Selasa, 30 Juli 2019

Metode Ular Tangga dari Tanah Jambi



Oleh
Junrotun(SMPN 13 Muaro Jambi)


Jika pengalaman adalah salah satu guru yang terbaik, maka menjadi seorang guru adalah salah satu pengalaman yang terbaik

Menjadi guru adalah profesi dengan panggilan jiwa. Jiwa yang siap dengan kerepotan administrasi dan permasalahan semua siswa. Walau begitu menjadi guru kita akan menjadi kaya pengalaman yang berharga. Setiap hari berinteraksi dengan siswa yang memiliki latar belakang yang berbeda.  Ada siswa yang cerdas dalam pengetahuan, tetapi ketika berhadapan dengan mapel olahraga seperti bola besi yang dilempar ke air. Tenggalam, kaku dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sebaliknya ada siswa yang sangat menyukai olah raga dan menggemari kegiatan fisik di lapangan, tetapi untuk duduk di kelas agar bisa belajar dengan tertib seperti cacing kepanasan. Ada juga yang hanya tertarik dengan angka ketika berhadapan dengan mapel IPS, dahinya berkerut kebingungan. Bermacam-macam karakteristik anak, bermacam pula cara kita menghadapinya.
Saya adalah seorang guru IPS di SMPN 13 Muaro jambi. Sekolah yang berjarak  sekira 2 jam perjalanan ke ibukota provinsi Jambi dan berjarak  sekira 3 jam dari ibukota kabupaten Muaro Jambi. Ini bukan salah tulis, memang beginilah kondisi kami. Saya tidak akan bercerita tentang jarak, karena saya akan bercerita tentang pengalaman menjadi guru IPS.
IPS terkenal dengan mapel “hapalan”, membuat mengantuk, membosankan. Sebagian siswa saya dulu beranggapan begitu. Untuk merubah stigma tersebut, saya berusaha menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Setelah saya melakukan sedikit riset ditemukan fakta bahwa ternyata siswa-siswa lebih menyukai pembelajaran yang diselipi dengan permainan.
Saya melakukan permainan ular tangga untuk materi Hindu Budha dikelas VII A yang terdiri dari 26 siswa. Kegiatan pembuka sama seperti pembelajaran lainnya. Rupanya ada 1 orang siswa yang tidak masuk karena sakit. Kegiatan inti berlangsung dengan tahap eksplorasi. Pada tahap eksplorasi berjalan seperti biasa, siswa bekerja dalam kelompoknya untuk menyelesaikan LKS. Tahap yang menarik adalah saat bermain ular tangga. Mereka sudah familiar dengan permainan ular tangga, tangga untuk naik dan ular untuk turun. Mereka duduk dalam kelompok yang terdiri 5 orang dan mengocok dadu untuk menentukan giliran. Berbeda dengan ular tangga biasa, setelah mereka mengocok dadu untuk menjalankan poin mereka harus mengambil kartu soal dan menjawab pertanyaannya. Kemudian di cocokkan dengan kartu jawaban, jika benar mendapat poin 100 dan jika salah poinnya berkurang 50. Poin dituliskan dalam lembar nilai yang sudah disiapkan.
Untuk lebih memeriahkan suasana, di antara kartu soal diselipkan kartu bonus dan kartu denda. kartu bonus isinya adalah bonus poin 100, sedangkan kartu denda isinya adalah hukuman yang harus dilakukan siswa. Misalnya menyanyikan lagu wajib di depan kelas, memungut 5 sampah dan lain-lain. Kelas pun menjadi sangat heboh dan riuh. Ada yang histeris karena jawabannya salah sehingga poinnya berkurang, ada juga yang melompat kegirangan karena jawabannya tepat. Di depan kelas ada siswa yang malu-malu menyanyikan lagu Padamu negeri, sedangkan di luar kelas ada siswa yang menggerutu karena mendapat kartu denda mengambil 5 sampah. Beberapa siswa berteriak kecewa saat dadu mereka berhenti di ular yang menandakan mereka harus turun. Dinamika ekspresi yang sangat menyenangkan untuk dilihat. Walaupun tak jarang guru di kelas sebelah mampir untuk melihat apa yang terjadi di kelas tersebut.
Kejadian kurang menyenangkan adalah saat kelompok  terlibat adu mulut. Dua siswa berbeda pendapat tentang angka pada dadu. Keduanya bersikeras pendapat mereka adalah yang benar. Guru mengambil keputusan untuk mengulang pengocokan dadu dan meminta siswa yang lain agar mengkuti permainan dengan lebih cermat agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi. Seperti anak-anak yang lain, mereka pun dengan cepat melupakan perselisihan tersebut. Permainan pun dilanjutkan sampai selesai. Pemenang di dapat dari setiap kelompok. Senyum manis terpancar dari raut para juara ketika mereka di panggil ke depan kelas. Mereka mendapat bingkisan kecil yang sudah dipersiapkan guru sebelumnya. Bingkisan yang tak berharga namun tetap membuat bangga. Waktu dua jam pelajaran berlangsung dengan singkat.
Ketika permainan berlangsung, peran guru hanya memantau jalannya permainan agar berlangsung dengan lancar. Sesekali guru mengingatkan siswa agar tidak bersuara terlalu lantang ketika mengekpresikan perasaannya. Sebagai guru tidak jarang saya ikut tertawa melihat tingkah konyol mereka. Kebahagiaan kecil yang didapat seorang guru adalah saat muri-siswanya tersenyum senang saat belajar. Kebahagiaan lebih besar saat mereka bertanya “Bu, besok kita main lagi, ya?” InshaAllah di waktu akan datang akan dicoba berbagai jenis permainan menarik lainnya.
Pernah suatu kali ada yang bertanya”motivasi apa yang bisa membuat guru agar selalu semangat mengajar “? Jawaban dari seseorang yang ditanya, memberikan jawaban berupa pertanyaan kembali, namun tak membutuhkan jawaban. “ketika bertahun-tahun lamanya telah berlalu dan ada siswa yang selalu ingat akan apa yang telah gurunya lakukan, dan ajarkan untuk kebaikan, lalu motivasi apa lagi yang dibutuhkan oleh seorang guru ?” Semoga kita semua menjadi guru yang bisa dirindukan, menginspirasi dan selalu memotivasi siswa-siswa.