Rabu, 21 Agustus 2019

Mengenal OJK RI



Tentang OJK



oleh:
Enang Cuhendi 

Dalam materi mata pelajaran IPS SMP  kurikulum 2006 kelas IX terdapat materi mengenai uang dan lembaga keuangan. Dalam pembahasan materi terebut disebutkan bahwa  lembaga keuangan terdiri dari dua bagian, yaitu bank dan lembaga keuangan bukan bank(LKBB). Bank terbagi atas bank sentral, bank umum dan bank perkreditan rakyat.

Dalam konteks kekinian, konten materi di atas rasanya perlu mendapat pengembangan dan penyesuaian. Terutama dalam kaitannya dengan lembaga keuangan yang ada di Indonesia. Sekedar berbagi “oleh-oleh” penulis mencoba menyampaikan satu lembaga keuangan baru yang muncul di negara kita. Secara kebetulan pada tanggal 1 s.d. 4  Pebruari 2015 yang lalu bertempat di Hotel Sari Pan Pasific Jakarta penulis mewakili Jawa Barat pernah mendapat undangan langsung untuk mengikuti kegiatan ToT mengenal OJK dan IJK untuk guru IPS SMP se-Indonesia. Di Jawa Barat kegiatan ini kemudian ditindaklanjuti di berbagai daerah melalui kegiatan sehari di beberapa kota.

Sejak tahun 2011 berdasarkan Undang-undang No. 21 tentang otoritas jasa keuangan (UU OJK) di Indonesia telah dibentuk sebuah lembaga yang disebut OJK atau Otoritas Jasa Keuangan. OJK merupakan lembaga yang independen dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur tangan pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam UU ke-OJK-an di atas. Lembaga ini berkedudukan di ibu kota RI dan dapat mempunyai kantor di dalam dan di luar wilayah RI.

OJK dibentuk dengan tujuan agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel, serta mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil, dan mampu melindungi kepentingan Konsumen dan masyarakat.

Fungsi OJK menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan. OJK melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan, Pasar Modal, Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.

Untuk melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan di sektor Perbankan, OJK mempunyai wewenang untuk mengatur dan mengawasi mengenai kelembagaan bank yang meliputi perizinan pendirian bank dan kegiatan usaha bank. Di samping itu OJK juga berwenang untuk mengatur dan mengawasi mengenai kesehatan bank,  aspek kehati-hatian bank dan pemeriksaan bank. Sebelum lahirnya OJK kewenangan-kewenangan tersebut berada sepenuhnya di tangan Bank Indonesia sebagai bank sentral.

Dalam melaksanakan tugasnya OJK dipimpin oleh Dewan Komisioner, yang beranggotakan 9 orang. Dewan Komisioner bersifat kolektif dan kolegial. Dua diantaranya merupakan ex-officio dari Bank Indonesia dan ex-officio dari Kementerian Keuangan. Keberadaan Ex-officio ini dimaksudkan dalam rangka koordinasi, kerja sama, dan harmonisasi kebijakan di bidang fiskal, moneter, dan sektor jasa keuangan.

Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan fungsi, tugas dan wewenang OJK, Dewan Komisioner membentuk organisasi dan organ pendukung seperti sekretariat, Dewan Audit, Komite Etik, dan organ lainnya sesuai dengan kebutuhan.


Dalam kaitannya dengan upaya perlindungan Konsumen dan masyarakat, OJK berwenang melakukan tindakan edukasi kepada masyarakat dalam rangka pencegahan kerugian konsumen dan masyarakat, melakukan pelayanan terhadap pengaduan masyarakat dan pembelaan hukum untuk kepentingan perlindungan konsumen dan masyarakat. Proses pengaduan masyarakat dapat dilakukan melalui akses on line di www.ojk.go.id atau telpon di 1500655 yang dapat dihubungi dari seluruh wilayah Indonesia dengan menggunakan pulsa lokal.

Sebagaimana disebutkan pada bagian awal tulisan, materi tentang OJK dalam kurikulum 2006 bisa diintegrasikan dalam materi uang dan lembaga keuangan kelas IX semester ganjil. Sedangkan untuk kurikulum 2013, materi OJK dan termasuk IJK atau industri jasa keuangan di dalamnya dapat dimasukan ke dalam Kompetensi Dasar 3.3. Untuk kelas VII materi jenis-jenis kelembagaan ekonomi, kelas VIII fungsi dan peran kelembagaan ekonomi dan untuk kelas IX materi manfaat kelembagaan ekonomi. Semoga bermanfaat!


 




PRAHARA TASIKMALAYA 26 DESEMBER 1996 : KONFLIK HORIZONTAL DI KOTA SANTRI

Oleh Yati Mulawati


Tasikmalaya Kota Santri

Kota santri melekat pada kota Tasikmalaya. Labeling tersebut bukan tidak mendasar, banyaknya pesantren yang berdiri serta santri yang menimba ilmu di lembaga pendidikan agama tersebut menjadi sebuah indikator terhadap Tasikmalaya. Menurut catatan BPS tahun 1996, terdapat 603 pesantren dengan jumlah kiai sebanyak 3.214 orang dan 70.288 orang santri. 

Selain kota santri, kota ini pun secara demografi merupakan kota yang dihuni oleh berbagai suku bangsa dan ras. Sejumlah 1.893.692 orang masyarakat Tasikmalaya adalah WNI mereka tinggal di seluruh wilayah Tasikmalaya dan mayoritas bersuku Sunda, 1.427 Orang, 1.427 Orang adalah WNI Keturunan Tionghoa (41 orang tinggal di Kecamatan Cipedes, 877 orang tinggal di Kecamatan Cihideung, 498 orang tinggal di Kecamatan Tawang) , WNA sebanyak 1.427 orang (11 orang warga negara Saudi Arabia, 1.416 orang warga negara Pakistan). 

Secara ekonomi, pada tahun 1996, pendapatan perkapita TAsikmalaya mencapai sebesar Rp 1.439.712,27 menurut data yang diperoleh dari Kantor Statistik Kabupaten Tasikmalaya, dan Badan Perencana Pembangunan Daerah Kabupaten DT.II Tasikmalaya Masyarakat Kabupaten Tasikmalaya. Masyarakat Tasikmalaya memilih menggeluti kegiatan ekonomi di bidang pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 282.905 orang  27,74%) dan kegiatan ekonomi di bidang perdagangan, hotel dan restoran menduduki tempat kedua, dengan jumlah tenaga kerja yang diserap sebanyak 136.882 orang atau 24,04 % dari jumlah penduduk keseluruhan.

Sebagai kota santri yang religius, komposisi penduduk yang menganut agama pun bisa kita lihat sebagi berikut ; Agama Islam dianut masyarakat Tasikmalaya  sebanyak 1.885.230 ( 99,4%). Agama Katolik dianut  oleh masyarakat Tasikmalaya sebanyak 2.593 (0,14%), penganut agama Protestas sebanyak 4.912 orang (0,26%), Hindu dianut oleh 60 orang (0,003%), Budha dianut oleh 3.490 (0,18), dan 126 orang menganut agama dan kepercayaan lainnya ( 0,006%). Keheterogenan masyarakat Tasikmalaya tersebut tidak menjadi perpecahan di dalam kehidupan sosial di Tasikmalaya hingga akhirnya 23 tahun yang lalu tepatnya tanggal 26 Desember 1996 pecah kerusuhan Tasikmalaya yang bisa dinyatakan sebuah prahara yang memecah kerukunan beragama dan ketenangan bermasyarakat di Tasikmalaya. 

Pendisiplinan Berujung Prahara

Pesantren menjadi elemen penting dalam proses pengembangan kualitas manusia di Tasikmalaya, namun di lembaga pendidikan inipun pernah tergores sejarah kelam bagi Tasikmalaya. Peristiwa tersebut telah berlalu 23 tahun yang lalu, nyaris tidak lagi hadir dalam ingatan kolektif masyarakat Tasikmalaya terutama generasi muda saat ini. Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah, di Condong Tasikmalaya, merupakan salah satu pesantren tertua di kota tersebut. Di Pesantren tersebut pernah terjadi pendisiplinan terhadap santri kalong  yang dilakukan oleh  Ustadz Mahmud Farid beserta Habib dan Ihsan, pada akhirnya melebar menjadi konflik SARA di Tasikmalaya. 

Massa yang berkumpul di Mesjid Agung Tasikmalaya, pada akhirnya meluapkan ketidakpuasannya terhadap penanganan kasus tersebut yang dianggap tidak serius. Mereka melakukan pengrusakan kepada Mapolres Tasikmalaya. Bupati Tasikmalaya, Suljana Wirata Hadisubrata yang hadir di Mapolres Tasikmalaya, tidak mampu meredam kebringasan massaa, mereka terus melakukan pengrusakan terhadap Mapolres Tasikmalaya. Selanjutnya gerakan massa berlanjut ke jalanan di sekitar Mapolres Tasikmalaya untuk melakukan pengrusakan. Mereka melakukan pengrusakan kepada simbol-simbol kepolisian, toko-toko, toserba seperti Matahari, Asia, Yogya dan Samudera, rumah tinggal, hotel, tempat ibadah, sekolah, pabrik, bank, kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat yang terparkir di pinggir jalan. Selain melakukan pengrusakan, kerusuhan massa pun diikuti dengan aksi penjarahan. Mereka membakar toko-toko, pabrik, dan kendaraan bermotor serta infrastruktur penunjang perekonomian bukan hanya dengan api tapi dengan menggunakan bom molotov untuk melakukan aksinya tersebut.  

Massa yang melakukan pengrusakan dan penjarahan tersebut tidak bisa dinyatakan berasal dari kelompok santri. Masyarakat Tasikmalaya yang sebelumnya tidak mengikuti acara do’a bersama untuk menunjukkan keprihatinan terhadap kasus penganiayaan Ustadzz Mahmud Farid beserta Habib dan Ihsan dari Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah melakukan aksi yang bringas yang mengakibatkan kota Tasikmalaya menjadi sangat mencekap pada hari Kamis, tanggal 26 Desember 1996 tersebut.

Masyarakat Tasikmalaya pada saat itu seperti menumpahkan kekesalan terhadap kondisi sosial dan ekonomi yang mereka simpan selama ini. Kasus pembebasan tanah di Kawalu, masalah relokasi Pasar Wetan ke Pasar Cikurubuk yang mengakibatkan berkurangnya penghasilan bagi para pedagang karena lokasi yang jauh dari jangkauan masyarakat, masalah rentenir yang menjerat masyarakat, serta kinerja anggota kepolisian yang dianggap tidak menunjukkan etos kerja yang baik disinyalir sebagai alasan yang mendorong masyarakat Tasikmalaya menumpahkan kekesalannya dengan melakukan pengrusakan terhadap sarana prasarana yang ada di kota Tasikmalaya. Rumah-rumah ibadah agama nasrani menjadi sasaran kekesalan mereka. Gereja Paroki Hati Kudus Yesus di jalan Sutisna Senjaya menjadi salah satu sasaran kebringasan Massa. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 13.00 WIB.

Begitupun pertokoan yang berjejer di sepanjang jalan KH. Zainal Mustofa tidak luput dari sasaran amuk massa. Pertokoan-pertokoan yang turut menggerakkan denyut nadi perekonomian di Tasikmalaya memang banyak dimiliki dan dikelola oleh etnis Tionghoa. Meskipun mereka sudah berstatus sebagai WNI, namun pada hari itu, masyarakat Tasikmalaya menunjukkan  kecemburuan sosialnya terhadap etnis Tionghoa. Pada akhirnya, para pemilik toko banyak yang memutuskan untuk memberi identitas tokonya dengan tulisan “Muslim” di pintu-pintu depan toko yang dimilikinya. kerusuhan massa tersebut pada akhirnya melebar dengan menjadi sebuah aksi intoleransi beragama dengan adanya pembedaan antara muslim dan non-muslim, antara pribumi dengan etnis Tionghoa.

Kebringasan massa yang berawal dari Mapolres Tasikmalaya dan pusat perekonomian di Tasikmalaya, pada akhirnya sampai juga ke daerah pinggiran Tasikmalaya.  Pada malam harinya mereka melakukan pengrusakan dan pembakaran toko-toko di daerah Salawu, Manonjaya, Ciawi, Indihiang, dan daerah jalan Mohammad Hatta yang merupakan jalan yang berbatasan dengan Kabupaten Ciamis.  Kerusuhan massa tidak berhenti hanya pada hari Kamis tanggal 26 Desember 1996, namun pada keesokan harinya, tanggal 27 Desember 1996, ratusan massa konvoi dengan menggunakan sepeda motor menuju Ciawi. Massa melakukan pengrusakan toko bahan bangunan dan elektronik di sekitar Pasar Ciawi. Selain itu di daerah Kawalu, kantor Polsek Kawalu, pabrik serta beberapa kendaraan di Kawalu mengalami pengrusakan. Lalu, di Cipatujah yang berjarak 79 Km dari pusat kota, sebuah gereja di bakar oleh massa.

Dampak dari aksi massa tersebut sangat dirasakan oleh masyarakat Tasikmalaya. Denyut nadi perekonomian melambat, masyarakat dicekam rasa takut untuk beraktifitas. Kerusakan infrastuktur bisa dilihat dari bangunan toko yang dirusak dan dijarah oleh massa, dealer, pabrik, hotel, kendaraan roda empat, kendaraan roda dua dan sebuah kendaraan berat mengalami kerusakan, dan pembakaran. Sarana pendidikan pun ikut menjadi sasaran kemarahan massa, kebanyakan adalah sekolah-sekolah kristen, seperti ; TK Bina Bakti, TK Yos Sudarso, SD Yos Sudarso, SMP Yos Sudarso, TK BPK Penabur, SMP BPK Penabur, SMA BPK Penabur dan satu buah SD Kristen di Yudanegara, semuanya mengalami kerusakan. Simbol-simbol kepolisian seperti pos polisi, di identifikasi mengalami rusak berat sebanyak dua buah dan rusak ringan  sebanyak dua buah, 82 lampu lalu lintas, 9 buah warning light, 172 rambu-rambu lalu lintas mengalami kerusakan dan 347 rambu lalu lintas hilang. Markas Polres Tasikmalaya, 13 Markas Polsek, Kantor Samsat dan Kantor Sub Unit Polisi Jalan Raya pun mengalami kerusakan. 12 gereja rusak berat, 2 Kelenteng rusak ringan, 2 sekolah kristen rusak ringan, 115 toko rusak berat, 4 buah pabrik dibakar, 107 buah kendaraan roda empat dibakar, 22 buah sepeda motor dibakar, 8 buah dealer dibakar dan 7 buah rumah tinggal dibakar dan dirusak (Sujani, 2007:74). 

Kerusuhan massa ini pun memakan korban jiwa, empat orang dinyatakan meninggal, diantaranya Eli Santoso, 34 tahun, meninggal karena serangan jantung, Anton Sutejo alias Kiok Wie Wie, 62 tahun, meninggal karena terjebak api dalam tokonya di jalan KH. Zainal Mustofa, Ririn, 25 tahun, terlindas oleh kendaraan umum, dan satu orang tidak teridentifikasi identitasnya. Selain itu korban luka-luka sebanyak 15 orang. Secara ekonomi, pemerintah Tasikmalaya menghitung kerugian yang diakibatkan dari aksi massa tanggal 26 Desember 1996 sebesar 85 milyar.

Penyelesaian Masalah

Untuk mengatasi kerusuhan massa tanggal 26 Desember 1996, aparat keamanan dari Kodim Tasikmalaya serta kesatuan militer yang berasal dari Bandung, Majalengka, Sumedang dan ditambah kesatuan Kostrad berupaya untuk mengatasi dan memulihkan keamanan di Tasikmalaya. Pada waktu terjadi peristiwa amuk massa tersebut, aparat keamanan berhasil menangkap 173 orang perusuh, 89 orang diantaranya ditetapkan sebagai tersangka karena melakukan pengrusakan dan penjarahan, sementara 84 orang lainnya dibebaskan karena hanya terbawa emosi (Republika, 29 Desember 1996 dalam Annisa Mardiani : 2013). Untuk memulihkan kondisi perekonomian di Tasikmalaya, maka pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dengan dibantu oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan pertemuan dengan para pengusaha yang bergerak di berbagai sektor ekonomi. Masyarakat memang merasakan dampak dari peristiwa tanggal 26 Desember 1996 tersebut secara langsung. Harga-harga sembilan bahan pokok serta kebutuhan lainnya mengalami kenaikan harga. Pusat-pusat perbelanjaan, toko-toko dan pedagang pasar belum semuanya melakukan aktifitas ekonominya. Mereka masih dilanda rasa takut dan cemas akan terjadinya peristiwa amuk massa susulan.

Peristiwa Kerusuhan massa di Tasikmalaya tahun 1996, tidak hanya dirasakan di tingkat lokal, namun ditingkat Nasional, kerusuhan Tasikmalaya mendorong pemerintah pusat untuk membentuk Pos Komando Kewaspadaan Nasional (PKKN) di setiap Kodim yang ditujukan untuk mencegah potensi-potensi kerusuhan. Kegiatan untuk melakukan normalisasi di Tasikmalaya pun terus dilakukan. Pada tanggal 28 dan 29 Desember 1996, Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya bekerjasama dengan ABRI, KORPRI, Darma Wanita, Petahanan Sipil, Santri-santri dari Pesantren Cintawana, Condong, Sukahideung, Bantargedang, Paseh, dan Sukamanah mulai membersihkan puing-puing kerusakan.

Upaya pemulihan keamanan pun dilakukan oleh satuan Polisi dan Militer serta dibantu oleh pemuka-pemuka agama yang melakukan himbauan kepada masyarakat Tasikmalaya untuk tenang. Secara hukum, empat orang aktivis yakni Abdul Muis dan Mimih Khaeruman yang aktif di organisasi PMII, Asep Ilyas (aktivis HMI) serta Agustiana Asqar seorang aktivis Pro-Demokrasi dijatuhi hukuman penjara atas dakwaan melanggar UU Pemberantasan Kegiatan Subversi. Keempat aktivis tersebut dijatuhi hukuman atas perannya dalam membakar emosi massa tanggal 26 Desember 1996 ketika acara do’a bersama untuk menunjukkan sikap keprihatinan terhadap penganiayaan yang diterima oleh ustadz dan santri Riyadlul Ulum Wadda’wah, yaitu Ustadz Mahmud Farid, Habib dan Ihsan.

Yati Mulyawati, Guru Sejarah SMA Negeri 1 Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya
Provinsi Jawa Barat
Email : yatimulyawati654321@gmail.com

Sabtu, 17 Agustus 2019

TEKS PROKLAMASI HAMPIR MAMPIR DI TEMPAT SAMPAH




oleh Enang Cuhendi


Tujuh puluh empat tahun yang lalu bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Saat itu 17 Agustus 1945 bertempat di rumah Bung Karno jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta Ir. Soekaro (Bung  Karno) dan Drs. Moh. Hatta (Bung Hatta) bertindak atas nama Bangsa Indonesia membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Momentum ini menjadi tonggak penting dalam sejarah nasional sekaligus merupakan bukti kepada dunia Internasional bahwa Indonesia telah berdaulat.

Terkait dengan peristiwa proklamasi tersebut ada beberapa kisah menarik yang tak banyak diketahui orang perihal proses pembuatan naskah proklamasi ini. Teks proklamasi kemerdekaan Indonesia uniknya dirumuskan di rumah seorang perwira Angkatan Laut Jepang, yaitu Laksamana Muda Maeda. Di rumah inilah Bung Karno, Bung Hatta dan Mr. Ahmad Soebardjo berperan sebagai tim perumus merumuskan naskah teks proklamasi kemerdekaan. Banyak sumber menyebutkan bahwa naskah proklamasi ditulis tangan oleh Soekarno di atas secarik kertas yang disobek dari sebuah buku catatan dan kalimatnya didiktekan oleh Hatta dan Ahmad Soebardjo.

Sebelumnya konsep (klad) naskah Proklamasi disetujui, rumusan itu harus diketik terlebih dahulu sebelum diajukan kepada para anggota PPKI dan lainnya yang menunggu di ruangan tengah. Dalam naskah klad terdapat beberapa coretan dan perubahan akibat pertukaran pendapat. Seperti kata “secermat-cermatnya” diganti dengan “saksama.” Setelah selesai ketiga tokoh tersebut menyampaikannya kepada semua yang hadir.

Sayuti Melik
Perihal yang disuruh nengtik menurut Ahmad Subardjo, Sukarni yang kebetulan memasuki ruangan, diminta untuk mengetiknya. “Saya lihat dia pergi ke suatu ruang dekat dapur di mana Sayuti Melik dan lain-lain duduk-duduk. Terdapat satu mesin tik di situ dan Sayuti Meliklah mengetik teks dari tulisan tangan Sukarno,” kata Subardjo. Akan Tetapi menurut Sayuti Melik yang diamini oleh B.M. Diah, wartawan harian Asia Raya, Soekarno sendiri yang memintanya untuk mengetik naskah.
Sayuti Melik menyatakan naskah Proklamasi tidak langsung bisa diketik karena di rumah Maeda tidak tersedia mesin tik. Tetapi, ada sumber yang menyebutkan, sebenarnya mesin tik ada tetapi berhuruf kanji sehingga sulit digunakan. Untuk itu, Satzuki Mishima, pembantu Maeda dengan mengendarai jeep pergi ke kantor militer Jerman untuk meminjam mesin tik. Satzuki bertemu Mayor Kandelar, perwira Angkatan Laut Jerman, yang lalu meminjamkan mesin tik itu.

Dengan ditemani BM Diah, Sayuti Melik mengetik naskah Proklamasi di ruangan bawah tangga dekat dapur. Dia mengetik naskah Proklamasi dengan perubahan: “tempoh” menjadi “tempo”; kalimat “wakil-wakil bangsa Indonesia” diganti “Atas nama Bangsa Indonesia” dengan menambahkan nama “Soekarno-Hatta”; serta “Djakarta, 17-8-05” menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05. Angka tahun ’05 adalah singkatan dari 2605 tahun showa Jepang, yang sama dengan tahun 1945. Sayuti Melik berani mengubah ejaan itu karena pernah sekolah guru dan merasa lebih mengetahui soal ejaan bahasa Indonesia daripada Bung Karno.

Proses pengetikan naskah proklamasi oleh Sayuti Melik dilakukan dengan tergesa-gesa. Akibatnya hasil ketikan kurang rapi, sedikit kurang lurus. Selain itu ia pun tidak membuat rangkap naskah teks yang diketiknya untuk arsip. Setelah naskah Proklamasi yang diketik itu dibacakan di depan rapat dan disetujui, barulah Sukarno dan Hatta membubuhkan tanda tangannya. Naskah itu yang hingga kini disebut sebagai Naskah Proklamasi Otentik.


Adapun konsep tulisan tangan Sukarno yang kemudian disebut sebagai Naskah Proklamasi 
Klad ditinggalkan begitu saja di dekat mesin tik. Karena rasa gembira, teks asli itu terlupakan dan hampir saja terbuang ke tong sampah di rumah Laksamana Maeda, beruntung naskah tersebut berhasil diselamatkan oleh BM Diah
.
B.M. Diah

Seperti dikisahkannya dalam biografi yang ditulis oleh Dasman Djamaluddin, Butir-butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman  dan diterbitkan oleh Pustaka Merdeka tahun 1992, B.M. Diah mengungkapkan untuk terakhir kalinya sebelum bubaran, ia melongok lagi ke tempat Sayuti Melik mengetik dan mendapati naskah klad tadi di tempat sampah di rumah Laksamana Maeda. Ia mengambil naskah tersebut, melipat dan memasukannya ke sakunya. Naluri B.M. Diah yang saat itu sudah menjadi wartawan,  mendoronnya untuk menyelamatkan bukti bukti setiap momen atau peristiwa.



Empat puluh tujuh tahun lamanya B.M. Diah menyimpan teks asli itu dan menurutnya selalu dibawa ke mana saja ia berkeliling dunia. Kertas lecek itu ia bawa ke mana-mana saat ia berdinas sebagai Duta Besar di Cekoslovakia, Inggris dan Thailand antara tahun 1959 hingga 1968. Baru pada 1993 B.M. Diah menyerahkan naskah konsep Proklamasi tulisan tangan Sukarno itu kepada Presiden Soeharto. Akhirnya naskah tersebut menjadi koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). 

Entah apa jadinya jika Burhanuddin Muhammad Diah tak memungut kertas yang dibuang oleh Sayuti Melik itu. Mungkin naskah sudah masuk ke tong sampah dan kita tak akan pernah melihat konsep naskah proklamasi. Meski secara otentik naskah proklamasi yang diakui adalah hasil ketikan Sayuti Melik, namun keberadaan kertas konsep tulisan tangan Soekarno yang redaksinya didikte oleh Hatta itu adalah termasuk arsip penting sebagai memori bangsa. Tanpa adanya kertas lecek itu kita mungkin tidak bisa melihat latar belakang yang mempengaruhi proses pembuatan naskah proklamasi kemerdekaan negara kita tercinta ini.

FAKTA UNIK SEKITAR PEMBACAAN TEKS PROKLAMASI



Detik-detik Pembacaan Teks Proklamasi
Photo Karya Frans Mendur

oleh Enang Cuhendi


Hari ini tepat 74 tahun yang lalu proklamasi kemerdekaan  Indonesia dikumandangkan. Ir. Soekarno (Bung Karno) dan Drs. Mochammad Hatta (Bung Hatta) tampil sebagai proklamator atas nama Bangsa Indonesia. Pembacaan teks Proklamasi ini menjadi tonggak sejarah bangsa Indonesia yang menandai beralihnya status bangsa Indonesia dari Status terjajah menjadi bangsa merdeka. Pelaksanaan pembacaan teks Proklamasi dilaksanakan di Jalan pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta Pusat tepat pukul 11.30 waktu Nippon (sebutan untuk negara Jepang pada saat itu) Jumat, 17 Agustus 1945. Waktu Nippon adalah merupakan patokan zona waktu yang dipakai pada zaman pemerintah pendudukan militer Jepang kala itu.

“Proklamasi. Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan, d.l.l diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.”

Itu adalah penggalan teks proklamasi yang dibacakan oleh Ir Soekarno. Dengan suara kharismatiknya pembacaan teks proklamasi tersebut telah menjadi tonggak sejarah bangsa Indonesia. Suara tersebut kerap diputar dalam beberapa acara dan juga museum, salah satunya Museum Nasional.

Namun, apakah kita tahu bahwa tahu bahwa suara yang sering kita dengar saat ini sesungguhnya bukan suara asli dari Ir. Soekarno saat membacakan teks naskah Proklamasi  pada 17 Agustus 1945?

Pada 17 Agustus 1945  nyatanya tidak ada yang merekam suara atau video. Menurut keterangan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 ini memang tidak direkam mengingat Indonesia saat itu sangat diawasi oleh Jepang. Ada juga yang menyataan bahwa alasan tidak direkam ini karena ternyata terjadi sedikit masalah, yakni mati lampu. Akibatnya suara dari naskah proklamasi yang dibacakan oleh Bung Karno tak diabadikan. Pendapat lain menyebutkan teknologi di Indonesia saat itu belum memungkinkan untuk mengambil video ataupun merekam suara. Apapun alasannya, faktanya dokumentasi berupa audio dan video memang tidak ada yang ada hanya berbentuk foto-foto saat detik-detik proklamasi.
Hasil gambar untuk Frans Alex mendur
Frans dan Alex Mendur
Dokumentasi photo tersebut karya photografer Mendur bersaudara, yakni Frans dan Alex Mendur. Ada sebuah catatan saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan proklamasi kemerdekaan, foto karya Alex Mendur sempat dirampas tentara Jepang. Akan tetapi,  karya Frans Mendur dapat terselamatkan. Saat itu Frans Mendoer berbohong kepada tentara Jepang dengan mengatakan tak punya foto negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor. Padahal, negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman kantor harian Asia Raja.

Hasil gambar untuk jusuf ronodipuro
Joesoep Ronodipoero
Perihal rekaman suara sebagaimana sering kita dengar sampai sekarang baru pada satu dasa warsa kemudian didapat. Saat dilakukan take ulang atau perekaman suara ulang pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Adalah Joesoep Ronodipoero seorang pendiri RRI (Radio Republik Indonesia) yang berperan besar dalam perekaman ulang. Joesoep Ronodipoero meminta Presiden Soekarno untuk bersedia kembali merekam pembacaan teks proklamasi kemerdekaan. Namun, niat itu sempat ditentang dengan nada tinggi oleh Sukarno yang menganggap pembacaan teks proklamasi hanya berlaku satu kali. Setelah dibujuk beberapa kali akhirnya pada 1951, Presiden Soekarno bersedia untuk membacakan kembali teks proklamasi kemerdekaan. Pengambilan rekaman tersebut dilakukan di studio Radio Republik Indonesia (RRI) yang sekarang bertempat di Jalan Medan Merdeka Barat 4-5 Jakarta Pusat. Hasil rekaman kemudian dikirimkan ke perusahaan piringan hitam Lokananta pada 1959 dan abadi sampai saat ini.

Sungguh upaya yang sangat mulia dari seorang Joesoep Ronodipoero. Bisa kita bayangan seandainya tidak ada perekaman (take) ulang, pembacan teks proklamasi dengan suara asli Ir. Soekarno tidak akan diketahui oleh generasi selanjutnya dan bangsa Indonesia kehilangan satu momen sejarah yang sangat berarti.



Silakan klik link berikut untuk mengunduh.

Jumat, 16 Agustus 2019

MAEDA DAN PROKLAMASI KEMERDEKAAN


Hasil gambar untuk laksamana maeda


Oleh : Yanuar Iwan. S


Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan di sana bersemayam kemerdekaan, apabila engkau memaksa diam, aku siapkan untukmu pemberontakan ( Widji Tukul )

Sejarah hampir selalu memberikan sisi yang berbeda sisi hitam dan putih tergantung suatu bangsa memandang suatu peristiwa sejarah.

Westerling dihadapan masyarakat Belanda  yang ultra nasionalis dianggap pahlawan, sebaliknya di mata masyarakat Indonesia Westerling tidak lebih dari seorang penjahat perang, demikian halnya dengan Laksamana Muda Tadashi Maeda lahir pada 3 Maret 1898 di Kagoshima, Kyushu, Jepang, sosok Maeda adalah sosok dengan dua sudut pandang sejarah yang berbeda. Bagi bangsa Indonesia Maeda adalah pahlawan yang pantas disejajarkan dengan pahlawan nasional terutama generasi angkatan 45, tetapi bagi Jepang Maeda adalah profil perwira tinggi pembangkang  ( Insubordinasi ) terhadap peraturan dan tradisi militer yang keras dan disiplin.

Maeda adalah penyimpangan dari pola umum karakteristik militer Jepang yang keras, kaku, dan tidak kenal kata kompromi. Sejarawan Belanda H.J. De Graaf melukiskan Maeda sebagai seorang perwira AL yang lebih banyak melihat dunia dalam tugas-tugasnya, lebih luas dan lebih terang pandangannya terhadap situasi yang sebenarnya terjadi daripada perwira-perwira AD.

Menurut Sejarawan Jepang Aiko Kurawasa, Maeda sejak awal bersimpati besar terhadap gerakan kemerdekaan Indonesia. Maeda sendiri berulangkali mengungkapkan hal itu, "Tahun 1944, saya membuka permohonan kepada Tokyo agar memberi kesempatan Indonesia untuk merdeka" katanya. Ketika di wawancara sejarawan Abdoerahman Soerjomihardjo pada 1973. ( M.F. Mukthi, Historia ).

Simpatinya diwujudkan dengan mendirikan Asrama Indonesia Merdeka pada Oktober 1944, Asrama tersebut menjadi pusat pendidikan anak-anak muda terpilih mereka diberikan pendidikan politik, ekonomi, sosialis, dan hukum. Soekarno, Hatta, Sjahrir, Ahmad Soebardjo dan Iwa Kusuma Sumantri tercatat pernah mengajar disana.

"Jadi dia ( Maeda ) mendukung kemerdekaan atas dasar dirinya sendiri, bukan kebijakkan AL atau Pemerintah Tokyo ujar Sejarawan Aiko Kurawasa ( M.F. Mukthi, Historia ).

Ahmad Soebardjo didalam tulisannnya In Memoriam Laksamana Tadashi Maeda dalam rangka memperingati wafatnya Maeda pada 14 Desember 1977. "Pada detik-detik terpenting dalam melaksanakan Proklamasi kemerdekaan Indonesia, Laksamana Maeda menunjukkan sifat samurai Jepang, yang mengorbankan diri pribadinya demi tercapainya cita-cita luhur dari rakyat Indonesia, yakni Indonesia merdeka."

Menurut Soebardjo Maeda pernah mendesak Laksamana Shibata ( Panglima AL Jepang ) agar mengambil kebijakkan yang menyimpang dari perintah dan komando Sekutu. Yakni membiarkan Indonesia menyatakan kemerdekaan ( Intisari Agustus, 2018 )

Peristiwa Rengasdengklok adalah kristalisasi konflik dua kekuatan, pemuda yang tergabung di dalam komite van actie Sukarni, BM Diah, Wikana yang sudah terpengaruh ide-ide revolusi Tan Malaka, dengan Soekarno-Hatta yang terus mengkalkulasi segala kemungkinan yang terjadi, masalah tersebut bisa diselesaikan dengan jaminan Maeda kepada Ahmad Soebardjo, bahwa jika mereka (Soekarno-Hatta) dikembalikan dengan selamat, maka dia ( Maeda ) dapat mengatur agar pihak Jepang tidak peduli bilamana kemerdekaan dinyatakan. ( MC Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 ).

Ketika Soekarno-Hatta menemui Mayor Jendral Nishimura malam tanggal 16 Agustus 1945, yang menyatakan bahwa bala tentara Jepang mendapatkan perintah komando dari Panglima tertinggi Sekutu di Pasifik bahwa terhitung mulai tanggal 16 Agustus 1945 pukul 13.00 tentara Jepang diJawa tidak boleh lagi mengubah status quo dan Jepang tidak lagi terikat dengan janji kemerdekaan, Soekarno sempat mengkritik Nishimura sebagai seorang samurai yang mengingkari janjinya.

Dengan ditetapkannya status quo oleh Rikugun (Angkatan Darat Jepang) berarti kemerdekaan harus dilaksanakan dengan mandiri lepas dari pengaruh Jepang. Masalah kedua dimanakah tempat melaksanakan perumusan naskah proklamasi, Hotel Des Indes tidak bersedia menyediakan tempat karena sudah melewati pemberlakuan jam malam, mereka khawatir diserbu AD Jepang.

"Nasib saya tidak penting, yang penting adalah kemerdekaan bangsa Indonesia, aku tidak akan pernah lupa pada kata-katanya (Maeda) bahwa didalam rumahku, Kaigun (AL Jepang) akan bertanggung jawab " lanjut Soekarno. Tetapi diluar rumahku, aku tidak bisa membantu karena merupakan wilayah kekuasaan Rikugun (AD Jepang ).

Adalah suatu keberanian yang luar biasa seorang perwira tinggi AL Jepang menyediakan sarana dan prasarana bagi suatu aktifitas yang dilarang, adalah suatu hal yang mustahil jika Kenpetai dan intelijen AD Jepang tidak mengetahui bahwa rumah dinas Maeda dijadikan sarana bagi aktifitas yang terlarang ( Perumusan naskah Proklamasi kemerdekaan ).

Barbara Gifford Shimmer dan Guy Hobbs dalam buku Kenpetai di Jawa dan Sumatera menyatakan tentara Jepang samar-samar menyadari bahwa Maeda telah berkontribusi terhadap gerakan kemerdekaan Indonesia. Lalu mengapa AD Jepang tidak bertindak ada beberapa alasan yang bisa diajukan. AD Jepang tidak ingin lagi terlibat dalam pusaran revolusi Indonesia. AD Jepang sudah merasa tidak berkepentingan lagi terhadap Indonesia (karena merasa menjadi pihak yang kalah dalam PD II). AD Jepang tidak ingin membuka konflik dengan AL Jepang.

Setelah Sekutu datang Maeda dan asistennya Nishijima dijebloskan kedalam penjara dan dipaksa untuk mengakui bahwa Jepang ikut berperan di dalam Proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Di dalam buku kisah istimewa Bung Karno (2010) yang merupakan hasil wawancara dengan Basyrul Hamidi. Nishijima menyatakan "Laksamana Muda Maeda dan saya berusaha sekeras-kerasnya untuk menjaga nama baik Republik Indonesia agar jangan sampai Belanda bisa menyatakan Republik Indonesia itu sebagai bentukkan Jepang.
Biarpun interogasi menekan saya sampai akhirnya mengeluarkan kencing darah, saya tetap tidak mengakui, umur saya waktu itu hampir 36 tahun dan masih bisa tahan" jelas Nishijima.

Sekembalinya ke Jepang Maeda diajukan ke Mahkamah militer bukan karena membantu kemerdekaan Indonesia, tetapi karena kerap melanggar disiplin dan aturan militer dan divonis bebas tanpa syarat, usai pengadilan militer tersebut Maeda memilih mengundurkan diri dari dunia militer dan politik dan menjadi rakyat biasa. Pada 17 Agustus 1973, Maeda diundang Pemerintah Indonesia untuk menerima tanda kehormatan bintang jasa Naraya, Laksamana Muda Maeda wafat di Tokyo pada 14 Desember 1977.

Cipanas sehari sebelum peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI ke-74, Di Perpustakaan SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. MERDEKA.

Rabu, 14 Agustus 2019

Membuka Catatan Sejarah: Detik-Detik Proklamasi, 17 Agustus 1945



oleh: 
Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum.
(Deputy Mensesneg RI - Ketua IKA Sejarah UPI) 


Suasana Sebelum Proklamasi


Tanggal 15 Agustus 1945, kira-kira pukul 22.00, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, tempat  kediaman Bung Karno, berlangsung  perdebatan   serius antara sekelompok pemuda dengan Bung Karno mengenai Proklamasi Kemerdekaan sebagaimana dilukiskan Lasmidjah Hardi (1984:58); Ahmad Soebardjo (1978:85-87) sebagai berikut:    Sekarang  Bung, sekarang…! malam ini  juga  kita kobarkan revolusi…! kata Chaerul Saleh dengan meyakinkan  Bung Karno bahwa ribuan  pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang.

“Kita harus segera merebut  kekuasaan ! tukas Sukarni berapi-api. Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami ! seru mereka bersahutan. Wikana malah berani mengancam Soekarno dengan pernyataan;  Jika Bung Karno  tidak mengeluarkan pengumuman pada malam  ini  juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari .

Mendengar kata-kata ancaman seperti itu, Soekarno naik darah dan berdiri menuju Wikana sambil  berkata:  Ini batang leherku, seretlah saya ke  pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari !.

Hatta kemudian memperingatkan Wikana;  Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus  menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan  apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan  itu sendiri? Mengapa meminta Soekarno untuk  melakukan hal itu?

Namun, para pemuda terus mendesak; Apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan  kepada kita sebagai hadiah, walaupun Jepang sendiri  telah menyerah dan telah  takluk  dalam Perang Sucinya !.  Mengapa bukan rakyat itu sendiri yang memprokla-masikan kemerdekaannya? Mengapa bukan kita yang menyata-kan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa?.

Dengan lirih, setelah amarahnya mereda, Soekarno berkata;  kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan  kesiapan total tentara  Jepang! Coba, apa yang  bisa kau perlihatkan kepada saya?  Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu? Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak? Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah  diproklamasikan? Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang  atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri . Demikian jawab Bung Karno dengan tenang.

Para pemuda, tetap menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun, kedua tokoh itu pun, tetap pada pendiriannya semula. Setelah berulangkali didesak oleh para pemuda, Bung Karno menjawab bahwa ia tidak  bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan para tokoh lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan Bung Karno untuk berunding. Para tokoh yang hadir pada  waktu itu antara lain, Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri,  Djojopranoto, dan Sudiro.

Tidak lama kemudian, Hatta menyampaikan keputusan, bahwa  usul para pemuda tidak dapat diterima dengan alasan kurang perhitungan serta kemungkinan  timbulnya  banyak korban jiwa dan harta. Mendengar penjelasan Hatta, para pemuda  nampak tidak puas. Mereka mengambil  kesimpulan yang menyimpang; menculik Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan  kedua tokoh itu dari pengaruh Jepang.


Rengasdengklok, 16 Agustus 1945


Pukul 04.00 dinihari, tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta oleh sekelompok pemuda dibawa ke Rengasdengklok. Aksi penculikan itu sangat mengecewakan Bung Karno, sebagaimana dikemukakan Lasmidjah Hardi (1984:60). Bung Karno marah dan  kecewa, terutama  karena para pemuda tidak mau mendengarkan pertimbangannya yang sehat. Mereka menganggap perbuatannya itu sebagai tindakan patriotik. Namun, melihat keadaan dan situasi yang panas, Bung Karno tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda untuk dibawa ke tempat yang  mereka tentukan.

Fatmawati istrinya, dan Guntur yang pada waktu itu belum berumur satu tahun, ia ikut sertakan.   Rengasdengklok  kota kecil dekat Karawang  dipilih oleh para pemuda untuk mengamankan Soekarno-Hatta dengan perhitungan militer; antara anggota PETA (Pembela  Tanah Air) Daidan Purwakarta dengan Daidan Jakarta telah terjalin hubungan erat sejak mereka mengadakan latihan bersama-sama. Di samping itu, Rengasdengklok letaknya terpencil sekitar 15  km. dari Kedunggede Karawang. Dengan demikian, deteksi dengan mudah dilakukan terhadap setiap gerakan tentara Jepang yang mendekati Rengasdengklok, baik yang datang dari arah Jakarta maupun dari arah Bandung atau Jawa Tengah.

Sehari penuh, Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok. Maksud para pemuda untuk menekan mereka, supaya segera melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan terlepas dari segala kaitan dengan Jepang, rupa-rupanya tidak membuahkan hasil. Agaknya keduanya memiliki wibawa yang cukup besar. Para pemuda yang membawanya ke Rengasdengklok, segan untuk melakukan penekanan terhadap keduanya. Sukarni dan kawan-kawannya, hanya dapat mendesak Soekarno-Hatta untuk menyatakan proklamasi secepatnya seperti yang telah direncanakan oleh para pemuda di Jakarta .

Akan tetapi, Soekarno-Hatta tidak  mau didesak begitu saja. Keduanya, tetap berpegang teguh pada perhitungan dan  rencana mereka sendiri. Di sebuah  pondok  bambu berbentuk panggung  di tengah persawahan Rengasdengklok, siang itu terjadi perdebatan panas;  Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintahkan Bung, kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu .  Lalu apa ? teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya, dengan kemarahan yang menyala-nyala. Semua terkejut, tidak seorang pun yang bergerak atau berbicara.

Waktu suasana tenang kembali. Setelah Bung Karno duduk. Dengan suara rendah ia mulai berbicara;  Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang  tepat. Di  Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan  ini untuk dijalankan tanggal 17 .  Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa  tidak sekarang saja, atau tanggal 16 ? tanya Sukarni.  Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang  berada  dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua  berpuasa, ini berarti saat yang paling suci  bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu  Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat  suci. Al-Quran diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu  kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia .

Demikianlah antara lain dialog antara Bung Karno dengan para pemuda di Rengasdengklok sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi (1984:61).   Sementara itu, di Jakarta, antara Mr. Ahmad Soebardjo dari golongan tua dengan Wikana dari golongan muda membicarakan kemerdekaan yang   harus dilaksanakan  di Jakarta . Laksamana Tadashi Maeda, bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto dari pihak pemuda, hari itu juga mengantar Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya, Sudiro, ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta.


Penyusunan Naskah Proklamasi


Rombongan penjemput  tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00. Ahmad Soebardjo memberikan jaminan, bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan itu, komandan kompi PETA setempat, Cudanco Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali  ke Jakarta (Marwati Djoened Poesponegoro,  ed. 1984:82-83).   Rombongan Soekarno-Hatta tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00. Langsung menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No.1, setelah lebih dahulu menurunkan Fatmawati dan putranya di rumah Soekarno. Rumah Laksamada  Maeda, dipilih sebagai tempat penyusunan teks Proklamasi karena sikap Maeda sendiri yang memberikan jaminan keselamatan pada Bung Karno  dan tokoh-tokoh lainnya.

De Graff yang dikutip Soebardjo (1978:60-61) melukiskan sikap Maeda seperti ini. Sikap dari Maeda tentunya memberi kesan aneh bagi orang-orang Indonesia itu, karena perwira Angkatan Laut ini selalu berhubungan dengan rakyat Indonesia.  Sebagai seorang perwira Angkatan Laut yang telah melihat lebih banyak dunia ini dari rata-rata seorang perwira Angkatan Darat , ia mempunyai pandangan yang lebih tepat tentang keadaan dari orang-orang militer yang agak sempit pikirannya. Ia dapat berbicara dalam beberapa bahasa. Ia adalah pejabat yang bertanggungjawab atas Bukanfu di Batavia;  kantor pembelian Angkatan Laut di Indonesia. Ia tidak khusus membatasi diri hanya pada tugas-tugas militernya saja, tetapi agar dirinya dapat  terbiasa dengan suasana di Jawa , ia membentuk suatu kantor penerangan bagi dirinya di tempat yang sama yang pimpinannya dipercayakan kepada Soebardjo.

Melalui  kantor inilah, yang menuntut biaya yang tidak  sedikit  baginya,  ia  mendapatkan pengertian tentang masalah-masalah di Jawa lebih baik dari yang didapatnya dari buletin-buletin resmi Angkatan Darat. Terlebih-lebih ia memberanikan diri untuk mendirikan asrama-asrama bagi nasionalis-nasionalis muda Indonesia . Pemimpin-pemimpin terkemuka, diperbantukan sebagai guru-guru untuk mengajar di asrama itu. Doktrin-doktrin yang agak radikal dipropagandakan. Lebih lincah dari orang-orang militer, ia berhasil mengambil hati dari banyak nasionalis yang tahu pasti bahwa keluhan-keluhan dan keberatan-keberatan mereka selalu bisa dinyatakan kepada Maeda. Sikap Maeda seperti inilah yang memberikan keleluasaan kepada para tokoh nasionalis untuk melakukan aktivitas yang maha penting bagi masa depan bangsanya.

Malam itu, dari rumah Laksamana Maeda, Soekarno dan Hatta ditemani Laksamana Maeda menemui Somobuco (kepala  pemerintahan umum), Mayor Jenderal Nishimura, untuk menjajagi sikapnya mengenai pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Nishimura mengatakan bahwa karena Jepang sudah  menyatakan menyerah kepada Sekutu,  maka berlaku ketentuan bahwa tentara Jepang tidak diperbolehkan lagi mengubah status quo . Tentara Jepang diharuskan tunduk kepada perintah tentara Sekutu. Berdasarkan garis  kebi  jakan itu, Nishimura melarang Soekarno-Hatta mengadakan rapat PPKI dalam rangka pelaksanaan Proklamasi Kemerde  kaan. Melihat kenyataan ini, Soekarno-Hatta sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada gunanya lagi untuk membicara-kan soal kemerdekaan Indonesia dengan Jepang. Mereka hanya  berharap agar pihak Jepang  tidak menghalang-halangi pelaksanaan  proklamasi kemerdekaan oleh rakyat Indonesia sendiri (Hatta, 1970:54-55).   Setelah pertemuan itu, Soekarno dan Hatta  kembali ke rumah Laksamana Maeda.

Di ruang makan rumah Laksamana Maeda itu dirumuskan teks proklamasi kemerdekaan. Maeda, sebagai tuan rumah, mengundurkan diri ke kamar tidurnya di  lantai dua ketika peristiwa bersejarah itu berlangsung. Miyoshi, orang kepercayaan Nishimura, bersama Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah menyaksikan Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo membahas rumusan teks Proklamasi. Sedangkan  tokoh-tokoh lainnya,  baik  dari golongan tua maupun  dari  golongan pemuda, menunggu di serambi muka.   Menurut Soebardjo (1978:109) di ruang makan rumah Laksamana Maeda menjelang tengah malam,  rumusan  teks Proklamasi yang akan dibacakan esok harinya disusun. Soekarno menuliskan  konsep proklamasi pada secarik kertas. Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan.

Kalimat pertama dari teks Proklamasi merupakan saran Ahmad Soebardjo yang diambil dari rumusan   Dokuritsu Junbi Cosakai , sedangkan kalimat terakhir merupakan sumbangan pikiran Mohammad Hatta. Hatta menganggap kalimat pertama hanyalah merupakan pernyataan dari kemauan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri, menurut pendapatnya perlu ditambahkan pernyataan mengenai pengalihan   kekuasaan  (transfer of sovereignty). Maka dihasilkanlah rumusan terakhir dari teks proklamasi itu.   Setelah kelompok yang menyendiri di  ruang  makan itu selesai merumuskan teks Proklamasi, kemudian mereka menuju serambi muka untuk menemui hadirin yang berkumpul di  ruangan itu.

Saat itu, dinihari menjelang subuh. Jam menunjukkan pukul 04.00, Soekarno mulai membuka pertemuan itu dengan membacakan rumusan teks Proklamasi yang masih merupakan konsep. Soebardjo (1978:109-110) melukiskan suasana ketika itu:  Sementara teks Proklamasi ditik, kami  menggunakan kesempatan  untuk mengambil makanan dan minuman dari ruang  dapur, yang telah disiapkan sebelumnya  oleh tuan rumah kami yang telah pergi ke kamar tidurnya di tingkat atas. Kami belum makan apaapa, ketika meninggalkan Rengasdengklok. Bulan itu adalah bulan suci Ramadhan dan waktu hampir habis untuk makan sahur, makan terakhir sebelum sembahyang subuh. Setelah kami terima kembali teks yang telah  ditik, kami semuanya menuju ke ruang besar di bagian depan rumah. Semua orang berdiri dan tidak ada kursi di dalam ruangan. Saya  bercampur dengan  beberapa anggota Panitia di tengah-tengah ruangan. Sukarni berdiri  di samping  saya. Hatta berdiri mendampingi Sukarno menghadap para hadirin .

Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi tanggal 17 Agustus 1945, pada saat Soekarno membuka  pertemuan dini hari itu dengan beberapa  patah kata.  Keadaan yang mendesak telah memaksa  kita  semua mempercepat pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Rancangan teks telah  siap  dibacakan  di hadapan saudara-saudara dan saya harapkan benar bahwa saudara-saudara sekalian dapat menyetujuinya sehingga kita dapat berjalan terus dan menyelesaikan pekerjaan kita sebelum fajar menyingsing.

Kepada mereka yang hadir, Soekarno menyarankan agar bersama-sama  menandatangani  naskah proklamasi selaku wakil-wakil bangsa Indonesia. Saran itu diperkuat oleh Mohammad  Hatta dengan mengambil contoh pada Declaration of Independence  Amerika Serikat. Usul itu ditentang oleh pihak pemuda yang  tidak  setuju  kalau tokoh-tokoh  golongan tua yang  disebutnya  budak-budak Jepang turut menandatangani naskah proklamasi. Sukarni mengusulkan agar penandatangan naskah  proklamasi  itu cukup dua orang saja, yakni Soekarno dan Mohammad  Hatta atas  nama bangsa Indonesia . Usul Sukarni itu  diterima oleh hadirin.   Naskah  yang sudah  diketik oleh Sajuti Melik,  segera ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta.

Persoalan timbul mengenai  bagaimana Proklamasi itu harus diumumkan  kepada  rakyat  di seluruh Indonesia ,  dan juga ke seluruh pelosok dunia. Di mana dan dengan cara bagaimana hal ini harus diselenggarakan? Menurut  Soebardjo (1978:113), Sukarni kemudian memberitahukan bahwa rakyat Jakarta dan sekitarnya, telah diserukan untuk datang berbondongbondong  ke lapangan IKADA pada  tanggal 17 Agustus  untuk mendengarkan Proklamasi  Kemerdekaan. Akan tetapi Soekarno  menolak saran Sukarni.  Tidak , kata Soekarno,  lebih  baik dilakukan  di tempat kediaman saya di Pegangsaan  Timur. Pekarangan  di  depan  rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancingmancing  insiden ? Lapangan  IKADA adalah lapangan umum. Suatu rapat umum, tanpa diatur sebelumnya dengan penguasa-penguasa militer, mungkin akan menimbulkan salah faham. Suatu bentrokan  kekerasan antara rakyat dan penguasa militer yang akan membubarkan rapat umum tersebut, mungkin akan  terjadi. Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan  Timur 56 sekitar pukul 10.00 pagi . Demikianlah keputusan terakhir dari pertemuan itu.


Detik-detik Proklamasi, 17 Agustus 1945


Detik-Detik Proklamasi    Hari  Jumat di bulan Ramadhan, pukul  05.00 pagi, fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur. Embun pagi masih menggelantung di tepian daun. Para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari. Mereka, telah sepakat untuk memproklamasikan  kemerdekaan bangsa Indonesia hari  itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta sempat berpesan kepada para  pemuda  yang bekerja pada pers dan  kantorkantor berita, untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia (Hatta, 1970:53).

Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 cukup sibuk. Wakil Walikota, Soewirjo, memerintahkan kepada  Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan  seperti mikrofon dan beberapa pengeras suara. Sedangkan Sudiro memerintahkan kepada S. Suhud untuk mempersiapkan  satu tiang bendera. Karena situasi yang tegang, Suhud tidak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu, masih ada dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan. Malahan ia mencari sebatang bambu yang berada di  belakang rumah. Bambu itu dibersihkan dan diberi  tali. Lalu ditanam beberapa langkah saja dari teras rumah.

Bendera  yang dijahit  dengan  tangan oleh Nyonya  Fatmawati  Soekarno sudah disiapkan. Bentuk dan ukuran bendera itu tidak  standar, karena kainnya berukuran tidak  sempurna. Memang, kain itu awalnya tidak disiapkan untuk bendera.   Sementara  itu, rakyat yang telah mengetahui  akan dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda dan rakyat yang berbaris teratur. Beberapa orang  tampak gelisah, khawatir akan adanya pengacauan dari pihak Jepang. Matahari semakin tinggi, Proklamasi belum juga dimulai.

Waktu itu Soekarno terserang  sakit,  malamnya panas dingin terus  menerus  dan baru  tidur  setelah selesai merumuskan teks Proklamasi. Para undangan telah banyak  berdatangan, rakyat yang telah menunggu  sejak pagi, mulai tidak sabar lagi. Mereka  yang diliputi suasana tegang berkeinginan keras agar Proklamasi segera dilakukan. Para pemuda yang tidak sabar, mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan  teks Proklamasi. Namun, Bung Karno tidak mau membacakan teks Proklamasi tanpa kehadiran Mohammad Hatta. Lima menit sebelum acara dimulai, Mohammad Hatta datang dengan pakaian putih-putih  dan langsung menuju kamar Soekarno. Sambil menyambut kedatangan Mohammad Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya, lalu berpakaian.  Ia  juga mengenakan stelan putih-putih. Kemudian keduanya menuju tempat upacara.  Marwati Djoened Poesponegoro (1984:92-94) melukiskan upacara pembacaan teks Proklamasi itu.

Upacara itu berlangsung sederhana saja. Tanpa protokol. Latief Hendraningrat, salah  seorang  anggota  PETA, segera memberi abaaba kepada seluruh barisan pemuda yang telah menunggu  sejak pagi untuk berdiri. Serentak semua berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilahkan Soekarno dan Mohammad Hatta  maju beberapa  langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat  sebelum membacakan teks proklamasi.

Saudara-saudara sekalian ! saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia  telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa  kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman  Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil  nasib bangsa dan nasib tanah air  kita  di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang  berani mengambil nasib dalam tangan  sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seia-sekata  berpendapat,  bahwa sekaranglah  datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan  tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami: PROKLAMASI; Kami  bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal  yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta , 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta.   Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi  yang mengikat tanah air kita dan bangsa  kita! Mulai saat  ini kita menyusun  Negara  kita!  Negara Merdeka.  Negara Republik Indonesia  merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu. (Koesnodiprojo, 1951).

Acara, dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah menuruni anak tangga terakhir dari serambi muka, lebih kurang dua meter di depan tiang. Ketika S. K. Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dia menolak:  lebih baik seorang prajurit , katanya. Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud  mengambil bendera dari  atas baki  yang  telah disediakan   dan mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat.     Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan  lagu Indonesia Raya. Bendera dikerek dengan  lambat sekali, untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang. Seusai pengibaran  bendera, dilanjutkan dengan pidato sambutan dari Walikota Soewirjo dan dr. Muwardi.

Setelah upacara pembacaan Proklamasi  Kemerdekaan, Lasmidjah Hardi (1984:77) mengemukakan bahwa ada sepasukan  barisan pelopor yang berjumlah kurang  lebih 100 orang di bawah pimpinan S. Brata, memasuki  halaman rumah Soekarno. Mereka datang terlambat. Dengan suara lantang  penuh kecewa S. Brata meminta agar Bung  Karno membacakan  Proklamasi sekali lagi.  Mendengar teriakan itu Bung  Karno tidak  sampai  hati,  ia  keluar  dari kamarnya. Di depan corong mikrofon ia menjelaskan bahwa Proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. Mendengar  keterangan itu  Brata belum merasa puas, ia meminta agar Bung Karno memberi  amanat singkat. Kali ini permintaannya dipenuhi.

Selesai  upacara itu rakyat masih belum mau beranjak, beberapa anggota Barisan Pelopor masih duduk-duduk bergerombol di depan kamar Bung Karno.   Tidak lama setelah Bung Hatta pulang, menurut Lasmidjah Hardi (1984:79) datang tiga orang pembesar Jepang. Mereka diperintahkan  menunggu di ruang belakang, tanpa  diberi kursi. Sudiro sudah dapat menerka, untuk apa mereka datang. Para anggota Barisan Pelopor mulai mengepungnya. Bung Karno sudah memakai piyama ketika Sudiro masuk, sehingga  terpaksa  berpakaian  lagi. Kemudian terjadi dialog antara utusan Jepang dengan Bung Karno:  Kami  diutus oleh Gunseikan Kakka, datang kemari untuk melarang Soekarno mengucapkan Proklamasi .  Proklamasi sudah saya ucapkan, jawab Bung  Karno dengan tenang.  Sudahkah ? tanya utusan Jepang itu keheranan.  Ya, sudah ! jawab Bung Karno. Di sekeliling  utusan Jepang itu, mata para  pemuda melotot dan tangan mereka sudah diletakkan di atas golok masing-masing. Melihat kondisi seperti itu, orang-orang Jepang itu pun segera pamit.

Sementara  itu, Latief Hendraningrat tercenung memikirkan kelalaiannya. Karena dicekam suasana tegang, ia lupa menelpon Soetarto dari PFN untuk mendokumentasikan peristiwa itu. Untung ada Frans Mendur dari IPPHOS yang plat filmnya tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film). Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah  itu, dokumentasinya hanya ada  tiga; yakni sewaktu Bung Karno membacakan teks Proklamasi, pada saat pengibaran  bendera,  dan  sebagian  foto hadirin yang menyaksikan peristiwa itu.

Peristiwa  besar  bersejarah yang  telah mengubah jalan sejarah bangsa Indonesia itu berlangsung  hanya satu  jam, dengan penuh kehidmatan. Sekalipun sangat sederhana, namun ia telah membawa perubahan  yang  luar biasa  dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia . Gema lonceng kemerdekaan  terdengar  ke seluruh  pelosok Nusantara dan menyebar ke seantero dunia.

Para  pemuda, mahasiswa,  serta pegawai-pegawai bangsa Indonesia pada jawatan-jawatan perhubungan yang penting giat bekerja menyiarkan isi proklamasi itu  ke seluruh pelosok negeri. Para wartawan Indonesia yang bekerja pada kantor berita Jepang Domei , sekalipun telah disegel oleh pemerintah Jepang, mereka berusaha menyebarluaskan gema Proklamasi itu ke seluruh dunia. 
Dirgahayu Indonesiaku!

Tulisan ini pernah dimuat di jurnal Negarawan tahun 2006 dan diterbitkan di Socius Media atas seizin penulis.