Selasa, 24 September 2019

Siswa Pelosok Di Kecamatan Cisompet



oleh Henhen Rohendi
(Guru IPS SMPN 1 Leles-Garut-Jabar)


Kecamatan Cisompet luasnya ± 17.225 Ha, merupakan salah satu wilayah di bagian selatan Kabupaten Garut. Wilayahnya berada pada ketinggian 25-1100 dpl. Sebagian besar berupa hutan (29%),dan perkebunan (27%). Sisanya  perkampungan (5%), pesawahan (7%), tegalan (9%), padang semak (5%), kebun campuran (15%),  dan lain-lain (3%). Letak Geografis Kecamatan Cisompet:


PetaKabupatenGarut

 


  •       Utara berbatasan dengan Kecamatan Cikajang, Cihurip dan Singajaya.
  •       Selatan berbatasan dengan Kecamatan Pameungpeuk, dan Cibalong.
  •       Barat berbatasan dengan Kecamatan Cikelet, dan Pakenjeng.
  •       Timur berbatasan dengan Kecamatan Cihurip, Peundeuy, dan Cibalong.


Menyoal masalah wajib belajar pendidikan dasar (WAJAR DIKDAS) di Kecamatan Cisompet, hampir semua anak usia sekolah terdaftar pada lembaga pendidikan. Untuk jenjang SMP bukan hanya sekolah regular, SMP terbuka pun menjadi pilihan anak atau orang tuanya. Hanya saja kaitannya dengan SMP terbuka keberadaannya seperti hidup enggan mati tak mau. Bagi para siswa dan orang tua yang mengutamakan proses pembelajaran, walaupun jaraknya sangat jauh SMP regular menjadi tujuan mereka.

Para siswa rela berjalan jauh setiap hari untuk sampai di sekolah. Perjalanan mereka ada yang sejauh 10 Km bahkan lebih dengan berjalan kaki. Medan yang ditempuh berupa jalan desa yang kondisinya rusak melewati daerah perkampungan, perkebunan, dan hutan semak. Setiap hari mereka menghabiskan separuh waktunya menempuh perjalanan menuju sekolah.mereka berangkat selepas sholat subuh dan sampai ke rumah menjelang sholat Asyar bahkan lebih. Perjalanan yang sangat menyita waktu, kondisi medan, dan aktivitas yang padat di sekolah, sebagian besar dari mereka kurang bisa mengikuti proses pembelajaran. Dapat dibayangkan jika musim hujan tiba, perjalanan mereka terkendala dan terpaksa sebagian besar tidak bisa datang ke sekolah.

Anak pelosok lebih memilih resiko dalam menempuh perjalanan dari pada mengikuti pembelajaran di TKB, tempat kegiatan belajar yang pengelolaanya di bawah SMP terbuka.Hampir semua TKB bertempat di sekolah dasar, adapun waktu pembelajarannya setelah selesai anak SD belajar. Pelaksanaan tatap muka tidak dilaksanakan setiap waktu, anak dibekali modul-modul untuk belajar mandiri. Para guru terdiri dari guru bina yang setiaptatap muka memberikan pembelajaran, adapun guru pamong sebagai konsultan bagi siswa jika terdapat kesulitan-kesulitan dalam belajar. Itulah satu dai sekian banyak yang menjadi pembeda antara SMP terbuka dengan regular, sementara itu tuntutan antara SMP terbuka dan regular sama. Sebagai contoh dalam proses UAS, UKK, dan UN soalnya sama. Penulis berpikir tidak bijaksana jika kondisi ini terus berlangsung.Sangat diharapkan untuk suatu perubahan para pemangku kebijakan tidak cukup hanya percaya dengan berbagai laporan tentang pelaksanaan SMP terbuka, ataukah tutup mata saja walau tahu yang sebenarnya. Wallahualam.

Banyak hal lain yang harus dipikirkan tentang kondisi pendidikan siswa yang tinggal jauh di daerah pelosok. Program SMP Satu Atap merupakan jawaban tepat yang telah digulirkan oleh pemerintah. Walaupun belum bisa menyentuh semua peserta didik yang tinggal di daerah pelosok. Hal ini dikarenakan keterbatasan jumlah SMP Satu Atap yang dibangun dan terlampau jauh jangkauan lokasi tempat tinggal siswa. Sampai saat ini terdapat dua SMP Satu Atap di wilayah Cisompet. Dengan demikian sebagian besar mereka dapat diakomodir dan  “lepas” dari SMP Terbuka.

Penentuan lokasi suatu lembaga pendidikan hampir di semua tempat, kurang memperhatikan aspek keterjangkauan. Di tempat yang jauh dari lokasi penduduk sering ditemui bangunan baru lembaga pendidikan, kondisi lahannya pun berupa perbukitan dengan kontur yang cukup kasar. Di daerah Kecamatan Cisompet hal itu bisa kita lihat, terdapat sekolah baru  yang lokasinya cukup jauh dari pemukiman penduduk, seperti di perbukitan, dan perkebunan. Kontribusi pemikiran pemerintah setempat dan para pemerhati pendidikan di daerah untuk turut menentukan lokasi suatu lembaga pendidikan baru sangat diharapkan. Hal ini untuk menarik minat para peserta didik, yang berdomisili di daerah tersebut. Banyak contoh kasus karena lokasinya tidak strategis, sekolah itu kurang diminati sehingga calon peserta didik memilih sekolah lain di luar kecamatan. Dengan demikian keberadaan sekolah tersebut tidak dapat mengakomodir peserta didik di daerah sekitarnya.

Jadi bahan pemikiran semua, masih terjadi ketimpangan layanan pendidikan di wilayah kita. Walaupun standar minimal sudah diupayakan, tetapi kenyataan di lapangan tetap saja terdapat jurang pemisah. Belum lagi unsur lain yang mendukung terciptanya jurang pemisah itu semakin lebar. Banyak harapan yang bisa diandalkan dari anak pelosok untuk berkontribusi dalam menambah kuantitas siswa dalam suatu sekolah, tentu saja berkorelasi positif bagi penyelenggaraannya. Ironisnya kontribusi itu kuramg berdampak baik bagi siswa yang bersangkutan. Tidak ada pihak yang bersalah, hal ini dikarenakan kondisi telah menyeret ke dalam habit untuk melengkapi lengkapnya kinerja penyelenggara dan pemangku kebijakan pendidikan. Ke depannya diharapkan tidak hanya kuantitas yang dianggap penting, tapi kualitasnya juga dapat melengkapi.

Anak-anak pelosok sudah berpikir satu langkah lebih maju dari mereka yang tinggal dekat ke kota kecamatan. Tantangan yang besar membuat mereka lebih bisa menjawab persoalan hidup terutama masalah kesiapan bekerja dan merantau meninggalkan tanah kelahiran yang selama ini membatasi ruang geraknya. Mereka bekerja di kota atau di luar wilayah Cisompet menjadi tenaga buruh yang dihargai sesuai dengan ijazah yang mereka bawa ke tempat kerja.Anak pelosok merupakan potensi yang dimiliki daerah bahkan mungkin aset bangsa. Mereka tak berkesempatan untuk mengecap pendidikan lebih dari yang seharusnya. Dengan demikian potensi ini menjadi tidak nampak dan tidak menunjukan kemampuan yang dimilikinya. Sungguh disayangkan jika kondisi ini terus-menerus tanpa adanya solusi kreatif yang inovatif dari berbagai pihak.

Muncul satu pertanyaan, apakah anak pelosok tidak punya kesempatan lain dan cukup puas dengan kondisi seperti itu?. Mereka sebenarnya punya peluang untuk lebih maju dari kondisi sekarang. Mengapa demikian, mereka punya semangat yang sudah tertaman sejak memutuskan untuk melanjutkan sekolah. Semangat itu yang perlu dipupuk dan dipertahankan. Sikap mandiri yang mereka punya, keberanian menempuh perjalanan yang cukup beresiko merupakan tempaan yang sudah mereka jalani selama 3 tahun bahkan 6 tahun ketika mereka melanjutkan ke jenjang SMA. Kesemuanya itu merupakan modal awal yang sangat berharga yang tidak dimiliki oleh teman-temannya yang tinggal dekat ke lokasi sekolah.

Anak pelosok perempuan yang sudah melewati proses pembelajaran di SMP regular sebagian besar kembali ke lingkungan keluarganya. Akhirnya mereka seolah tidak ada pembeda dengan teman sebanyanya yang tidak melanjutkan sekolah. Hal ini yang harus menjadi bahan pemikiran semua, jangan sampai jadi cemoohan dengan merendahkan fungsi sekolah. Pemikiran masyarakat kita pada umumnya masih beranggapan setelah tamat sekolah itu harus bekerja pada perusahaan atau menjadi pegawai di pemerintahan. Jika anggapan seperti itu masih mengakar pada masyarakat kita dapat dipastikan tingkat minat melanjutkan sekolah bagi siswa maupun dorongan orang tua menjadi menurun. Mereka cukup sekolah pada tingkat pendidikan dasar saja. Setelah itu ikut saudara yang lebih dulu pergi ke kota untuk bekerja, dan mendapatkan uang. Anggapan masyarakat dengan kondisi tersebut berhasildan selesailah sudah.

Anak laki-laki yang tidak berkesempatan pergi ke kota dengan alasan tidak diijinkan oleh orang tuanya atau tidak ada yang membawa, mereka tinggal di lingkungan keluarga. mereka membantu pekerjaan orang tuanya menggarap lahan pertanian atau pekerjaan lain yang selama ini orang tuanya kerjakan. Kenyataan seperti itu banyak yang menilai gagalnya pendidikan anak tersebut. Memang penilaian masyarakat kita selama ini kurang bijaksana, sehingga hal ini dapat menjadi faktor penyebab anak putus sekolah.

Anak pelosok harus diselamatkan dari asumsi masyarakat ketika pendidikannya terhenti pada satu jenjang tingkat pendidikan. Pengorbanan mereka lebih besar untuk bersekolah bila dibandingkan dengan rekan yang lainnya. Perhatian pemerintah juga diharapkan bisa lebih ditingkatkan untuk menarik minat anak dan orang tuanya dalam mensukseskan WAJAR dikdas 9 tahun. Lebih banyak pihak atau komponen unsur strategis yang terlibat dalam proses pendidikan merupakan suatu terobosan baru untuk meningkatkan kantitas dan kualitas pendidikan di suatu daerah.

Referensi
-          Profil Kecamatan Cisompet
-          Hasil pengamatan penulis

HENHEN ROHENDI, Guru IPS SMPN 1 Leles, Garut Jabar & Mantan Kepala SMPN 2 Cisompet