Selasa, 08 Oktober 2019

KONVENSI LAFAL: PENDEKATAN PARADOX SIMBOLISME KATA GARUT BERDASARKAN TINJAUN BUDAYA DAN BAHASA


oleh Dr. Endang Kasupardi


Prolog

Ini cerita sederhana tentang Simbolisme (pelambangan) peristiwa semat nama Kabupaten Garut. Simbolisme terjadi karena antithesis (dua hal yang berlawanan) yakni; 1) Tinjauan budaya terkait dengan kerja bakti, gotong royong, dan bekerja sama masyarakat dalam membabat, dan membuka wilayah Kabupaten Garut, dan diantaranya ada yang terluka karena semak berduri; dan 2) Tinjauan Bahasa melalui, konvensi lafal, etimologi, morfologi, terminology dan semantic semat nama Kabupaten Garut.

Antithesis terhadap semat nama ini menimbulkan Paradox, yakni; 1) Apakah benar semat nama Kabupaten Garut berasal dari peristiwa budaya, yakni; terluka karena goresan semak berduri?; 2) Apakah benar kata yang digunakan merupakan proses konvensi lafal?; 3) Apakah kontradiksi semat nama Kabupaten Garut  dapat menunjukkan makna kata yang tepat?
Simbolisme Kabupaten Garut berawal dari surat perintah Gubernur Jendral Raffles pada Bupati Limbangan, Adipati Adiwijaya (1813-1831). Isi surat perintah itu, memutuskan ibu kota Limbangan harus pindah ke tempat yang strategis. Bupati Limbangan, Adipati Adiwijaya (1813-1831), segera membentuk panitia survei lokasi ibu kota. Kepanitiaan terdiri dari Pemerintah Kabupaten Limbangan, tokoh masyarakat, para ahli, dan masyarakat serta utusan resmi Gubernur Jendral Raffles.

Tidak mudah menemukan wilayah yang tepat untuk ibu kota Limbangan. Suci dan Talaga Cigarut menjadi pertimbangan dilematis. Suci tempat pertama mendirikan Ibu kota, namun tidak bertahan lama, dan kemudian pindah kembali ke sekitar Talaga Cigarut. Di Talaga ini lah, cikal bakal peristiwa yang melatar belakangi Nama Garut.  Peristiwa yang terjadi 100 tahun lalu, dan kemudian ditetapkan menjadi nama pengganti kabupaten Limbangan.

Silsilah Nama Kabupaten Garut
Terlalu sederhana, tergores, (kakarut-Gagarut) menjadi nama sebuah kabupaten di pedalaman Suku Sunda. Atau boleh jadi kebalikannya, peristiwa tergores, mengakibatkan tetesan darah adalah hal luar biasa, bahwa, ketika membuka lahan untuk ibu kota, merupakan hasil keringat dan tetesan darah. Tapi, maaf, rasanya terlalu didramatisir. Minimal, anggapan sementara, kesengsaraan yang dialami pada zaman penjajahan  Belanda, tidak begitu dirasakan sulit, apalagi mengeluarkan tetesan keringat darah. Tidak. Tidak seperti yang dibayangkan sekarang. Penjajah atau proses dijajah adalah sebuah penderitaan, padahal sebenarnya merupakan bukti masyarakat hidup makmur. Betapa tidak, suatu wilayah dibangun dan dipikirkan oleh dua Bangsa dan beribu suku daerah. Buktinya, jalan kereta terbentang sampai selatan, jalan raya terbentang sampai laut fasifik. Berdiri pula beberapa hotel, seperti; Hotel Papandayan, Hotel Villa Dolce, Hotell Belvedere, dan Hotel Van Hengel. Di luar ibu kota, berdiri pula hotel, seperti; Hotel Ngamplang, Hotel Tjisurupan, Hotel Melayu, Hotel Bagendit, Hotel Kamojang, dan Hotel Tjilauteureun. Para pesohor dunia rela dating dan menginap di sana. Maka, peristiwa darah menetes dari luka kecil itu, adalah sebuah paradox dan keniscayaan.

Disini, ada antithesis. Tetesan darah dari luka goresan semak belukar. Mungkin sudah terjadi suatu tragedi kemanusiaan pada 100 tahun lalu (1813-1915). Peristiwa pertumpahan darah masyarakat saat membabat lahan. Namun, kemudian ditutup-tutupi dan digambarkan dengan hal kecil saja. Mungkin, tujuannya adalah, agar tidak mengganggu kehidupan masyarakat dan keberlangsungan sejarah roda pemerintahan, yakni, pada masa Bupati Bupati Limbangan Adipati Adiwijaya (1813-1831), R.A.A. Kusumadinata (1832-1833),

Tumenggung Jaya Diningrat (1833-1871), RAA Wiratanudatar VII (1871-1915) berubah nama dari kabupaten Limbangan menjadi Kabupaten Garut- Raden Adipati Wira Tanu Datar VII adalah bupati terakhir kabupaten Limbangan setelah berubah nama menjadi kabupaten Garut oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 7 Mei 1913.), R.A.A. Soeria Kartalegawa (1915-1929), R.A.A. Muh. Musa Suria Kertalegawa (1929-1944). R. Tumenggung Endung Suriaputra (1944-1945). Dst. Ini adalah sebuah keniscayaan.

Kesederhanaan
Garut. Simpel menurut KBBI artinya mudah dikerjakan atau dimengerti (tidak berbelit-belit). Sedangkan Sederhana artinya, bersahaja, pertengahan, tidak banyak seluk beluknya (tidak kesulitan untuk memahaminya). Kesederhanaan nama Kabupaten Garut, diterjemahkan sebagai keadaan atau sifat nama yang sederhana, tuntas dalam satu tarikan nafas dan hemat kata-katanya serta  jelas menafsirkannya.

Simbolisme
Simbolisme dengan akar kata Simbol artinya lambang. Simbolisme (adv), melambangkan,  melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol. Simbolisme sebagai sebuah pelambangan yang menggunakan sebutan benda, binatang, tumbuhan, dan peristiwa. Simbolisme nama Kabupaten Garut bersumber dari; Pertama,  Semak berduri (tumbuhan) yang berada di sekitar  Talaga (Kolam yang ukurannya cukup luas. Memiliki sumber mata air sendiri). Semak berduri sebagai Simbolisme itu, memiliki nama Ki Garut. (Cucuk Garut). Telaga, tempat semak berduri, diketahui namanya Ci Garut (Sumber mata air Garut). Kedua, Simbolisme Nama kabupaten Garut adalah peristiwa Kakarut (Tergores), terluka karena semak berduri. Kata Kakarut mengalami proses peniruan yang tidak tepat ketika diucapkan. Kakarut menjadi Gagarut. Perkembangan berikutnya di masyarakat kata Gagarut mengalami proses peleburan fonem awal, sehingga menjadi Garut. Kata Garut, kemudian ditetapkan menjadi nama kabupaten sebagai lambang suatu peristiwa tergores dan berdarah. Ke dua simbolisme tersebut berlangsung dalam kurun waktu 100 tahun.

Pendekatan Bahasa
 Bahasa adalah alat komunikasi yang dimiliki manusia, berupa sistem lambang bunyi yg berasal dari alat ucap manusia yang bersifat.arbitrer, digunakan oleh anggota suatu masyarakat dalam membangun kerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri; Bahasa berusaha mewujudjelaskan pemikiran, perasaan, dan keterampilan dalam bentuk suatu peristiwa yang terdiri dari penutur, petutur, tuturan, peristiwa tutur, dan alih kode.
Pendekatan bahasa, terhadap nama Garut adalah suatu cara sederhana dengan tujuan menunjukkan jati diri, identitas, warga, dan wilayah. Nama Garut sebagai identitas yang khas, sehingga dapat mengembangkan proses interaksi dan komunikasi, siapa warganya dan dimana tempatnya. Pada proses komunikasi dan interaksi ini, proses berpikir dan bersikap memengaruhi kualitas komunikasi dan interaksi, sehingga, penutur dan petutur merasakan ada kesamaan pandangan dan sikap.
Tinjauan bahasa nama Garut. secara Etimologi, Garut berasal dari suatu peristiwa tergores, terluka. Garut dari kata Kakarut, kakoèt (bahasa Sunda) berakibat mengeluarkan tetesan darah. Peristiwa Etimilogi ini, lahir dan mengalami proses Konvensi Lafal (Pronunciation Conventions) melalui peristiwa Slip of the tongue.   Kridalaksana (1999:2), mengemukakan; Pengetahuan mengenai asal usul kata berikut ucapannya tidak harus dimiliki oleh setiap orang. Konvensi Lafal  menjadi akibat pembentukan salah satu rambu proses kerjasama sosial. Penulis menambahkan, bahwa proses Konvensi Sosial dapat menimbulkan keanekaragaman budaya sosial. Pelafalan kata yang dilakukan oleh setiap orang pada kasus-kasus tertentu terjadi karena kesulitan atau kesalahan mengucapkan, menirukan bentuk kata  (silp of the tongue). Hasil peristiwa Slip of the tongue ini, menunjukkan bahwa kesalahan pelafalan kata, ternyata dapat memperkaya bahasa dan menimbulkan keanekaragaman makna baru yang tercipta dalam pergaulan sosial.
Pandangan secara Semantik, proses perekaan (creation) dari kata yang tumbuh pada proses konvensi lafal (memafhumi kesalahan ucap) Bentuk nyata; Tergores (kakarut, kakoèt-bahasa Sunda); Slip of the tongue; Kakarut menjadi Gagarut; dan Konvensi lafal; Gagarut menjadi Garut.
Proses pembentukan makna kata berdasarkan pada peristiwa yang melatarbelakangi persetujuan Konvensi Lafal, Kata Kakarut (kakoèt, tergores, terluka) mengabaikan Semantik. Sebab, kakarut melalui proses Slip of the tongue menjadi Gagarut dan dari Gagarut mengalami proses peleburan dua fonem menjadi satu. Gagarut menjadi Garut. Garut berdasar pada wujud kata suatu peristiwa menapikan makna Kakarut (tergores) menjadi Garut. Ada makna melebur (terpenggal dan hilang). Jika proses Gagarut dari slip of the tongue menjadi Garut. Bentukan kata dasar yang salah, yakni, peniruan kata yang tidak sempurna kemudian dipenggal fonemnya menjadi Garut, maka akan menimbulkan bias makna. Namun kesepakatan pengucapan akibat konvensi lafal, Karut menjadi Garut, dianggap sudah menunjukkan citra dan sebutan terhadap suatu wilayah. Sebutan suatu daerah berdasarkan pada panggilan wilayah tersebut sudah dapat menunjukkan citra baik daerah (called femouse names). Nama panggilan ini merujuk pada tata bahasa,  wujud kata ganti dan simbolisasi. 

Pendekata Budaya
Budaya artinya pikiran, akal budi,  adat istiadat, proses menghargai sesuatu yang sudah berkembang dan memiliki nilai luhur. Pendekatan Budaya di Kab. Garut dapat ditunjukkan melalui kebersamaan prilaku sosial, cara berpikir, dan sikap. Adat istiadat, pandangan akan budaya, alam, wisata, dan kuliner. Budaya di Garut, mengarah pada sebuah penghormatan dan keyakinan  beragama yang kuat.
Nama kab. Garut berdasarkan pada budaya, adalah; 1) Kesepakatan ingin memajukan warga Garut agar terhindar dari berbagai peristiwa, bencana, dan kemiskinan warga; 2) Kesamaan pandangan, bahwa Garut adalah sebuah lembaga tempat tinggal dan bernaung seluruh warganya agar mencapai kemakmuran; 3) Gotong royong mewujudkan segala kebutuhan  dan keingina warga; 4) Proses ingin mengubah diri dari sesuatu yang jelek ke sesuatu yang lebih baik.

Pendektan Paradoks (paradox)
Pendekatan Paradox adalah suatu situasi atau kondisi yang muncul dari sejumlah premis (dianggap benar sebagai landasan kesimpulan). Kondisi yang muncul dari sejumlah premis ini diakui kebenarannya tapi bertolak belakang dari suatu pernyataan yang akan menghasilkan suatu konflik atau kontradiksi. Alasan premis adalah; 1) Anggapan benar; 2) Asumsi; 3) Kalimat atau proposisi yang dijadikan dasar penarikan kesimpulan. Paradox merupakan pengakuan atas kebenaran yang bertolakbelakang dari suatu pernyataan yang kontradiktif. Sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi.
Simbolisme nama Garut menurut pendekatan paradox, Garut dari kakarut, Gagarut, Garut, sudah menapikkan bahasa Sansekerta, dan menyetujui konvensi lafal yakni Slip of the tongue. Sebuah kesalahan menirukan namun kemudian ditetapkan sebagai sebuah kebenaran dari peristiwa yang terjadi yakni kakarut (tergores).
Garut (Sansekerta), adalah tanaman berumbi, berukuran kecil (tinggi 60-80 cm), berserat, berwarna putih, berbentuk silinder dan kulit bersisik. Umbi dapat dibuat keripik atau direbus untuk dimakan, diperas untuk diambil tepungnya (aci).Tanaman Garut, jarang dibudidayakan secara khusus. Mudah tumbuh di sembarangan tempat.
Karakter Tanaman Garut, menahun, tegak, dengan batang-batang yang bercabang menggarpu, lunak dan membengkak. Daun bertangkai panjang, berpelepah pada pangkalnya dan menebal. Helaian bentuk lonjong atau bundar, berujung runcing. Bunga majemuk di ujung batang. Umbi Garut menghasilkan pati yang berkualitas tinggi, berukuran halus dan berharga mahal, sumber karbohidrat alternatif untuk menggantikan tepung terigu
Menurut  pendektan paradok, jika  Kata Garut dari kata Kakarut, terluka dan berdarah, menyebabkan kesalahan mengucapkan dari semak berduri. Kemungkinannya kecil sekali untuk melukai dan menggores yang mengakibatkan tetesan darah. Sebab semak berduri jika disebutkan adalah Garut atau Sagu tidak memiliki duri dan bahkan lunak. Sagu tidak dapat melukai. Namun Ki Garut itu sendiri jika dapat melukai,  tidak dapat diwujudtunjukkan secara nyata.

Tinjauan Morfologi
Nama Garut merupakan peleburan kata dari Konvensi lafal (memaklumi kesalahan ucap). Kakarut menjadi Gagarut (Sunda), dan kemudian menjadi Garut. Jika pada awalnya kakarut artinya tergores (adj)  sebuah tindakan yang tidak disengaja. Maka kakarut bukanlah sebuah kesengajaan ingin melukai sesuatu. Kakarut masih memiliki makna tergores. Kakarut menjadi Gagarut karena ada fals of listening (kesalahan mendengar) menjadi fals of speaking (kesalahan mengucapkan) pada akhirya menjai Gagarut, namun kata ini kemudian tidak memiliki makna. Kecuali sebuah permakluman atas fals of speaking. Selanjutnya, Gagarut sebagai akibat fals of speaking mengalami proses peleburan fonem. Menjadi Garut. Maka kata ini pun tidak memiliki makna. Kecuali permakluman.
Sebenarnya, Garut adalah kata yang mandiri, bukan fals of listening, bukan fals of speaking, bukan pula Peleburan fonem. Garut adalah sejenis tumbuhan berumbi. Garut adalah sagu. Pohon yang mampu tumbuh secara liar di wilayah yang kemudian disebut Garut. Tumbuhan ini merata ada di bentangan wilayah ini. Sagu dikonsumsi sebagai makanan penyelang antara makanan pokok. Sagu dikonsumsi menjadi bahan makanan dan olahan makanan. Pengisi  percakapan, upacara adat, dan cemilan. Sagu tumbuhan kecil, tidak memiliki duri. Ia adalah tumbuhan berumbi. Jika sagu atau Garut ini dapat melukai orang kemungkinnya sangat kecil. Mustahil.
Ada dua pertimbangan nama Garut, pertama, jika Garut adalah sagu tidak ada alasan tergores dan terluka. Fals of listening dan fals of speaking. Garut dari bahasa sansekerta sebagai induk, rujukan kata pada bahasa. Jika Garut diabadikan menjadi nama suatu wilayah, bukan karena ia melukai melainkan karena ia tumbuh banyak di belahan wilayah. Maka Sagu menjadi ciri khas daerah ini. Perkembangan kuliner di Garut yang menggunakan pati atau aci sebagai bahan dasarnya cukup banyak dan kini menjadi ciri khas daerah Garut.
Ke dua, Garut, (sansekerta) adalah sagu, enau, kawung. Aren. Tumbuhan kawung ini, sudah menjadi konsumsi pokok untuk masyarakat pada wilayah tertentu. Pohon kawung tumbuh di semak semak atau tebing curam. Memiliki karakter pohon yang dilindungi oleh sabut (ijuk), pada sabut ada duri. Duri (harupat) berkarakter keras, tajam, dan mudah patah. Kawung berbuah kolang kaling dan kawung pun menghasilkan gula. Daunnya dapat dipergunakan untuk sapu lidi.
Jika panitia pembabatan lahan terluka kemungkinan besar luka karena menebang pohon Kawung dan tergores oleh harupat dan terluka. Kemungkinan besar tergores, terluka oleh harupat ini bukan oleh ki Garut atau cucuk Garut. Duri tajam ini adalah harupat dari pohon bernama Garut atau kawung.
Dasar nama garut disematkan sebagai nama Garut, bukan dariperistiwa terluka oleh semak berduri, melainkan oleh kata yang mandiri yakni Kawung (garut-sansekrta).

Efilog
Kontradiksi nama Garut bukan dari peristiwa tergores oleh semak belukar, kakarut, gagarut dan menjadi Garut, melainkan dari pohon kawung/sagu/aren/enau (sangsekerta). Begitu pula, Garut bukan berdasarkan pada tumbuhan sagu kecil melainkan sagu kawung.
   
Daftar Pustaka
Kasupardi, Endang (2016) Silsilah nama Kecamatan di Kabupaten Garut
https://id.wikipedia.org/wiki/Paradoks
https://www.khasiat.co.id/umbi/garut.html
http://www.bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/500-tanaman-umbi-garut
https://id.wikipedia.org/wiki/Enau
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Garut