Rabu, 03 Juli 2019

MENJADI GURU IPS DI PEDESAAN


Hasil gambar untuk SMP Negeri 2 Banjarsari Kabupaten Lebak Banten

oleh:

Ati Sumiati,S.E.

SMP Negeri 2 Banjarsari Lebak -Banten
Peserta Pelatihan Menulis online FKGIPS 
Kelas C


Sukriah adalah seorang Guru IPS di SMP Negeri 2 Banjarsari Kabupaten Lebak Banten, wanita yang lahir pada tahun 1979 ini sudah 14 tahun mengabdikan dirinya di SMP Negeri 2 Banjarsari dari pertama ia menjadi tenaga honorer sampai akhirnya diangkat menjadi PNS.
Pagi itu udara terasa sangat sejuk, matahari bersinar cerah. Sukriah bergegas mengambil kunci motornya lalu menjalankan kuda besinya itu menuju ke tempat kerja dengan semangat.  Hari ini guru yang diangkat PNS dari Tenaga Guru Bantu tersebut akan menjelaskan tentang Perang Diponegoro dengan menggunakan media pemutaran film singkat dari Youtube. Tak lupa siswa kelas 8A telah ia tugaskan untuk membawa Hand Phone untuk memutar Youtube di sekolah.
Sesampainya di sekolah, jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB. “Berarti aku punya waktu lima menit untuk mengecek buku dan alat tulis sebelum bel masuk kelas berbunyi” katanya dalam hati. Tak lama kemudian bel berbunyi memanggil seluruh siswa dan guru untuk masuk ke dalam kelas memulai pelajaran. Sorak sorai anak kelas 8A terdengar sampai ke Ruang Guru, mereka senang karena hari ini akan main internet sambil belajar. Ada pula suara anak yang merengek minta sambungan hot spot dari temannya karena ia tidak mempunyai kuota internet.
Sukriah bergegas menuju kelas. Sesampainya di kelas tak lupa mengucapkan salam, berdo’a dan menanyakan kabar anak didiknya dengan suara lembut. Setelah memeriksa kehadiran dan kesiapan siswa, Sukriah pun menjelaskan secara singkat tentang kronologi Perang Diponegoro, Setelah itu ia meminta siswa untuk membuka Youtube dan melihat film singat tentang Perang Diponegoro. Para Siswa bersorak gembira, dengan semangat mereka mengeluarkan hand phone-nya. Tapi kegembiraan mereka sekejap hilang, mereka terdiam dan wajahnya penuh kecewa.
“Kenapa?” tanya Sukriah
“Tidak ada signal, Bu!” Jawab anak-anak serentak
Sukriah segera mengecek telepon genggamnya dan ternyata memang tidak ada signal.
“Mungkin mati lampu, Bu.” Kata seorang siswa mengingatkan, memang di desa kami kalau mati lampu signal HP pasti hilang.
“Ya sudah anak-anak, untuk pertemuan kali ini kita belajarnya tidak usah memakai media Youtube, silakan simpan kembali HP kalian.”
“Ia, Bu.” Jawab anak-anak kecewa
Itulah sekelumit kisah tentang Guru IPS yang ada di desa. Kami ingin maju tapi kadang fasilitas yang tidak mendukung. Harus mencari seribu satu cara agar materi dapat tersampaikan dengan baik. Alangkah tidak adilnya jika dipaksakan standar kami harus disamakan dengan sekolah yang ada di kota. Karena memang situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Namun Sukriah Sang Guru IPS dari desa tak pernah patah semangat, ia bertekad muridnya nanti akan menjadi orang penting di negeri tercinta ini.