Jumat, 12 Juli 2019

MENIKMATI TANTANGAN MENGAJAR DI PEDESAAN




oleh
Cici Wulandari, S.Pd. 
(Guru IPS di SMP Negeri 2 Tanjung Pura- Sumut)
Saya  seorang guru IPS di sebuah SMP Negeri yang terintegrasi dengan SD Negeri. Sekolah seperti itu disebut  Sekolah Satu  Atap. Lokasinya cukup jauh dari rumah tempat tinggal saya. Berjarak kurang lebih 2 jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Untuk naik angkutan umum  tidak memungkinkan, karena jumlah angkutan umum menuju ke sekolah, sangatlah minim dan hanya tersedia pada waktu tertentu saja.
Pada awal saya bekerja di sekolah tersebut, rasa tidak nyaman dan kelelahan  akibat perjalanan yang jauh selalu saya rasakan. Seiring berjalannya waktu, rasa tidak nyaman dan bosan tersebut berganti menjadi sebuah semangat yang besar untuk bekerja dan berkarya.  Perlahan saya mulai menikmati perjalanan di pagi hari, saat mentari masih mengintip di balik kegelapan. Udara yang segar, melintasi perkebunan tebu, perkebunan sawit, perkebunan karet, perkebunan jati, dan hamparan sawah yang memiliki aroma khas yang berbeda, serasa menyatu dalam jiwa dan menjadi pemantik semangat untuk segera tiba di sekolah.
Mengajar di sebuah sekolah kecil yang jauh dari pusat kota, tentunya memiliki tantangan tersendiri. Selain akses transportasi dan komunikasi yang sedikit sulit, pola pikir masyarakatnya pun sangat jauh berbeda  dengan masyarakat di kota tempat tinggal saya. Sehingga hal tersebut sangat berdampak terhadap semangat dan minat belajar siswa di sekolah saya. Bagi mereka, sekolah hanyalah sebuah lembaga pendidikan formal tempat mendapatkan ijazah.
Untuk menjawab tantangan tersebut, berbagai metode pembelajaran berusaha saya terapkan. Targetnya untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, sehingga motivasi dan minat belajar siswa dapat mengalami peningkatan. Kendala besar yang sering saya hadapi adalah, siswa masih banyak yang kurang memiliki kemampuan dasar  membaca, menulis dan berhitung. Sebuah tantangan besar bagi saya untuk memperbaiki keadaan yang tidak baik tersebut.  Alhamdulillah, saya mendapatkan teman-teman di sekolah  yang mempunyai semangat yang luar biasa. Salah satu solusi yang kami buat untuk masalah yang terjadi pada siswa adalah, membuat jam tambahan setelah proses belajar mengajar berakhir. Dalam hal ini, kami tidak lagi membebankan tugas pada guru mata pelajaran, tetapi saling bahu membahu dengan penuh keikhlasan untuk memberikan les tambahan kepada siswa yang yang masih kurang dalam Calistung.
Seiring berjalannya waktu, kesadaran siswa semakin membaik untuk belajar. Sehingga les tambahan yang awalnya hanya untuk siswa yang ketuntasannya masih minimal, berkembang menjadi les tambahan untuk siswa yang ingin memperdalam mata pelajaran yang digemarinya. Kegiatan tersebut kami lakukan dengan sukarela dan senang hati, sehingga pelaksanaannya terasa begitu menyenangkan.
Pulang dari sekolah sore hari dan tiba di rumah pada malam hari tidak lagi menjadi beban berat bagi saya. Saya berusaha menikmati setiap proses yang terjadi dengan ikhlas. Walau ada sedikit ungkapan protes dari kedua balita saya pada saat itu. Kompensasinya saya berusaha membayar dengan Quality Time di setiap akhir pekan bersama mereka.
Ungkapan “Tidak ada usaha yang menghianati hasil” adalah nyata terjadi pada diri saya. Semua proses yang saya jalani, perlahan menuai hasil. Alhamdulillah, kami mampu mengantarkan siswa menjadi peserta OSN Tingkat Provinsi. Mungkin bagi sebagian orang, prestasi tersebut bukanlah hal yang istimewa, tapi bagi saya, itu adalah penghargaan luar biasa. Mengingat perjuangan kami, para guru dari daerah terpencil, dengan minat belajar siswa yang minim. Prestasi yang sangat kecil tersebut, terus menjadi cambuk semangat bagi kami, guru dari pedesaan dengan segudang tantangan.
Nasihat yang selalu saya sampaikan kepada siswa , “Tidak ada manusia yang bodoh, yang ada hanya manusia yang malas, apabila kita tidak ingin menjadi manusia yang bodoh, maka buanglah rasa malas, dan semangat lah untuk bekerja dan berkarya.” Harapannya semoga saja mereka selalu mengingat nasihat saya sampai kapanpun agar menjadi cambuk semangat mereka dalam meraih masa depan yang gemilang.

           Hasil gambar untuk cici wulandari
Cici Wulandari, S.Pd. Lahir di Tanjung Pura Sumatera Utara, 12 Juni 1984 adalah seorang Guru IPS di SMP Negeri 2 Tanjung Pura. Menyelesaikan studi S1 tahun 2007 pada jurusan Pendidikan Ekonomi program studi Akuntansi UNIMED. Diawali dengan hobi membaca sejak kecil, menjadi pemicu semangat untuk menjadi penulis terkenal. Penulis pernah meraih peringkat pertama pada Diklat Pembekalan Instruktur Nasional pada Program PKB di P4TKPKNIPS Kota Batu, Malang.