Selasa, 09 Juli 2019

NEGARAWAN ITU BERNAMA HATTA


oleh: Yanuar Iwan.


Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya, lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikkan. 
( Soe Hok Gie aktivis Indonesia)

Seorang negarawan adalah pemimpin bangsa yang memiliki integritas, kejujuran, satu kata antara pikiran, perkataan, dan perbuatan selalu mengutamakan kepentingan bangsa dan negaranya di atas kepentingan pribadi dan golongan, berani menghadapi resiko mempertahankan kebenaran, kejujuran, dan keadilan terutama menghadapi kekuatan rezim yang berkuasa.

Seringkali kita melihat di media tokoh-tokoh parpol, birokrat, insan cerdik cendikia disebut seorang negarawan, padahal pikiran dan perbuatannya masih jauh dari kata negarawan. Pemikiran, ucapan, dan tindakan Hatta sangat layak disebut seorang negarawan. Pertengahan abad XX Hatta remaja beserta kawan-kawan mahasiswanya dengan berani merubah tujuan-tujuan Indische Vereeniging yang semula hanya gerakan solidaritas sosial ekonomi mahasiswa Hindia di negeri Belanda, menjadi gerakan politik perlawanan, Hatta dan kawan-kawannya adalah kelompok pergerakan nasional pertama yang mempopulerkan kata "Indonesia" dalam pergerakan kebangsaan, kata Indische diganti menjadi Indonische Vereeniging. Hatta juga aktif di Liga Anti Kolonialisme dan Imperialisme yang berpusat di Brussels Belgia dan beberapa kali memimpin rapat presidium anti kolonialisme dan imperialisme diusia 20-an, menguasai bahasa Inggris, Perancis, Belanda, dan Jerman membuat Hatta remaja memiliki jejaring sosial yang kuat dengan para aktivis anti penjajahan khususnya di Eropa Barat.

Hatta dianggap berbahaya di jantung kolonialisme Belanda. Melalui tulisan-tulisannya yang tajam mengkritik kemapanan kolonial melalui majalah Indonesia Merdeka Hatta menghantam kolonialisme dan majalah ini menjadi pedoman organisasi pergerakan nasional di tanah air.

Di penjara pada tahun 1927 dan membacakan pidato pembelaannya yang terkenal Indonesia Vrig (Indonesia Merdeka) rupanya Hatta menjadikan pengadilan untuk membuka mata rakyat Belanda betapa merusak dan menghancurkan sistem kolonialisme dan imperialisme yang terjadi di negeri jajahan.

Sewaktu dibuang ke Boven Digul, Hatta tidak pernah berhenti menulis walaupun tidak seluruh tulisannya bisa dibaca oleh rakyat karena sensor yang ketat dari Pemerintah Kolonial Belanda.

Seperti halnya Kartini, Hatta adalah seorang visioner. Pemikiran-pemikiran dan tulisan-tulisannya melampaui zamannya. Bagi Hatta bukan hanya soal merdeka, tetapi bagaimana membentuk masyarakat terdidik, masyarakat terpelajar, masyarakat yang beradab secara politik dan ekonomi, masyarakat yang memiliki kesadaran demokrasi bukan melalui revolusi tetapi evolusi perkembangan dan pembangunan secara bertahap demokrasi harus berkembang dan berkemajuan. Hatta bercita-cita membentuk sebuah negara yang tidak berorientasi kepada kebebasan mutlak individu ataupun penumpukkan kekuasaan secara sentris kepada seseorang di pihak lain. Hatta menyumbangkan hasil pikirannya ke dalam pasal-pasal UUD 1945 seperti "hak berkumpul dan berserikat " dan penguasaan negara atas sumber daya alam yang keduanya mencerminkan kepeduliannya pada kedaulatan rakyat serta kehidupan ekonomi mereka.

Hatta mengalami tantangan dan permasalahan besar ketika menjabat perdana menteri di awal revolusi fisik. Pemberontakan PKI Madiun, agresi militer Belanda dan usaha diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan serta pembentukkan tentara nasional. Keyakinannya terhadap nasionalisme dan demokrasi membuat Indonesia bisa menghadapi permasalahan pelik diawal kemerdekaan.

Kecintaannya terhadap demokrasi membuatnya memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wakil presiden karena merasa Soekarno sudah tidak bisa diingatkan lagi, Hatta tidak setuju dengan konsep politik Soekarno yang ingin membubarkan Dewan Konstituante dan kecenderungan Soekarno untuk bertindak otoriter. Bagi Hatta demokrasi dapat berkembang apabila terjadi toleransi di antara unsur-unsur kebangsaan apabila demokrasi berakhir dengan kekacauan maka yang muncul adalah kediktatoran,  kedekatan Soekarno dengan PKI dan kecenderungan untuk melaksanakan demokrasi terpimpin mengecewakan Hatta. "Mengundurkan diri adalah tindakan yang sangat jarang dilakukan atau mungkin tidak pernah sama sekali oleh pemimpin yang menduduki posisi strategis sekelas wapres, tetapi Hatta lebih memilih hati nuraninya menjadi warga negara biasa.

Selepas mundur pada 1956 Hatta banyak memberikan kritik kepada Soekarno padahal pada masa tersebut mengkritik adalah sesuatu yang tidak biasa bahkan bisa dicap sebagai pengkhianat bangsa, agen Nekolim, atau musuh revolusi. Hatta tidak bergeming salah satu analisis politiknya yang kemudian terbukti adalah "Bahwa sistem diktator yang dibawa oleh demokrasi terpimpin tidak akan lama usianya, yaitu paling lama hanya seumur dengan sipencipta konsepsi itu sendiri".

Sejarah dunia memberi petunjuk bahwa diktator yang bergantung kepada kewibawaan orang seorang tidak panjang umurnya. Sebab itu pula sistem yang dilahirkan Soekarno tidak akan lebih panjang umurnya dari Soekarno sendiri. Pidato Hatta yang berjudul "Lampau dan Datang" dan tulisannya yang berjudul "Demokrasi Kita" dianggap oleh Sejarawan Taufik Abdullah sebagai "Otobiografi Intelektual" yang meringkaskan perjalanan pikiran dan perjalanan Hatta sebagai seorang patriot dan Negarawan.

Pada masa Orde Baru, Hatta pernah menggagas pendirian partai baru bersama tokoh-tokoh HMI, PII, dan Masyumi. Mendirikan Partai Islam, "Ajaran Islam tentang demokrasi dan sosialisme beserta isi dari UUD 1945 menjadi pedoman bagi gerakan ini". Ujar Hatta terkait gerakan itu seperti dituliskan Deliar Noer.

Partai Demokrasi Islam Indonesia ( PDII ) disepakati sebagai nama partai modern yang berjiwa Islam, bersifat nasionalistis, dan berjuang berdasarkan Pancasila. Cita-cita itu kandas ditangan Presiden Soeharto. Pada 17 Mei 1967, saat partai itu hendak diluncurkan, datang surat larangan dari Soeharto. ( Hatta Jejak Yang Melampaui Zaman, Tempo ).

Hatta banyak menulis surat kepada para pejabat   Orde Baru bila merasa ada kebijakkan termasuk dibidang ekonomi yang dinilainya melenceng dari semangat ekonomi kekeluargaan. Hatta ingin kebijakan-kebijakan Orde Baru mengutamakan pembangunan yang berwawasan kesejahteraan, dengan melaksanakan kebijakan ekonomi pro rakyat. Tragis saran-sarannya yang visioner seringkali tidak didengarkan.

Melihat sosok Hatta  adalah sosok disiplin yang selalu menghargai waktu. Para petani nira di Banda Neira menjadikan Hatta sebagai patokan untuk pulang selesai mengolah gula di sore hari karena di waktu tersebut Hatta selalu tepat sampai diperkebunan sewaktu jalan-jalan disore hari. Des Alwi anak angkatnya menyebutnya sebagai Om kacamata yang selalu serius dalam mengajar, sedikit introvert, kutu buku yang sederhana bahkan setelah mundur dari Wapres Hatta tidak memiliki rumah, Bang Ali Sadikin sebagai gubernur Jakarta memberikan rumah tinggal kepada Hatta dan keluarganya, banyak tawaran untuk menjadi komisioner atau dewan direksi diperusahaan nasional maupun internasional tetapi Hatta selalu menolak alasannya singkat "Apa kata rakyat nanti." Wafat pada 1980 Hatta meninggalkan "30 ribu judul buku" dalam perpustakaan  pribadi, dua kali menulis di Foreign Affairs, sebuah jurnal internasional prestisius tentang kebijakan luar negeri. Hatta memperkenalkan konsep politik luar negeri "Bebas Aktif" yang digunakan Pemerintah RI hingga kini.

Dilirik lagu karya Iwan Falls "Bung Hatta" dirasakan sangat pas untuk menggambarkan suasana haru pada saat wafatnya Bung Hatta 14 Maret 1980.

Tuhan terlalu cepat semua kau panggil satu-satunya yang tersisa Proklamator tercinta...
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa rakyat Indonesia....

Reff:
Hujan air mata dari pelosok negeri saat melepas engkau pergi....
Berjuta kepala tertunduk haru terlintas nama seorang sahabat yang tak lepas dari namamu...
Terbayang baktimu terbayang jasamu terbayang jelas.... jiwa sederhanamu bernisan bangga berkepal doa dari kami yang merindukan orang sepertimu.....

 Di Perpustakaan SMPN 1 Cipanas, 22 Juni 2019.

YANUAR IWAN, guru IPS SMPN 1 Cipanas Kab. Cianjur & Pengurus FKGIPS PGRI Cianjur Jawa Barat