Senin, 15 Juli 2019

Nasehat Hidupku Ketika Jadi Guru IPS

Hasil gambar untuk pelajaran ips


oleh
Diana Indria Sari, SE, M.Pd.
(SMPN 10 Kota Cimahi-Jabar)

Tulisan ini ku mulai dari rasa syukur dan keyakinan bahwa Allah SWT tidak pernah salah menggariskan kehidupan untukku. Aku bersyukur karena pada akhirnya bisa menjadi seorang guru IPS karena Allah menjadikanku manusia yang menjadi “manusia” dengan profesiku menjadi guru IPS.
Perlahan tapi pasti, aku begitu semakin menikmati tugasku yang ternyata sangat menyenangkan dan membahagiakan. Setiap hari aku bertemu dengan siswa dan setiap hari itu pula aku belajar dari ketulusan, kepolosan dan keaktifan mereka yang terkadang berlebihan. Ini mengingatkanku pada masa ketika aku masih sekolah. Aku pun bertanya pada diriku sendiri apakah dulu aku juga berprilaku seperti mereka? Ingin tertawa atau sedih ya ... hmm.
Teringat kembali di awal aku mulai mengajar. Hari itu aku belajar bersikap  bijak sebagai guru bagaimana mengatasi masalah antara aku dan siswaku. Ternyata bijak tidak akan membuat seseorang sakit hati, walau keinginannya tidak terpenuhi. Bijak adalah proses awal sebagai guru untuk menarik simpati siswaku.
Bijak yang kulakukan didapat dari  pengalaman mengajar pertamaku saat mengajar di salah satu SMA. Ini artinya usia siswa-siswiku tidak terpaut jauh dari usiaku. Untuk materi pembelajaran mungkin tidak ada masalah, tapi dari segi interaksi sosial cukup membuatku punya cerita unik. Sikap bijak tersebut berawal saat aku ditaksir siswaku. Saat itu dengan bijak aku bisa menolak dan menyikapinya dengan baik sehingga tidak menimbulkan rasa malu dan sakit hati baginya.
Pelajaran kedua yang kudapat adalah jangan cepat berprasangka jelek pada orang lain, tapi waspada itu wajib. Pelajaran ini kudapat sebagai lanjut dari cerita di atas. Di mana waktu berlalu dan siswaku sudah tamat SMA. Aku  sudah lupa wajahnya, tapi mungkin dia masih ingat wajahku. Ketika  aku sedang menunggu suami menjemputku setelah selesai jam mengajar di pingir jalan, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berusaha mendekatiku. Aku mulai mengambil jarak, tapi dia semakin berusaha untuk mendekatiku. Aku cemas, setelah dekat dia menggapai tanganku dan menciumnya lalu berkata “Ibu lupa sama saya? Saya murid ibu yang waktu itu bilang suka ke Ibu. Apa kabar, Ibu?” Aku terhenyak, oh ternyata aku salah sangka. Aku  ingin tertawa terbahak-bahak kalau ingat peristiwa konyol itu. Walau begitu satu pembelajaran yang kudapat, yaitu baik sangka dan waspada.
Pembelajaran yang kudapat berikutnya adalah kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, penyesalan selalu diakhir tapi tidak ada kata terlambat memperbaikinya. Nasehat ini kudapat ketika pindah mengajar mengikuti tempat tugas suami. Kala itu statusku sudah PNS. Aku mengajar SMP di sebuah Kecamatan. Masyarakat di sekitarku terpola tidak begitu mementingkan pendidikan formal, karena bagi mereka bekerja dan memiliki penghasilan lebih utama untuk dipenuhi. Alhasil, banyak anak-anak yang seharusnya masih usia sekolah tapi tidak bersekolah. Mereka lebih memilih bekerja agar punya penghasilan sendiri walaupun pekerjaan yang mereka lakukan hanya sebagai buruh kasar.
Di sekolah tersebut, aku memiliki siswi yang telah yatim piatu. ia diasuh oleh neneknya. Cara mendidik neneknya salah, walau atas nama kasih sayang. Memanjakan siswi tersebut terlalu berlebihan, sehingga jarang sekolah karena bangun kesiangan dan kurang kemampuan secara akademik karena tidak mau belajar. Sekolah masih dianggap sebagai formalitas usia wajib belajar. Hingga pada akhirnya aku harus merelakannya untuk tinggal kelas setelah usahaku sebagai wali kelas gagal “mengangkatnya”. Ketika pengambilan rapor aku ingin menangis juga seperti tangisan paman dan bibinya yang mengambil rapor dan tegar menerima kegagalam ponakan mereka dan masih sanggup berterimakasih padaku sebagai wali kelasnya. Lalu kemudian siswi itu pindah dan mengulang kelas di sekolahnya yang baru di ibu kota provinsi. Hari itu perasaanku benar terluka menandatangani rapor dengan keterangan “tidak naik kelas”.
Setahun kemudian, aku menerima telepon darinya tanpa kuduga, karena kupikir dia akan membenciku. Tapi kalimat indah yang kudengar “Ibu, terimakasih karena bimbingan dan nasehat dari Ibu waktu aku tidak naik kelas telah membuatku sadar. Aku sekarang rangking kelas, Bu. Aku menyesal dan ngin bertemu ibu suatu hari nanti.” Sayang silaturahim kami akhirnya putus karena handphone-ku hilang.
Nasehat  akhir yang kudapat saat mengajar di pulau seberang adalah pemanfaatan teknologi melalui media sosial menjadi penyambung tali silaturahim,  guru tidak hanya berfungsi sebagai transfer knowledge tetapi teacher is transformate knowledge.  Untuk kesekian kalinya aku pindah sekolah lagi mengikuti tempat tugas suamiku. Sekolah terakhir tempat aku membaktikan ilmuku, yaitu di sebuah  MTsN. Banyak cerita “indah” yang kudapat dari mereka yang menganggapku tidak hanya sebagai guru tapi juga menjadi “ibu” dan teman curhat mereka. Hingga akhirnya aku kembali pindah tugas mengikuti suamiku. Ketika mereka mengantarku di bandara kalimat perpisahan dan permintaan mereka, “Ibu jangan lupakan kami dan ijinkan kami tetap menjalin silaturahiim dengan Ibu.” Ternyata ucapan mereka bukan basa basi, karena hingga kini hubungan kami masih terjalin baik,. Hingga kini mereka tetap mengabariku dengan aneka cerita tentang mereka, baik wisuda maupun pernikahan. Sayangnya hingga kini aku belum pernah bisa menghadiri undangan hari bahagia mereka.
Banyak pembelajaran yang kuterima dari persahabatan dengan siswa-siswiku. Bijak, usaha gigih, manfaat teknologi dalam media sosial serta menyadari bahwa dunia itu kecil. Menjadi guru bukan hanya sekedar membangun kemampuan kognitif, afektif  dan psikomotoriknya, tapi menjadi guru juga membangun karakter manusia sebagai makhluk sosial sesuai dengan tujuan pembelajaran IPS. Pengalaman telah membuatku memahami menjadi guru adalah sebuah anugerah, dan IPS adalah jalanku menjadi “manusia yang manusia”.