Minggu, 21 Juli 2019

Potret Suram Moral Anak Bangsa



oleh : Dewi Ratna KS

SMPN 4 Kota Cimahi-Jawa Barat 


Bercermin dari kasus Audrey siswa SMP di pontianak yang dikeroyok dan dianiaya oleh 12 orang siswa SMA merupakan suatu protret ketidakberhasilan pendidikan karakter yang beberapa tahun terakhir ini digembar gemborkan, betapa tidak sekelompok siswi SMA yang berusia 17 tahun yang dalam keseharian mereka seharusnya lebih banyak dihabiskan di sekolah memiliki sikap yang brutal dan tidak memiliki rasa perikemanusiaan, hanya karena urusan asmara mereka tega melakukan kekerasan pada orang yang tidak ada hubungannya dengan masalah mereka sehingga mengakibatkan luka fisik dan psikis bahkan luka itu akan berbekas selama hidup kobannya dan lebih parah lagi setelah semua tindakan yang mereka lakukan dengan bangganya mereka berfoto tanpa ada rasa penyesalan.
Pendidikan karakter yang dikembangkan di indonesia berlandaskan pada etika, moral dan religius pada kenyataannya belum sampai pada tujuan yang ingin dicapai hal ini bukan saja terbukti pada kasus Audrey, tetapi banyak kasus kasus lain sebelumnya seperti penganiayaan siswa pada guru, perkelahian, pencurian bahkan pembunuhan dimana melibatkan siswa sebagai pelakunya. Ini menunjukan bahwa pada saat ini indonesia sedang mengalami krisis karakter, krisis moral yang sangat parah, lalu akan dibawa kemana negeri ini dengan potret generasi muda yang tidak beretika dan tidak bermoral.
Dalam masyarakat Indonesia yang memiliki nilai budaya luhur terkenal dengan tenggang rasa dan toleransi serta kehidupan yang religius sebetulnya sudah tersirat pilar pilar pendidikan karakter tersebut hanya tidak tersurat dalam suatu dokumen yang resmi, artinya adat istiadat di dalam setiap masyarakat indonesia telah mendidik dan mengarahkan manusia pada kehidupan yang baik ini terbukti pola pendidikan tradisional telah berhasil menciptakan bangsa indonesia yang berbudi luhur, memilikii etika dan moral yang baik serta taat menjalankan ajaran agamanya dan sekarang di era modern ini justru karakter bangsa bukan semakin kuat. 
Dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ditunjang pula oleh arus informasi yang semakin deras mengakibatkan perubahan yang cukup besar bagi bangsa indonesia, keberadaan budaya lain seolah menggeser nilai budaya asli hal ini menunjukan bahwa bangsa indonesia khususnya generasi muda secara mental tidak siap untuk menghadapi serangan global ini akhirnya bangsa kita menjadi bangsa yang goyah, hilang identitas karena pengaruh negatif dari luar lebih diminta membentuk kepribadian mereka.
Dari kondisi ini kiranya belum terlambat untuk diperbaiki banyak strategi yang dapat kita lakukan dalam mencegah dan menyelamatkan anak bangsa dari kondisi yang memprihatinkan ini, tindakan pemberian sanksi sangat tepat dilakukan untukemberikan efek jera pada pelaku tindakan brutal ini, apabila kita hanya berlindung di balik undang – undang  perlindungan anak tentunya tidak akan menyelesaikan masalah, langkah pertama undang – undang  harus dirubah bukan saja memuat konten perlindungan semata tetapi harus memuat sanksi juga bagi anak yang melakukan pelanggaran. Kemudian yang tidak kalah penting adalah peran orang tua dan guru. Pembentukan karakter utama seorang anak ada pada lingkungan keluarga dan guru sifatnya hanya mengarahkan karakter yang sudah terbentuk sebelumnya jadi jalan terbaik untuk memantau perkembangan anak adalah menjalin komunikasi antara orang tua, guru dan siswa itu sendiri kemudian kenali lingkungan tempat anak bergaul karena pergaulan juga akan membentuk karakter anak apabila anak bergaul dalam lingkungan yang baik maka akan terbentuk karakter baik dan sebaliknya apabila lingkungan tempat bergaulnya buruk maka akan terbentuk karakter yang buruk pula.