Kamis, 24 Oktober 2019

MENGENAL SOSOK MENDIKBUD BARU


Hasil gambar untuk nadiem makarim

oleh Enang Cuhendi

Rabu, 23 Oktober 2019 bertempat di istana negara Presiden Joko Widodo melantik menteri-menteri baru yang akan membantu kerja presiden untuk lima tahun ke depan. Ke-38 menteri dan pejabat negara setingkat menteri ini diberi label Kabinet Indonesia Maju.

Satu dari 38 menteri baru yang menarik perhatian khalayak, khususnya dunia pendidikan adalah sosok menteri pendidikan dan kebudayaan yang baru. Usianya masih sangat muda, yaitu 35 tahun. Pendidikannya bukan profesor atau doktor, tetapi "hanya" pasca sarjana, S2. Dia bukan pula dari kalangan pendidik, tetapi pengusaha. Dia adalah Nadiem Makarim.

Siapa sosok anak muda ini? Nama lengkapnya Nadiem Anwar Makarim. Lahir di Singapura, 4 Juli 1984 dari pasangan Nono Anwar Makarim dan Atika Algadri. Ayahnya adalah seorang aktivis dan pengacara terkemuka keturunan Minang-Arab. Sedangkan ibunya merupakan penulis lepas, putri dari Hamid Algadri, salah seorang perintis kemerdekaan Indonesia. Paman Nadiem adalah seorang purnawirawan berpangkat letnan jenderal yang cukup terkenal, yaitu Jacky Anwar Makarim.

Bicara mengenai riwayat pendidikan, Nadiem yang lahir di Singapura menjalani proses pendidikan SD hingga SLTA berpindah-pindah dari Jakarta ke Singapura. Pendidikan SMA-nya diselesaikan di Singapura. Kemudian pada 2002 ia mengambil jurusan Hubungan Internasional di Brown University, Amerika Serikat. Ia sempat mengikuti pertukaran pelajar di London School of Economics. Setelah memperoleh gelar sarjana pada tahun 2006, tiga tahun kemudian ia mengambil pasca-sarjana dan meraih gelar Master of Business Administration di Harvard Business School.

Pengangkatan Nadiem Makarim sebagai mendikbud baru memang cukup mengagetkan. Bagaimana tidak, sejatinya ia bukan pendidik atau dari dunia pendidikan seperti para pendahulunya. Nadiem adalah seorang pengusaha Indonesia. Ia founder serta CEO decacorn Go-Jek sebuah perusahaan transportasi dan penyedia jasa berbasis daring yang beroperasi di Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Singapura, Vietnam dan Thailand. Saat ini Go-Jek merupakan perusahaan rintisan terbesar di Indonesia. Pada bulan Agustus 2016, perusahaan ini memperoleh pendanaan sebesar USD 550 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun dari konsorsium yang terdiri dari KKR, Sequoia Capital, Capital Group, Rakuten Ventures, NSI Ventures, Northstar Group, DST Global, Farallon Capital Management, Warburg Pincus, dan Formation Group.

Karir dan bisnis Nadiem tidak ada sedikit pun yang berkaitan secara langsung dengan dunia pendidikan. Pada 2006 setelah memperoleh gelar MBA, Sekembalinya dari Harvard dengan gelar MBA, Nadiem memutuskan untuk pulang ke tanah air dan bekerja di McKinsey & Co. Nadiem menjadi konsultan McKinsey selama 3 tahun ia terjun sebagai pengusaha dengan mendirikan Zalora Indonesia. Di perusahaan tersebut ia juga menjabat sebagai Managing Editor. Dia mengaku telah belajar cukup banyak di Zalora, yang merupakan tujuan utamanya ketika menerima pekerjaan di perusahaan itu. Di Zalora, Nadiem memiliki kesempatan membangun mega startup dan bekerja dengan sejumlah talenta terbaik di kawasan Asia.

Setelah keluar dari Zalora, pada 2012 ia kemudian membangun startup sendiri. Ia mengembangkan Gojek dan Kartuku. Nadiem  menjadi Chief Innovation Officer Kartuku. Saat awal berdiri, Kartuku tidak ada kompetitor dalam sistem pembayaran non-tunai di Indonesia. Ketika Go-Jek semakin berkembang Kartuku kemudian diakuisisi Gojek untuk memperkuat GoPay. 

Saat ini Go-Jek sudah menjadi salah satu dari 19 decacorn di dunia, dengan valuasi Go-Jek mencapai USD 10 miliar. Pertama kali berdiri Gojek  hanya sebagai call centre, menawarkan hanya pengiriman barang dan layanan ride-hailing dengan sepeda motor. Saat ini Go-Jek telah bertransformasi menjadi super app, menyediakan lebih dari 20 layanan, mulai dari trasportasi, pengantaran makanan, kebutuhan sehari-hari, pijat, bersih-bersih rumah, logistik hingga platform pembayaran digital yang dikenal dengan GoPay. Karier bisnis Nadiem Makarim di Go-Jek membawanya masuk dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia versi Majalah Globe Asia. Nadiem Makarim diperkirakan memiliki nilai kekayaan mencapai US$100 juta.

Di bidang organisasi, Nadiem menjabat sebagai salah satu komisaris Pathways for Prosperity for Technology and Inclusive Development yang fokus membantu negara-negara berkembang untuk beradaptasi dengan berbagai inovasi baru dunia digital yang mengubah budaya bekerja. Di organisasi ini ia bersama dengan Melinda Gates dan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani,

Keberhasilannya di bidang bisnis telah membawa Nadiem di usianya yang masih sangat muda memperoleh aneka penghargaan. Pada 2016, Nadiem menjadi orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan The Straits Times Asian of the Year sejak pertama kali didirikan pada 2012. Penghargaan tersebut diberikan kepada individu atau kelompok yang secara signifikan berkontribusi pada meningkatkan kesejahteraan orang di negara mereka atau Asia pada umumnya. Dengan diterimanya penghargaan tersebut, Nadiem sejajar dengan penerima sebelumnya, seperti pendiri Singapura, Lee Kuan Yew, PM India Narendra Modi, PM Jepang Shinzo Abe, Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Myanmar Thein Sein. 

Pada tahun 2017, Go-Jek masuk dalam Fortune’s Top 50 Companies That Changed The World, dan mendapatkan peringkat 17. Pada tahun 2019, Gojek kembali menjadi satu-satunya perusahaan Asia Tenggara yang masuk ke daftar Fortune’s 50, dan naik ke peringkat 11 dari 52 perusahaan kelas dunia.

Nadiem pun masuk dalam daftar Bloomberg 50 versi 2018. "The Bloomberg 50" berisi sosok-sosok ternama dalam bidang bisnis, hiburan, keuangan, politik, hingga ilmu pengetahuan dan teknologi. Sepak terjang Nadiem yang kini mengembangkan Gojek ke Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam membuat Bloomberg menyandingkan namanya dengan presiden Mexico Andres Manuel Lopez Obrador, pendiri Spotify Daniel Ek, pop star Taylor Swift dan grup idol Kpop BTS. Bloomberg menilai tidak ada aplikasi lain yang telah mengubah kehidupan di Indonesia dengan cepat dan mendalam, seperti Gojek. Aplikasi Go-Jek dengan fokus pada pemesanan ojek, dan kemudian berkembang menjadi aplikasi untuk membayar tagihan, memesan makanan, hingga membersihkan rumah.

Pada Mei 2019, Nadiem menjadi tokoh termuda se-Asia yang menerima penghargaan Nikkei Asia Prize ke-24 untuk Inovasi Ekonomi dan Bisnis. Penghargaan diberikan kepada individu atau organisasi yang berkontribusi bagi pengembangan kawasan Asia dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Asia. Penghargaan ini berkaitan dengan kontribusi Go-Jek dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, memudahkan keseharian pengguna hingga meningkatkan pendapatan mitranya. Go-Jek berkontribusi 55 Triliun terhadap perekonomian Indonesia, dengan penghasilan rata-rata mitra Go-Ride dan Go-Car naik 45% dan 42% setelah bergabung dengan Go-Jek, dan volume transaksi UMKM Kuliner naik 3.5 kali lipat semenjak menjadi mitra Go Food. Nadiem menggandakan hadiah yang diterima menjadi Rp 860 juta untuk donasi pendidikan anak mitra pengemudi Go-Jek. 


Disarikan dari berbagai sumber