Jumat, 08 November 2019

HEROISME DI JEMBATAN MERAH


oleh Enang Cuhendi

“Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih. Akan tetap hidup, tetap menuntut bela, siapapun lawan yang aku hadapi.” 
-Jenderal Soedirman-

Siang itu udara lumayan terik khas kota ini yang memang berada diketinggian hanya 5 meter di atas permukaan laut. Walau begitu kupaksa kaki tuk terus melangkah. Tekadku hanya satu, sesampainya di Kota Pahlawan ini aku harus menginjakan kaki di jembatan itu. Sebuah jembatan yang mempunyai nilai historis tersendiri bagi kota dan juga negeri ini.

Kata orang yang kutanya tadi, setelah berjalan melewati sebuah taman besar yang diberinama “Taman Sejarah”, maka langkah kita berikutnya akan sampai di tempat yang dicari, yaitu Jembatan Merah yang sangat terkenal di Surabaya. Setelah menyeberang jalan terlihat sebuah taman besar, dengan hiasan bambu runcing dari bahan seperti fiber berjejer di depannya. Jelas terlihat sebuah tulisan besar, “Taman Sejarah”. 

Taman Sejarah, Surabaya
Langkah pun kupercepat. Aku yakin jembatan yang ada di samping taman adalah tempat yang kutuju. Dari jauh memang mulai terlihat jelas sebuah jembatan yang tidak terlalu besar dengan besi penghalang sungai di sampingnya yang berwarna merah. Aku berdiri di salah satu ujung jembatan yang tidak jauh dari taman. “Alhamdulillah akhirnya aku sampai juga di tempat bersejarah ini.” ucapku dalam hati.

Dari segi fisik sepintas Jembatan Merah memang tidak begitu indah. Lebih indah Jembatan Pasupati di Bandung atau Gentala Arasy di Jambi. Tapi sisi yang tidak dimiliki kedua jembatan tersebut adalah nilai historis yang tinggi seperti, Jembatan Merah. Di sini ada nilai sejarah yang lama terkait sejarah Kota Surabaya. Di sini pun ada nilai patriotisme yang sangat tinggi dari  para Arek Suroboyo di masa lalu.

Ingatanku melayang ke masa ratusan tahun yang lalu. Saat Sultan Paku Buwono II dari Mataram bersepakat dengan VOC pada 11 November 1743. Dalam kesepakatan tersebut disebutkan bahwa beberapa daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan ke VOC, artinya sejak saat itu Surabaya berada di bawah kolonialisme Belanda.

Belanda membangun Surabaya menjadi sebuah kawasan komersial. Untuk mempercepat pembangunan kota dibangunlah sebuah jembatan kayu yang menghubungkan Kali Mas (eks sungai Soerabaja) dengan Gedung Residen Surabaya.  Pada sekira 1890-an jembatan yang menghubungkan jalan Rajawali dan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya saat ini mengalami perubahan yang luar biasa secara fisik. Hal ini ditandai dengan diubahnya pagar pembatas dari kayu menjadi besi dan dilakukan pengecatan. Pengecatan diberikan dengan memberikan warna merah sebagai penghias jembatan, sehingga masyarakat mengenalnya sebagai Jembatan Merah atau Roode Brug.

Di Jembatan Merah
Pembangunan kota di bawah kendali pemerintah kolonial Belanda terus berkembang. Jembatan Merah akhirnya menjadi fasilitator yang sangat penting pada era itu. Di sekitar jembatan beberapa bangunan penting mulai bermunculan. Bahkan beberapa bangunan peninggalan Belanda tersebut masih difungsikan sampai saat ini.

Di masa lalu Jembatan Merah juga pernah menjadi saksi hidup dari perjuangan Bangsa Indonesia, khususnya pahlawan-pahlawan Surabaya yang berjuang melawan kolonialisme Belanda. Dengan semangat patriotisme yang tinggi Arek-arek Suroboyo (Pemuda Surabaya) bertempur mengusir penjajah dari Bumi Surabaya. Walau memang perjuangan tersebut tidak selalu berhasil dengan baik, tetapi semangat patriotisme para pemuda ini sangat patut diapresiasi. Jembatan Merah menjadi saksi atas semua semangat, pengorbanan dan cucuran darah Arek Suroboyo.

Setiap kali kita mengenang peristiwa Pertempuran 10 November 1945 maka Jembatan Merah tampil menjadi saksi bisu atas peristiwa tersebut. Jembatan Merah menjadi saksi pertempuran antara pemuda Surabaya dengan pasukan Sekutu yang berakhir dengan kematian Brigjen A.W.S. Mallaby sebagai komandan Brigade 49/Divisi India ke-23 tentara Sekutu. Di sini pula gugur para pejuang Surabaya dalam menegakkan harga diri dan kemerdekaan bangsa ini dari tangan kaum penjajah, khususnya Sekutu saat itu. Gema Takbir dan kata-kata semangat yang digelorakan Bung Tomo dari corong radio disambut dengan heroisme yang luar biasa dari Arek Suroboyo. Ujung senapan dan meriam serta tank-tank Sekutu tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus melawan walau nyawa taruhannya.

Kenanganku akan masa lalu Jembatan Merah tersadarkan ketika seorang abang becak tua menawariku untuk naik becaknya. Tentunya kujawab tidak, karena  aku masih ingin menyusuri daerah sekitar Jembatan Merah.

Seperti diketahui saat ini Jembatan Merah merupakan salah satu pusat perniagaan di Surabaya. Di Jalan Rajawali berdiri berbagai gedung perkantoran, perbankan dan lain-lain. Juga Hotel Ibis Surabaya berdiri kokoh di jalan tersebut. Sejak beberapa tahun lalu, berdiri Jembatan Merah Plasa dan di depannya menjadi terminal bayangan kendaraan angkutan kota, dan bus kota juga tidak jauh dari jembatan merah ada Makam Sunan Ampel.

Sebelah timur jembatan merah ada jalan Kembang Jepun. Jalan ini merupakan pusat perdagangan, yang oleh Pemerintah Kota Surabaya dijadikan kawasan pecinan. Di lokasi ini menurut penuturan mulai pagi hingga sore, terlihat sangat ramai bahkan katanya seringkali macet. Untuk menghidupkan kawasan Kembang Jepun, sejak tahun 2003 lalu disulap menjadi pusat makanan Surabaya, atau yang dikenal dengan Kya-Kya. Sepanjang jalan yang berjarak sekitar 300 meter itu, digarap bak kampung pecinan.Wisata Indonesia Surga Dunia.

Bagiku jembatan merah adalah sebuah kenangan yang takan terlupakan. Sebagaimana Gesang melantunkan dalam lagunya: “biar jembatan merah seandainya patah akupun bersumpah akan kunanti dia di sini bertemu lagi.” Bertemu kawan-kawan FKGIPS Nasional dari Surabaya dan Jawa Timur. 

(Catatan dari Rakernas FKGIPS Nasional di Surabaya, Pebruari  2019)