Selasa, 15 Oktober 2019

PEMIKIRAN VOLKISH, ANTI SEMITISME DAN PERANG DUNIA II



Oleh : Yanuar Iwan.

Di mana, di atas segalanya, hak asasi manusia itu dimulai ? 
Ia dimulai dari sebuah tempat sederhana, dekat rumah kita. Tempat di mana pria, wanita, serta anak - anak mendapat perlakuan sama, kesempatan sama, kehormatan sama, tanpa diskriminasi.
( Eleanor Roosevelt )

Nasionalisme ekstrim di Eropa menemukan bentuk dan kekuatannya di awal abad ke 20, meskipun benih - benihnya sudah ada sejak pertengahan abad ke 19, Perancis, Italia, Austria, Rusia dan Jerman adalah negara - negarayang terpengaruh paham nasionalisme ekstrim walaupun kadar pengaruhnya berbeda.

Khusus di Jerman nasionalisme ekstrim diperkuat dengan adanya pemikiran Volkish ( Volk berarti "rakyat " atau "bangsa") para pemikir Volkish Jerman berusaha mengikat rakyat Jerman melalui kecintaan yang dalam atas bahasa, tradisi, dan tanah air mereka.
Para pemikir ini merasa bahwa orang Jerman dihidupkan oleh suatu jiwa yang lebih tinggi daripada yang dijumpai pada bangsa - bangsa lain. ( Marvin Perry, Peradaban Barat, 2012, 42 )

Perubahan - perubahan dari masyarakat agraris ( Feodalisme pertanian ) ke masyarakat industri ( Revolusi Industri 1750 - 1850 ) menimbulkan konflik - konflik horisontal didalam masyarakat Jerman, ide - ide sosialisme, liberalisme, dan nasionalisme, kesenjangan dan ketimpangan sosial, meningkatnya kemiskinan akibat urbanisasi menjadi gejala umum dan menambah subur paham pemikiran nasionalisme ekstrim, Volkish, dan tentu saja makin kuatnya sikap dan tindakan anti semitisme.

Kelompok - kelompok masyarakat Yahudi yang kebanyakan bergerak dibidang ekonomi sebagai pedagang, wiraswasta, penyalur barang, pemilik toko, dan Bankir segera menjadi sasaran kelompok - kelompok pendukung Volkish dan anti semitisme dalam bentuk persekusi - persekusi jalanan sampai dengan pelecehan dan penghinaan melalui brosur - brosur anti semitisme yang disebarkan secara masif dan terencana, kelompok - kelompok ini terdiri dari dosen, guru, petani dan sebagian masyarakat desa yang keberadaannya terancam oleh proses industrialisasi, kelompok sarjana dan penulis yang merasa menemukan kembali idealismenya didalam sikap Volkish dan anti semitisme, tidak aneh bahwa sekolah - sekolah menengah di Jerman menjadi salah satu agen penyebaran nasionalisme ekstrim, Volkish, dan anti semitisme yang kuat terorganisir dan masif.

Pemikiran Volkish dan anti semitisme memiliki prinsip bahwa orang - orang Yahudi identik dengan pengkhianatan, tidak akan pernah setia terhadap tanah airnya, mengotori darah ras Arya yang ditakdirkan sebagai ras unggul berkulit putih, rambut pirang dan bermata biru, orang - orang Yahudi dicurigai sebagai penghancur kebudayaan Jerman . Sikap dan tindakan Volkish dan anti semitisme menjadi ciri masyarakat Jerman diawal abad ke 20. Segala sesuatu yang mengancam, menimbulkan keresahan, dan kerusakan ekonomi dan sosial selalu saja dikaitkan dengan keberadaan orang - orang Yahudi di Jerman.

Dalam pidato yang mengilhami Hitler, Paul de Delagarde ( Tokoh anti semitis dan orientalis Jerman ) berkata tentang orang Yahudi, "Orang tidak boleh berurusan dengan hama dan parasit, orang tidak boleh membesarkan dan menghargai mereka ; orang seharusnya menghancurkan mereka secara menyeluruh dan secepat mungkin.
( Marvin Perry, Peradaban Barat 2012, 189 )

Dapat terbayang bagaimana keadaan sosial politik Jerman menjelang PD I ( 1914 - 1918 ) yang kental dengan diskriminasi, kebencian, persekusi dan pengusiran terhadap kelompok - kelompok Yahudi.
Sejarah mencatat Jerman kalah dalam  PD I dan orang - orang Yahudi kembali dipersalahkan dengan kekalahan tersebut.

PD II pecah ( 1939 - 1945 ) Hitler dengan partai Nazi mendata, memburu, menangkap orang - orang Yahudi dinegara - negara yang dikuasai Jerman seperti Perancis, Belanda, Austria, Polandia, Italia, dan Yugoslavia.

Orang - orang Yahudi, dewasa, remaja, anak - anak, laki - laki dan perempuan dipaksa masuk kamp konsentrasi dan nyawa mereka berakhir dikamar gas, ribuan orang Yahudi menjadi korban kekejaman Nazi Jerman dalam peristiwa yang dikenal dengan holocaust.

Nasionalisme ekstrim, ultra nasionalisme, pemikiran Volkish, doktrin rasialis, anti semitisme, apartheid atau apapun namanya telah menghancurkan kemanusiaan dan menghancurkan peradaban.

Diskriminasi terhadap orang - orang Yahudi di Eropa telah menguatkan kembali semangat zionisme, gerakan yang dibentuk pada tahun 1895 oleh Dr. Theodore Herzl dan dirintis oleh imigran Yahudi asal Rusia yang pindah ke tanah Bangsa Palestina pada 1905 menemukan bentuk dan kekuatannya sesudah PD II dengan di proklamasikannya negara Israel pada 15 Mei 1948 dan menjadi ironi sejarah, karena para pemimpin Israel ternyata bertindak layaknya Nazi di Eropa yang menindas dan membunuh Bangsa Palestina hingga kini di abad 21.

Sukaresmi 14 - Oktober 2019.