Minggu, 28 Juli 2019

SENI MEMBELAJARKAN SISWA



Oleh :
Dewi Ratna K Surya, M.Pd

(SMPN 4 Kota Cimahi-Jabar)

Tujuan pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan Jasmani dan rohani, memiliki kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Apabila kita mencermati isi dari tujuan pendidikan Nasional, maka alangkah beratnya amanat yang dibebankan pada guru, dengan tuntutan untuk menciptakan anak-anak bangsa yang sempurna. Sementara guru adalah manusia biasa dengan segala kelemahan dan keterbatasannya. Walau demikian itu bukan merupakan alasan yang menjadikan guru pesimis dalam mewujudkan cita-cita mulia seperti yang telah tercantum dalam tujuan  pendidikan nasional. Ini merupakan tantangan yang harus dihadapi. Bagaimana tidak, guru yang nota bene adalah generasi X harus berhadapan, membimbing, mengarahkan, dan mengajar  generasi Z. yang hidup ditengah kemajuan Ilmu Pengetahuan, teknologi dan  informasi yang begitu pesat, membuat guru harus berlari dalam mengimbangi pola kehidupan generasi zaman ini.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya agar output pendidikan kita dapat menyesuaikan dengan persaingan global yang sekarang tengah kita alami. Dimulai dari penyempurnaan kurikulum yang menitik beratkan kompetensi siswa pada pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Selain itu, peningkatan kualitas guru yang terus dilakukan, agar dapat menunjang dan mengimbangi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari upaya-upaya tersebut sebenarnya guru patut berbangga diri, karena ketercapaian semua tujuan ini bertumpu pada guru yang berada di garda terdepan baik secara teknis ataupun  non teknis. Secara teknis guru harus mampu membelajarkan siswa melalui proses belajar mengajar yang dilakukannya, sedangkan  non teknis selain dalam bidang administrasi, guru diharuskan memiliki kemampuan dalam menyusun dan mengembangkan strategi dalam mendukung kegiatan belajar mengajar.
Mengutip pendapat Robert M Smith (Sudjana : 2000) dalam bukunya Learning How to Learn menjelaskan bahwa belajar berarti :
a.        Transformasi yang terjadi dalam pemikiran manusia dan upaya pemecahan masalah.
b.       Proses yang terjadi dalam diri manusia yang menyebabkan terjadinya perubahan perilaku.
c.   Pembinaan dan pertukaran keterkaitan antar pemikiran manusia dan antar pengertian yang bermakna.
d.      Perubahan disposisi atau kemampuan yang diperoleh manusia, bukan karena pertumbuhan fisik.
e.       Proses perubahan pemaham, pandangan, harapan atau pola pikir.

Berdasarkan pada pendapat Robert M Smith di atas, dapat dilihat dengan jelas bahwa belajar itu suatu proses agar manusia dapat berubah atau bertransformasi baik dalam hal intelektual, keterampilan, dan karaternya.  Semua itu tidak terlepas dari adanya  bimbingan dan pembinaan dari guru, sehingga walaupun lahirnya paradigma baru dalam proses pembelajaran berupa student center akan tetapi peran guru tidak dapat diabaikan begitu saja dalam proses pembelajaran, ditambah lagi dengan karakter siswa saat ini yang bisa dikategorikan sebagai generasi Internet maka pengetahuan merupakan hal yang sangat mudah untuk diakses tetapi mereka masih menyadari pentingnya guru untuk memberikan motivasi  sehingga guru harus dapat menciptakan suasana belajar sedemkian rupa dan dapat memberikan kesan yang bermakna dalam diri siswa.
       Mengajar adalah seni, di mana guru harus mengkolaborasikan antara teknik dan strategi mengajar dengan rasa dan karsa yang di dimiliki dalam dirinya , sehingga terjadi harmonisasi antara keduanya. Dari Kondisi ini pada akhirnya akan  melahirkan emosi yang saling mempengaruhi antara guru dan siswa. Dengan melibatkan emosi inilah maka keterikatan antara guru dan siswa akan terjalin. Untuk  mengarahkan dan membibing siswa dalam mencapai kompetensi yang diharapkan. Emosi ini akan berperan sebagai pendorong  siswa dan guru untuk menciptakan suasana belajar yang bermakna. Apabila kesan bermakna telah didapatkan melalui pembelajaran yang aktif dan kreatif  maka hal ini akan sangat mendukung terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran.
Berdasarkan pada pandangan di atas, penulis memiliki keyakinan bahwa membelajarkan siswa merupakan seni yang yang bisa dikembangkan oleh guru dengan cara menggali, mendalami, memahami emosi yang dimiliki oleh siswa. Dengan kata lain guru harus memiliki keingan yang kuat dan ikhlas untuk membentuk siswa yang cerdas secara intelektual, sosial dan emosional.  Untuk mencapai itu semua diperlukannya frekuensi yang sama antara guru dan siswa. Dalam menselaraskan frekuensi ini yang siswa butuhkan adalah motivasi.
Untuk memberikan motivasi pada setiap siswa tentu memerlukan cara dan strategi yang berbeda sehingga guru  juga harus mampu mendalami emosi siswa. Cara yang dapat kita lakukan untuk mendalami emosi siswa guru harus mengikuti dan masuk kedalam dunia siswa, guru memberikan kebebasan tetapi dengan menggunakan rambu – rambu yang jelas dan mengikat. Dengan cara ini kemungkinan akan melahirkan kepercayaan siswa, seningga guru tidak dianggap sebagai sosok yang menakutkan tetapi dijadikan sebagai figur yang patut di gugu dan ditiru. Untuk meraih kepercayaan ini sikap dan karakter guru itu sendiri menjadi hal yang sangat penting. Dari semua langkah ditas, modal utama yang harus diiliki oleh guru adalah fikiran positif karena apa yang kita pikirkan hal itu yang akan terjadi. Jadi dengan berfikir positif terhadap keberhasilan  siswa maka keberhasilan yang sesungguhnya akan terjadi pada siswa.
Apabila kita telah berusaha melakukan langkah – langkah di atas, berati kita sebagai guru telah mendukung semboyan pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hjar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sungtulodo, Ing Madyo mangun Karso, Tut Wuri Handaayani yang berati di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat dan di belakang memberi dorongan.
Semoga dengan langkah ini kita dapat mewujudkan cita – cita mulia sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional.