Kamis, 10 Oktober 2019

DAHULUKAN ADAB SEBELUM SHARING

Oleh: Wijaya


Zaman now, pesatnya teknologi informasi semisal aplikasi berbasis media sosial. Semakin mendorong setiap orang untuk menggerakkan jarinya dengan cepat. Tidak terlepas dilakukan oleh tenaga pendidik dan lapisan masyarakat lainnya yang memanfaatkan media sosial tersebut.

Beberapa media sosial yang digandrungi diantaranya Facebook, Instagram, Telegram, Twitter dan tentu saja WhatsApp. Aplikasi tersebut hampir tertanam melalui proses instalasi di setiap gawai. Tidak terkecuali milik guru, siswa, politikus, birokrat dll.  Baik masyarakat di akar rumput maupun kelas menengah dan atas.

Maraknya pemanfaatan media sosial, semakin meningkatkan interaksi sosial, baik secara tidak langsung dan langsung antara individu dengan individu, dan individu dengan kelompok dalam dunia Maya. Dunia tanpa sekat yang terbatas ruang dan waktu.

Dalam realitas keseharian, terpotret beragam aktivitas pemanfaatan media sosial menggunakan gawai di setiap lapisan masyarakat. Dalam ragam kegiatan sekalipun, baik acara formal dan non formal. Jari jemari tidak terlepas menyentuh menulis kata dan merangkai kalimat, pun hanya sebatas simbol maupun respon berupa narasi.

Cepatnya jari jemari merespon pesan pribadi ataupun dalam sebuah grup, tidak sedikit terjebak dalam proses penyebaran informasi "hoax" yang memiliki konsekuensi hukum, terlebih dengan adanya UU ITE. Karena jejak digital dalam beragam aplikasi berbasis media sosial tidak akan pernah hilang.

Menyikapi hal tersebut, salah seorang kawan berseloroh, Jasmetal bro. Jangan sekali-kali melupakan jejak digital sebagai kepanjangan dari Jasmetal. Sehingga tidak sedikit menimbulkan kegaduhan dan konflik yang menjalar dari dunia Maya ke dunia nyata. Hate speech atau ujaran kebencian menjadi salah satu pemicunya.

Era digital, media sosial dijadikan sebagai media penipuan online yang mentargetkan pengguna dengan tingkat literasi rendah serta berorientasi materi melalui mindset serba instan. Mereka bertipe seperti itu tidak sedikit yang menjadi korban. Termasuk menjadi tersangka karena memviralkan pesan yang dikatagorikan hoax yang mengandung hate speech.

Belum lagi menjamurnya grup semisal WhatsApp Grup (WAG) dengan beragam latar belakang anggotanya, baik alumni, sesama profesi, keluarga dan warga. WAG tersebut rentan menjadi media terjadinya arus lalu lintas konten hoax dan juga umpan lambung dari desain suatu projek buzzer yang seringkali menimbulkan perpecahan dan konflik.

WAG seringkali dijadikan kamuflase oleh foundernya dengan menyimpang dari awal mula pendiriannya. Semisal jadi ajang pencitraan, menjual produk dagangannya, panjat kelas sosial foundernya dan juga menjadikan anggotanya sebagai market place tanpa disadari. Disinilah perlunya adab sebelum sharing dalam menyikapinya.

Hal utama, agar kita tidak terjerumus dan terjebak dari Skenario oknum founder tersebut adalah adab dengan nalar kritis. Sehingga akan adanya proses filterisasi informasi. Sederhananya saring sebelum sharing. Menganalisis sebelum memutuskan dan bertahan.

Zaman now merupakan zaman penuh fitnah yang harus disikapi dengan nalar kritis dan adab. Karena tidak sedikit orang berilmu tapi tidak beradab, sehingga terjadilah aktivitas saling memakan sesama (homo homini lupus). Oleh karena itu, sebagai pendidik sekaligus user dari suatu media sosial harus kritis, tidak membebek, saring sebelum sharing (tabayun) dan tidak mudah menentukan sikap.

Rangkasbitung, 10102019