Jumat, 08 November 2019

BAHAYA ETNOSENTRISME

German infantryman with a rifle in their hands in the shelter Premium Photo

oleh  Yanuar Iwan.

Ingatlah selalu bahwa Anda benar-benar unik. Sama seperti orang lain. 
( Margaret Mead, Antropolog )

Antropologi adalah disiplin ilmu yang mulai berkembang pada abad 19. Para Antropolog Amerika Serikat dan Eropa mulai mempertanyakan stigma-stigma dan stereotipe kebudayaan yang dilekatkan pemerintah kolonial Eropa kepada suku bangsa di Asia dan di Afrika, dikotomi kebudayaan Eropa lebih beradab dari kebudayaan lain di muka bumi perlu di uji berdasarkan disiplin ilmu antropologi.

Anggapan memandang rendah kebudayaan lain di luar Eropa dan Amerika Utara pada abad 18 dan abad ke 19 jelas terlihat dalam film dengan kategori sutradara terbaik dan aktor utama terbaik 2016. Film The Revenant mengisahkan hancurnya kebudayaan Suku Indian akibat politik ekspedisi, ekspansi, dan eksploitasi orang-orang kulit putih di Amerika Utara.

Dalam antropologi istilah etnosentrisme mengandung pengertian bahwa kepercayaan terhadap kebudayaan sendiri lebih baik daripada semua kebudayaan lain. Dalam keadaan  normal etnosentrisme bisa memotivasi perasaan, perasaan kuat dan cinta terhadap kebudayaannya  sendiri dalam beberapa masyarakat hal tersebut bisa memperkokoh proses integrasi kebudayaan dan memperkuat identitas.

Etnosentrisme dalam bentuknya yang ekstrim bisa dilihat dari usaha-usaha sistematis dan masif dari Bangsa-bangsa Eropa, seperti: Inggris, Belanda, Perancis, Spanyol dan Portugis di dalam memarginalkan masyarakat dan suku-suku pribumi termasuk sistem religi dan keagamaannya untuk melanggengkan kepentingan-kepentingannya ditanah jajahan. Politik Apartheid di Afrika Selatan ( 1948-1994 ) adalah politik perbedaan warna kulit untuk kepentingan kekuasaan, minoritas kulit putih terhadap mayoritas kulit hitam. Perbudakkan di Amerika Serikat pada abad 18 dan abad 19. Diskriminasi berdasarkan kelas dan hierarkhi sosial yang dilakukan Belanda di Indonesia pada masa kolonialisme, pribumi berada pada strata kelas sosial paling bawah setelah orang-orang timur asing ( Cina, India, dan Arab ) dan orang-orang Eropa. Paham-paham etnosentrisme yang lebih radikal dan ekstrim bisa dilihat dari iideologi Partai Nazi dibawah Adolf Hitler, Partai Fasis dibawah Mussolini dan militerisme Jepang yang mengakibatkan malapetaka Perang Dunia II.

Etnosentrisme bisa mengakibatkan disintegrasi dikalangan masyarakat suatu negara yang plural, kerusuhan-kerusuhan di Papua seperti di Wamena pada 23 September 2019, telah merusak tatanan kemanusiaan, mengancam integrasi dan menimbulkan trauma mendalam, puluhan rumah, belasan kantor, dan sebuah pasar dibakar massa, puluhan orang meninggal dan luka-luka, ribuan warga pendatang dan warga asli Papua mengungsi.

Etnosentrisme terbentuk dari prasangka, stereotipe kebudayaan yang sengaja dilekatkan oleh kelompok-kelompok tertentu terhadap suku bangsa tertentu dengan tujuan untuk kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi.

Etnosentrisme mengancam negara-negara dengan kondisi masyarakat plural seperti Indonesia. Kesenjangan pembangunan antar daerah, kesenjangan pendidikan, kesenjangan sosial dan ekonomi, dominasi ekonomi oleh etnis-etnis tertentu, penduduk asli yang termarginalkan dan provokasi serta gangguan keamanan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok separatis atau kelompok-kelompok ekstrim dengan agenda-agenda tertentu mengakibatkan sikap etnosentrisme bisa menjadi pemantik pecahnya kerusuhan sosial.

Etnosentrisme memiliki cakupan dan akibat yang luas sebagaimana EB Tylor mendifinisikan kebudayaan sebagai kompleks keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, kebiasaan dan lain-lain kecakapan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat ( William Havilland, Antropologi, 1988, 332 ).
Hal ini menjadikan etnosentrisme sebagai permasalahan kompleks yang selalu menjadi ancaman, tidak saja terhadap negara-negara berkembang tetapi juga negara-negara maju.

Dalam hal etnosentrisme antropologi sudah menegaskan bahwa manusia tidak bereaksi terhadap lingkungan seperti apa adanya, tetapi ia bereaksi terhadap lingkungan seperti yang dipahaminya, dan kelompok manusia dapat memahami lingkungan yang sama dengan cara-cara yang sangat berbeda satu sama lain.

Frans Boas ( 1858-1942) Antropolog AS, mempelopori penelitian dan kerja lapangan yang teliti dan terperinci. Tesisnya bahwa kebudayaan harus dinilai berdasarkan ukuran, dan nilai-nilainya sendiri, dan tidak berdasarkan ukuran dan nilai si peneliti, merupakan filsafat yang sangat mencerahkan pada zamannya. ( William Havilland, Antropologi II, 1988, 265 )

Cipanas, awal oktober 2019, di Perpustakaan SMPN 1 Cipanas.Cianjur, Jabar