Rabu, 09 Oktober 2019

MENGUAK MISTERI GUNUNG KALEDONG DAN HARUMAN

Oleh Lina Herlina

Gunung Kaledong yang terletak di sebelah utara Kota Garut bukanlah termasuk gunung yang terkenal di Kabupaten Garut. Tetapi gunung yang ukurannya tidak sebesar Cikuray ini memiliki arti yang sangat besar bagi penduduk yang berada di sekitarnya. Karena letaknya berbatasan dengan Kabupaten Bandung, maka sebagian dari gunung ini dimiliki oleh pemerintahan Kabupaten Bandung.
Gunung yang memiliki ketinggian 1.251 mdpl ini berlokasi di antara Desa Ciaro Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung, Desa Ciherang Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung dan Desa Tanggulun Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut. Di gunung ini terdapat batu keramat yang sejak lama telah ada, masyarakat menamakannya batu jubleg, batu ampar atau lulumpang, karena bentuknya terlihat seperti lumpang. Keberadaan batu itu sendiri sudah ada sejak jaman kerajaan dahulu. Menurut cerita masyarakat sekitar pernah ada seorang ulama yang cukup sakti mandraguna, memiliki pusaka berupa sebuah jubleg (lumpang) dan juga halu (alu).

           (Sumber: Jelajah Limbangan)

Jubleg adalah alas yang digunakan untuk memisahkan antara beras dengan gabah saat menumbuk padi atau bisa dijadikan alas untuk menumbuk apapun selain padi dan gandum seperti rujak, ulen (uli), kopi atau makanan lainnya yang perlu dihaluskan. Sedangkan halu adalah alat yang berbentuk panjang untuk menumbuknya.
Namun pusaka halu tersebut telah dicuri konon katanya menurut cerita masyarakat oleh seorang paranormal. Semenjak telah terjadi pencurian pusaka itu, banyak mitos yang berkembang bahwa banyak orang-orang luar dari desa sekitar yang meninggal dengan tragis dan jasadnya sampai tidak ditemukan. Selain itu juga menurut mitos dari masyarakat jika sore menjelang magrib sering ada penampakan kakek-kakek berjenggot putih. Konon katanya penampakan itu adalah tempat singgahnya prabu siliwangi.
Selain lulumpang ada lagi benda sejarah lain yang sering dikunjungi masyarakat sekitar tapi belum terpublikasi media, yaitu Batu Korsi dan pohon kiara payung. Batu Korsi letaknya di tebing Gunung Kaledong kurang lebih tiga perempat perjalanan sebelum menuju puncaknya. Untuk melihatnya sangat sulit karena berada di tebing, juga bentuknya yang besar dan tertutupi oleh rimbunan pohon dan semak belukar. Sementara kiara payung adalah pohon kiara yang sangat besar berbentuk seperti payung bila dilihat dari kejauhan. Namun sekarang sudah tertutupi rimbunan pepohonan yang lain dan untuk menjangkaunya ini pun sangat sulit untuk dilalui.


          (Sumber: Situs Gunung Kaledong)

Untuk melihat benda pusaka tersebut pengunjung harus menaiki Gunung Kaledong sampai puncaknya karena letak peninggalan sejarah ini berada berada di atas puncak gunung itu. Perlu perjuangan yang cukup ekstra untuk naik ke puncak, berhubung medan yang sangat licin karena jalanan selalu basah tertutup dedaunan dan pepohonan yang lapuk disertai rapatnya pepohonan dan semak belukar, belum lagi di tengah perjalanan terkadang para pendaki berpapasan dengan hewan-hewan liar seperti babi hutan, ular sanca, cangehgar dan hewan liar lainnya.
Namun sesampainya di puncak, rasa capek akan segera hilang, karena pendaki akan disuguhkan dengan takjubnya pemandangan yang begitu indah diwarnai dengan wewangian semerbaknya rerumputan gunung. Jika kita menatap ke sebelah barat terlihat hamparan daerah timur dari Kabupaten Bandung, atau menatap hamparan perkampungan dari sebelah utara Kabupaten Garut. Para pendaki pun bisa mencicipi madu yang banyak dihasilkan oleh lebah-lebah liar yang ada dipepohonan sekitar lulumpang tersebut.
Seorang masyarakat di sekitar menyarankan jika ingin naik ke Gunung Kaledong diusahakan harus berangkat pagi hari dan setelah waktu menunjukkan tengah hari tepatnya setelah adzan duhur para pengunjung harus sudah turun kembali, karena menurut mitos yang beredar jika lebih dari itu maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (Lukman Maulana, info Nagreg).


          (Sumber: Dokumen Pribadi)
Terlepas dari mitos tersebut, Gunung Kaledong tetaplah memiliki magnet tersendiri untuk dinaiki dan dinikmati keindahannya. Bahkan melihat bentuknya yang mengerucut secara simetris menyerupai piramida, Gunung Kaledong menjadi salah satu dari ketiga gunung yaitu Haruman dan Sadahurip yang sedang diteliti oleh tim geologi dan antropologi oleh staf khusus presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana alam. Penelitian ini terkait prediksi adanya peninggalan bersejarah yang terkubur di dalam gunung tersebut seperti yang dilansir oleh Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Garut, Warjita dalam Kompas.com.
Menurut info Nagreg status ketiganya dinyatakan dalam penelitian tim ahli oleh staf kepresidenan tersebut, kata warjita sesuai surat staf ahli kepresidenan kepada Bupati Garut  tertanggal 29 Nopember 2011. Meski sudah melayangkan surat dari staf kepresidenan kepada Bupati, akan tetapi hingga saat ini tim ahli belum melakukan penelitian terhadap tiga gunung tersebut, kecuali pada penelitian sebelumnya yaitu tahun 2008. Alasannya karena menunggu Pemkab Garut untuk menghimpun sejarah dari tiga gunung tersebut. Nampaknya hingga kini sejarah ketiganya belum dapat terhimpun.
Pada tahun 90-an penduduk seputaran Gunung Kaledong banyak yang membuka pegunungan menjadi lahan perkebunan, sehingga gunung menjadi gundul. Dan efeknya penduduk di sekitarnya mengalami kesulitan air. Melihat keadaan seperti itu pemerintah masa Presiden Soeharto mengambil alih gunung dengan membelinya dari para penduduk pemilik lahan kemudian ditanami oleh pepohonan untuk dijadikan sebagai hutan yang dilindungi supaya tidak terjadi longsor. Maka sejak saat itu masyarakat semakin jarang dan enggan untuk mengunjunginya. Sehingga kondisi tempat bersejarah tersebut sangat tak terawat dan penuh dengan semak belukar terutama rumput berduri alimusa.
Kalau berbicara Gunung Kaledong, maka tak kan terlepas dari Gunung Haruman, karena berhadapan dengan Gunung Kaledong berdiri megah Gunung Haruman yang memiliki ketinggian 1217 mdpl terbelah oleh perkampungan dari kecamatan Cibiuk dan Kadungora. Sehingga beredar kisah dari para orang tua bahwa dahulu kala Gunung Kaledong ini dipikul bersama Gunung Haruman, karena berat sebelah Gunung Haruman lebih ringan, maka ditambahkannya gunung kecil yang bernama Gunung Leutik dan Pais Dage sebagai penyeimbangnya di bawah Haruman.
Keserasian dua gunung tersebut jika digambarkan bagaikan sepasang kekasih yang berdampingan berjalan beriringan di sela hamparan padi menguning bak mutu manikam, seakan satu sama lain saling menjaga dan menguatkan dalam melindungi dan menjaga kelangsungan hidup penduduk di sekitarnya.


         (Sumber: Jelajah Limbangan)
Serupa dengan Gunung Kaledong, Gunung Haruman yang terletak di Desa Harumansari, Kecamatan Kadungora dan berjarak satu jam dari kota Garut pun diyakini memiliki keramat. Ada benda sejarah yang hingga kini, masih tersimpan di sana. Menurut Kadisbudpar Kabupaten Garut Drs. Mlenik Maumeriadi dalam Poros Garut selain banyak keajaiban yang tersimpan tepat di puncak tertinggi  Gunung Haruman terdapat batu berbentuk kepala kuda. Tetapi batu tersebut kalau dilihat bentuknya saat ini sudah tidak utuh lagi, sebab sudah hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.

        (Sumber: Jelajah Limbangan)

Sebenarnya untuk kalangan wisatawan seperti para pendaki gunung, nama Gunung Haruman sendiri tidaklah seterkenal Gunung Papandayan, Guntur dan Cikuray yang memang sudah menjadi salah satu Icon Garut yang disebut Paguci. Seperti dilansir dalam Kisah Para Pejalan, di kalangan para peziarah nama Gunung Haruman sendiri tidaklah asing, karena gunung ini  merupakan salah satu objek tujuan bagi para peziarah di nusantara ini terlebih untuk masyarakat Jawa dan Madura.
Masyarakat meyakini batu berbentuk kepala kuda merupakan petilasan eyang wali sebagai peninggalan Prabu Kiansantang. Batu megalitik peninggalan zaman pra-sejarah yang kondisinya masih kasar itu merupakan tempat pemujaan masyarakat yang hidup pada masa pra- sejarah. Mereka sengaja menempatkannya karena terdorong keyakinan adanya hal yang gaib. Sejak zaman pra-sejarah masyarakat yang berdomisili di kawasan kaki Gunung Haruman mempercayai adanya Tuhan atau hal  gaib. Sebagai media tempat ibadah atau menyembah dengan meletakkan batu berbentuk kepala kuda pungkas Mlenik. Batu tersebut merupakan sosok jelmaan dari kuda yang menjadi tunggangan eyang wali pada jaman dahulu, yaitu sebagai kendaraan untuk bepergian ketika akan berdakwah ke luar wilayah dan saat akan pergi ke tanah suci Makkah.
Meski keberadaan batu kuda tersebut sudah tinggal pecahannya saja, menurut sumber yang dihimpun Harian Garut batu tersebut awalnya persis seperti kuda yang menjelma. Bahkan orang sering menganggap aneh dan menjelma seperti batu emas. Terkadang menjelma seperti dokar, bahkan sebagian masyarakat secara gaib suka melihat sesosok kuda berupa emas yang mengelilingi rumahnya pada jam dan hari tertentu.
Menurut kisah para pejalan pada awalnya batu kuda itu masih utuh, kepalanya ada di sebelah utara mengarah ke daerah Limbangan, perut serta kakinya mengarah ke Timur ke daerah Cibiuk, Leuwigoong dan Cibatu. Sedangkan punggung dan ekornya mengarah ke Barat dan selatan ke daerah Kadungora dan Leles. Setiap bagian dari batu tersebut memiliki makna yang berhubungan dengan wilayah yang berada di sekitaran Gunung Haruman.
Lebih lanjut kisah para pejalan menceritakan mengenai keberadaan harta karun peninggalan dari DI/TII yang sudah mengakar di masyarakat sekitar. Pada saat terjadi Pagar Betis yaitu operasi pengepungan DI/TII oleh militer dibantu oleh masyarakat, mereka terdesak dan memilih mengubur hartanya yang berupa emas dan juga senjata serta helm baja yang mereka bawa di satu titik lalu ditanami bambu di atasnya. Di lain cerita di gunung ini terdapat pula batu yang memiliki kandungan emas. Hingga saat ini bagi masyarakat yang percaya dengan keberadaan harta tersebut masih melakukan pencarian meskipun terkendala dengan banyaknya rumpun bambu haur di sana.
Di Gunung Haruman pun terdapat tiga makam keramat yaitu makam Syekh Maulana Malik Ibrahim, Syekh Jafar Assidiq dan makam Nyai Fatimah. Beiau merupakan tokoh-tokoh penting dalam penyebaran Islam di tanah Pasundan khususnya Garut.

Menurut NU Online Syekh Jafar Assidiq sendiri bersahabat baik dengan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan dan Syekh Maulana Mansur Banten. Bahkan persahabatannya dengan Syekh Maulana Banten tergambar dalam gaya arsitektur bangunan mesjid yang bernama mesjid Agung Syaikh Ja’far Shiddiq. Mesjid yang sudah bebrapa kali mengalami renovasi tersebut diperkirakan sudah berusia lebih dari 400 tahun dan sampai hari ini “pataka” yang terbuat dari ukiran batu dan dipasang di pucuk atap bangunan mesjid tersebut masih utuh. Mesjid tersebut berlokasi beberapa kilo meter dari kaki Gunung Haruman, tepatnya di jalan Pesantren Tengah, Desa Cibiuk Tengah, Kecamatan Cibiuk dan masyarakat setempat sering menyebutnya dengan Mesjid Agung, Mesjid Keramat atau Mesjid Embah Wali. Selain mewariskan mesjid ada juga peninggalan lain dari puteri Syekh Ja’far Shiddiq yang bernama Nyimas Fatimah yaitu resep kuliner Sambel Cibiuk yang sampai sekarang masih terkenal karena kelezatannya, tak menimbulkan panas di perut dan menambah nafsu makan. Kelezatan sambel Cibiuk sudah terkenal di beberapa kota besar di Indonesia.
Gunung Haruman pun merupakan salah satu gunung yang mempunyai aura mistis. Hal ini sudah lama tersebar di kalangan masyarakat sekitar. Banyak yang mengalami kejadian-kejadian di luar nalar tersebut seperti halnya para pendaki. Ditambah lagi sering terdapat oknum-oknum tertentu yang memnfaatkan ke mistisan Gunung Haruman untuk melakukan pesugihan demi memperkaya diri, ataupun yang sekedar mencari ilmu kebatinan. Ada tebing batu yang mengarah ke kampung Pojok di Gunung Haruman yang berbentuk batu bercelah yang biasa dipergunakan untuk bertapa atau muja. Bila mereka berhasil dalam pemujaannya, maka celah batu tersebut akan menjadi sebuah jalan menuju ke alam gaib.
Tragedi terpecahnya batu kuda pun konon karena tertimpa pohon besar yang ditebang oleh 4 orang masyarakat sekitar yang sengaja menebang pohon dan menghancurkan batu kuda karena kesal bila selalu dilakukan pesugihan di sana. Disebutkan bahwa mereka pun meninggal dengan kondisi mengenaskan, tiga diantaranya meninggal di tempat dan satu orang lagi meninggal ketika sudah berada di perkampungan.
Menurut beberapa cerita yang beredar pula bahwa sebagian Gunung Haruman dari bagian tengah hingga puncak merupakan milik Presiden Suharto. Dulu Presiden sempat berziarah ke sana. Benar ataupun tidaknya cerita itu masih belum ada bukti yang kuat.

Terakhir daya pikat Gunung Haruman masih belum berakhir, yaitu dijadikan tempat olah raga Paragliding atau Paralayang. Pada pertengahan tahun 90-2000-an di puncak Gunung Haruman setiap musim kemarau sering digunakan untuk olah raga paralayang oleh para penggiat alam bebas. Lokasi tersebut berada di puncak bagian utara Gunung Haruman dengan luas wilayah 40x15 M² dengan kontur berumput.
Penulis kebetulan lahir di kampung yang letaknya persis di kaki Gunung Kaledong. Perkampungan yang berbaur dengan hamparan pesawahan yang membelah antara dua gunung tersebut, sebenarnya hanya hendak menggambarkan dan mengenalkan kepada halayak tentang misteri yang ada di sekitar kedua gunung itu. Semoga misteri Gunung Kaledong dan Haruman menjadi daya pikat untuk semua pembaca agar dapat turut menjaga dan melestarikan salah satu warisan sejarah tersebut agar tidak punah.



SUMBER BACAAN
https://www.porosgarut.com/misteri-batu-kuda-gunung-haruman.html, diunduh 7 Oktober 2019. Tersedia.
2.  https://bedanews.com/2013/03/09/jejak-masa-pra-sejarah-di-gunung-haruman-garut/,  diunduh 7 Oktober 2019. Tersedia.
3. http://ceritaparapejalan.blogspot.com/2019/06/fakta-unik-dan-menarik-gnharuman-garut.html, , diunduh 7 Oktober 2019. Tersedia.
4. http://sukumuter.blogspot.com/2017/12/menggapai-puncak-batu-kuda-menembus.html,       diunduh 7 Oktober 2019. Tersedia.
5. https://www.nu.or.id/post/read/84898/menengok-masjid-syekh-jafar-shidiq-garut-yang-berusia-ratusan-tahun, , diunduh 7 Oktober 2019. Tersedia.
6. http://nagregnews.blogspot.com/2016/01/batu-jubleg-sebuah-peningalan-sejarah.html, diunduh 7 Oktober 2019. Tersedia.
7.https://regional.kompas.com/read/2011/12/11/17443893/Tiga.Gunung.di.Garut.dalam.Status.Diteliti, diunduh 7 Oktober 2019. Tersedia.


Penulis bernama Lina Herlina, S.Ag., M.Pd.I, merupakan guru mata pelajaran PAIBP di SMPN 3 Limbangan Kabupaten Garut. Selain menulis buku penulis pun giat menulis di media online dan media cetak.