Selasa, 03 September 2019

PLUS MINUS BONUS DEMOGRAFI


Sunset, Sunrise, Continents, Personal

Oleh: Enang Cuhendi


Dalam beberapa tahun ke depan Indonesia akan memasuki satu fenomena yang sangat krusial dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Fenomena ini dikenal dengan era bonus demografi.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) RI era bonus demografi ditandai dengan dominasi jumlah penduduk usia produktif atas jumlah penduduk tidak produktif. Hal ini bisa dilihat dari angka rasio ketergantungan yang rendah. Rasio ketergantungan sendiri merupakan perbandingan antara jumlah penduduk usia tidak produktif (jumlah penduduk umur 0-14 tahun, ditambah dengan jumlah penduduk 65 tahun ke atas atau bukan angkatan kerja) dan jumlah penduduk usia produktif (jumlah penduduk usia 15-64 tahun atau angkatan kerja).

Bonus demografi hanya terjadi sekali dalam sejarah suatu bangsa. Di Indonesia puncak fenomena era demografi  akan terjadi pada periode 2025-2030. Begitu melewati tahun 2030 nantinya, mereka yang usia produktif bakal masuk ke usia non produktif. Sehingga tidak akan terjadi lagi bonus demografi. Pada periode 2020-2030 Indonesia akan memiliki sekitar 180 juta penduduk berusia produktif dan usia nonproduktif sekitar 60 juta jiwa, atau 10 orang usia produktif hanya menanggung 3 atau 4 orang usia nonproduktif.

Berdasarkan data BPS pulau dengan rasio ketergantungan tertinggi adalah Bali dan Nusa Tenggara (55,1), dan yang terendah Pulau Jawa (45,9). Tiga provinsi dengan rasio ketergantungan tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (66), Sulawesi Tenggara (59,9) dan Maluku (59,3). Sedangkan tiga provinsi dengan rasio ketergantungan terendah adalah DKI Jakarta (40,3), Jawa Timur (44,0) dan Kalimantan Timur (44,8).

Fenomena bonus demografi bisa dikatakan lahir sebagai dampak positif dari diluncurkannya program Keluarga Berencana (KB). Program KB yang sudah berlangsung sejak tahun 1970-an dan mulai  meredup sejak masa reformasi berhasil merubah struktur umur penduduk yang ditandai dengan menurunnya rasio ketergantungan (dependency  ratio) penduduk non-usia kerja (0-14 tahun dan diatas 65 tahun) terhadap penduduk usia kerja (15-64 tahun). Program KB mampu mengubah pola pikir orang tua untuk membangun keluarga kecil dengan dua anak. Ini yang menyebabkan angka kelahiran menurun.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bonus dapat diartikan: 1) upah tambahan di luar gaji atau upah sbg hadiah atau perangsang; gaji, upah ekstra yg dibayarkan kpd karyawan; gratifikasi; insentif; 2) halaman atau artikel tambahan (pd majalah, koran). Dengan kata lain bonus merupakan sebuah “hadiah” yang didapat sebagai sebuah hasil proses yang sedang berlangsung. Bonus tentu memberikan keuntungan karena biasanya memiliki dampak positif di luar keadaan normal. Bonus demografi adalah sebuah peluang bagi bangsa kita yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong kemajuan bangsa.

Walau demikian merujuk pada pernyataan  yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo saat memperingati Hari Keluarga Nasional, pada Agustus 2015, bonus demografi laksana pedang bermata dua. Satu sisi adalah berkah jika kita berhasil mengambil manfaatnya. Sisi lain adalah bencana apabila kualitas manusia Indonesia tidak disiapkan dengan baik.  Dengan kata lain Hal tersebut berarti bonus demografi bisa menjadi sebuah peluang,  namun di sisi lain juga menjadi sebuah ancaman bagi bangsa ini.

Meledaknya jumlah manusia di usia produktif  kerja mungkin akan mempercepat roda produksi yang kemudian berdampak pada percepatan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan di sisi lain hal yang mungkin terjadi adalah meningkatnya angka pengangguran mengingat lapangan kerja yang terbatas dan akan meningkatnya persaingan antar pencari kerja. Jika negara tidak melakukan investasi pada sumber daya manusia (human capital investment) maka besar kemungkinan bonus demografi akan berubah menjadi gelombang pengangguran massal dan semakin menambah beban anggaran negara. Kalau pemerintah tidak bisa menyiapkan lapangan pekerjaan, maka banyak pengangguran. Berpotensi meletupnya konflik sosial.Untuk itu, memaksimalkan bonus demografi yang sudah di depan mata menjadi harga mutlak bagi Indonesia.

Kalau begitu bagaimana caranya agar keuntungan bonus itu bisa didapat? Keuntungan bonus demografi itu bisa didapat apabila sudah ada persiapan lapangan kerja, pendidikan yang layak, serta pelayanan kesehatan dan gizi yang memadai. Jika hal-hal itu tidak tersedia, akan muncul setumpuk persoalan. Sebut saja tingkat pengangguran yang tinggi, meningkatnya angka kriminalitas, serta meletusnya konflik sosial.

Apalagi kalau kita ingat bahwa di era global keberadaan teknologi sudah menjadi tradisi dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi telah banyak membantu manusia untuk melakukan pekerjaannya sehari – hari. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis. Demikian juga ditemukannya formulasi-formulasi baru kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktifitas manusia.

Perkembangan teknologi tentunya memberi dampak positif dengan memberi banyak kemudahan dalam bidang kehidupan. Akan tetapi perkembangan teknologi juga memberikan masalah yang tidak bisa diabaikan karena akan menjadi boomerang bagi bangsa ini. Pemanfaatan teknologi akan mengurangi kesempatan kerja karena tenaga manusia sudah digantikan oleh teknologi yang semakin canggih. Dengan ini berarti bonus demografi yang seharusnya menjadi solusi akan kemajuan bangsa dapat berubah menjadi masalah yang akan menguras perhatian karena banyaknya jumlah tenaga kerja berbanding terbalik dengan kesempatan kerja. Bonus demografi dapat berubah menjadi bonus pengangguran yang tentunya akan berdampak pada melambatnya perekonomian bangsa serta menjadi masalah sosial yang akan menggerogoti bangsa ini.

Menghadapi semua itu Indonesia harus segera mempersiapkan sebuah generasi di mana dengan skill, pengetahuan dan attitude-nya akan memberikan bonus demografi bagi bangsa ini. Menurut para ahli pemerintah dinilai berhasil menghadapi bonus demografi jika memenuhi enam elemen. Pertama, mencermati perubahan struktur penduduk. Kedua, menjaga kesehatan ibu dan anak, sejak ibu mengandung hingga anak berusia sekitar dua tahun. Ketiga, investasi di bidang pendidikan dengan keahlian dan kompetensi guna meningkatkan kualitas tenaga kerja. Selanjutnya,  keempat, kebijakan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja. Kelima, good governance serta prosedur investasi yang sederhana. Dan terakhir, pertumbuhan ekonomi yang diindikasikan dengan jumlah produksi yang lebih besar daripada tingkat konsumsi. 

Harapan kita bonus yang dianugerahkan Allah SWT ini akan dapat memberikan manfaat yang besar bagi kemajuan bangsa bukan  justru menimbulkan masalah yang lebih besar di kemudian hari. Semoga!


Enang Cuhendi, S.Pd. MM.Pd. Guru IPS SMPN 3 Limbangan Kab. Garut- Jawa Barat