Senin, 25 November 2019

KADO UNTUK KU



OLEH ROZACO


Hari ini genap sudah kulalui lorong- lorong waktu
Langkah kaki menapak landasan semangat yang mengebu
Terang dan gelap silih berganti rintangan jalan berliku liku
Aku harus jadi Dian yang tak kunjung padam sepanjang waktu

Aku tak pernah ragu mendidik anak bangsa, Bimbinganku selalu nyata.
Aku Bangga, Aku bersyukur pada Tuhan atas semua RahmatNya
Aku akar adanya suatu negara, aku akar kemajuan suatu bangsa
Aku tumpuan masa depan generasi penerus Dunia

Tetapi kenapa masih ada diantara ragaku yang masih kaku
Kekakuan itu disengaja, ada juga kulakukan karena terpaksa
Aku tahu semuanya itu salah, aku tahu bertentangan dengan nuraniku
Kapankah Raga ini dapat bersatu mewujudkan cipta nyata

Haiii !! ragaku pantaskah aku memakai baju kebesaran ini
Sedangkan diantara kita masih ada yang kaku
Kenapa ?..Kenapa semuanya seakan akan membisu
Sedangkan kita harus digugu dan ditiru

Memang Ragaku tidak sempurna, tapi tidak ada alasan untuk berdusta
Ingat !! kita ujung tombak pelopor generasi muda bangsa
Tunjukan.....tampakan yang benar itu adalah fakta, bukan  bicara
Sehingga indahnya langkah tegap kita semua dalam berkarya

Dihari Ultah ku ini semoga ragaku semakin dewasa
Dihari Ultah ku ini semoga kata dan fakta terwujud nyata
Dihari Ultah ku ini semoga menunjukan jati diri yang hakiki
Dihari Ultahku ini semakin menambah semangat yang abadi

Minggu, 24 November 2019

SURAT TERBUKA UNTUK BAPAK MENDIKBUD


oleh Dyah Ayunda
(Sekretaris Umum PP FKGIPS Nasional PGRI)




Asalamualaikum w.w.

Yang terhormat,
Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI 
(Bapak Nadiem Anwar  Makarim)

Pertama saya sampaikan selamat atas terpilihnya Bapak sebagai Mendikbud RI.
Dengan terpilihnya Bapak Sebagai Mendikbud memang sempat menimbulkan beberapa pemikiran pada diri saya pribadi. Sebelumnya nama Bapak memang belum familiar di dunia pendidikan. Saya pun mengetahui Bapak karena sepak terjang yang sukses dengan mendirikan Gojek. Untuk hal ini saya angkat jempol, luar biasa!

Akan tetapi untuk dunia pendidikan saya belum mendengar sama sekali.
Terus terang saya juga lumayan kaget dengan terpilihnya Bapak menjadi mendikbud. Namun Presiden yang terhormat, Bapak Ir. H. Joko widodo tentunya tidak gegabah memilih Bapak menjadi seorang Menteri. Pasti ada kelebihan pada diri Bapak. Kami berharap ada hal yang baru yang bisa menyejukkan dan membanggakan untuk dunia pendidikan. Suatu harapan yang tidak terlalu muluk bagi kaum pendidik.

Ketika Bapak mengundang 22 organisasi dan mendengarkan tentang seputaran dunia pendidikan di Indonesia, saya juga sempat membaca yang beredar di media sosial (watshapp). Beberapa usulan sungguh membuat saya nyesek juga, karena mengecilkan jabatan tertentu, salah satunya pengawas. Hal ini mendorong beberapa teman membuat tulisan/tanggapan  tentang usulan tersebut. Saya ingin menulis juga untuk menanggapi hal tersebut, tapi karena sesuatu hal saya belum sempat menulis.

Beberapa hari ini muncul pidato Bapak pada “UPACARA BENDERA PERINGATAN HARI GURU NASIONAL TAHUN 2019” Di mana ada sekitaran 10 poin. Karena ada beberapa hal yang menurut saya kurang  pas (tidak tahu Bapak mendapatkan masukan dari siapa), maka saya mencoba untuk memberikan tanggapan.saya akan menanggapi beberapa point.

Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang bergitu padat menutup pintu petualangan

Kalimat di atas tidaklah 100% benar . Hal ini bukan salah sistem atau kurikulumnya. Dalam Kurikulum 2013 atau bahkan kurikulum sebelumnya tidak pernah mengharuskan pembelajaran selalu di dalam kelas, namun bisa juga di luar kelas. Pembelajaran  di luar kelas tentunya di desain sedemikian rupa sehingga pembelajaran tersebut mampu mengakomodasi tujuan pembelajaran dengan waktu yang tersedia. Memang  tidaklah mudah membuat desain pembelajaran di luar kelas kalau belum terbiasa. Apalagi hal ini selain ditentukan oleh kemampuan sang pendidik juga ditentukan oleh karakteristik materi juga siswanya.

Apalagi pemerintah juga mengeluarkan permendikbud nomer 63 tahun 2014 tentang  “Pendidikan Kepramukaan sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib Pada Pendidikan Dasar dan Menengah” di mana dalam Permendikbud tersebut menjelaskan bahwa pendidikan kepramukaan sebagai ekstrakuler wajib (Blok, Aktualisasi, dan Reguler). Dalam pelaksanaannya tentunya sangat bisa  dilaksanakan diluar kelas. Pada prinsipnya adalah pembelajaran yang menyenangkan, namun tetap beracuan pada tujuan pembelajaran.

Bentuk lain bisa juga pembelajaran dengan studi lapangan langsung, bisa terjadwal per semester atau per tahun, seperti di sekitar sekolah,  ke laut, gunung, pasar, pabrik, dll. Itupun  saya yakin sudah banyak yang menerapkan. Jadi kurang benar kalau dikatakan kurikulum yang begitu padat menutup petualangan. 

Anda frustasi karena Anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal"

Kata-kata tersebut di atas tidaklah cocok untuk disuarakan saat ini. Karena pemerintah melalui para fasilitatornya gencar mensosialisasikan pembelajaran abad 21, pembelajaran HOTS pembelajaran berbasis kegiatan dan sebagainya. Sis%wa tidak lagi diajari untuk menghafal materi tetapi lebih pada penguasaan konsep dan implementasinya di lapangan. Siswa diharapkan peka terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya . Semua itu sudah sangat diperhatikan oleh kurikulum yang berlaku saat ini, walaupun memang masih banyak kendalanya.

Saya sendiri sebagai pelaku bagaimana saya mencoba belajar bersama dengan teman-teman baik yang di Jawa maupun luar Jawa untuk terus meningkatkan ketrampilan mengajarnya sehingga tercipta pembelajaran yag menyenangkan, aktif, kreatif, inovatif, dan berpikir kritis.

Saya tidak mengerti apa alasan pak Mentri bicara begitu ya, sumbernya tidak pernah ikut bimtek Kurikulum 2013 kali pak...mohon maaf ya

Anda tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi”.

Saya kira selama ini pendidik diharuskan memberikan pelayanan individu yang berbeda baik secara kompetensi maupun minat dan bakatnya. Sehingga ada remidi, pengayaan, ekstrakurikuler wajib dan pilihan. Siswa bisa menyalurkan kepiawaiannya/bakatnya masing-masing. Hal ini tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah, baik tenaga/sumberdaya manusianya maupun sarana prasarananya.

Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi

Aduh Bapak Menteri mohon maaf ya, sistem pendidikan yang telah berjalan selama ini telah memberikan kesempatan pada dunia pendidikan baik guru maupun siswanya untuk selalu berinovasi, juga berkreasi.  Ada lomba tentang inobel, lomba literasi, kesenian, olah raga dll. Tentunya hal ini bisa memberikan peluang bagi siswa maupun guru untuk melakukan inovasi. Bahkan dalam pembelajaranpun guru dituntut untuk selalu berinovasi. Mungkin memang masih perlu ditingkatkan lagi karena tidak semua pendidik mempunyai kemampuan dan kemauan berinovasi.

Empat poin di atas yang menurut saya sangat mengecilkan usaha pemerintah selama ini juga usaha para pendidik. Seakan dunia pendidikan kita masih seperti era 1975 dulu yang bila siswa bisa menghafal nama menteri itu adalah siswa yang  pintar.

Saya berharap di bawah kepemimpinan Bapak dunia pendidikan akan lebih baik dalam segala aspeknya. Namun janganlah mengecilkan perjuangan pemimpin sebelumnya. Zaman terus berubah tentunya kebijakan juga bisa terus berubah. Di pundak Bapak kami menaruh harapan besar. Masa depan bangsa ini ditentukan oleh generasi saat ini. Selamat bertugas, selamat berjuang semoga selalu mendapatkan rahmat dan rida dari Allah SWT. Kami menunggu revolusi pendidikan dari buah pikiran Bapak.

Demikian surat terbuka saya ini bila ada yang kurang berkenan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wasalamualaikum wr wb

SEKRETARIS UMUM  
PP FORUM KOMUNIKASI GURU IPS NASIONAL PGRI

Dr. DYAH AYUNDA, M.Pd.

Senin, 18 November 2019

Perkembangan Geografi


Sulistyowati, S.Pd.
SMPN 1 Pujon – Kab. Malang



Erathosthenes ahli filsafat dan astronomi terkenal (276-194SM) ialah orang pertama yang paling berjasa memperkenalkan istilah geografi. Menurutnya geografi berasal dari kata Geographika artinya Writing about Earth or Description of The Earth (tulisan atau deskripsi tentang Bumi).  Pada masa itu, ilmu geografi pada umumnya menceritakan berbagai tempat di permukaan Bumi sebagai hasil penjelajahan ke berbagai penjuru dunia yang dikenal dengan aliran Logografi.
Selain memperkenalkan istilah Geographika, Eratosthenes juga merupakan orang pertama yang berhasil menghitung keliling Bumi secara matematis dan membuktikan bahwa Bumi itu berbentuk bola.
Ilmu geografi mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Bintaro dan surastopo mencatat empat tahap perkembangan ilmu geografi,yaitu geografi klasik,geografi abad pertengahan dan renaissance, geografi modern,dan geografi mutakhir.

Geografi Klasik
Periode geografi klasik dimulai pada abad ke-6 sampai abad ke-1 sebelum Masehi. Pelopornya, antara lain Horemus, Hesodius, Thales, Heraclides, Claudius Ptolomeus, dan Strabo.
Pandangan geografi pada masa ini adalah mempelajari bentuk dan dimensi suatu daerah, lokasi, serta korelasi antara lingkungan alam dan manusi

Geografi Abad Pertengahan dan Renaicance
            Geografi pada masa ini terjadi pada abad ke-15 sampai abad ke-16. Pelopornya adalah Bernhardus Veranus. Pandangan geografi pada masa ini dengan:
  • Geografi umum (sistematik) dan geografi khusus (regional);
  • Geografi fisik dan geografi manusia.

Geografi Modern
Geografi pada masa ini terjadi pada abad ke-17 sampai abad ke-18. Pelopornya adalah Immanuel Kant, Allexander Van Humbolt, Karl Ritter, John Wesley Powell, George Peskins Mars, Verdinand Von Ritchthofen, dan Vidal de la Blache. Pandangan geografi pada masa ini adalah mempelajari bentang alam dan sumber daya air, pengaruh lingkungan fisik terhadap kehidupan manusia, serta wilayah.

Geografi Mutakhir
Geografi pada periode ini terjadi pada abad ke-19 sampai abad ke-21. Pelopornya antara lain Wrigley, Petter Haggett, Gareth Dhaw, dan D. Wheller. Di Indonesia dipelopori oleh ahli-ahli geografi antara lain R. Bintarto, dan Surastopo. Pandangan geografi pada periode ini adalah interaksi yang berkaitan pada analisis keruangan, kelingkungan, dan wilayah.
Adanya berbagai pandangan mengenai geografi di atas, menyebabkan definisi geografi mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Definisi mengenai geografi, telah dikemukakan oleh berbagai ahli, antara lain sebagai berikut:
  • Frederick Ratsel (1844-1904), geografi mempelajari pengaruh lingkungan fisik terhadap kehidupan manusia.
  • R. Hartshorne (1959) dalam bukunya Perspectives on The Nature on Geography, mengemukakan geografi bertujuan menjelaskan secara akurat, teratur, dan rasional tentang karakteristik variabel di permukaan bumi.
  • Wregley, geografi adalah suatu disiplin yang berorientasikan kepada masalah interaksi antara manusia dengan lingkungannya.
  • M. Yeates (1986) dalam bukunya Introduction to Quantitative Analysis in Economic Geography, mengemukakan geografi adalah ilmu pengetahuan tentang pengembangan rasional dan loka.si berbagai karakteristik di atas permukaan bumi.
  • Komisi Ad Hoc Geografi, 1965, geografi menjelaskan bagaimana subsistem lingkungan fisik diatur di permukaan bumi dan bagaimana penyebaran manusia itu sendiri di atas permukaan bumi, dalam hubungannya dengan kenampakan fisik dan manusia lainnya.
  • P. Haggett dalam bukunya Locational Analysis in Human Geography, mengemukakan bahwa akhir-akhir ini geografi mengarah pada Sistem ekologi dan Sistem keruangan. Yang tersebut pertama merupakan hubungan antara manusia dengan lingkungannya, sedangkan yang kedua berkaitan dengan wilayah dan pergerakan-pergerakan yang kompleks di dalamnya. Kedua sistem menyangkut pergerakan dan saling kontak merupakan masalah pokok yang perlu diperhatikan.
  • Bintarto (1981), geografi mempelajari hubungan kausal atau timbal balik antara gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di permukaan bumi, baik secara fisik maupun menyangkut makhluk hidup beserta permasalahannya melalui pendekatan keruangan, ekologi, dan regional untuk kepentingan program, proses, dan keberhasilan pembangunan.
  • Bintarto dan Surastopo (1978), tiga macam pendekatan yang digunakan untuk mendekati masalah dalam geografi yaitu pendekatan analisis keruangan, analisis ekologi, dan analisis kompleks wilayah.
  • Seminar dan Lokakarya Peningkatan Kualitas Pengajaran Geografi (1988) di Semarang, berkesimpulan bahwa geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan.
Dengan berpedoman pada beberapa definisi di atas, maka ruang lingkup ilmu geografi seperti berikut ini:
  • Pengungkapan gejala-gejala atau fenomena-fenomena yang ada di permukaan bumi, seperti lapisan kulit bumi (litosfer), air (hidrosfer), udara (atmosfer), manusia (antroposfer), serta hewan dan tumbuhan (biosfer). Misalnya, tanah yang longsor merupakan gejala litosfer, akan tetapi bisa disebabkan oleh faktor hidrosfer, atmosfer, antroposfer, atau biosfer.
  • Interelasi atau interaksi antara gejala satu dengan gejala lainnya. Misalnya, banjir berkaitan dengan penggundulan hutan, sedangkan penggundulan hutan berkaitan dengan kepadatan penduduk. 
  • Mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer. Karakteristik suatu wilayah sangat ditentukan oleh perbedaan fenomena tersebut. Misalnya, daerah tropis mempunyai banyak hujan dan hutan belantara, sedangkan daerah arid sangat kurang hujan dan daerahnya gundul (gersang).
  • Mempelajari penyebaran fenomena-fenomena di permukaan bumi. Contoh: penyebaran penduduk, penyebaran daerah gempa, penyebaran gunung berapi, dan sebagainya.
  • Pemecahan masalah geografi dilakukan melalui pendekatan keruangan, ekologi, dan kewilayahan. Contoh: perencanaan tata ruang pedesaan dilakukan melalui pendekatan analisis keruangan, penebangan hutan yang mengakibatkan banjir merupakan pendekatan analisis ekologi, dan pembuatan rencana induk daerah aliran sungai merupakan pendekatan analisis wilayah.
Mengingat luasnya cakupan geografi sudah barang tentu dalam kajiannya membutuhkan dukungan ilmu lain. Bahkan antar ilmu pendukung tersebut dapat melahirkan ilmu baru, misalnya: antara Geografi dan Morfologi melahirkan Geomorfologi (bentuk muka bumi); antara Geografi dengan Antropologi melahirkan Antropogeografi (Etnografi);  antara Geografi dengan Biologi menjadi Biogeografi, dan masih banyak lagi yang kesemuanya membuktikan bahwa geografi sangat luas dan membutuhkan kerjasama dengan ilmu lain.
            Unsur pokok yang dipelajari dalam geografi dibedakan menjadi dua,yaitu: 
  1. Unsur alam (Fisik), meliputi aspek kimiawi, biologis, astronomis, hidrologis, geologis, matematis.
  2. Unsur Kemanusiaan (Sosial), antara lain antropologis, politis, ekonomis, sosiologis, historis, etnografis.

Di antara ke duanya terdapat hubungan yang sangat erat, bahkan tak dapat dipisahkan, karena terdapat hubungan timbal balik antara aspek alam dengan aspek kemanusiaan. Keadaan atau lingkungan kemanusiaan mengalami perubahan yang cepat, bersifat sangat dinamis. Berbeda dengan aspek alam, perubahan yang terjadi relatif lambat dan memerlukan waktu yang lama.
        Kegunaan geografi secara garis besar ada dua, yaitu membantu untuk memahami keadaan negara kita sendiri, dan juga membantu kita untuk memahami dunia. Sementara itu ada anggapan bahwa geografi mempelajari tentang kota, sungai, membaca peta. Anggapan tersebut harus sudah ditinggalkan, karena geografi mempunyai kemanfaatan lebih dari anggapan tersebut. Bahkan dengan geografi menunjukkan bahwasanya alam yang kita tempati ini, dengan segala isi serta serba keteraturannya semua itu sudah tentu ada yang mengatur dan menciptakannya, Dialah Yang Maha Kuasa, Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui Alloh SWT.
Sebagai manusia wajib memanfaatkan, memelihara dan melestarikan secara bijak agar semua bermanfaat bagi kehidupan manusia di muka bumi.





 DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar AS. 1992. Kepada Para Pendidik Muslim. Jakarta: Gema Insani Press
           
Depdiknas. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi IPS. Jakarta: Dirjendikdasmen
Kemendikbud. 2018. Buku Guru : Ilmu Pengetahuan Sosial. Buku Guru. Kelas IX. Jakarta: Kemendikbud
Sapriya. 2012. Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.



                                               
                                                          
                                    

Rabu, 13 November 2019

LOVE SOCIAL SCIENCE TO BUILD A BETTER CIVILIZATION

Diversity, Cultures, Worldwide, Network, Cooperation

Susiani Setyaningsih, M.Pd

SMP Al Hikmah Surabaya

Guru adalah salah satu sosok yang sangat berperan penting dalam membangun peradaban bangsa ini. Tugas utamanya, yaitu mentransfer ilmu dan nilai-nilai kehidupan yang dibutuhkan anak-anak didik kita di masa depan. Namun realitanya, guru sering terjebak untuk menuntaskan materi pembelajarannya. Tuntutan ujian  akhir di jenjang pendidikan, menyebabkan mereka harus mentransfer materi-materi yang harus dikuasai oleh anak didik. Akibatnya, fokus utama hanya pada ketuntasan materi. Dampaknya mungkin tidak bisa dirasakan satu, dua, ataupun tiga tahun ini. Tetapi bisa jadi dirasakan ketika mereka sudah dewasa. Ada banyak bekal hidup yang mereka tidak kuasai, sehingga permasalahan-permasalahan sosial akan semakin merebak di masa depannya. Bahkan mungkin mereka menjadi aktor timbulnya masalah yang terjadi di masa depan. Sebagai contoh meningkatnya kriminalitas, demoralisasi di mana-mana, bahkan peradaban masyarakat semakin menurun seiring menurunnya kualitas sumberdaya manusia.
Sebagai upaya preventif, tentu perlu ada upaya nyata yang harus dipersiapkan mulai dari sekarang.  Kondisi ini memberi tantangan tersendiri, bagi kita seorang guru agar dapat menyajikan pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran yang memberikan bekal untuk masa depan anak-anak didik kita. Pembelajaran yang dapat mempersiapkan mereka menjadi warga negara yang baik. Menurut Saxe dalam Sapriya (2012: 35), warga negara yang baik yaitu warga negara yang memahami dirinya sendiri dan masyarakatnya, mampu merasa sebagai warga negara, berpikir sebagai warga negara, dan bertindak sebagai warga negara.
IPS mempunyai tanggung jawab untuk membentuk anak-anak didik di sekolah agar menjadi warga negara yang baik. Tolok ukurnya yaitu warga negara yang mampu menghargai orang lain, dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Banks dalam Sapriya (2012:3) mengemukakan bahwa tujuan utama IPS yaitu mempersiapkan warga negara yang dapat membuat keputusan reflektif dan berpartisipasi dengan sukses dalam kehidupan kewarganegaraan di lingkungan masyarakat, bangsa, dan dunia.
Tujuan mulia ini akan tercapai apabila guru dapat merancang pembelajaran bermakna yang dapat melatihkan kompetensi siswa-siswanya. Love social science to build a better civilization merupakan capaian pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk mencintai belajar IPS agar terbentuk peradaban manusia yang lebih baik ke depannya. Jadi tidak hanya menguasai konsep saja, tetapi bagaimana memaknai bahwa untuk meningkatkan kualitas hidupnya, maka mereka perlu dilatihkan untuk terus belajar. yaitu pembelajaran yang menerapkan empat pilar pendidikan. Menurut UNESCO dalam Suyono (2011: 29), empat pilar belajar yaitu, learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to do (belajar untuk bekerja), learning to live together (belajar untuk hidup berdampingan dan berkembang bersama), dan learning to be (belajar untuk menjadi manusia seutuhnya).
Implementasinya dibutuhkan perencanaan yang matang agar terwujud pembelajaran yang bermakna. Seperti halnya pembelajaran IPS yang telah dilaksanakan di SMP Al Hikmah Surabaya. Sekolah memiliki tagline berbudi dan berprestasi, yang mengharuskan guru untuk dapat meluluskan anak didik tidak hanya berprestasi tetapi juga berbudi. Bahkan tagline berbudi didahulukan sebelum berprestasi. Artinya karakter dan adab lebih diutamakan pelaksanaannya, yang selanjutnya diikuti prestasi.
Diawali dengan niat bahwa semua yang kita lakukan sebagai bentuk ibadah kita kepada Allah SWT. Dengan didasarkan kepadaNya maka segala sesuatunya akan mendapat berkahNya. Pada konsep ini, guru menerapkan pilar learning to be. Adapun pembiasaan yang harus dilakukan yaitu mengawali dan mengakhiri pembelajaran IPS dengan berdo’a. Bahkan agar proses pembelajaran IPS dapat dipahami anak didik sampai pada kebermanfaatan ilmu yang diajarkannya, maka seorang guru harus sering mendo’akan anak-anak didiknya. Sesuai Q.S An Nashr 1-8, dijelaskan bahwa “Bukankah kami telah melapangkan dadamu? Dan kami menghilangkan bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan sebutan namamu. Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sunggh urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmu hendaknya kamu berharap.”
Ketika pondasi dasar bahwa IPS adalah media kita dalam menjalankan fungsi manusia sebagai khalifah di bumi, maka langkah selanjutnya yang perlu dilakukan yaitu pembiasaan-pembiasaan baik yang harus dilakukan di setiap pembelajaran IPS. Sebagai contoh mendo’akan negara agar selalu aman (kerusuhan di wamena pada 23 september 2019, sumber: www.kompas.com), dijauhkan dari bencana (gempa magnitudo 5.1 terjadi di Kepulauan Aru pada 3 oktober 2019, sumber: detiknews), disejahterahkan masyarakatnya (Utang Indonesia mencapai Rp 4.570 Triliun pada mei 2019, sumber Liputan6.com), dan keberkahan untuk negara Indonesia. Bentuk-bentuk kepedulian inilah yang perlu dibangun kepada anak-anak didik, agar mereka mempunyai rasa memiliki terhadap kondisi negaranya. Apabila ini dilakukan secara rutin dengan bentuk kepedulian menyesuaikan kondisi yang terjadi saat itu, maka pembiasaan-pembiasaan ini akan melekat dalam diri anak didik. Mereka akan memiliki rasa memiliki negaranya (self of belonging), sehingga dapat meningkatkan rasa cintanya pada negara dan meningkatkan nasionalisme mereka sebagai warga negara.
Selanjutnya, guru harus menganalisis setiap  kompetensi dasar untuk menentukan keterampilan-keterampilan hidup dan pembiasaan-pembiasaan karakter yang akan dilatihkan guru kepada anak didiknya. Sebagai contoh pada KD 3.1 kelas 9 yaitu menelaah perubahan keruangan dan interaksi antarruang negara-negara Asia dan benua lainnya yang diakibatkan faktor alam, manusia, dan pengaruhnya terhadap keberlangsungan kehidupan manusia dalam ekonomi, sosial, pendidikan, dan politik. Pada KD ini, guru dapat melatihkan keterampilan collaborative, critical thinking, creative comunicative, dan literasi IT dalam menyelesaikan tugas power point dan presentasi. Keterampilan collaborative dilatihkan ketika mereka menyelesaikan penugasan dalam bentuk kelompok. Keterampilan critical thinking dilatihkan ketika mereka menyusun materi power point dan menjawab pertanyaan ketika sesi tanya jawab disaat presentasi. Keterampilan creative dilatihkan ketika mereka mendesain tampilan power point. Keterampilan comunicative dilatihkan ketika mereka mempresentasikan materi pelajaran dan menjawab pertanyaan dari kelompok lain.  Dan literasi IT dilatihkan ketika mereka mendesain power point dibutuhkan kecakapan dan keterampilan dalam pembuatannya. Pada contoh tersebut, guru telah menerapkan learning to know, learning to do, dan learning to live together secara bergantian dan bahkan secara bersamaan.
Pemberian latihan-latihan tersebut harus diimbangi dengan pembiasaan-pembiasaan baik lainnya. Misalnya pembiasaan menghormati guru, pembiasaan menanggapi pertanyaan dengan baik, pembiasaan menghargai orang lain, dan pembiasaan-pembiasaan positif lainnya. Pembiasaan ini akan tertanam kuat dan dilaksanakan secara konsisten, apabila diawali teladan dari guru. Selain itu, stimulus guru pada setiap yang dilakukan anak didik sangat berpengaruh kuat pada pembiasaan yang dilatihkan oleh guru. Sebagai contoh, ketika ada anak didik yang mengumpulkan tugas di awal waktu, maka guru wajib mengapresiasinya dengan tambahan nilai atau memberi pujian di depan teman-temannya.
Sikap-sikap afirmasi dan motivasi juga berperan dalam memperteguh pembiasan-pembiasaan yang dilatihkan oleh guru. Hal ini dipengaruhi karena secara psikologis, mereka selalu diapresiasi positif ketika melakukan hal-hal baik dan positif. Dampak sikap-sikap tersebut yaitu meningkatkan rasa percaya diri siswa, memunculkan potensi-potensi anak-anak didik yang selama ini terhidden, dan meningkatkan hormon endorphin anak didik. Hormon endorphin ialah hormon rasa senang karena adanya stimulus positif (Haruyama, 2014). Dalam hal ini rasa senang belajar IPS karena stimulus dan apresiasi positif yang sering diberikan guru.
Dengan demikian, love social science to build a better civilization akan mudah tercapai. Selain itu, target tentang kualitas anak-anak didik harus lebih baik daripada kualitas guru ataupun generasi-generasi sebelumnya, menjadi kunci bahwa guru harus dapat menyajikan pembelajaran IPS secara utuh. Hal ini didasarkan pada kompleksitas permasalahan di masa depan yang lebih rumit, sehingga dibutuhkan kualitas sumber daya manusia yang lebih bagus juga. Dengan kondisi ini, diharapkan anak-anak didik kita mampu mengubah Indonesia menjadi negara yang lebih makmur dan jaya dengan peradaban yang lebih baik. Aamin ya Rabbal’aalamiin.

DAFTAR PUSTAKA
Chirzin, Muhammad. 2014. Permata Alqur’an. Jakarta: Gramedia Pusaka Utama.
Haruyama, Shigeo. (2014). The Miracle of Endorphin: Sehat Mudah dan Praktis dengan Hormon Kebahagiaan. Bandung: Qanita.
Sapriya. 2012. Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suyono; Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Selasa, 12 November 2019

Pemerintah Segera Benahi Pendidikan Nasional untuk Respons Perubahan Global

Hands waving flags of indonesia Free Photo

Sebagai bagian dari program pembangunan sumber daya manusia yang menjadi fokus perhatian pemerintah dalam lima tahun mendatang, Presiden Joko Widodo mengamanatkan pembenahan menyeluruh di bidang pendidikan. Pembenahan tersebut dimaksudkan agar pendidikan nasional mampu beradaptasi dengan perubahan global yang sedemikian cepat.

Hal tersebut kembali ditekankan oleh Presiden saat memimpin rapat terbatas mengenai program pendidikan dan beasiswa bersama jajaran terkait di Kantor Presiden, Jakarta, pada Selasa, 12 November 2019.

"Saya beberapa kali telah menekankan betapa pentingnya pembenahan sistem pendidikan kita agar mampu merespons perubahan yang berjalan begitu cepat, agar lebih fleksibel, agar lebih adaptif dengan perubahan dunia yang kita alami," ujarnya.

Untuk itu, Kepala Negara memandang diperlukan langkah-langkah terobosan yang cepat di sektor pendidikan untuk mewujudkan hal itu. Salah satunya ialah dengan pemanfaatan infrastruktur dan kemajuan teknologi untuk mengatasi rentang geografis Indonesia yang luas dan terbentang di 17 ribu pulau.

"Diperlukan langkah-langkah terobosan yang cepat dengan memanfaatkan infrastruktur dan kemajuan teknologi yang ada sehingga perwujudan dari pemerataan akses dan kualitas pendidikan yang bisa menjangkau rentang geografis negara kita yang sangat luas betul-betul bisa kita laksanakan karena mencakup 17 ribu pulau dan 300 ribu sekolah yang ada," tutur Presiden.

Selain berbicara soal aspek sistem pendidikan, Presiden Joko Widodo juga memberi perhatian bagi kualitas infrastruktur fisik pendidikan seperti gedung-gedung sekolah utamanya yang berada di daerah-daerah terpencil di Tanah Air. Sambil menyoroti kondisi banyak gedung sekolah yang dianggap membahayakan keselamatan siswa dan guru, Kepala Negara meminta adanya skema program bersama antara pemerintah pusat dan daerah untuk mengatasi hal itu.

"Walaupun ini adalah wilayah ranah kewenangan daerah dan mestinya harus menjadi fokus perhatian pemerintah daerah, namun saya minta ada skema program bersama antara pusat dan daerah dalam melakukan percepatan untuk rehabilitasi gedung-gedung yang rusak berat, rusak sedang, maupun rusak ringan," ucapnya.

Adapun untuk mendukung upaya peningkatan akses yang lebih luas kepada pelayanan pendidikan, pemerintah saat ini juga mempersiapkan program beasiswa yang disalurkan melalui Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Pintar Kuliah. Presiden meminta agar program tersebut benar-benar dipersiapkan dengan baik.

"Jangan sampai mereka ada yang putus sekolah gara-gara urusan biaya pendidikan," tandasnya.


Jakarta, 12 November 2019
Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Website: https://setpres.setneg.go.id
Youtube: Sekretariat Presiden

Senin, 11 November 2019

HARUSKAH JABATAN PENGAWAS DIHAPUSKAN?

oleh Sugiyanto, S.Pd., M.Pd.
Pengawas SMP Kabupaten Muaro Jambi

“Ganti pejabat ganti kebijakan”, keadaan yang demikian kayaknya sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia. Penulis dan mungkin sebagian besar rakyat Indonesia selalu menunggu kebijakan yang baru pada saat terjadi perubahan pejabat. Keadaan ini sepertinya sedang kita alami sekarang di Negara kita, sejak pergantian presiden kemudian berlanjut dengan pelantikan pejabat Menteri utamanya menteri pendidikan maka masyarakat sudah menunggu kebijakan baru apa yang akan dilaksanakan dalam Kabinet yang baru nanti.
Media social akhir-akhir ini sedang hangat-hangatnya membicarakan kebijakan baru sehubungan dengan dilantiknya menteri pendidikan yang baru yaitu Bapak Nadiem Makarim. Mayarakat utamanya pelaku dan pemerhati pendidikan sudah menunggu-nunggu kebijakan baru apa yang akan diterapkan di institusi pendidikan nantinya. Setelah Bapak Menteri pendidikan dan kebudayaan mengundang 22 organisasi guru dan komunitas guru meminta masukan sejumlah hal terkait kebijakan pendidikan pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Salah satu usulan yang kemudian menjadi hangat diperbincangkan adalah usulan dari ketua IGI Mumammad Ramli Rahim, ia mengusulkan bahwa “agar jabatan pengawas sekolah dihapuskan hingga jumlah guru yang dibutuhkan mencukupi. Jabatan pengawas sekolah boleh diadakan kembali jika jumlah kebutuhan guru terpenuhi. Hilangnya tanggungjawab mengajar kepada kepala sekolah seharusnya dimaksimalkan fungsinya sehingga keberadaan pengawas sekolah untuk sementara bisa diabaikan”. (https://republika.co.id/berita/q0fx90384/diundang-mendikbud-ini-usulan-igi-untuk-pendidikan diakses tanggal 12 November 2019 Pukul 10.16 WIB).
Setelah usulan tersebut diunggah di media maka muncul beragam tanggapan di media sosial dari masyarakat pemerhati pendidikan dan pelaku pendidikan utamanya guru dan pengawas sendiri, ada yang mendukung dan ada yang menolak. Wajar jika muncul tanggapan yang beragam mengingat pendidikan merupakan kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia, dan masyarakat sangat mengharapkan kebijakan pendidikan yang memihak kepada masyarakat dan mengikuti perkembangan zaman.
Penulis menilai wajar jika ada kelompok masyarakat yang mendukung dan menolak usulan tersebut, karena mereka memiliki beberapa pertimbangan sehingga memilih mendukung usulan tersebut. Besarnya tanggapan tersebut menunjukkan begitu besarnya harapan dan keinginan masyarakat terhadap Pengawas  Sekolah dan kenyataannya menurut mereka kondisi pengawas saat ini tidak sesuai dengan harapan masyarakat yang mendukung usulan ini. Menurut penulis ada beberapa hal yang membuat masyarakat mendukung usulan ini diantaranya ialah adanya anggapan bahwa : a) pengawas adalah jabatan buangan setelah tidak menjabat lagi sebagai kepala sekolah dan menjelang pensiun; b) Pekerjaan pengawas adalah pekerjaan “setengah pensiun” artinya ada anggapan bahwa kalau menjadi pengawas karena mau pensiun maka tidak perlu bekerja secara maksimal tapi yang penting dijalani sesampainya saja; 3) pengawas datang ke sekolah ketemu kepala sekolah sudah selesai; 4) pengawas hanya memeriksa administrasi guru dan cenderung mencari-cari kesalahan guru; 5) pengawas tidak memiliki kompetensi karena banyak pengawas tidak mau mengupgrade ilmu pengetahuannya dikarenakan sudah berumur, dan masih banyak lagi, yang pada intinya kelompok masyarakat yang mendukung usulan ini memandang memang pengawas itu tidak penting, dan bahkan ironisnya kalau ditawarkan kepada guru banyak yang tidak mau jadi pengawas dan lebih tertarik menjadi kepala sekolah.
Sebagai pengawas yang baru diangkat pada awal tahun 2018 penulis pada awalnya memiliki pemahaman yang sama dengan sebagian besar ada dalam masyarakat tersebut, karena setelah diangkat menjadi pengawas tidak dibekali dengan ilmu kepengawasan dan tidak dipersiapkan secara baik untuk menjadi pengawas melalui diklat dan sejenisnya. Sehingga pada awal dilantik menjadi pengawas pada awalnya banyak pertanyaan dibenak penulis yang pada akhirnya berfikir “seperti inikah seorang pengawas?”, Kadang penulis mengalami kejenuhan dalam bertugas karena kayaknya tugas pengawas kok itu-itu saja. Wajarlah kalau sebagian masyarakat menganggap keberadaan pengawas tidak diperlukan, kalau yang dikerjakan pengawas hanya datang ke sekolah ketemu kepala sekolah kemudian ketemu guru menanyakan administrasi mengajar guru dan kemudian pulang. Penulis menganggap wajar karena sebagian besar masyarakat dan bahkan guru dan kepala sekolah tidak tahu tugas pokok dan fungsi pengawas yang sebenarnya itu seperti apa.

Perubahan Paradigma Pengawas
Permenpan dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya dalam pasal 31 dinyatakan bahwa PNS yang diangkat menjadi Pengawas harus memenuhi syarat sebagai berikut : a) berstatus Guru dan memiliki sertifikat pendidik dengan pengalaman mengajar paling sedikit 8 (delapan) tahun atau guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah paling sedikit 4 (empat) tahun sesuai satuan pendidikannya; b) Berijazah paling rendah S-1; memiliki pangkat paling rendah penata, golongan ruang III/c; c)  usia paling tinggi 55 (lima puluh lima) tahun d) lulus seleksi calon Pengawas Sekolah; d) telah mengikuti pendidikan dan pelatihan fungsional calon Pengawas dan memperoleh STTPP. Peraturan ini jelas mengatur bagaimana proses pengangkatan pengawas yang benar itu harus dilakukan oleh pemerintah daerah, tetapi kenyataannya belum seluruhnya mematuhi ketentuan tersebut.
Alhamdulillah kemudian pemerintah daerah tempat Penulis bertugas melaksanakan tahapan pengangkatan Pengawas Sekolah melalui proses yang benar yaitu melalui proses seleksi kemudian orientasi dan dinyatakan lulus memperoleh STTPP baru diangkat menjadi pengawas. Akhirnya penulis mengikuti kembali proses dan tahapan seleksi menjadi calon pengawas tersebut. Setelah mengikuti tahapan ini ternyata penulis baru sadar bahwa tupoksi pengawas itu memang sangat banyak dan berat jika benar-benar dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Selain memenuhi kualifikasi dan ketentuan menjadi Pengawas Sekolah sebagaimana dalam peraturan tersebut Pengawas sekolah harus memiliki beberapa kompetensi, diantaranya Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Supervisi Manajerial, Kompetensi Supervisi Akademik, Kompetensi Evaluasi Pendidikan, Kompetensi Penelitian Pengembangan dan Kompetensi Sosial. Seorang pengawas idealnya harus memiliki semua kompetensi yang diharapkan sebagaimana tersebut, sebagai bekal dalam menjalankan tugasnya. Tugas pokok Pengawas Sekoah sebagaimana tercantum dalam Buku Pedoman Pengawas adalah sebagai berikut :

1.    Pengawasan Akademik
Pengawasan akademik merupakan tugas pengawas sekolah yang berkenaan dengan pelaksanaan tugas pembinaan, pemantauan, penilaian, dan pembimbingan dan pelatihan profesional guru pada aspek kompetensi guru dan tugas pokok guru.
Pembinaan pada pengawasan akademik merupakan kegiatan pembimbingan yang dilakukan melalui bantuan profesional. Pembinaan dilakukan kepada guru dan kepala sekolah, yang tujuannya meningkatnya kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial, dan profesional dalam melaksanakan kegiatan pokok guru di setiap sekolah binaan.
Pemantauan  pada  pengawasan  akademik  adalah  kegiatan pengawasan Dengan mengetahui data dan informasi tentang pelaksanaan kesesuaian dan ketercapaian standar kompetensi lulusan (SKL), standar isi (SI), standar proses, dan standar penilaian dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan.
Penilaian terhadap guru oleh pengawas sekolah merupakan penilaian kinerja guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah pada unsur pembelajaran (14 kompetensi guru mapel/kelas, 17 kompetensi guru BK, atau 12 kompetensi guru TIK). Perangkat penilaian yang digunakan adalah sebagaimana telah diatur dalam Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010 atau ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.
Pembimbingan dan pelatihan yang dilakukan berupa kegiatan pengawasan dalam peningkatan kemampuan guru melaksanakan tugas pokok guru.Tujuan pembimbingan dan pelatihan dilaksanakan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam pembelajaran dan memenuhi tuntutan pengembangan karier (jabatan fungsional guru dan angka kreditnya melalui pengembangan keprofesian berkelanjutan.

2.    Pengawasan Manajerial
Pengawasa manajeria merupaka tugas   pengawa sekola yang meliputi kegiatan pembinaan, pemantauan, penilaian, serta pembimbingan dan pelatihan profesional kepala sekolah dan tenaga kependidikan lain pada aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang terkait langsung dengan peningkatan efisiensi dan efektivitas sekolah dalam mendukung terlaksananya proses pembelajaran.
Pembinaan pada pengawasan manajerial merupakan kegiatan pembimbingan yang dilakukan melalui bantuan profesional kepada kepala sekolah. Pembinaan kepada kepala sekolah meliputi a Kompetensi Kepribadian dan Sosial, b) Kepemimpinan Pembelajaran, c) Pengembangan Sekolah, d Manajemen Sumber, e) Kewirausahaan,  dan f) Supervisi Pembelajaran.
Pemantauan pada pengawasan manajerial adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan dan/atau kesesuaian SNP dalam penyelenggaraan pendidikan pada satuan pendidikan dan menemukan hambatan-hambatan dalam pelaksanaan program.
Penilaian terhadap kepala sekolah oleh pengawas sekolah merupakan penilaian kinerja  bagi kepala sekolah dalam pengelolaan pendidikan pada satuan pendidikan. Perangkat penilaian yang digunakan adalah sebagaimana  telah diatur dalam Permendiknas  Nomo 35 Tahun 2010, Buku Pedoman Pelaksanaan Kinerja Guru, Suplemen Buku 2, dan/atau ketentuan peraturan perundangan lainnya.
Pembimbingan dan pelatihan profesional kepala sekolah merupakan pembimbingan bertujuan untuk memenuhi tuntutan pengetahuan dan keterampilan kepala sekolah dan tenaga kependidikan dalam pengelolaan satuan pendidikan untuk keterlaksanaan dan pemenuhan delapan Standar Nasional Pendidikan. Pembimbingadan pelatihan profesional kepala sekolah bertujuan untuk meningkatkan kompetensi kepala sekolah dan tenaga kependidikan dalam pengelolaan sekolah.
Sebenarnya telah terjadi perubahan paradigm pengawas yang semula hanya dianggap sebagai jabatan buangan menjelang pensiun karena tidak lagi menjabat sebagai kepala sekolah, hanya mengurusi administrasi guru/kepala sekolah dan cenderung mencari kesalahan guru/kepala sekolah. Hal Ini adalah gambaran “paradigma Pengawas zaman dahulu”. Perubahan paradigma pengawas yang baru seorang pengawas dituntut untuk memiliki beberapa kompetensi diantaranya kompetensi kepribadian dan sosial, b) kepemimpinan pembelajaran, c) pengembangan sekolah, d manajemen sumber, e) kewirausahaan,  dan f) supervisi Pembelajaran yang selalu mengupgrade pengetahuan dan ketrampilannya sehingga mampu bertugas sebagai pengawas yang professional dalam menjalankan tugasnya. Hal ini mengingat tupoksi pengawas yang tidaklah ringan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Tugas pengawas ini tidak bisa digantikan oleh kepala sekolah mengingat bagian dari tugas pengawas adalah memberikan pembinaan, pemantauan, penilaian, pembimbingan dan pelatihan kepada kepala sekolah.
Kalau ada sebagian masyarakat menginginkan jabatan pengawas itu dihapuskan mungkin masyarakat tersebut belum mengetahui tugas pokok dan fungsi pengawas sekolah yang sebenarnya. Jika mereka mengatahui tupoksi pengawas yang sebenarnya mungkin akan memilih opsi yang lain, mengingat tupoksi pengawas sebagaimana dalam tugas pengawasan akademik dan tugas kepengawasan manajerial yang meliputi pembinaan, pemantauan, penilaian, dan pembimbingan dan pelatihan kepada guru dan kepala sekolah. Tugas ini tidaklah mudah sehingga wajar jika sebelum menjadi pengawas diadakan serangkaian kegiatan seleksi, orientasi dan harus lulus sehingga baru bisa diangkat menjadi pengawas sebagaimana ketentuan dalam Permenpan dan RB nomor 21 tahun 2010.
Perubahan paradigma Pengawas adalah bahwa Pengawas bukan “jabatan buangan menjelang pensiun setelah tidak lagi menjabat sebagai kepala sekolah”. Tetapi Paradigma baru Pengawas adalah seorang pengawas harus memiliki kualifikasi dan kompetensi dan harus selalu mengupgrade informasi dan ketrampilannya sehingga kehadiran pengawas dirindukan oleh guru dan kepala sekolah karena selalu mampu memberikan pencerahan dan solusi terhadap permasalahan guru dan kepala sekolah..
Merubah paradigma pengawas tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu proses dan keseriusan berbagai pihak termasuk pengawas sendiri. Hal ini merujuk pada Permen PAN dan RB nomor 14 Tahun 2016 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2010 menegaskan bahwa instansi pembina jabatan fungsional Pengawas Sekolah adalah Kementerian Pendidikan Nasional. Untuk itu dalam rangka pemetaan kompetensi pengawas sekolah, pada tahun 2015 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  telah  menyelenggarakan  ujkompetensi  pengawas  sekolah yang diikuti oleh 24.293 pengawas sekolah dengan  jenis, jenjang, dan masa kerjyanbervariasi.  Nilai rerata  kompetensi  pengawas  sekolah  adalah 39,64 untuk dimensi evaluasi pendidikan; 38,24 untuk dimensi penelitian dan pengembangan; 41,87 untuk dimensi supervisi akademik; dan 44,52 untuk dimensi supervisi manajemen. (Panduan Kerja Pengawas, Depdikbud, 2017).
Data tersebut menunjukkan bahwa Pengawas Sekolah membutuhkan perhatian yang lebih serius dalam peningkatan kompetensinya. Sehingga menurut hemat penulis bukan menghapuskan jabatan pengawas tapi yang diperlukan sekarang adalah bagaimana memberdayakan Pengawas Sekolah sebagaimana tupoksinya dan membekali dengan pengetahuan dan ketrampilan yang baru sehingga pengawas memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk bisa melaksanakan tupoksinya dengan baik. Pengawas diberikan Pendidikan dan Pelatihan dengan materi kekinian sehingga pengetahuannya tidak usang.
Kenyataan selama ini pengawas belum memperoleh pendidikan dan pelatihan yang memang diperlukan untuk memperkuat pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Pemerintah seharusnya memberikan pembinaan, pendidikan dan pelatihan  yang seimbang antara guru dan pengawas, sehingga pengawas memiliki kemampuan yang minimal sama dengan gurunya dan seharusnya lebih dari gurunya. Jadi “bukan malah dibubarkan” tetapi dibekali dengan ketrampilan yang cukup dan diberdayakan dengan baik dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Seharusnya Pengawas Sekolah dijadikan kepanjangtanganan pemerintah untuk membina, memantau, membimbing dan melatih, serta menilai guru dan kepala sekolah dalam satuan pendidikan.

Sebagai pengawas kita harus selalu berusaha mengupgrade informasi melalui berbagai sumber informasi dengan menggunakan teknologi sehingga bisa menjawab permasalahan guru dan kepala sekolah yang kehadirannya di sekolah selalu dirindukan. Semoga bisa, aamiin.
.