Minggu, 06 Oktober 2019

GEMERLAP ALAM KOTA GURILAPS

Oleh Enang Cuhendi 

(SMPN 3 Limbangan, Kab.Garut, Jawa Barat)


Gerbang masuk Kota Garut dari arah Bandung
“Hanya kepada orang yang halus perasaannya, keindahan dan rahasia alam ini dibukakan Tuhan untuknya.”
(Socrates, Filsuf Yunani 469-399 SM.)



Garut sebuah kota sejuk nan indah. Keindahan alamnya mendorong kita berimajinasi bahwa Garut diciptakan Tuhan sebagai warisan terbaik.  Menurut Darpan dan Budi Suhardiman (2017) seandainya pulau Jawa yang dianugerahi Allah tanah yang subur dan pemandangan yang indah kita umpamakan seikat cincin jamrud, maka Garut adalah pusat dari cincin itu yang merupakan permata yang tiada bandingnya. Lepas dari setuju atau tidak, tapi pernyataan tersebut seakan ada benarnya karena Garut memang memiliki potensi alam yang luar biasa.

Selama dua puluh dua tahun (1997-2019) penulis mengabdi sebagai guru PNS memang banyak hal menarik yang bisa ditemukan di Kabupaten Garut ini . Selain aneka penganan dan hasil budaya yang sangat terkenal, daerah ini juga memiliki kekayaan dan keindahan alam yang lengkap dan luar biasa.Ya, lengkap dalam arti di kabupaten penghasil domba dengan varietas terbaik ini gunung, rimba atau hutan, laut dan pantai, air terjun, danau, sungai pesawahan, perkebunan, dataran tinggi dan rendah ada semua. Kelengkapan alam yang tidak semua kota memilikinya.

Garut merupakan bagian wilayah Provinsi Jawa Barat di bagian Selatan. Secara asronomis berada pada koordinat 6º56'49''-7º45'00'' LS dan 107º25'8''-108º7'30'' BT. Luas wilayah administratifnya sekira 306.519 hektar, dengan batas-batas di sebelah utara dengan Kabupaten Sumedang, bagian timur dengan Kabupaten Tasikmalaya, selatan Samudera Indonesia dan sebelah barat dengan Kabupaten Bandung dan Cianjur.

Secara geografis ketinggian kontur Garut cukup bervariasi antara wilayah tertinggi di puncak gunung (2.821 mdpl) sampai wilayah paling rendah yang sejajar dengan permukaan laut (0 mdpl). Titik tertinggi ada di puncak Gunung Cikurai sedangkan terendah ada di bibir pantai di Garut Selatan. Secara umum kontur yang menjadi tempat hunian bisa dibagi empat, yaitu 0-100 mdpl., 100-500 mdpl., 500-1.000 mdpl., dan 1.000-1.500 mdpl. Wilayah yang terletak di daratan rendah pada ketinggian kurang dari 100 mdpl (meter di atas permukaan laut) terdapat di Kecamatan Cibalong dan Pameungpeuk. Wilayah yang terletak pada ketinggian 100–500 mdpl terdapat di kecamatan Cibalong, Cisompet, Cisewu, Cikelet dan Bungbulang. Wilayah yang berada pada ketinggian 500–1.000 mdpl terdapat di Kecamatan Pakenjeng dan Pamulihan, serta wilayah yang berada pada ketinggian 1.000–1.500 mdpl terdapat di Kecamatan  Cikajang, Pakenjeng, Pamulihan, Cisurupan dan Cisewu.

Kontur Garut terbagi dua, yaitu utara dan selatan. Secara umum bisa dikatakan bahwa karakteristik kontur Garut cenderung miring ke selatan. Kontur sebelah utara terdiri dari dataran tinggi dan pegunungan, sedangkan bagian selatan sebagian besar berupa dataran rendah dengan permukaannya memiliki tingkat kecuraman yang terjal dan labil di beberapa tempat.

Bagi yang senang muncak atau mendaki gunung dan menikmati panorama alam pegunungan, Garut menjadi destinasi yang wajib dikunjungi. Pegunungan dan gunung yang umumnya terdapat di wilayah utara menjadi salah satu kekayaan Garut. Banyak gunung dengan aneka ketinggian ditemukan di kota ini. Gunung Cikuray (2.821 mdpl) dan Gunung Papandayan (2.622 mdpl) di selatan Kota Garut merupakan dua gunung tertinggi di Garut. Bahkan keduanya termasuk lima besar gunung tertinggi di Jawa Barat. Satu lagi  Gunung Guntur (2.249 mdpl) di Garut Kota, rasanya sudah tidak asing lagi, terutama dengan kawasan Cipanasnya. Ketiga lokasi ini sudah sangat familiar di kalangan anak muda yang senang muncak atau mendaki gunung dan menjadi destinasi tetap para pecinta wisata alam.

Gunung lainnya adalah Gunung Talaga Bodas (2.101 mdpl) yang terletak di Desa Sukamenak, Kecamatan Wanaraja. Gunung ini bukan untuk pendakian tetapi lebih pada wisata alam, seperti Tangkuban Perahu atau Kawah Putih. Di sini terdapat kawah belerang yang menarik untuk dikunjungi.

Adapun Gunung Cakrabuana, Cilancang dan Gunung Kendang menjadi pelengkap kekayaan gunung di Kabupaten Garut. Ketiga gunung tersebut memang tidak sepopuler gunung-gunung yang disebut sebelumnya, tetapi tetap memiliki keindahan alam yang luar biasa. Gunung Cakrabuana masuk ke dalam administrasi empat kabupaten, yaitu: Garut, Sumedang, Tasikmalaya dan Majalengka. Pendakian ke gunung ini biasa dilaksanakan melalui Jalur Malangbong di Garut Utara. Adapun Gunung Cilancang secara administrasi berada di perbatasan Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut. Di Kabupaten Sumedang gunung ini mencangkup Kecamatan Sumedang Selatan dan Kecamatan Cibugel. Sedangkan di Kabupaten Garut mencangkup Kecamatan Blubur Limbangan dan Kecamatan Selaawi. Gunung Cilancang ini mempunyai ketinggian 1.667 mdpl. Gunung Kendang yang merupakan gunung berapi stratovolcano  terletak di perbatasan Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung dan Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut.

Masih ada gunung- gunung lainnya yang ada di Garut. Memang yang belakangan ini tidak terlalu tinggi, tapi cukup memperindah alam Garut. Gunung-gunung tersebut di antaranya: Gunung  Haruman (1.218 mdpl) di Leuwigoong, Gunung Kaledong (1.249 mdpl) di Kadungora, Gunung Halimun (1.098 mdpl) di Pamulihan, Gunung Sadakeling (1.679 mdpl) di Cibatu, Gunung Karancang (1.563 mdpl) di Talegong dan Mandalawangi (1.663 mdpl) di Leles-Kadungora. Masih banyak gunung lainnya yang ada di Garut yang bisa dikunjungi kapan saja oleh para penggemar muncak.

Satu hal yang menjadi khawatiran terkait keberadaan gunung atau bukit adalah adanya aksi dari tangan-tangan serakah yang senang membeli dan menghancurkan gunung atau bukit. Dengan dalih kepentingan pembangunan dan penyediaan sarana pemukiman satu persatu bukit yang ada di Garut mulai digali dan kena hantaman mesin beko. Seandainya ini tidak dikendalikan bukan mustahil Garut akan kehilangan nuansa alam pegunungannya dan yang ada hanyalah hamparan dataran yang gersang tanpa tumbuhan di atasnya. Fenomena penghancuran ini sudah mulai bisa dilihat sejak masuk kawasan Nagreg yang saat akan masuk ke Garut. Demikian juga di sekitaran Leles dan Leuwigoong.

Terkait dengan gunung adalah keberadaan hutan atau rimba. Garut masih memiliki hutan atau dalam bahasa Sunda leuweung yang lumayan banyak. Salah satunya yang terkenal adalah Hutan Sancang atau Leuweung Sancang di daerah Cibalong, sekira 36 kilometer dari Pameungpeuk ke arah timur melalui perkebunan karet Miramare. Sancang sejatinya adalah hutan lindung yang memiliki luas 2.175 hektar. Dulu di hutan ini dipercaya masih banyak ditemukan burung merak, banteng, julang, kancil bahkan harimau jawa. Untuk floranya di sini ada spesies khusus seperti pohon reunghas dan kaboa yang konon katanya hanya ada di sini. Hanya saja itu dulu sebelum reformasi 1998. Setelah reformasi semua berubah, kehancuran alam Sancang sudah di depan mata. Bahkan menurut laporan tahun 2004 setengah dari luas Sancang sudah habis ditebang bahkan faunanya juga ikut menghilang. Sancang seakan hilang dangiang, dari hutan yang terjaga dan ditakuti sekarang habis oleh penebangan liar tangan-tangan tidak bertanggung jawab.

Selain gunung dan hutan, Garut juga memiliki banyak curug atau air terjun. Bukan satu atau dua, tetapi sampai puluhan curug yang dimiliki Garut. Keberadaan curug menjadi variasi destinasi wisata yang tidak kalah cantik, terutama di daerah yang berada di dataran tinggi. Suasana segar dan damai akan kita rasakan ketika berada di sekitar curug.  Beberapa di antara air terjun yang ada di Garut, yaitu: Curug Cihanyar (Cilawu), Curug Orok (Cikajang), Curug Sanghiyang Taraje (Pakenjeng), Curug Nyongnyong (Cihurip), Curug Ciharus (Leles), Curug Cibadak, Curug Rahong. Curug Citiis (Gunung Guntur), Curug Cimandi Racun dan Curug Sanghyang Taraje (Pamulihan) merupakan sedikit di antara sekian banyak curug yang ada di Garut. Curug Sanghyang Taraje merupakan primadona curug di Garut dan sudah sering dikunjungi para pecinta alam.

Masih terkait potensi air, objek wisata lain yang tidak kalah menarik adalah situ atau danau. Situ Bagendit di Kecamatan Banyuresmi dan Situ Cangkuang di Kecamatan Leles merupakan dua dari contoh situ yang terkenal di Garut. Situ yang lainnya adalah Cikabuyutan yang terletak di perbatasan Kecamatan Pakenjeng dan Bungbulang, tepatnya di antara Desa Pasirlangu di Pakenjeng dan desa Bojong di Bungbulang. Situ Bagendit yang berada di lintasan jalan Leuwigoong – Banyuresmi ke arah Garut biasa dikaitkan dengan legenda Nyi Endit yang terkenal. Sedangkan Situ Cangkuang terkenal karena adanya peninggalan sejarah berupa Candi Cangkuang dan Kampung adat Pulo dan makam Mbah Dalem Arief Muhammad, sosok penyebar Islam, di tengah-tengah situ. Di situ-situ ini kita bisa menikmati ketenangan dan keindahan alam di atas rakit yang bisa kita sewa atau sekedar bercengkrama dengan keluarga di pinggir situ. Tidak sedikit pula yang memancing secara tradisional.

Wilayah Kabupaten Garut juga memiliki banyak aliran sungai. Di Garut terdapat 36 buah sungai dan 112 anak sungai dengan panjang seluruhnya 1.403,35 km. Sepanjang 92 km di antaranya merupakan aliran Sungai Cimanuk dengan 60 buah anak sungai. Sebagaimana konturnya, daerah Aliran Sungai (DAS) di Garut dibagi menjadi dua,  yaitu: Daerah Aliran Utara yang bermuara di Laut Jawa dan Daerah Aliran Selatan yang bermuara di Samudera Indonesia. Daerah aliran selatan pada umumnya relatif pendek, sempit dan berlembah-lembah dibandingkan dengan daerah aliran utara. Daerah aliran utara merupakan DAS Cimanuk Bagian Utara, sedangkan daerah aliran selatan merupakan DAS Cikaengan dan Sungai Cilaki.

Di wilayah selatan panorama keindahan alam Garut yang dominan adalah laut dan pantai. Wilayah laut di Garut Selatan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Karena berhadapan dengan laut maka Garut juga memiliki garis pantai. Banyak pantai indah di Garut. Salah satunya Pantai Santolo, pantai indah berpasir putih, yang terletak di Desa Pamalayan, Kecamatan Cikelet. Lokasi Santolo sekira 88 kilometer dari Alun-alun Kota Garut, atau dengan waktu tempuh sekira 2-3 jam perjalanan. Tidak jauh dari Santolo kita bisa menemukan pantai berikutnya, yaitu Sayang Heulang. Pantai Sayang Heulang berada di Desa Mancagahar, Kecamatan Pamengpeuk. Jarak tempuh dari tengah Kota Garut sekira 86 kilometer. Sayang Heulang banyak dipercaya sebagai pantai terbaik yang dimiliki Garut dan sekaligus menjadi andalan wisata Garut. Letaknya yang langsung menghadap ke Samudera Hindia, birunya air laut dan keindahan batu karang yang tersebar menjadi daya tarik tersendiri dari Sayang Heulang.

Pantai-pantai lainnya yang tak kalah indah tersebar di beberapa kecamatan. Pantai Karang Paranje (Cibalong), Rancabuaya (Bungbulang), Cicalobak (Mekarmukti), Karangtepas (Mekarmukti), Cidora (Caringin), Karang Papak (Pameungpeuk), Karangsebrotan (Mekarmukti), Cijeruk Indah (Pameungpeuk), Sodong Bodas (Caringin), Sancang (Cibalong), Sodonglalai (Mekarmukti), Citanggeuleuk (Mekarmukti), dan Pantai Taman Manalusu (Cikelet) merupakan deretan pantai yang menawan yang belum banyak dikunjungi wisatawan.

Garut Kota GURILAPS

Berdasarkan fakta-fakta yang diungkap di atas jelas sekali bahwa Garut memiliki potensi alam yang sangat kaya. Bisa dikatakan potensi alam Garut sangat gemerlap. Gemerlap alamnya membuat kota Garut layak menyanding julukan Kota GURILAPS. Bukan hanya gurilap seperi yang ada dalam bahasa Sunda yang artinya gemerlap, tapi juga GURILAPS yang merupakan akronim dari kota yang kaya dengan GUnung, RImba, LAut, Pantai, dan Sungai. Bahkan apabila “S” ditambah satu dengan seni budaya, Garut tetap dapat menjadi GURILAPS karena Garut memiliki potensi seni budaya yang juga gemerlap.
 
Sungguh potensi luar biasa yang Allah SWT. anugerahkan untuk Kabupaten Garut. Potensi GURILAPS ini bisa menjadi modal untk mengembangkan dunia wisata Garut. Permasalahannya tinggal bagaimana kita mensyukuri, memelihara dan memanfaatkan semua potensi ini.  Sangat disayangkan kalau anugerah ini tidak dipelihara dan dimanfaatkan secara maksimal. Semoga kita semua termasuk orang yang halus perasaannya sehingga bisa menikmati keindahan alam ini tanpa sedikit pun niat merusaknya. Hal ini sesuai dengan ungkapan Socrates, Filsuf Yunani 469-399 SM., yang mengatakan “Hanya kepada orang yang halus perasaannya, keindahan dan rahasia alam ini dibukakan Tuhan untuknya.”


  

Sumber Bacaan

Darpan dan Budi Suhardiman, 2017, Budaya Garut, Serta Pernak Perniknya, Garut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
Enang Cuhendi (2019), Bukan Catatan Perjalan Biasa, Bandung, Penerbit Guneman
Tim Kreatif (2015), Pemetaan Warisan Budaya Tak Benda Kabupaten Garut, Garut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
Donny Iqbal, (2018), “Leuweung Sancang Diujung Kenangan, Perbaikan Lingkungan Harus Dilakukan”,  13 August 2018,
https://travelingyuk.com/curug-di-garut/14230  diunduh 26 Desember 2018 pukul 14.00