Selasa, 24 September 2019

Siswa Pelosok Di Kecamatan Cisompet



oleh Henhen Rohendi
(Guru IPS SMPN 1 Leles-Garut-Jabar)


Kecamatan Cisompet luasnya ± 17.225 Ha, merupakan salah satu wilayah di bagian selatan Kabupaten Garut. Wilayahnya berada pada ketinggian 25-1100 dpl. Sebagian besar berupa hutan (29%),dan perkebunan (27%). Sisanya  perkampungan (5%), pesawahan (7%), tegalan (9%), padang semak (5%), kebun campuran (15%),  dan lain-lain (3%). Letak Geografis Kecamatan Cisompet:


PetaKabupatenGarut

 


  •       Utara berbatasan dengan Kecamatan Cikajang, Cihurip dan Singajaya.
  •       Selatan berbatasan dengan Kecamatan Pameungpeuk, dan Cibalong.
  •       Barat berbatasan dengan Kecamatan Cikelet, dan Pakenjeng.
  •       Timur berbatasan dengan Kecamatan Cihurip, Peundeuy, dan Cibalong.


Menyoal masalah wajib belajar pendidikan dasar (WAJAR DIKDAS) di Kecamatan Cisompet, hampir semua anak usia sekolah terdaftar pada lembaga pendidikan. Untuk jenjang SMP bukan hanya sekolah regular, SMP terbuka pun menjadi pilihan anak atau orang tuanya. Hanya saja kaitannya dengan SMP terbuka keberadaannya seperti hidup enggan mati tak mau. Bagi para siswa dan orang tua yang mengutamakan proses pembelajaran, walaupun jaraknya sangat jauh SMP regular menjadi tujuan mereka.

Para siswa rela berjalan jauh setiap hari untuk sampai di sekolah. Perjalanan mereka ada yang sejauh 10 Km bahkan lebih dengan berjalan kaki. Medan yang ditempuh berupa jalan desa yang kondisinya rusak melewati daerah perkampungan, perkebunan, dan hutan semak. Setiap hari mereka menghabiskan separuh waktunya menempuh perjalanan menuju sekolah.mereka berangkat selepas sholat subuh dan sampai ke rumah menjelang sholat Asyar bahkan lebih. Perjalanan yang sangat menyita waktu, kondisi medan, dan aktivitas yang padat di sekolah, sebagian besar dari mereka kurang bisa mengikuti proses pembelajaran. Dapat dibayangkan jika musim hujan tiba, perjalanan mereka terkendala dan terpaksa sebagian besar tidak bisa datang ke sekolah.

Anak pelosok lebih memilih resiko dalam menempuh perjalanan dari pada mengikuti pembelajaran di TKB, tempat kegiatan belajar yang pengelolaanya di bawah SMP terbuka.Hampir semua TKB bertempat di sekolah dasar, adapun waktu pembelajarannya setelah selesai anak SD belajar. Pelaksanaan tatap muka tidak dilaksanakan setiap waktu, anak dibekali modul-modul untuk belajar mandiri. Para guru terdiri dari guru bina yang setiaptatap muka memberikan pembelajaran, adapun guru pamong sebagai konsultan bagi siswa jika terdapat kesulitan-kesulitan dalam belajar. Itulah satu dai sekian banyak yang menjadi pembeda antara SMP terbuka dengan regular, sementara itu tuntutan antara SMP terbuka dan regular sama. Sebagai contoh dalam proses UAS, UKK, dan UN soalnya sama. Penulis berpikir tidak bijaksana jika kondisi ini terus berlangsung.Sangat diharapkan untuk suatu perubahan para pemangku kebijakan tidak cukup hanya percaya dengan berbagai laporan tentang pelaksanaan SMP terbuka, ataukah tutup mata saja walau tahu yang sebenarnya. Wallahualam.

Banyak hal lain yang harus dipikirkan tentang kondisi pendidikan siswa yang tinggal jauh di daerah pelosok. Program SMP Satu Atap merupakan jawaban tepat yang telah digulirkan oleh pemerintah. Walaupun belum bisa menyentuh semua peserta didik yang tinggal di daerah pelosok. Hal ini dikarenakan keterbatasan jumlah SMP Satu Atap yang dibangun dan terlampau jauh jangkauan lokasi tempat tinggal siswa. Sampai saat ini terdapat dua SMP Satu Atap di wilayah Cisompet. Dengan demikian sebagian besar mereka dapat diakomodir dan  “lepas” dari SMP Terbuka.

Penentuan lokasi suatu lembaga pendidikan hampir di semua tempat, kurang memperhatikan aspek keterjangkauan. Di tempat yang jauh dari lokasi penduduk sering ditemui bangunan baru lembaga pendidikan, kondisi lahannya pun berupa perbukitan dengan kontur yang cukup kasar. Di daerah Kecamatan Cisompet hal itu bisa kita lihat, terdapat sekolah baru  yang lokasinya cukup jauh dari pemukiman penduduk, seperti di perbukitan, dan perkebunan. Kontribusi pemikiran pemerintah setempat dan para pemerhati pendidikan di daerah untuk turut menentukan lokasi suatu lembaga pendidikan baru sangat diharapkan. Hal ini untuk menarik minat para peserta didik, yang berdomisili di daerah tersebut. Banyak contoh kasus karena lokasinya tidak strategis, sekolah itu kurang diminati sehingga calon peserta didik memilih sekolah lain di luar kecamatan. Dengan demikian keberadaan sekolah tersebut tidak dapat mengakomodir peserta didik di daerah sekitarnya.

Jadi bahan pemikiran semua, masih terjadi ketimpangan layanan pendidikan di wilayah kita. Walaupun standar minimal sudah diupayakan, tetapi kenyataan di lapangan tetap saja terdapat jurang pemisah. Belum lagi unsur lain yang mendukung terciptanya jurang pemisah itu semakin lebar. Banyak harapan yang bisa diandalkan dari anak pelosok untuk berkontribusi dalam menambah kuantitas siswa dalam suatu sekolah, tentu saja berkorelasi positif bagi penyelenggaraannya. Ironisnya kontribusi itu kuramg berdampak baik bagi siswa yang bersangkutan. Tidak ada pihak yang bersalah, hal ini dikarenakan kondisi telah menyeret ke dalam habit untuk melengkapi lengkapnya kinerja penyelenggara dan pemangku kebijakan pendidikan. Ke depannya diharapkan tidak hanya kuantitas yang dianggap penting, tapi kualitasnya juga dapat melengkapi.

Anak-anak pelosok sudah berpikir satu langkah lebih maju dari mereka yang tinggal dekat ke kota kecamatan. Tantangan yang besar membuat mereka lebih bisa menjawab persoalan hidup terutama masalah kesiapan bekerja dan merantau meninggalkan tanah kelahiran yang selama ini membatasi ruang geraknya. Mereka bekerja di kota atau di luar wilayah Cisompet menjadi tenaga buruh yang dihargai sesuai dengan ijazah yang mereka bawa ke tempat kerja.Anak pelosok merupakan potensi yang dimiliki daerah bahkan mungkin aset bangsa. Mereka tak berkesempatan untuk mengecap pendidikan lebih dari yang seharusnya. Dengan demikian potensi ini menjadi tidak nampak dan tidak menunjukan kemampuan yang dimilikinya. Sungguh disayangkan jika kondisi ini terus-menerus tanpa adanya solusi kreatif yang inovatif dari berbagai pihak.

Muncul satu pertanyaan, apakah anak pelosok tidak punya kesempatan lain dan cukup puas dengan kondisi seperti itu?. Mereka sebenarnya punya peluang untuk lebih maju dari kondisi sekarang. Mengapa demikian, mereka punya semangat yang sudah tertaman sejak memutuskan untuk melanjutkan sekolah. Semangat itu yang perlu dipupuk dan dipertahankan. Sikap mandiri yang mereka punya, keberanian menempuh perjalanan yang cukup beresiko merupakan tempaan yang sudah mereka jalani selama 3 tahun bahkan 6 tahun ketika mereka melanjutkan ke jenjang SMA. Kesemuanya itu merupakan modal awal yang sangat berharga yang tidak dimiliki oleh teman-temannya yang tinggal dekat ke lokasi sekolah.

Anak pelosok perempuan yang sudah melewati proses pembelajaran di SMP regular sebagian besar kembali ke lingkungan keluarganya. Akhirnya mereka seolah tidak ada pembeda dengan teman sebanyanya yang tidak melanjutkan sekolah. Hal ini yang harus menjadi bahan pemikiran semua, jangan sampai jadi cemoohan dengan merendahkan fungsi sekolah. Pemikiran masyarakat kita pada umumnya masih beranggapan setelah tamat sekolah itu harus bekerja pada perusahaan atau menjadi pegawai di pemerintahan. Jika anggapan seperti itu masih mengakar pada masyarakat kita dapat dipastikan tingkat minat melanjutkan sekolah bagi siswa maupun dorongan orang tua menjadi menurun. Mereka cukup sekolah pada tingkat pendidikan dasar saja. Setelah itu ikut saudara yang lebih dulu pergi ke kota untuk bekerja, dan mendapatkan uang. Anggapan masyarakat dengan kondisi tersebut berhasildan selesailah sudah.

Anak laki-laki yang tidak berkesempatan pergi ke kota dengan alasan tidak diijinkan oleh orang tuanya atau tidak ada yang membawa, mereka tinggal di lingkungan keluarga. mereka membantu pekerjaan orang tuanya menggarap lahan pertanian atau pekerjaan lain yang selama ini orang tuanya kerjakan. Kenyataan seperti itu banyak yang menilai gagalnya pendidikan anak tersebut. Memang penilaian masyarakat kita selama ini kurang bijaksana, sehingga hal ini dapat menjadi faktor penyebab anak putus sekolah.

Anak pelosok harus diselamatkan dari asumsi masyarakat ketika pendidikannya terhenti pada satu jenjang tingkat pendidikan. Pengorbanan mereka lebih besar untuk bersekolah bila dibandingkan dengan rekan yang lainnya. Perhatian pemerintah juga diharapkan bisa lebih ditingkatkan untuk menarik minat anak dan orang tuanya dalam mensukseskan WAJAR dikdas 9 tahun. Lebih banyak pihak atau komponen unsur strategis yang terlibat dalam proses pendidikan merupakan suatu terobosan baru untuk meningkatkan kantitas dan kualitas pendidikan di suatu daerah.

Referensi
-          Profil Kecamatan Cisompet
-          Hasil pengamatan penulis

HENHEN ROHENDI, Guru IPS SMPN 1 Leles, Garut Jabar & Mantan Kepala SMPN 2 Cisompet



Senin, 23 September 2019

Bertanya Kepada Guru!

Oleh : Dudung Nurullah Koswara

(Ketua PB PGRI)

Ada satu yang masih menggelitik dalam pikiran saya. Terkait organisasi profesi guru. Masih terngiang kuat dalam ingatan saya sebuah stigma negatif pada kemampuan guru terlontar dari ucapan pimpinan organisasi guru.   

Guru dianggap tidak akan mampu mengurus organisasi profesinya.  Sang Pimpinan PGRI itu  menyatakan, "Bila organisasi guru  diurus semuanya oleh guru maka dipastikan akan bubar.  Sebuah pernyataan tokoh organisasi guru yang menohok. Pernyataan jujur atau penyataan lacur? 

Ungkapan di atas bisa bermakna ganda. Pertama ungkapan modus kental tujuan politik agar guru menyerahkan organisasinya pada pihak lain. Kedua ungkapan faktual bahwa guru memang belum mampu mengurus organisasinya. Keduanya sangat tak baik.

Ungkapan pertama  merendahkan kemampuan para guru dalam mengurus organisasi profesi. Ungkapan kedua menjelaskan realitas ketidakmapuan guru dalam mengurus organisasi profesinya. Keduanya masalah!  Masalah ini sebuah tantangan dan harus dijawab.

Arnold Joseph  Toynbee mengatakan teori challenge and respon. Teori ini memberikan sebuah kesimpulan bahwa setiap ada tantangan selalu ada jawaban. Manusia adalah makhluk berbudaya. Punya akal, karsa dan rasa. Ia punya kemampuan untuk merespon sebuah tantangan. 

Nah, para guru yang semuanya hampir sarjana. Punya kemampuankah untuk menjawab tantangan bahwa “Guru Tidak Mampu Mengurus Organisasinya Sendiri”. Jawaban ini layak dibuktikan dalam organisasi profesinya. Misal organisasi PGRI. Mampukah para guru menjadi pengurus dan memimpin di PGRI?

Menjelang Konprov PGRI Jawa Barat semoga mampu membuktikan bahwa dalam organisasinya para guru mampu mandiri. Berdiri di atas kaki sendiri, kaki para guru.  Bukan meminjam kaki dari profesi lain yang tidak ada kaitannya dengan guru.  Mampukah para guru mengurus dirinya sendiri dalam rumah perjuangannya?

Sederhananya, bila hasil Konferensi Provinsi PGRI Jawa Barat yang menjadi ketua bukan guru. Bukan berasal dari keseharian sebagai pendidik dan pengajar maka dipastikan PGRI Jawa Barat bukan milik guru lagi. Bila pengurus  inti PGRI Jawa Barat  pasca konfrov tidak ada guru murninya maka sangat disayangkan.

Setidaknya  ada dua risiko yang akan muncul. Pertama. para guru se Jawa Barat merasa kecewa dan merasa bukan bagian dari organisasi  PGRI karena ketua atau pemimpinnya bukan berasal dari guru. Kedua, bila Undang-undang guru yang sedang direvisi  disahkan dan mewajibkan organisasi profesi harus dipimpin guru akan jadi masalah.

Saya hanya bertanya kepada para guru. Apakah setuju organisasi profesi guru dipimpin  profesi  bukan guru atau sudah bukan guru lagi? Apakah bapak dan ibu guru merasa bagian dari PGRI bila pemimpinnya bukan guru? 

Mari kita terus berusaha agar organisasi profesi guru bisa benar-benar milik guru dan dipimpin para guru. Mengapa demikian penting? Agar organisasi tidak dijadikan alat kepentingan pribadi, politik dan kelompok tertentu.

Betapa baiknya bangsa ini bila posisi profesi guru berada di tempatnya. Di mana? Di atas peradaban manusia karena Ia adalah pendidik dan pengajar kehidupan manusia. Bila posisi guru berada di  bawah profesi lain maka bahaya.  Guru itu pewaras jangan dikendalikan pihak lain. Guru  sejatinya pengendali peradaban.

Guru dalam peradaban sejarah  manusia sejak abad 1500 sebelum masehi sudah dimulikan dalam posisi tertinggi. Guru adalah kelompok Brahmana. Ia merestui, mensyahkan layak tidaknya seorang pemimpin atau birokrat. Bila saat ini guru dipimpin birokrat atau mantan birokrat jadi terbalik.

Bila dalam organisasi profesi guru, di rumahnya sendiri guru dianggap tak pantas memimpin sungguh sangat modus. Ini prasangka dan stigma yang harus dilawan. Dilawan dengan apa? Dengan  kemampuan dan meningkatkan kompetensi secara serius. 

Kasihan organisasi profesi guru sejenis PGRI. Tidak sedikit ketuanya malah bolak-balik kaya setrikaan ikut-ikutan nyaleg. Saat nyaleg tidak mundur dari PGRI. Padahal jelas PGRI non partisan, independen. Anggota hanya melongo, melihat ketuanya nyaleg.

Stop! Pasca Kongres XXII PGRI, Saya sudah “teriak” keras siapa saja yang nyaleg otomatis keluar dari PGRI. Alhamdulillah keluar aturan baru. Siapa saja yang nyaleg harus keluar dari PGRI. PGRI organisasi profesi guru, bukan politisi! 

Orientasi PGRI bukan kekuasaan atau kepartaian. Orientasinya adalah peningkatan harkat martabat guru melalui peningkatan kompetensi, perlindungan, kesejahteraan, karir dan prestasi. Ini hanya cocok bagi ASN aktif. Bila yang sudah tak aktif kurang cocok. 

 Peningkatan harkat martabat guru hanya akan murni diperjuangkan oleh guru itu sendiri. Ungkapan ,”Kutahu yang ku mau”. Hanya guru sendiri yang tahu masalah dirinya. Selain guru yang mengurus organisasi profesi guru hanya  akan tersimpan sebuah pepatah sunyi “Kutipu yang kau mau”.


Minggu, 22 September 2019

Coretan Ringan : Kastil Praha Sebagai Istana Kepresidenan Republik Ceska


oleh Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum


Sebagaimana kota kota tua di Eropa, Praha juga memiliki kastil yang megah. Kastil Praha  merupakan salah satu kastil terbesar di dunia yang sebagian bangunannya difungsikan sebagai Istana Kepresidenan Republik Ceska. Kastil yang terletak di perbukitan ini seluas 700 ribu meter persegi.


Kompleks ini dibangun pada abad ke-9 hingga abad ke 14. Istana kerajaan ini didesain dengan gaya gotik yang dikelilingi benteng kokoh.

Di kompleks kastil ini, terdapat beberapa bangunan monumental yang megah, gaya arsitektur yang khas, serta ornamen yang detil seperti bangunan Chruch of Saint Virgin, Basilica of Saint George, dan Saint Vitus Cathedral.


Kastil ini berdiri megah di atas sebuah bukit di sepanjang tepi kiri Sungai Vltava. Kastil ini tidak seperti kastil lainnya di Eropa, karena bangunannya lebih  secara horizontal daripada vertikal. Perlu cukup waktu beberapa jam untuk mengitari kastil ini, dengan jalan turun naik. Namun menyujuhkan pemandangan kota Praha dari atas bukit yang eskotik.


Praha, Ceska. 22 September 2019


* Prof. Dr. H.Dadan Wildan, M.Hum., Deputy Mensesneg RI & Ketua IKA Sejarah UPI


Catatan:

Tulisan ini dibuat Prof. Dr. H.Dadan Wildan, M.Hum disela-sela kesibukan tugas resmi dan Socius mendapat izin  langsung dari beliau untuk mempublikasikan





Sabtu, 21 September 2019

CORETAN RINGAN : KASTIL WAWEL YANG MELEGENDA


oleh H. Dadan Wildan*  


Kastil dibanyak cerita ternyata bukanlah  dongeng, kisah raja dan ratu berdiam di sana.  Polandia, sebagaimana banyak negara di Eropa, memiliki banyak kastil bersejarah. Salah satunya Kastil Wawel, kastil paling populer di Polandia yang berdiri megah di tengah kota Krakow.

Kastil Wawel merupakan simbol bagi masyarakat Polandia, karena kastil ini berfungsi ganda, Menjadi istana sekaligus gereja. Kastil Wawel memiliki banyak sudut menarik di dalam maupun luar dengan arsitektur abad pertengahan yang detil dan megah. Di tempat ini pulalah pemimpin pertama Polandia di zaman dulu tinggal dan sekaligus pula tempat di mana raja pertama Polandia dipasangkan mahkota.

Sebagai tradisi, 35 pemimpin tinggal dan bertahta di kastil Wawel sebelum akhirnya berakhir di abad ke-17 saat pusat kepemimpinan dipindahkan ke Warsawa.

Krakow, Polandia. 20 September 2019
* Prof. Dr. H.Dadan Wildan, M.Hum., Deputy Mensesneg RI & Ketua IKA Sejarah UPI

Catatan:
Tulisan ini dibuat Prof. Dr. H.Dadan Wildan, M.Hum disela-sela kesibukan tugas resmi dan Socius mendapat izin  langsung dari beliau untuk mempublikasikan.







Jumat, 20 September 2019

TAN MALAKA VS PKI


Tan Malaka

Oleh : Yanuar Iwan 

(SMPN 1 Cipanas-Cianjur-Jabar)

Kegunaan pendidikan adalah untuk mengajarkan seseorang berpikir dengan intensif dan kritis. Karakter dan kecerdasan itulah tujuan pendidikan sesungguhnya ( Martin Luther King )

Bangsa ini mengalami kesulitan di dalam menempatkan peranan seorang tokoh melalui dinamika sejarah secara obyektif, jujur, dan terbuka karena penulisan sejarah selalu berkaitan dengan situasi politik dan tentunya kebijakkan penguasa pada saat itu.

Sikap masyarakat yang seringkali menyanjung secara berlebihan seseorang dan beberapa orang tokoh dan sekaligus  membenci, memarginalkan, bahkan menghapus peranan tokoh-tokoh tertentu di dalam arus sejarah, mempersulit kita didalam memahami suatu peristiwa sejarah.

Tan Malaka ( lengkapnya Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka ) lahir 2 Juni 1896 di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, dan meninggal lebih tepatnya di bunuh secara tragis pada 19 Februari 1949 di dekat Kediri Jawa Timur. ( Alfian, Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia, hal 151 ) masuk dalam kategori tokoh-tokoh tersebut.

Majalah Tempo menyebut Tan adalah salah satu "The Founding Fathers" Indonesia, melalui bukunya "Naar de Republiek Indonesia" ( Menuju Republik Indonesia ) yang di tulis Tan di Kanton Tiongkok pada 1925 dalam usaha pelariannya dari kejaran polisi rahasia Belanda - Inggris - Amerika Serikat, walaupun bukan cetak biru bagaimana Republik  Indonesia terbentuk,  tetapi buku tersebut sudah memberikan arah bagaimana rakyat Indonesia bisa meraih kemerdekaan karena berisi program-program dan strategi bagaimana meraih kemerdekaan oleh karena itu buku ini menjadi salah satu sumber rujukkan bagi kaum pergerakkan nasional.

Pemikiran Tan melalui buku tersebut terlihat lebih radikal dan lebih dini jika di bandingkan dengan " Indonesia Vreige" ( Indonesia Merdeka  ) tulisan Hatta 1928 dan "Menuju Indonesia Merdeka" tulisan Soekarno 1933.

Dalam karya-karya tulisnya yang lain, seperti "Massa Aksi", "Dari Penjara ke Penjara", "Gerpolek" ( Gerilya, Politik, dan Ekonomi ) dan buku yang sering di sebut  oleh sejarawan dan ahli filsafat sebagai karya monumental Tan Malaka " Madilog" buku yang di tulis dalam suasana kemiskinan  yang amat sangat di sebuah gubug bambu di pinggiran Jakarta 1942, jelas terlihat betapa Tan menolak dogmatisme terutama dalam cara berpikir, cara berpikir dogmatis hanya membuat seseorang menjadi pasif menjerumuskan masyarakat ke dalam penipuan diri sendiri, ke pasifan, mentalitas budak, dan inilah yang mengakibatkan takluknya dunia timur kepada barat. Sebaliknya dia menyanjung cara berpikir dialektis yang antara lain di maksudkannya sebagai cara berpikir dinamis karena itu memungkinkan orang untuk mengembangkan pemikiran atau intelektualitasnya secara terus menerus, jadi kunci dari pengertian dialektika Tan Malaka adalah berpikir aktif dan terus menerus atau berpikir kritis dan dinamis. Tetapi berpikir secara kritis dan dinamis itu harus berlandaskan akal dan logika ( Alfian, Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia, hal 160 ).

Menpelajari cara berpikir Tan, saya teringat sebuah buku tulisan Fransz Magnis Suseno "Filsafat Sebagai Ilmu Kritis" buku yang populer di awal tahun 1990, mempertanyakan segala permasalahan yang dihadapi masyarakat dan berusaha mencari solusi dari permasalahan tersebut  "thesis - antithesis - Sinthesis " pola-pola pikir kritis, dinamis,  dan rasional di gunakan terus oleh Tan selama hidupnya, sewaktu menjadi agen Komintern dalam konggres ke 4 Komintern 1922 di Uni Soviet Tan mengkritik sikap Komintern yang cenderung memusuhi gerakkan Pan Islamisme menurut Tan "Komunis tidak boleh mengabaikan kenyataan bahwa saat itu ada 250 juta Muslim di dunia. Pan Islamisme sedang berjuang melawan imperialisme. Perjuangan yang sama dengan gerakkan Komunisme". Komintern tetap berpendapat gerakan Islam adalah kekuatan yang dapat menyaingi kekuatan Komintern oleh karena itu membahayakan bagi kekuatan Komintern. Komintern tetap menolak saran dan kritik Tan mengenai bersatunya Komunis dan Islam.

Tan menyadari bahwa sikap modernisme gerakkan Islam sesuai dengan sikap anti dogmatisme yang mempempengaruhi pola dan cara berpikirnya. Sikap dan kebijakkan politik Komintern dan PKI yang menolak dan memusuhi Islam menurut Tan adalah kesalahan terbesar kaum Komunis di dalam melawan imperialisme dan kolonialisme. Sikap anti Sarekat Islam dari PKI adalah contoh pola pikir dogmatis yang tidak sesuai dengan realita masyarakat Indonesia.

Keteguhan dan kesetiaan terhadap cara berpikir dialektika membuat Tan berani berbeda sikap dan pendapat dari garis politik partai, contoh kasus yang jelas adalah pemberontakan PKI 1926/1927, Tan tidak menyetujui pemberontakan tersebut karena melihat PKI sebagai partai belum memiliki akar dan basis yang kuat di masyarakat belum mendapat dukungan penuh dari sebagian masyarakat dan tidak memiliki organisasi militer yang kuat, Tan menganalisis bahwa pemberontakan itu akan gagal dan analisisnya terbukti benar, pemberontakan di Banten dan Sumatera Barat dengan mudah di hancurkan Belanda. Menurutnya mereka yang mencetuskan pemberontakan itu mengikuti ideologi secara dogmatis, dan oleh karena itu tidak rasional dan cenderung nekad.

Seseorang yang demikian menghargai kebebasan berpikir seperti Tan, tidak mungkin bisa menyesuaikan diri dengan garis kebijakan partai yang ketat dan di dasarkan dengan sikap - sikap dogmatis terhadap ideologi, pertentangan dan permusuhannya dengan orang - orang Komunis di dasarkan atas perbedaan sikap dan pola pikir tersebut. Bahkan Tan di tuduh sebagai pengkhianat yang telah menyebabkan gagalnya pemberontakan 1926/1927.

Kebencian tokoh-tokoh Komunis terhadap Tan jelas terlihat ketika Musso pulang ke Indonesia pada 1948, sewaktu wartawan bertanya apakah Musso akan bekerjasama dengan Tan, Musso menjawab dengan sinis bila ia punya kesempatan, yang pertama di lakukannya adalah menggantung Tan Malaka.
M.H. Lukman anggota politbiro PKI menulis "Tan Malaka pengkhianat  Marxisme - Leninisme". ( Bintang Merah, 15 Nopember 1950 )

Ketua PKI, D.N. Aidit, menyatakan sumber kegagalan pemberontakan 1926 antara lain kurang persiapan dan minim koordinasi. "Tapi,  selain itu, ada orang seperti Tan Malaka, yang tidak melakukan apapun, hanya menyalahkan setelah perlawanan meletus." Kata Aidit, yang juga menyebut Tan sebagai Trotskyte, pengikut Leon Trotsky ( lawan politik Stalin ) " Sang pemecah belah". ( Tempo hal 64 )

Selepas pemberontakan 1926/1927, Tan bersama Subakat dan Djamaludin Tamim mendirikan Partai Republik Indonesia ( PARI ) akibat perpecahan dengan PKI pasca pemberontakan tersebut dan Komintern yang cenderung mengutamakan perluasan hegemoni Uni Soviet di bandingkan dengan membantu daerah - daerah jajahan untuk meraih kemerdekaan, tidak adanya nama komunis di dalam PARI menegaskan bahwa sikap nasionalisme Tan lebih kuat di bandingkan fanatismenya terhadap ideologi komunis. Hal ini tentu berkaitan juga dengan kebebasan dan dinamika berpikirnya.

Partai Murba yang di dirikan Tan bersama Sukarni dan Chaerul Saleh pada 7 Nopember 1948 di tengah berkecamuknya revolusi hanya memiliki arti partai rakyat jelata dan sekali lagi tidak memuat nama komunis, Tan tidak berhasil menbesarkan Partai Murba karena ia di tembak mati di Kediri tiga bulan setelah mendirikan partai itu. Sejarah juga mencatat Partai Murba menjadi lawan politik PKI di masa 1950-1960.

Diakhir hayatnya Tan Malaka tetap meyakini bahwa Marxisme adalah suatu teori yang layak di kritisi dan suatu jalan untuk menempuh revolusi melalui massa aksi bukan suatu teori dogmatis yang mendominasi kebenaran secara sepihak dan membelenggu kaum proletar.

Sukaresmi, 19-09-2019 di Rumah.

Selasa, 17 September 2019

BERMAIN KARTU MATERI DAN PUZZLE



Oleh : ASMARDI, S.Pd


Proses belajar mengajar adalah suatu proses yang rumit karena tidak sekedar menyerap informasi dari guru, tetapi melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik. Salah satu cara belajar mengajar yang menekankan berbagai kegiatan dan tindakan adalah menggunakan pendekatan tertentu dalam belajar mengajar karena pendekatan dalam belajar mengajar pada hakikatnya merupakan suatu upaya dalam mengembangkan keaktifan belajar yang dilakukan peserta didik.
Peningkatan mutu belajar mengajar sebenarnya tidak terlepas dari pendekatan dalam belajar mengajar, juga jika dalam proses belajarnya menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat kerja yang besar, dan percaya pada diri sendiri. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan pengetahuan lintas ilmu dimana di dalamnya ada empat bidang ilmu  Geografi, Ekonomi, Sejarah dan Sosiologi yang akan disampaikan oleh guru kepada siswa.
Dalam tulisan ini penulis mengangkat salah satunya, yaitu bidang kajian ilmu Geografi. Ilmu Geografi merupakan salah satu cabang ilmu yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan lingkungan alamnya. Ilmu Geografi terdiri dari dua bagian utama yaitu Geografi Fisik dan Geografi Sosial. Geografi Fisik (Physical Geography) lebih ditujukan kepada proses-proses atau gejala – gejala alam yang bersifat alamiah, dan Geografi Social (Human Geography) ditujukan kepada interaksi manusia sebagai penduduk bumi dengan manusia disekitarnya serta kemampuan manusia mengelola dan memanfaatkan lingkungan alam dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Pengetahuan dasar dari ilmu geografi adalah penguasaan konsep dari pengetahuan tentang penggunaan peta. Peta merupakan media utama yang harus dikuasai seseorang atau peserta didik dalam keberhasilannya mempelajari ilmu geografi.
Permasalahan yang dihadapi sebagian besar siswa adalah siswa sulit memahami materi yang berkaitan dengan pembacaan atau interpretasi peta. Kesulitan ini akan berakibat pada rendahnya hasil belajar siswa dan sebagai aktifitas belajar dalam kelas terasa kurang aktif, seolah-olah ada rasa takut bagi diri siswa jika guru menugaskan siswa untuk menentukan letak suatu wilayah pada peta.
Ketidakaktifan belajar ini mengakibatkan program pembelajaran yang telah dirancang  tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Kegiatan belajar jadi tidak efektif. Sebagai contoh jika guru menugaskan siswa untuk menentukan letak suatu wilayah pada peta, siswa hanya bisa memandangi peta tanpa bisa menunjukkan wilayahnya, meskipun  wilayah tersebut dapat dilihat dengan jelas dari tempat duduknya.
Berkaitan dengan permasalahan yang diuraikan maka diperlukan suatu  upaya kreatifitas guru mengaktifkan kegiatan pembelajaran siswa dalam kelas. Salah satu upaya untuk mengantisipasi permasalahan tersebut adalah dengan mengajak siswa bermain kartu, dengan modifikasi sederhana berupa puzzle.
Permainan Kartu Materi yang dimaksudkan adalah serangkaian kegiatan bersama (kelompok) yang menyenangkan untuk memahami materi pelajaran dengan mengumpulkan materi bersesuaian pada pasangan kartu. Puzzle menyusun potongan-potongan (fraksi-fraksi) peta sesuai dengan kenampakan (bentuk) yang sebenarnya sesuai dengan kartu yang telah dimenangkan siswa dalam bermain. Tujuan dari penerapan permainan kartu materi dan puzzle dapat dijadikan sebagai metode untuk mengaktifkan kegiatan belajar siswa pada materi pelajaran IPS terutama pada kajian materi geografi yang berkaitan dengan penggunaan media peta.
Bagaiman membuat kartu materi dan puzzle?. Berikut ini langkah membuat kartu dan puzzle :
Alat dan Bahan:
  • Karton manila atau kertas jilid
  • Pulpen
  • Penggaris
  • Peta Dasar (yang sudah dicetak pada kertas berukuran A4 atau pun F4 atau bisa di print out langsung di atas kertas manila)
  • Materi Pelajaran
  • Gunting / Pisau Cutter
Langkah-langkah membuat puzzle dari karton:
  • Siapkan karton
  • Print out peta pada satu bagian halaman
  • Print out materi pelajaran pada halaman sebelahnya
  • Gunting/potong karton tersebut sesuai dengan ukuran kartu
Dalam pelaksanaan bermain disusun langkah-langkah sebagai berikut :
  1. Membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 atau 5 orang siswa.
  2. Masing-masing anggota kelompok diberi sejumlah kartu secara acak yang akan dimainkan siswa dalam kelompok.
  3. Menjelaskan langkah-langkah penting permainan yang akan dimainkan siswa dalam kelompok.
·         Kartu diurut berdasarkan topic yang bersesuaian
·         Masing-masing materi terdirri empat sub materi
·         Setelah selesai siswa mengamati masing-masing topic, kemudian membalikkan dan mengamati peta pada halaman sebelahnya yang telah tersusun menjadi satu peta.
  1. Membimbing siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengamati bentuk peta dasar yang akan disusun menjadi sebuah peta yang lengkap.
  2. Membimbing siswa menyusun letak wilayah pada peta.
  3. Menugaskan siswa untuk menentukan letak wilayah pada peta di dinding sebagai langkah untuk menentukan keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran.
Dari tulisan singkat ini penulis mengambil kesimpulan dan saran sebagai berikut 

  1. Metode permaianan kartu dapat digunakan sebagai salah satu alternative dalam mengaktifkan siswa dalam proses belajar di kelas.  
  2. Permainan Kartu dan Puzle dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam  proses kegiatan pembelajaran
  3. Sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013 Guru harus dapat mengembangkan inovasi dan kreasi serta ide-ide baru dalam pengembangan proses pembelajaran.
  4. Untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa guru harus menggunakan berbagai macam  metode dan pendekatan pembelajaran