Rabu, 03 Juli 2019

PROBLEMA PEMBELAJARAN IPS DI ERA NOW





Oleh:
Sulistyowati*)

Pendahuluan
Pembelajaran IPS di sekolah belum sepenuhnya melaksanakan dan membiasakan pengamalan nilai-nilai kehidupan, sosial kemasyarakatan dengan melibatkan peserta didik dan komunitas sekolah dalam berbagai aktifitas kelas dan sekolah. Selain itu dalam pembelajaran IPS lebih menekankan pada aspek pengetahuan, fakta dan konsep-konsep yang bersifat hafalan belaka. Inilah yang dituding sebagai kelemahan atau masalah yang menyebabkan kegagalan pelajaran IPS di sekolah – sekolah Indonesia.
Sebetulnya proseslah yang sangat penting dan harus dikuatkan dalam pembelajaran IPS. Karena dengan proses peserta didik diharapkan memperoleh pengetahuan, pengalaman-pengalaman dalam menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan, termasuk mempraktekkan berpikir dan pemecahan masalah dalam kehidupan nyata. Para pendidik bahkan orang tua dan masyarakat masih beranggapan bahwa nilai/angka lebih penting & menunjukan keberhasilan dalam belajar. Kenyataanya para peserta didik yang memiliki nilai kognisi tinggi seringkali lemah dalam implementasi pengetahuannya terutama di bidang spiritual, afeksi dan mentalitas. Buktinya makin meningkatnya masalah sosial/remaja, kriminalitas dan rendahnya kreatifitas serta daya juang. Inilah yang selalu menjadi PR dan masalah kita bersama yang masih sangat kabur jawabannya.

Kurikulum IPS
Konsep IPS untuk pertama kalinya masuk ke dalam dunia persekolahan terjadi pada tahun 1972-1973, yakni dalam Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Bandung. Dalam Kurikulum SD 8 tahun PPSP digunakan istilah “Pendidikan Kewargaan Negara/Studi Sosial” sebagai mata pelajaran sosial terpadu. Dalam Kurikulum tersebut digunakan istilah Pendidikan Kewargaan negara yang di dalamnya tercakup Sejarah Indonesia, Ilmu Bumi Indonesia, dan Civics yang diartikan sebagai Pengetahuan Kewargaan Negara.
Dalam Kurikulum 1975 pendidikan IPS menampilkan empat profil yakni: (1) Pendidikan Moral Pancasila menggantikan Pendidikan Kewargaan Negara sebagai suatu bentuk pendidikan IPS khusus yang mewadahi tradisi citizenship transmission; (2) pendidikan IPS terpadu untuk SD; (3) pendidikan IPS terkonfederasi untuk SMP yang menempatkan IPS sebagai konsep payung yang menaungi mata palajaran geografi, sejarah, dan ekonomi koperasi; dan (4) pendidikan IPS terpisah-pisah yang mencakup mata pelajaran sejarah, geografi, dan ekonomi untuk SMA, atau sejarah dan geografi untuk SPG.
Bila disimak dari perkembangan pemikiran pendidikan IPS yang terwujudkan dalam Kurikulum sampai dengan dasawarsa 2000-an ini pendidikan IPS di Indonesia mempunyai dua konsep pendidikan IPS, yakni: pertama, pendidikan IPS yang diajarkan dalam tradisi citizenship transmission dalam bentuk mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan Sejarah Nasional; kedua, pendidikan IPS yang diajarkan dalam tradisi sosial science dalam bentuk pendidikan IPS terpisah dari SMU, yang terintegrasi di SLTP dan di SD.
Dilihat dari perkembangan pemikiran yang berkembang di Indonesia sampai saat ini pendidikan IPS terpilah dalam dua arah, yakni: Pertama, PIPS untuk dunia persekolahan yang pada dasarnya merupakan penyederhanaan dari ilmu-ilmu sosial, dan humaniora, yang diorganisasikan secara psiko-pedagogis untuk tujuan pendidikan persekolahan; kedua, PDIPS untuk perguruan tinggi pendidikan guru IPS yang pada dasarnya merupakan penyeleksian dan pengorganisasian secara ilmiah dan meta psiko-pedagogis dari ilmu-ilmu sosial, humaniora, dan disiplin lain yang relevan, untuk tujuan pendidikan

      Apakah Kurikulum IPS Harus Disesuaikan dengan Tuntutan Global di Era Now?
Dalam standar kompetensi mata pelajaran Pengetahuan Sosial Depdiknas (2003:5) dinyatakan ”melalui mata pelajaran Pengetahuan Sosial, peserta didik diarahkan, dibimbing dan dibantu untuk menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang baik”.
Menjadi warga negara dan warga dunia yang baik merupakan tantangan yang berat. Masyarakat global selalu mengalami perubahan yang pesat setiap saat. Untuk itulah Pengetahuan Sosial harus dirancang guna membangun dan merefleksikan kemampuan peserta didik dalam kehidupan masyarakat yang selalu berubah dan berkembang secara terus menerus.
Perubahan-perubahan yang terjadi sebagai dampak kemajuan IPTEK, serta dengan masuknya arus globalisasi membawa pengaruh yang multidimensional. Di bidang pendidikan perubahan ini dituntut oleh kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lapangan kerja. Salah satu bentuk perubahan yang dituntut dari kurikulum IPS adalah menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi secara global. 
Karena itu melalui jalur pendidikan IPS, sejak dini peserta didik sudah harus dibiasakan berpikir global, melihat segala sesuatu dengan perspektif global. Menurut Nursid Sumaatmadja dan Kuswaya Wihardi, (1999:14) yang dimaksud dengan perspektif global adalah suatu cara pandang atau cara berfikir terhadap suatu masalah, kejadian atau kegiatan dari sudut pandang global, yaitu dari sisi kepentingan dunia atau internasional. Oleh karena itu sikap dan perbuatan kita juga diarahkan untuk kepentingan global. Globalisasi juga melahirkan masyarakat terbuka, yang memberikan nilai kepada individu, kepada hak dan kewajiban sehingga semua manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya dan menyumbangkan kemampuannya bagi kemajuan bangsa.
Landasan pemikiran lainnya adalah karena bumi tempat yang kita huni adalah planet yang sangat unik dan berharga. Untuk itulah manusia harus menunjukkan apresiasi yang tinggi dengan penuh pengertian, atensi mengenai subsistem bumi dan dengan perilaku yang penuh tanggung jawab untuk kelestariannya.

Problema Pembelajaran IPS
Menurut Sapriya  (2009) pada hakekatnya pembelajaran IPS di sekolah (SMP) yang bersifat terpadu (integrated) bertujuan agar mata pelajaran ini lebih bermakna bagi peserta didik sehingga pengorganisasian materi/bahan pelajaran disesuaikan dengan lingkungan, karakteristik, dan kebutuhan peserta didik. Sehingga peserta didik dapat menguasai dimensi-dimensi pembelajaran IPS di sekolah, yaitu: menguasai pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), sikap dan nilai (attitudes and values), dan bertindak (action)” (Sapriya, 2009).
Oleh karena itu mata pelajaran IPS, menurut Sapriya (2009) merupakan seleksi dan integrasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan disiplin ilmu-ilmu lain yang relevan, dikemas secara psikologis, ilmiah, pedagogis, dan sosio-kultural untuk tujuan pendidikan. Untuk memahami masalah pendidikan IPS seseorang hendaknya memiliki pemahaman yang baik tentang disiplin ilmu-ilmu sosial yang meliputi struktur, ide fundamental, pertanyaan pokok (mode of inquiry), metode yang digunakan dan konsep-konsep setiap disiplin ilmu, disamping pemahamannya tentang prinsip-prinsip kependidikan dan psikologis serta permasalahan sosial”.
Menyadari akan hal di atas, maka sesungguhnya pembelajaran IPS yang bersifat terpadu di sekolah-sekolah tidak ada masalah, terutama tingkat satuan pendidikan SMP, walaupun guru IPS yang ada kurang atau tidak tersedia semua guru yang memiliki spesialisasi pendidikan yang lengkap. Misalnya di suatu sekolah hanya tersedia guru IPS dari spesialisasi keahlian pendidikan sejarah atau pendidikan geografi saja, sedangkan yang berasal dari spesialisasi keilmuan pendidikan ekonomi dan sosiologi tidak ada. Hal ini seyogyanya bukan menjadi masalah apabila tenaga guru yang ada memiliki pemahaman yang baik tentang disiplin ilmu-ilmu sosial, bukan hanya paham terhadap bidang keilmuan yang menjadi spesialisasinya semata. Guru IPS dituntut tidak saja perlu menguasai keterampilan atau kiat untuk mendidik dan mengajar, tetapi juga memiliki wawasan vertikal - wawasan yang mendalam dan reflektif tentang bidang studi yang diajarkannya, dan wawasan horizontal - wawasan yang melebar yakni ramah terhadap konsep-konsep, proposisi-proposisi, dan teori-teori ilmu sosial ataupun ilmu-ilmu budaya, bahkan juga ekologi” (Atmadja, 1992). Dengan kata lain, guru IPS harus memiliki kemampuan untuk merancang dan melaksanakan program pembelajaran secara terpadu diorganisasikan dengan baik, kontektual serta secara terus menerus menyegarkan, memperluas dan memperdalam pengetahuan tentang ilmu-ilmu sosial dan nilai-nilai kemaunisaan, singkatnya terus menyegarkan khasanah ilmunya dengan selalu menguatkan literasinya melalui berbagai dimensi.
Untuk menuju ke arah itu, hendaknya guru IPS memahami, melaksanakan dan memegang teguh tentang landasan-landasan pendidikan IPS, yang terdiri dari: ”landasan filosofis, ideologis, sosiologis, antropologis, kemanusian, politis, psikologis, dan landasan religius” (Sapriya, 2009). Oleh karena itu, setiap guru IPS dituntut untuk mampu menguasai dan melaksanakan pendekatan yang mampu mendorong dan mengantarkan peserta didik untuk memperoleh integrasi dari nilai-nilai secara utuh dan bermakna, dari masa lampau sampai masa kini dalam pembelajaran IPS yang mereka terima. Ini berarti mengandung maksud, bahwa dalam proses pembelajaran IPS harus menerapkan pendekatan terpadu (Depdiknas, 2006) atau pendekatan multidimensional (Atmadja, 1992), disebut pula dengan pendekatan interdisipliner (Dipdiknas, 2006).
Adapun yang dimaksud dengan pendekatan terpadu secara lebih lengkap, sebagaimana terdapat dalam buku Depdiknas (2006), bahwa :
Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik. Melalui pembelajaran terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan dan pesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara holistik, bermakna, otentik, dan aktif. Cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang guru sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman bagi para peserta didik. Pengalaman belajar lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual yang dipelajari dengan sisi bidang kajian yang relevan akan membentuk skema (konsep), sehingga peserta didik akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Perolehan keutuhan belajar, pengetahuan, serta kebulatan pandangan tentang kehidupan dan dunia nyata hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran terpadu.

Materi Apa yang Diperlukan dalam Perubahan Global di Era Now?
Tujuan bidang studi IPS tidak berfokus pada penguasaan materi IPS semata melainkan menitikberatkan pada penguasaan kecakapan proses, yang diunjukkerjakan dalam bentuk verbal (verbal performance), sikap (attitudinal performance), dan perbuatan (physicala performance), atau adanya integrasi antara afektif, kognitif dan motorik (Suderadjat, 2003:47).
Materi IPS dalam pembelajaran haruslah memiliki kualitas untuk dapat bersaing secara Internasional, dengan memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi di era globalisasi. Untuk itu  dapat dikembangkan kompetensi, dalam hal ini (PIPS), dikembangkan kompetensi sosial, yang dapat mempersiapkan peserta didik untuk mampu hidup dengan berbagai keterampilan dan kecakapan (life skills), sehingga mampu bersaing dan menjadi pemenang dalam persaingan global, tanpa harus kehilangan jati diri, dan lepas dari nilai-nilai luhur budaya bangsanya.
Perlunya pendidikan IPS yang berkualitas internasional, seperti yang dikatakan oleh Alvin Tofler ”kita harus berfikir global, dan bertindak lokal”. Globalisasi merambah ke semua penjuru dunia, tidak dapat kita bendung, dan kita harus masuk, ikut serta di dalamnya bertarung untuk menjadi pemenang (winner). Oleh karena itu, Pendidikan IPS juga harus mempersiapkan kompetensi sosial bagi para peserta didiknya. Materi pendidikan IPS yang berwawasan global tersebut, diantaranya adalah tentang:
a.   Kesadaran diri sebagai Makhluk Tuhan, eksistensi, potensi dan jati diri sebagai warga dari sebuah bangsa yang berbudaya dan bermartabat sederajat dengan bangsa lain di dunia.
b.     Kecakapan berfikir seperti kecakapan:berfikir kritis, menggalli informasi, mengolah informasi, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah.
c.    Kecakapan akademik tentang ilmu-ilmu sosial, seperti memahami fakta, konsep dan generalisasi tentang sistem sosial budaya, lingkungan hidup, perilaku ekonomi dan kesejahteraan, serta tentang waktu dan keberlanjutan perubahan yang terjadi di dunia.
d.    Mengembangkan social skills dengan maksud supaya pada masa datang kita tidak hanya menjadi objek penguasaan globalisasi belaka.
Keterampilan sosial yang perlu dimiliki oleh peserta didik adalah keterampilan memperoleh informasi, berkomunikasi, pengendalian diri, bekerjasama, menggunakan angka, memecahkan masalah, serta keterampilan dalam membuat keputusan.(Marsh Colin dalam Nana Supriatna, 2002:15)
Sedangkan keterampilan sosial yang telah dikembangkan oleh National Council for The Sosial Studies (NCSS, 1984:249) adalah keterampilan dalam memperoleh informasi, dan keterampilan yang berkaitan dengan hubungan sosial serta partisipasi dalam masyarakat.
Keterampilan sosial seperti ini nampaknya relevan untuk dikembangkan dalam kurikulum Pendidikan IPS di Indonesia, agar kelak para peserta didik dapat hidup sebagai warga masyarakat, warga negara dan warga dunia yang dapat berperan dalam masyarakatnya maupun dunia, tentunya mereka sebagai Pemain dan pemenang bukan Penonton yang dipecundangi!!!

Bagaimana Mengajarkannya?
Terdapat beberapa strategi dalam mengajarkan keterampilan sosial kepada peserta didik melalui IPS, diantaranya adalah cooperative learning, konstruktivistik, dan inquiry.(Nana Supriatna 2002:276).
a.       Cooperative Learning, dengan model pembelajaran cooperative learning. Pelajaran IPS tidak hanya menghafal fakta, konsep, dan pengetahuan yang bersifat kognitif rendah lainnya serta guru sebagai satu-satunya sumber informasi melainkan akan membawa siswa untuk berpartisipasi aktif, karena mereka akan diminta melakukan berbagai tugas seperti bekerja secara kelompok, melakukan inkuiri dan melaporkan hasil kegiatannya kepada kelas. Itulah yang diungkapkan Wiraatmadja (2002:277) bahwa model pembelajaran cooperative learning  merupakan model pembelajaran yang relevan dengan apa yang menjadi tujuan pembelajaran. Karena salah satu aspek dari kemahiran mengajar guru IPS yang dituntut untuk ditingkatkan dengan masuknya arus globalisasi.
b.      Konstruktivisme menempatkan peserta didik sebagai mitra pembelajaran dan pengembang materi pembelajaran dapat digunakan oleh guru IPS dalam mengembangkan keterampilan sosial. Guru IPS yang konstruktivistik haru dapat memfasilitasi para peserta didiknya dengan kesempatan berlatih dalam mengklasifikasi, menganalisis dan mengolah informasi berdasarkan sumber-sumber yang mereka terima. Guru juga harus membiasakan peserta didik untuk memprediksi aspek kognitif peserta didik yang dikembangkan tidaak hanya dalam keterampilan mengahapal dan mengingat melainkan juga menganalisis, memprediksi, dan mengevaluasi informasi yang mereka terima.
c.       Inquiry, mengembangkan kemampuan peserta didikuntuk memikirkan secara sungguh-sungguh dan terarah dan merefleksikan hakekat sosial kehidupan khususnya kehidupan peserta didik sendiri dan arah kehidupan masyarakat dalam upaya memecahkan masalah-masalah sosial.

Kegiatan pembelajaran  ilmu-ilmu sosial agar menjadi berdaya apabila proses pembelajarannya bermakna (meaningfull) yang dikutip dari Rudy Gunawan (2011:69) dalam Wiraatmadja (2002:305-306), yaitu:
  • Peserta didik belajar menjalin pengetahuan, keterampilan, kepercayaan, dan sikap yang mereka anggap berguna bagi kehidupannya di sekolah atau di luar sekolah.
  • Pengajaran ditekankan kepada pendalaman gagasan-gagasan penting yang terdapat dalam topik-topik yang dibahas, demi pemahaman. Apresiasi dan aplikasi peserta didik siswa.
  • Ditekankan kepada bagaimana cara penyajian dan dikembanhgkannya melalui kegiatan aktif.
  •  Interaksi di dalam kelas difokuskan pada topik-topik terpilih dan bukan pada pembahasan sekilas sebanyak mungkin materi.
  • Difokuskan pada perhatian peserta didik terhadap pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan penting terpateri  tentang hal yang mereka pelajari.
  • Guru hendaknya berfikir reflektif dalam melakukan perencanaan/persiapan, pembelajaran, dan Assessment pembelajaran.


Kesimpulan
      Di zaman Now arus globalisasi terus bergulir yang ditandai dengan perubahan serba cepat dan instan, dengan ciri makin kaburnya ruang & waktu antar wilayah seluruh dunia. Perubahan- perubahan yang terjadi sebagai dampak kemajuan iptek, serta dengan masuknya arus globalisasi, membawa pengaruh yang multidimensional. Dengan bahasa populer “pada jaman batu yang menang yang kuat tetapi di zaman Now ini pemenangnya yang cepat, kreatif dan Inovatif”. Di bidang pendidikan perubahan dituntut oleh kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lapangan kerja. Salah satu bentuk perubahan yang dituntut dari kurikulum IPS adalah menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi secara global tersebut. Sehingga sejak dini peserta didik sudah dibiasakan melihat, memahami, menganalisis, merefleksikan, memprediksi berbagai fenomena yang terjadi secara global.
Tidak bisa dipungkiri  dalam maraknya arus informasi pada masa now ini, guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi tetapi merupakan salah satu sumber informasi. Untuk itu, guru akan lebih tetap berperan sebagai pendidik sekaligus berperan sebagai manager atau fasilitator pendidikan, sehingga guru harus sanggup merencanakan, melaksanakan dan mengawasi sumber daya pendidikan agar supaya peserta didik dapat belajar secara produktif. Abad XXI Era Now ini  menuntut peran guru yang semakin tinggi dan optimal. Sebagai konsekuensinya, guru yang tidak bisa mengikuti perkembangan alam dan zaman akan semakin tertinggal sehingga tidak bisa lagi memainkan perannya secara optimal dalam mengemban tugas dan menjalankan profesinya.
Marilah terus mereformasi diri dan meningkatkan khsanah kecerdasan agar dapat melayani dan mengantarkan peserta didik menjadi manusia paripurna sesuai dengan Visi dan Misi Pendidikan Nasioanal. Dengan presfektif  global, peserta didikdiharapkan mampu melihat dunia beserta penduduknya dengan, pengertian, atensi dan kepedulian untuk ikut bertanggung jawab terhadap berbagai kebutuhan hidup  penduduk dunia dan komitmen untuk menyelesaikan permasalahan dunia dengan adil dan damai serta bertanggung jawab. Perlu diingat “Pembelajaran di kelas ikut menentukan masa depan bangsa” dampaknya tidak hari ini. Selamat Berkreatifitas kepada semua sahabat tuk menjadi pemenang & sumber inspirasi bagi siapapun khususnya bagi anak didik tercinta sebagai calon Generasi Emas Indonesia. Salam sukses Bersama Allah SWT. Pasti bisa! Semoga tulisan ini bermanfaat serta menambah khasanah kecerdasan kita. “Salam IPS Tetap Jaya Generasi Emas untuk Indonesia”.

DAFTAR PUSTAKA

Sapriya, 2009 Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran, Bandung : Penerbit : PT Rosdakarya.
      Supriatna, Nana., 2002, Mengajarkan Keterampilan Sosial yang diperlukan Siswa Memasuki Era Global, JPIS No.19
      Sulistyowati. 2014. Penggunaan Work sheet Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Kelas IX B Pada Materi Perubahan Sosial Budaya di SMPN I Pujon. PTK tidak diterbitkan. Malang: SMPN 1 Pujon
      Wahab, Abdul Aziz., 2009,  Metode dan Model-model Mengajar IPS, Bandung: alfabet



*) SMPN 1 Pujon – Kab. Malang-Jawa Timur










            NAMA                       :  SULISTYOWATI, S.Pd, M.Pd
            UNIT KERJA           :  SMPN 01 PUJON
            AL. KANTOR          :  JL. PONDOK ASRI 83 PUJON
            AL. RUMAH             :  JL RAYA 543, RT.30 - RW.14. LEBAKSARI
                                                  NGROTO – KEC. PUJON.
  NO. HP.                    :  085852404655