Jumat, 11 Oktober 2019

MENATAP MASA LALU TANAH BANDUNG DARI STONE GARDEN


oleh Enang Cuhendi


“Sejarah bukan seni bernostalgia, tapi sejarah adalah ibrah, pelajaran, yang bisa kita tarik ke masa sekarang, untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik.”
(Ahmad Puadi, Negeri Lima Menara.)


Selamat datang di Kawasan Konservasi Stone Garden
(Sumber: Koleksi Pribadi Penulis)

Senin 19 Desember 2018, sekeluar dari pintu tol Padalarang mobil melaju kearah Cianjur. Sekira lima kilometer dari Situ Ciburuy Padalarang setelah melewati perbukitan kapur mobil berbelok ke kanan keluar dari jalan raya melewati jalan desa yang sedikit berdebu. Beberapa kali mobil dipaksa menepi karena berpapasan dengan truk-truk tua pengangkut kapur. Akhirnya kami pun sampai di lokasi. “Stone Garden” atau taman batu namanya. Stone Garden, adalah sebutan untuk hamparan tanah seluas dua hektar yang diisi oleh formasi batuan tak beraturan yang indah dan membentuk taman alam.

Stone Garden merupakan salah satu dari dua target utama perjalanan penulis bersama MGMP IPS Kabupaten Garut. Target lainnya adalah Guha Pawon. Rabu, 19 Desember 2018 adalah hari yang kami tetapkan untuk mengeksplorasi dua lokasi ini.

Berada di Kawasan Karst Citatah, Kampung Giri Mulya, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Stone Garden memang didominasi oleh batuan. Seluas mata memandang hamparan yang terlihat hanyalah formasi batuan-batuan yang indah dan unik. Yang menjadi unik batuan di sini bukanlah jenis batuan biasa seperti yang umumnya ada di wilayah pegunungan.  Jenis batuan di kawasan ini merupakan jenis karst atau batu gamping, yaitu batuan endapan yang terbentuk di dasar lautan dari tumpukan cangkang binatang laut dalam kurun waktu jutaan tahun.

Mengapa ada batuan karst di sini padahal wilayah ini berupa pegunungan dengan ketinggian puncak berada di 908 meter di atas permukaan laut? Ya, batu yang ada di lokasi Goepark Stone Garden memang betu-betul kumpulan karst atau batu karang. Dahulu daerah karst itu merupakan dasar laut dangkal. Batuan kapur yang ada dibentuk oleh terumbu karang di dasar laut. Melalui proses geologi tumpukan batuan endapan ini terangkat ke permukaan laut dan membentuk dataran atau pegunungan batu gamping seiring mengeringnya laut dangkal itu.  Pembentukan Stone Garden diperkirakan terjadi pada zaman Miosen, 20-30 juta tahun silam (KRCB, 2006).

Kawasan Karst Citatah termasuk warisan tertua di Pulau Jawa. Terbentang sepanjang enam kilometer dari mulai Tagog Apu hingga Selatan Rajamandala. Ciri utama wilayah ini sebagian besar tanahnya berupa batuan kapur. Masyarakat sekitar umumnya memanfaatkan sumber daya alam ini untuk berbagai kebutuhan dari mulai bahan bangunan sampai hiasan rumah.

Karst memang memiliki beberapa nilai penting. Dilihat dari sisi ilmiah keberadaan karst bermanfaat untuk pengembangan dan apliksi berbagai jenis ilmu pengetahuan, baik yang berbasis kebumian, biologi, kehutanan, pertanian, arkeologi, sosial budaya maupun hukum. Secara ekonomi karst berfungsi sebagai sebagai sumberdaya hayati maupun nirhayati yang bermanfaat di bidang pertambangan, kehutanan, pertanian, pengelolaan air, pariwisata dan bio ekonomi. Karst juga merupakan potensi alam dengan beragam aspek keindahan, rekreasi, pendidikan, sosio-ekonomi dan sosio-budaya setempat.

Berada di Stone Garden mata ini dimanjakan dengan pemandangan indah. Sekeliling terlihat formasi batuan yang terentuk secara alami tanpa campur tangan manusia. Batuan tertinggi oleh pengelola dinamakan Puncak Panyawangan.

Dari Puncak Panyawangan ketika pandangan di arahkan ke timur nampak jelas sebuah cekungan besar seperti mangkuk terhampar dari Cipatat sampai ke arah Bandung. Keberadaan Stone Garden seolah membuktikan bahwa dulunya dataran tinggi Bandung merupakan sebuah laut dangkal atau danau besar. Imajinasi ini pun bergerak liar ke masa jutaan tahun yang lalu. Membayangkan kawasan yang dikenal dengan sebutan Bandung merupakan daratan luas yang berupa dasar danau.

Puncak Panyawangan di Stone Garden
(Sumber: Koleksi Pribadi)

Danau Bandung Purba atau dalam istilah geologi disebut sebagai Bandung Basin, diperkirakan terbentuk ratusan ribu, bahkan ada yang menyebut jutaan tahun lalu. Danau yang memanjang sekira 60 Kilometer terbentang mulai dari kawasan Padalarang di barat sampai Nagreg di timur dan dan 40 kilometer dari Lembang di utara sampai Kawasan Bandung Selatan. Garis tinggi 725 meter yang melewati Padalarang, Bandung Utara, Cicalengka, Nagreg, dan Banjaran sampai ke sebelah barat Cililin merupakan garis tepi danau.

Di banyak tempat di sekitar danau, wilayah di atas ketingian 725 meter, banyak ditemukan hasil-hasil kebudayaan yang berupa flakes dari bahan obsidian. Flakes tersebut umumnya berupa microlith atau batuan kecil. Daerah penghasil batuan obsidian terdapat di Nagreg dan Garut Utara. Menurut Soekmono (1973: 46-47) flakes dari sekitar Danau Bandung ini menjadi inti dari flakes culture  dan diperkirakan berasal dari masa mesolithikum. Sedangkan mengenai pecahan tembikar dan perunggu yang juga banyak ditemukan menunjukkan bahwa sesudah jaman mesolithikum berakhir, kebudayaan di sana berlangsung terus dan mengikuti perkembangan berikutnya menjadi neolithikum dan jaman perunggu.

Di atasnya ditutupi oleh air danau dengan berbagai jenis ikan berenang menikmati alaminya kondisi air saat itu. Sebagian sisa fosil ikan yang pernah hidup di danau ini ditemukan di daratan Kota Bandung dan disimpan di Museum Geologi Bandung.

Bagaimana proses terbentuknya Danau Bandung? Banyak teori tentang hal ini. Seorang geolog Belanda yang cukup konsen mempelajari karakter dan stratigrafi bumi Indonesia, Reinout Willem van Bemmelen, dalam bukunya The Geology of Indonesia, memberikan pemaparan bahwa sejarah geologi Bandung dapat ditelusuri hingga sekitar 20 juta tahun yang lalu. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap bentuk bantuan dan morfologi gunung-gunung berapi di sekitar Bandung ia berpendapat bahwa Danau Bandung Purba terbentuk karena Sungai Citarum purba yang tersumbat. Pembendungan ini disebabkan oleh pengaliran debu dari letusan Gunung Tangkuban Parahu yang sebelumnya didahului oleh letusan dahsyat dari Gunung Sunda Purba.

Kurang lebih sekitar 14 juta-4 juta tahun yang lalu, Van Bemmelen memperkirakan dasar laut mulai terangkat secara tektonik menjadi daratan dan daerah pegunungan. Selanjutnya serangkaian aktivitas vulkanik lalu menyebabkan lahirnya bukit-bukit yang mengarah ke bagian utara selatan; antara Bandung dan Cimahi.

Dua juta tahun yang lalu aktivitas vulkanologi ini sepenuhnya bergeser ke utara dan membentuk Gunung Sunda, gunung api purba yang kemudian meletus membentuk kaldera, pada gilirannya memunculkan Gunung Tangkuban Parahu.

Seakan memperkuat pendapat Van Bemmelen, Sutikno Bronto bersama Udi Hartono, pada tahun 2006 mengkaji Potensi Sumber Daya Geologi di Daerah Cekungan Bandung, juga memperkirakan bahwa Cekungan Bandung merupakan sebuah kaldera.
Beberapa peneliti juga menemukan di antara tanah purba atau batuan sedimen terbawah Cekungan Bandung terdapat lapisan abu gunung api. Temuan yang kerap dihubungkan dengan kegiatan gunung api dan mungkin mengawali pembentukan Danau Bandung.

Tahun 1992, Tim peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (Indonesia) yang dipimpin oleh Dam, M. A. C. dan Suparan mengungkapkan hal yang berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya berkenaan dengan sejarah geologi Bandung. Menggunakan metode penanggalan radiometri dengan isotop carbon C-14 dan metode pengamatan bentuk serta singkapan morfologi, para peneliti ini bahkan telah menjumpai umur yang jauh lebih tua untuk beberapa kejadian dari yang diperkirakan sebelumnya.

Mereka mencari lapisan endapan sedimen Danau Bandung dengan melakukan pengeboran di dua tempat; 60 meter di Bojongsoang dan mencapai kedalaman 104 meter di Sukamanah. Dalam laporannya  menyimpulkan bahwa Danau Bandung Purba tidak terbentuk atau disebabkan oleh peristiwa letusan Gunung Sunda dan atau Gunung Tangkuban Parahu. Danau Bandung menurut mereka terjadi karena peristiwa tektonik dan peristiwa denudasi (proses pengikisan permukaan yang mengakibatkan berkurangnya ketinggian) yang terjadi pada 125 ribu tahun yang lalu.



Seiring waktu air danau pun surut dan mengering. Di atas kawasan Bandung tidak ada lagi wilayah yang digenangi air danau.   Berdasarkan hasil penelitian terakhir air Danau Bandung surut ke arah Barat tepatnya di sekitar Cukang Rahong perbatasan Kabupaten Bandung Barat (KBB) dengan Rajamandala. Bagian Timur Curug Jompong yang sekarang dibuat saluran oleh Pemda KBB. Sebelumnya ada anggapan bahwa danau purba ini jebol di Sanghyang Tikoro, akan tetapi pendapat ini diragukan mengingat ada perbedaan ketinggian yang nyata. 

Bagaimana Danau Bandung Purba ini kemudian terkuras habis? Konon-masih banyak perdebatan untuk alasan pasti hilangnya air dari danau itu disebabkan terbukanya wilayah-wilayah pembendung. Ada juga yang berpendapat surutnya air Danau Bandung Purba karena proses pendangkalan akibat material-material yang masuk ke dalam danau yang kemudian mengendap.

Setelah air surut, daratan bekas danau Bandung berubah menjadi kawasan yang subur. Hutan yang lebat tumbuh menyelimuti kawasan ini. Beraneka binatang buas, mulai dari monyet, rusa, badak sampai harimau atau maung hidup di sini. 
 
Ketika manusia mulai muncul menghuni Bumi, wilayah Bandung pun mulai dihuni manusia. Koesoemadinata, geolog dari ITB (Institut Teknologi Bandung) yang mengkaji asal-usul manusia Sunda, lebih jauh mengatakan bahwa daerah-daerah di sekitar Danau Bandung Purba kemungkinan sudah berpenghuni. Pendapatnya itu dibuktikan dengan temuan dari sisa-sisa aktivitas manusia masa lampau, salah satu yang cukup terkenal adalah Situs Gua Pawon.

Penemuan fosil manusia purba di Guha (Goa) Pawon yang berada di Krast Citatah ketinggian di atas 700 mpdpl menjadi bukti  keberadaan kehidupan manusia purba penghuni wilayah Bandung Purba. Fosil diperkirakan berusia antara 7.000 sampai dengan 10,000 tahun yang lalu. Bahkan ada yang beranggapan bahwa manusia Guha Pawon menjadi saksi keberadaan Danau Bandung. Temuan ini sekurang-kurangnya dapat memberi kita gambaran bahwa saat Bandung masih terandam air, sudah ada yang menyaksikan; nenek moyang kita mungkin sesekali berenang di danau ini.

Semakin lama Bandung kuno semakin berkembang. Kawasan hutan berubah menjadi perkampungan dan kemudian menjadi kota dengan beberapa kota lain mengelilinginya. Bandung berkembang menjadi Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat.

Sejenak berpikir seandainya kawasan wisata yang pertama kali ditemukan oleh Tim Geologi ITB yang tergabung dalam Tim Riset Ceungan Bandung (TRCB) dikelola dengan profesional bukan mustahil akan lebih terkenal. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pasir Pawon harus mampu menjaga image objek wisata ini dengan baik.

Lamunan pun terjaga ketika seorang teman mengajak pulang karena hari semakin siang. Sebelum pamit ada sedikit saran, agar tidak kepanasan dan bisa menikmati udara segar sangat disarankan untuk datang ke lokasi ini di pagi hari, dijamin pasti puas.


(Tulisan ini dikutip dari buku Enang Cuhendi, (2019), Bukan Catatan Perjalanan Biasa, Guneman, Bandung)