Rabu, 23 Oktober 2019

VARIASI KEBUDAYAAN KHUSUS ( Subcultural Variation )

Oleh  Yanuar Iwan.
(Guru IPS SMPN 1 Cipanas - Cianjur - Jabar)

Pendidikan bisa memberi anda keahlian, tetapi pendidikan budaya mampu memberi anda martabat. 
( Ellen Key )

Kebudayaan diciptakan oleh masyarakat manusia untuk menjamin kelangsungan dan eksistensi kehidupan suatu masyarakat. Apabila kebudayaan sudah tidak mampu lagi untuk menjamin kelangsungan hidup masyarakat, maka harus dicari alternatif-alternatif baru mengenai perubahan sosial dan perubahan kebudayaan. Hal ini agar kebudayaan bisa kembali menjamin keberadaan suatu kelompok masyarakat.

Kebudayaan menyebabkan manusia dapat memanfaatkan lingkungan yang sangat beragam. Dengan berupaya merekayasa lingkungan, masyarakat manusia bisa tinggal di lingkungan-lingkungan ekstrim, seperti kutub dan gurun atau mungkin saja Mars dan Bulan. Dengan kebudayaan manusia tidak hanya berusaha melestarikannya tetapi juga mengembangkannya.

Manusia tidak bereaksi terhadap lingkungan seperti apa adanya. Akan tetapi manusia bereaksi terhadap lingkungan  seperti apa yang dipahaminya. Kelompok manusia dapat memahami suatu keadaan lingkungan, dengan pemahaman yang berbeda antara satu dan lainnya.

Antropologi menganggap bahwa  masing-masing kebudayaan akan lestari apabila setiap anggotanya merasakan manfaat dan kebahagiaan dengan kebudayaan tersebut. Tentu saja hanya anggota kelompok suatu masyarakat yang bisa merasakan arti dan manfaat kebahagiaan berdasarkan kebudayaannya tersebut.

Adanya variasi kebudayaan khusus (Subcultural Variation) menunjukkan bahwa kebudayaan memilik pemahaman yang berbeda terhadap bagaimana caranya manusia memenuhi kebutuhan, kelangsungan hidup, dan kesejahteraan. Contoh, Subcultural  Variation dapat dilihat pada orang-orang Amish di Amerika Serikat. Nenek moyang Orang Amish berasal dari Austria, dewasa ini berjumlah kira-kira 60.000 orang dan terutama hidup di Pennsylvania, Ohio, dan Indiana. Mereka adalah pecinta perdamaian, rakyat petani dan kehidupan mereka berpusat pada kepercayaan religi mereka. Mereka menghargai kesederhanaan, kerja keras, dan kerjasama lingkungan yang baik. Mereka memakai pakaian polos yang khas, dan pada masa sekarangpun mereka masih mengandalkan kuda untuk semua angkutan dan untuk pekerjaan pertanian. Mereka jarang membaur di antara masyarakat non- Amish.

Amish, Persons, Man, Women, People
Orang Amish di Amerika Serikat
Tujuan pendidikan orang Amish adalah memberi kecakapan  membaca dan menulis, berhitung, dan menanamkan nilai-nilai Amish kepada anak-anak mereka. Mereka menolak pengetahuan "duniawi" dan gagasan tentang sekolah yang mendidik warganegara yang baik untuk negara. Orang Amish menghendaki anak mereka bersekolah di dekat rumah dan guru-gurunya memegang teguh nilai-nilai Amish. Sikap nonkonformitas mereka terhadap norma-norma kebudayaan yang lebih umum sering menimbulkan pertentangan orang Amish dengan aparat dan pejabat pemerintahan, gangguan hukum dan gangguan terhadap perorangan. Mereka menolak segala usaha untuk memaksa agar anak-anak mereka memasuki sekolah-sekolah umum. Perlu ada kompromi, dan latihan kerja telah diadakan disamping pendidikan tingkat sekolah dasar untuk memenuhi tuntutan pemerintah. Orang-orang Amish telah berhasil memegang kendali atas sekolah-sekolah mereka dan mempertahankan cara hidup mereka. Akibatnya, kebudayaan mereka terjepit dan defensif,  dan mereka lebih curiga daripada sebelumnya terhadap kebudayaan umum disekitar mereka. (William. A. Havilland, Antropologi, 1988, 336-337)

Bentuk variasi kebudayaan khusus orang-orang Amish ini ditoleransi oleh kebudayaan umum di Amerika Serikat. Karena orang-orang Amish berkulit putih berasal dari Eropa yang merupakan tempat asal-usul nenek moyang Bangsa Amerika Serikat yang berkulit putih. Hal ini berlainan sama sekali dengan variasi kebudayaan khusus yang ada pada orang-orang Indian, mereka terpaksa masuk konservasi di mana mereka hidup dengan kebudayaan khusus mereka dan sampai sekarang orang-orang Indian masih sering menjadi korban diskriminasi di Amerika Serikat.

Cipanas, 21-Oktober-2019 di Perpustakaan, 

Tulisan ini saya tujukan untuk seorang sahabat di MGMP dan FKG IPS Cianjur yang meminta saya menulis diluar bidang Sejarah.

Penyunting: Enang Cuhendi