tentunya bukan tempat tinggal rakyat biasa. Bangunan yang tersisa saat ini hanyalah bagian bawah atau alas dari bangunan di atasnya yang besar kemungkinan terbuat dari kayu sebagaimana umumnya rumah-rumah tradisional masyarakat Jambi.

Imajinasi liar membawa pada sebuah cerita. Pemandangan yang tersaji di masa kini, mendadak berubah ke zaman lampau. Siang hari yang terik, berganti menjadi kelamnya malam yang disinari purnama. Parit yang saat ini kering dan dangkal, kini kembali dalam dan dipenuhi air. Wujudnya pun tak ubahnya kanal atau sungai kecil. Sekelilingnya berupa hutan berpohon lebat dan rapat.

Di kanal itu, terlihat ada perahu. Ia bergerak pelan menyibak air yang tenang. Gemericik suara dayung beradu dengan air memecah keheningan malam. Perahu itu pun pelan-pelan merapat ke dermaga di dekat gerbang masuk. Obor yang semula berada di haluan perahu berpindah ke darat sambil tetap digenggam oleh seorang abdi kerajaan. Pancaran nyala api yang temaram itu memandu iringan-iringan tamu dari negeri jauh di Asia Timur. Raut wajah mereka nampak kelelahan. Mereka pun berjalan, menyusuri jalan setapak, memasuki gapura, dan terpesona dengan bangunan yang akan menjadi tempat singgah mereka di Bumi Sriwijaya untuk beberapa hari ke depan.


Sisa Kanal Kuno
Imajinasi ini walaupun liar, tetapi bukan tanpa dasar. Ini berdasarkan informasi bahwa di sekitar kompleks Candi Kembar Batu terdapat temuan gong perunggu bertulis huruf Cina, lempengan-lempengan emas, batu mulia, bata bertuliskan huruf Jawa kuna, serta keramik Cina. Bila kita boleh berasumsi bahwa temuan-temuan tersebut merupakan peninggalan orang-orang yang dahulu kala bermukim di sini, maka kuat dugaan bahwa orang-orang yang dahulu tinggal dan beraktivitas di  tempat ini memang bukan orang biasa karena ada interaksi dengan bangsa dan budaya luar. Satu hal yang sangat tidak mungkin dilakukan oleh masayarakat kebanyakan.


Candi Astano

Salah satu candi yang masih sangat jelas terlihat berdiri di tengah pulau yang dikelilingi oleh (bekas) parit buatan adalah Candi Astano. Candi ini terletak kira-kira 1 kilometer dari Candi Tinggi. Kita bisa mencapainya dengan menyusuri jalan kecil. Bangunan candi Astano berada pada koordinat 01°28'28.9" LS dan 103°40'43.8" BT adalah lokasi tepatnya Candi Astano.

Candi Astano terletak tepat di tepi Danau Kelari yang sayang danaunya sendiri tak sempat penulis lihat. Berdasarkan informasi yang termuat di papan infoemasi candi, dilihat dari bentuk dan struktur susunan batu batanya menunjukan bahwa bentuk yang sekarang ini merupakan pengembangan dan perluasan bangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan pada masa itu.  Bangunan pertama sebagai yang tertua dan tertinggi berada di tengah, sedangkan bangunan kedua dan ketiga mengapit di sebelah Timur dan Barat bangunan pertama yang merupakan bagian dari Candi Astano. 

Bangunan Candi Astano yang pertama kali dibangun berada di tengah. Ukurannya 6 x 13 meter dengan tinggi 3.5 meter. Bangunan awal ini dibangun memanjang dari Utara ke Selatan. Saat ini yang bisa kita lihat dari bangunan pendahulu ini adalah bagian tubuh yang “menyembul” di tengah bangunan candi. Sedangkan bangunan perluasan Candi Astano mengapit bangunan pendahulu di sisi Timur dan Barat. Ukuran bangunan perluasan di sisi timur adalah 2,9 x 3,65 meter dengan tinggi 3 meter. Untuk ukuran bangunan perluasan di sisi barat adalah 8,75 x 7,85 meter dengan tinggi 3 meter. Dari hasil pengamatan penulis bangunan Candi Astano tidak dihiasi relief dan tidak juga memiliki lekuk sebagai tempat arca. Bahkan bangunan Candi Astano sama sekali tidak memiliki struktur tangga. Kemungkinan dahulu tangganya terbuat dari kayu.

Ditemukan pada tahun 1934 oleh F.M.Schnitger. F.M.Schnitger merupakan orang pertama yang menghubungkan kawasan komplek candi Muaro Jambi dengan kerajaan Melayu (Mo-lo-yeu), seperti disebutkan dalam naskah Cina pada abad XVII. Sebenarnya F.M.Schnitger merupakan orang ketiga berhasil menemukan reruntuhan kawasan percandian Muaro Jambi, setelah sebelumnya ada S.C.Crooke seorang perwira angkatan laut kerajaan Inggris pada tahun 1883. Lalu seorang kebangsaan Belanda bernama T.Adam pada tahun 1921, dan barulah sekitar tiga belas tahun kemudian F.M.Schnitger berhasil menambahkan informasi tentang nama-nama candi di kompleks percandian tersebut, termasuk candi Astano.

Di sekitar Candi Astano tidak nampak adanya reruntuhan bangunan lain. Katanya, di lokasi ini pernah ditemukan 2 padmasana dari batu, 14 potongan arca batu, pipisan, lesung batu, manik-manik, serta keramik lokal dan asing.

Pusat Informasi Kompleks Muaro Jambi

Di dalam Kompleks Candi Muaro Jambi terdapat tempat pusat informasi mengenai percandian Muaro Jambi bagi wisatawan yang berkunjung. Sering juga disebut museum.
Di dalam pusat informasi, terdapat berbagai macam arca, artefak, serta peta lokasi mengenai candi-candi yang ada, dan yang jelas informasi mengenai candi-candi. Ada juga gerabah dan keramik porselen.  Ada lempengan emas beraksara Jawa Kuno berisi mantra-mantra kepercayaan Budhisme yang ditemukan di gerbang Timur Candi Tinggi pada tahun 1984, saat dilakukan kegiatan pengupasan. Lempengan emas tersebut berukuran 12,5 cm x 4,2 cm. Beratnya 7,82 gram.


Hal lain yang menarik di museum tersebut, adalah keberadaan aksara Incung atau aksara khas Jambi. Pendalaman tentang aksara Incung penulis dapatkan ketika berkunjung ku Museum Siginjai. Aksara Incung atau Aksara Kerinci ditemukan pada lempengan kayu, isinya dipercaya sebagai mantra-mantra.

Sedikit Analisis

Setelah berkeliling ke beberapa lokasi candi di Kompleks Percandian Muaro Jambi ada beberapa hal yang menarik untuk dikaji. Pertama bahan bangunan candi di sini berbeda dengan di Jawa. Semua candi di sini terbuat dari bahan batu bata atau bata merah yang berbahan dasar tanah liat. Ini berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang umumnya terbuat dari batu alam. Ada yang beranggapan perbedaan candi-candi yang ada di kompleks ini dengan candi di Jawa adalah karena kearifan lokal. Mereka lebih menyesuaikan alam. Maka dari itu mereka membuat candi di sini dari tanah liat. Di Jawa mereka menggunakan batu alam karena terdapat banyak pegunungan. Dari segi teknologi dan arsitektur, struktur bangunan menggambarkan keterampilan dan pengetahuan di berbagai bidang mulai dari pemilihan lokasi, metode pembangunan candi dan tata guna lahan yang disesuaikan dengan kondisi geografis dan lingkungan kompleks candi.

Kedua, bagian yang berhasil ditemukan umumnya hanya berupa bagian dasar atau fondasi bangunan, bukan keseluruhan bangunan secara utuh seperti halnya di Jawa. Besar kemungkinan bagian atas dari bangunan ini terbuat dari bahan yang tidak tahan lama, seperti kayu untuk tiang penyangga atau daun-daunan untuk atapnya.  Tiang kayu ditempatkan pada lubang umpak. Karena tiangnya terbuat dari kayu, maka tidak ditemukan. Dahulu bangunan ini memiliki atap di sisi kiri dan kanannya. Lubang umpak sendiri berfungsi sebagai pondasi untuk berdirinya tiang bangunan tersebut


Lubang Umpak


Ketiga, meskipun ada beberapa ciri bangunan Hindu, Agama Budha menjadi ciri khas /dominan di Candi Muaro Jambi. Dengan kata lain kompleks Candi Muaro Jambi ini merupakan peninggalan agama Budha. Ada hipotesis yang memperkirakan bahwa komplek candi ini merupakan  kompleks pusat pendidikan agama Budha saat itu. Agama Buddha Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas. Pada saat kerajaan Sriwijaya sedang jaya-jayanya sekira tahun 784, mereka mengutus mahasiswa untuk belajar ke universitas di Nalanda, India. Untuk kepentingan pendidikan tersebut, Sriwijaya bahkan sampai membuat 2.000 (dua ribu) kamar dan satu perpustakaan di Nalanda, untuk mahasiswa asal Sriwijaya. Namun, Budha Dharma di India akhirnya harus mengalami kehancuran karena invasi dari negara lain, Lalu Universitas Nalanda pun pindah ke Sriwijaya. Pindahnya diperkirakan ke Kompleks Candi Muaro Jambi ini. Peninggalan-peninggalan yang ada diperkirakan tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata, tetapi juga berfungsi sebagai asrama dan tempat belajar.

Keberadaan stupa di dekat Candi Tinggi 
memperkuat analisis bahwa candi ini bercorak Budha

Keempat, keberadaan parit atau kanal kuno dan kolam buatan merupakan sesuatu yang menarik. Temuan kanal buatan manusia – yang melewati kompleks candi dan waduk air – adalah bukti bahwa orang-orang di masa lalu memiliki kearifan lokal untuk menghemat air, menggunakan kanal untuk transportasi, mendapatkan sumber protein dari berbagai ikan yang dibudidayakan. Kanal-kanal tersebut merupakan jalur yang menghubungkan jalur sungai untuk menuju kompleks candi. Fungsi kanal juga diperkirakan untuk mengendalikan banjir dan juga merupakan benteng alami dari serangan luar. Sedangkan kolam untuk menampung air kebutuhan sehari-hari mereka yang tinggal di sini. Tentunya ini hanyalah sebuah hipotesis sederhana yang perlu pembuktian lebih jauh.

Kelima, di Kompleks Percandian Muaro Jambi ini juga banyak ditemukan manik-manik dari Persia, Cina dan India. Banyaknya penemuan peninggalan kuno dari China, menandakan kalau dulu daerah tersebut menjalin hubungan dengan beberapa dinasti China. Sebuah gong perunggu dengan pahatan  tulisan China yang ditemukan, menurut penelitian berasal dari abad ke-11 dan ke-12. Saat itu merupakan pemerintahan Dinasti Song. Kemudian hubungan dengan Persia dan juga India dapat dipastikan sudah terjalin. Hubungan luar negeri yang sudah terjalin menunjukan pengakuan negara luar atas kedaulatan Sriwijaya atau Melayu. Selain itu, hal ini juga menjadi bukti bahwa di kompleks ini tela terjadi pertemuan berbagai ragam budaya dari luar. Hubungan Sriwijaya dengan luar negeri dipermudah dengan keberadaan Batang Hari yang merupakan sungai besar.

Demikian catatan ringkas tentang Kompleks Candi Muaro Jambi. Kajian yang dilakukan memang masih sangat sederhana dan tidak meng-cover secara keseluruhan objek yang ada. Ini dikarenakan waktu dan pengetahuan yang sangat terbatas. Semoga ke depan ada harapan untuk kembali ke sini. Insyaa Allah

*) Guru IPS SMPN 3 Limbangan Kab.Garut, Ketua PW FKGIPS PGRI Jabar & Waketum PP FKGIPS Nasional PGRI