Jumat, 20 September 2019

TAN MALAKA VS PKI


Tan Malaka

Oleh : Yanuar Iwan 

(SMPN 1 Cipanas-Cianjur-Jabar)

Kegunaan pendidikan adalah untuk mengajarkan seseorang berpikir dengan intensif dan kritis. Karakter dan kecerdasan itulah tujuan pendidikan sesungguhnya ( Martin Luther King )

Bangsa ini mengalami kesulitan di dalam menempatkan peranan seorang tokoh melalui dinamika sejarah secara obyektif, jujur, dan terbuka karena penulisan sejarah selalu berkaitan dengan situasi politik dan tentunya kebijakkan penguasa pada saat itu.

Sikap masyarakat yang seringkali menyanjung secara berlebihan seseorang dan beberapa orang tokoh dan sekaligus  membenci, memarginalkan, bahkan menghapus peranan tokoh-tokoh tertentu di dalam arus sejarah, mempersulit kita didalam memahami suatu peristiwa sejarah.

Tan Malaka ( lengkapnya Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka ) lahir 2 Juni 1896 di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, dan meninggal lebih tepatnya di bunuh secara tragis pada 19 Februari 1949 di dekat Kediri Jawa Timur. ( Alfian, Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia, hal 151 ) masuk dalam kategori tokoh-tokoh tersebut.

Majalah Tempo menyebut Tan adalah salah satu "The Founding Fathers" Indonesia, melalui bukunya "Naar de Republiek Indonesia" ( Menuju Republik Indonesia ) yang di tulis Tan di Kanton Tiongkok pada 1925 dalam usaha pelariannya dari kejaran polisi rahasia Belanda - Inggris - Amerika Serikat, walaupun bukan cetak biru bagaimana Republik  Indonesia terbentuk,  tetapi buku tersebut sudah memberikan arah bagaimana rakyat Indonesia bisa meraih kemerdekaan karena berisi program-program dan strategi bagaimana meraih kemerdekaan oleh karena itu buku ini menjadi salah satu sumber rujukkan bagi kaum pergerakkan nasional.

Pemikiran Tan melalui buku tersebut terlihat lebih radikal dan lebih dini jika di bandingkan dengan " Indonesia Vreige" ( Indonesia Merdeka  ) tulisan Hatta 1928 dan "Menuju Indonesia Merdeka" tulisan Soekarno 1933.

Dalam karya-karya tulisnya yang lain, seperti "Massa Aksi", "Dari Penjara ke Penjara", "Gerpolek" ( Gerilya, Politik, dan Ekonomi ) dan buku yang sering di sebut  oleh sejarawan dan ahli filsafat sebagai karya monumental Tan Malaka " Madilog" buku yang di tulis dalam suasana kemiskinan  yang amat sangat di sebuah gubug bambu di pinggiran Jakarta 1942, jelas terlihat betapa Tan menolak dogmatisme terutama dalam cara berpikir, cara berpikir dogmatis hanya membuat seseorang menjadi pasif menjerumuskan masyarakat ke dalam penipuan diri sendiri, ke pasifan, mentalitas budak, dan inilah yang mengakibatkan takluknya dunia timur kepada barat. Sebaliknya dia menyanjung cara berpikir dialektis yang antara lain di maksudkannya sebagai cara berpikir dinamis karena itu memungkinkan orang untuk mengembangkan pemikiran atau intelektualitasnya secara terus menerus, jadi kunci dari pengertian dialektika Tan Malaka adalah berpikir aktif dan terus menerus atau berpikir kritis dan dinamis. Tetapi berpikir secara kritis dan dinamis itu harus berlandaskan akal dan logika ( Alfian, Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia, hal 160 ).

Menpelajari cara berpikir Tan, saya teringat sebuah buku tulisan Fransz Magnis Suseno "Filsafat Sebagai Ilmu Kritis" buku yang populer di awal tahun 1990, mempertanyakan segala permasalahan yang dihadapi masyarakat dan berusaha mencari solusi dari permasalahan tersebut  "thesis - antithesis - Sinthesis " pola-pola pikir kritis, dinamis,  dan rasional di gunakan terus oleh Tan selama hidupnya, sewaktu menjadi agen Komintern dalam konggres ke 4 Komintern 1922 di Uni Soviet Tan mengkritik sikap Komintern yang cenderung memusuhi gerakkan Pan Islamisme menurut Tan "Komunis tidak boleh mengabaikan kenyataan bahwa saat itu ada 250 juta Muslim di dunia. Pan Islamisme sedang berjuang melawan imperialisme. Perjuangan yang sama dengan gerakkan Komunisme". Komintern tetap berpendapat gerakan Islam adalah kekuatan yang dapat menyaingi kekuatan Komintern oleh karena itu membahayakan bagi kekuatan Komintern. Komintern tetap menolak saran dan kritik Tan mengenai bersatunya Komunis dan Islam.

Tan menyadari bahwa sikap modernisme gerakkan Islam sesuai dengan sikap anti dogmatisme yang mempempengaruhi pola dan cara berpikirnya. Sikap dan kebijakkan politik Komintern dan PKI yang menolak dan memusuhi Islam menurut Tan adalah kesalahan terbesar kaum Komunis di dalam melawan imperialisme dan kolonialisme. Sikap anti Sarekat Islam dari PKI adalah contoh pola pikir dogmatis yang tidak sesuai dengan realita masyarakat Indonesia.

Keteguhan dan kesetiaan terhadap cara berpikir dialektika membuat Tan berani berbeda sikap dan pendapat dari garis politik partai, contoh kasus yang jelas adalah pemberontakan PKI 1926/1927, Tan tidak menyetujui pemberontakan tersebut karena melihat PKI sebagai partai belum memiliki akar dan basis yang kuat di masyarakat belum mendapat dukungan penuh dari sebagian masyarakat dan tidak memiliki organisasi militer yang kuat, Tan menganalisis bahwa pemberontakan itu akan gagal dan analisisnya terbukti benar, pemberontakan di Banten dan Sumatera Barat dengan mudah di hancurkan Belanda. Menurutnya mereka yang mencetuskan pemberontakan itu mengikuti ideologi secara dogmatis, dan oleh karena itu tidak rasional dan cenderung nekad.

Seseorang yang demikian menghargai kebebasan berpikir seperti Tan, tidak mungkin bisa menyesuaikan diri dengan garis kebijakan partai yang ketat dan di dasarkan dengan sikap - sikap dogmatis terhadap ideologi, pertentangan dan permusuhannya dengan orang - orang Komunis di dasarkan atas perbedaan sikap dan pola pikir tersebut. Bahkan Tan di tuduh sebagai pengkhianat yang telah menyebabkan gagalnya pemberontakan 1926/1927.

Kebencian tokoh-tokoh Komunis terhadap Tan jelas terlihat ketika Musso pulang ke Indonesia pada 1948, sewaktu wartawan bertanya apakah Musso akan bekerjasama dengan Tan, Musso menjawab dengan sinis bila ia punya kesempatan, yang pertama di lakukannya adalah menggantung Tan Malaka.
M.H. Lukman anggota politbiro PKI menulis "Tan Malaka pengkhianat  Marxisme - Leninisme". ( Bintang Merah, 15 Nopember 1950 )

Ketua PKI, D.N. Aidit, menyatakan sumber kegagalan pemberontakan 1926 antara lain kurang persiapan dan minim koordinasi. "Tapi,  selain itu, ada orang seperti Tan Malaka, yang tidak melakukan apapun, hanya menyalahkan setelah perlawanan meletus." Kata Aidit, yang juga menyebut Tan sebagai Trotskyte, pengikut Leon Trotsky ( lawan politik Stalin ) " Sang pemecah belah". ( Tempo hal 64 )

Selepas pemberontakan 1926/1927, Tan bersama Subakat dan Djamaludin Tamim mendirikan Partai Republik Indonesia ( PARI ) akibat perpecahan dengan PKI pasca pemberontakan tersebut dan Komintern yang cenderung mengutamakan perluasan hegemoni Uni Soviet di bandingkan dengan membantu daerah - daerah jajahan untuk meraih kemerdekaan, tidak adanya nama komunis di dalam PARI menegaskan bahwa sikap nasionalisme Tan lebih kuat di bandingkan fanatismenya terhadap ideologi komunis. Hal ini tentu berkaitan juga dengan kebebasan dan dinamika berpikirnya.

Partai Murba yang di dirikan Tan bersama Sukarni dan Chaerul Saleh pada 7 Nopember 1948 di tengah berkecamuknya revolusi hanya memiliki arti partai rakyat jelata dan sekali lagi tidak memuat nama komunis, Tan tidak berhasil menbesarkan Partai Murba karena ia di tembak mati di Kediri tiga bulan setelah mendirikan partai itu. Sejarah juga mencatat Partai Murba menjadi lawan politik PKI di masa 1950-1960.

Diakhir hayatnya Tan Malaka tetap meyakini bahwa Marxisme adalah suatu teori yang layak di kritisi dan suatu jalan untuk menempuh revolusi melalui massa aksi bukan suatu teori dogmatis yang mendominasi kebenaran secara sepihak dan membelenggu kaum proletar.

Sukaresmi, 19-09-2019 di Rumah.