Sabtu, 05 Oktober 2019

POTRET GURU MULIA?

Oleh: Wijaya

Tulisan ini, sebagai respon atas pertanyaan beberapa teman guru dari beberapa provinsi. Pertanyaan yang tidak jauh substansinya dari apa dan siapa "guru mulia"?. Saya sendiri cukup memutar kepala untuk dapat memberikan jawaban untuk temen-temen tersebut. Mengapa? Karena "guru" acap kali dilabel berbeda, ada yang menyebut pekerjaan dunia akhirat, profesi tanpa tanda jasa, pelukis masa depan dan tidak lupa sebagian besar melabel sebagai pengajar dan pendidik.

Beberapa karier lainnya, seperti birokrat dan politisi, menyebut Guru mulia adalah guru yang sering mengikuti Diklat, seminar, loka karya, juara guru berprestasi, guru Inovatif dan aktivis organisasi guru. Guru yang serba bisa, jadi ketua RT, RW/pengurus warga sampai panitia hajatan demokrasi dan hajatan pernikahan. Sampai guru tersebut di label guru spesialis Diklat ditambah guru 4L.

Ada lagi yang menyebut guru mulia adalah guru yang bisa jadi bendahara sekolah, ketua pelaksana proyek RKB, Rehabilitasi dll. Pendapat lainnya, guru mulia adalah guru yang rajin bagi-bagi RPP, LKDP dan seperangkat administrasi lainnya. Padahal sejatinya perangkat tersebut menjadi kewajiban profesi setiap pribadi guru. Ada juga yang menyebut guru mulia sebagai guru yang pinter nulis buku, bikin media pembelajaran, pintar jualan, pinter masak, pinter pencitraan dan pinter godain, yang di cetak hitam just kidding ya🙂. Tapi ada tidak ya?

Ok, lanjut ya. Guru kalau mengacu pada UU Nomor 14 Tahun 2005 Bab 1 Pasal 1 ayat 1 didefinisikan pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan
anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar,
dan pendidikan menengah. Jadi tugas guru yang wajib untuk ditunaikan ada 7.
Pertanyaan berikutnya, apakah salah label guru yang disematkan di atas?.

Pandangan-pandangan tersebut, jika ditimbang merupakan hal yang bisa diterima. Akan tetapi jika "guru mulia" hanya dilabeli sebagai guru yang rajin bagi-bagi RPP, LKDP dan kelengkapan administrasi lainnya menjadi catatan kurang baik. Mengapa? Karena triliunan dana serta berbagai program yang difasilitasi, baik tingkat nasional dan daerah baik oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Pemerintah Daerah menjadi tidak banyak berbekas.

Meskipun kondisi tersebut disertai dengan argumentasi sekaligus alibi hanya sebagai contoh, nanti di ATM dll. Tetapi fakta di lapangan yang terjadi berbeda. Silakan tanyakan pada diri kita masing-masing. Filosofis memberikan kail dan umpan lebih baik, daripada memberikan ikan. Memang beragam pujian dan do'a mengalir kepada personal yang memberikan file-file tersebut. Tetapi ucapan tersebut sebagai keniscayaan, atas keuntungan yang diterima.

Guru mulia, guru yang mau keluar dari zona nyaman, mendobrak kejumudan dalam pembelajaran melalui karya-karya inspiratif. Tidak terjebak dengan mencitrakan dirinya laksana serba bisa dan amazing. Selalu bertukar gagasan untuk memuliakan, melindungi, dan memperjuangkan kesejahteraan rekan seprofesi yang masih dalam kondisi diperlakukan tidak manusiawi.

Terlepas dari narasi di atas, sejatinya guru mulia adalah guru yang mampu melahirkan pemelajar/ output berkualitas dari aspek akhlak, Pengetahuan, sosial dan keterampilan. Guru yang mampu memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan dalam berbagai wujudnya. Guru yang tidak terjebak dengan label prestisius melangit tapi tidak memijak bumi. Terlebih, guru yang hanya sibuk melakukan panjat sosial dan ekonomi dengan memanfaatkan rekan seprofesinya.

Selamat hari Guru se dunia, jadilah guru yang kehadirannya dirindukan, ketiadaannya tidak diharapkan. Guru berkarya, kompeten, dan profesionalitasnya dirasakan oleh siswa. Guru yang tidak melupakan peran rumah besar guru dan pendahulunya yang memperjuangkan kemuliaan profesinya seperti sekarang. (WW)