Rabu, 03 Juli 2019

MY CLASS, MY ADVENTURE

oleh:

Titik Aminarti*)


Tahun 2012 adalah momen  terpenting dalam hidup saya. Saat itu saya bisa  berkumpul dengan suami  yang kurang lebih lima tahun terpisah karena  saya mengajar di Bondowoso dan  suami mencari sesuap nasi di kota kelahirannya di Blitar. Selain itu perubahan yang paling saya rasakan adalah tingkatan sekolah  dalam  mengajar. Sewaktu di Bondowoso yang merupakan kota tempat saya dilahirkan, saya mengajar di SMA, dengan satu spesialisasi pelajaran, begitu  mutasi ke Blitar saya harus mengajar di SMP, tepatnya di SMPN 3 Kademangan yang masuk pada pembagian wilayah Kabupaten Blitar bagian Selatan dengan engajar IPS yang meliputi beberapa bidang keilmuan.. 
Saat awal mau mutasi rasanya senang saja. Tidak ada hal negatif yang terfikirkan. Ternyata begitu awal-awal mengajar rasanya hampir stres. Apakah karena materi ajar? Tentunya bukan karena alhamdulillah hal itu bisa teratasi, Masalahnya ada pada cara pandang dan pola pokir saya terhadap siswa. Sungguh sangat berbeda. Belum lagi kebiasaan bahasa di kelas. Bondowoso mayoritas penduduknya berbahasa Madura, sedangkan Blitar bahasa Jawa. 
Tahun pertama saya mengajar  di kelas 7. Karena awal mengajar dan ingin performa yang  menggoda, saya buat beberapa model perkenalan. Salah satunya dengan mengedarkan kertas warni warni yang berisi pertanyaan, berharap siswa tertarik dan menyukai pelajaran sekaligus menyukai saya tentunya. Selang beberapa saat, ada beberapa yang berlari menghampiri, saya langsung kegeeran karena di kertas pertanyaan memeng ada yang mengharuskan untuk berkomunikasi langsung dan wawancara pendek. Ternyata… dia cuma mengadu, “Bu, ballpoint saya disembunyikan si A!” Siswa yang lain berteriak,”Ibu, tadi baju saya di Tarik si B!” atau “Bu, si C nakal!” Byarrr… rasanya seperti mati gaya.  
Pada saat kita berganti materi penguatan, saya memberi waktu kepada para siswa untuk membaca. Kemudian meminta mereka menjelaskan yang dengan bahasa dan gaya mereka. Belum lama ada siswa yang bertanya. Wah, keren nihh…dalam hati saya membathin, ternyata… mereka bertanya, “Halaman berapa bu?” Aduh, Palang! (palang=ungkapan dalam bhs. Madura dalam situasi yang mengesalkan atau lucu)
Apakah mereka  kurang pintar? Tidak. Apakah mereka kurang peka? juga tidak. Saya yang salah, tidak mengubah sudut pandang saya terhadap siswa. Jelas berbeda antara siswa SMA dan SMP. Dari segi usia pasti berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian. Dari sinilah saya belajar. Mengenal karakter kepribadian siswa dengan rentang usia antara 13-16 tahun. Di sinilah puncak keseruannya. Apakah tidak ada lagi anak yang menjahili temannya? Ada, Cuma ada jurus-jurus lucu ala saya, yang disesuaikan karena diusia ini mereka pada tahap pembenaran diri, jadi perlu diberi efek kejut. Seperti, “Bu, buku saya disembunyikan si A?” maka sayapun dengan sigap menjawab “Wah…jangan-jangan mau kirim surat ya, pake menyembunyikan buku?” Bisa ditebak, kelas akan gaduh, dan si pembuat masalah akan menyangkalnya yang disertai dengan buku yang kembali pada si empunya. Juga dengan pertanyaan “Halaman berapa, Bu?” Cukup saya perintahkan membuka daftar isi, mereka langsung menemukan, tentu disertai dengan celotehan khas anak SMP, yang kepo layaknya anak-anak dan sok dewasa karena sudah duduk di sekolah lanjutan. “Iki Lho…!” Yang pasti akan disahuti dengan yang lain. 
Dan ternyata, kepo ala anak-anak inilah modal dasar pembelajaran IPS di kelas saya. Seperti ketika saya membawa tiga botol air mineral dengan merk berbeda yang dibungkus kertas, untuk pemebelajaran siklus hindrologi. Begitu masuk kelas, anak-anak sudah bergumam penuh tanya dalam suara yang bersahutan, pembelajaran ramai dan seru, tercapai semua. Pun ketika mereka saya ajak belajar di luar kelas membahas tentang unsur-unsur cuaca pada materi gejala-gejala di atmosfer. Ada kelompok yg membahas angin, diberi tugas membawa baling-baling. Sangat di luar dugaan bayangan saya, baling-baling yang dibawa oleh anak-anak sangat indah dan bagus-bagus, bukan hanya sekedar untuk mengukur kecepatan angin saja. Ada yang susun 3 dengan kertas berwarna –warni, ada yang besar bahkan diberi penahan dari bambu agar kokoh, hasilnya balingnya tidak berputar dengan cepat kecuali anginnya kencang. Dan yang lebih surprise lagi, beberapa siswa membawa layangan, dengan alasan bahwa kalau di atas anginnya kencang, bisa saja alasan mereka. Rasanya melihat mereka tertawa riang  tanpa beban sambil berlarian memegang baling-baling setelah selesai mengisi lembar kerja praktek, atau bergantian menarik layangan adalah suatu kebahagiaan yang luar biasa bagi saya seorang guru yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Dari sekian pembelajaran yang pernah saya lakukan, ada satu proses yang sangat berkesan bagi saya dari segi kreatifitas berfikir siswa, yaitu praktek survei pasar. Kebetulan sekali, lokasi sekolah saya, yaitu SMPN 3 Kademangan, dekat dekat dengan Pasar Desa Maron yang buka hanya tiap hari pasaran Pon. Jarak sekolah dengan pasar kurang lebih 50 m, jadi sangat memudahkan bagi siswa akses menuju pasar tersebut. Yang sangat menarik dari praktek survey pasar ini adalah, harus menyesuaikan jam pelajaran dengan waktu pasaran Pon yang juga harus pagi pula, dan teman-teman guru bahkan memberikan waktunya untuk dipakai sementara untuk dipergunakan jam IPS.
Bagaimana dengan anak-anak? Apakah mereka antusias? Sangat antusias. Apakah karena mereka ke pasar? Ternyata bukan, mereka awalnya antusias karena diperbolehkan membawa HP untuk dokumentasi dan wawancara, tetapi setelah selesai survey, banyak hal yang mereka kritisi.  Dengan bekal lembar kerja dan daftar peranyaan, survey dilakukan. Dan hasilnya sungguh membuat saya kagum terhadap daya nalar anak-anak. Dari empati mereka, dari belajar berinteraksi mereka dengan para pedagang, dari ide-ide mereka untuk pengembangan sarana pasar sampai ide meramaikan pasar. Ada hal yangg menarik sekaligus miris dari salah satu ide anak tentang meramaikan pasar, yaitu menyediakan arena Bilyard di pasar, ujar mereka “Di jamin rame pasarnya, Bu!” Wah, perlu kerjasama dengan guru agama yang lebih erat berarti. Hal yang lebih seru lagi,  setiap kelompok yang masuk ke pasar, mereka semua belanja. Top banget anak-anak, selain belajar berinteraksi, mereka hampir semua merasa kasihan kalau cuma bertanya saja. Kadang kala kita bisa belajar dari anak-anak tentang ketulusan.
Belajar dan terus belajar, itulah hakikat bagi saya menjadi seorang guru. Karena bagi saya pribadi, mengajar itu bukan suatu kewajiban, tapi belajar mengamalkan ilmu yang di niati ibadah. Perkara mereka pintar atau tidak, bisa atau tidak, saya pasrahkan kepada sang pemilik mereka, Allah SWT. Tugas kita hanya mendoakan.

*) Peserta Pelatihan Menulis online FKGIPS Kelas C-Guru IPS SMPN 3 Kademangan, Blitar, Jawa Timur