Jumat, 01 November 2019

INSIDEN DI PAGI BERBALUT HUJAN


Oleh: Elih Hendartini

Sebelumnya tidak pernah bermimpi menjadi guru. Tetapi, takdir bercerita lain. Dunia pendidikan nyatanya telah membuka berkah hidup yang berlimpah. Di sini ditemukan segala  yang saya cari. pekerjaan, jodoh, dan prestise.

Setelah lulus dari UNPAD, saya bekerja serabutan. Nyaris 10 tahun terseok-seok bertahan hidup seadanya. Upaya menjadi pegawai BUMN selalu gagal. Lima kali mengikuti tes CPNS berakhir kecewa. Sampai akhirnya dipertemukan dengan komunitas pencinta volly ball. Melalui olah raga ini saya mendapat tawaran untuk menggantikan guru Sejarah yang mutasi di salah satu madrasah tsnawiyah.

Setelah menjadi guru walaupun honorer, dunia seakan lebih luas dan terbuka. Seorang teman guru mengenalkan saya dengan seorang pria. Selanjutnya kami berjodoh. Dua anak pun akhirnya menjadi buah cinta kami.

Pintu rezeki seakan terus terbuka. Program Guru Bantu yang dirilis pemerintah tahun 2003 membuka peluang untuk loncat ke SMP. Sejak itu saya bekerja di lingkungan Kemendiknas. Melalui tes CPNS umum tahun 2005 status kepegawaian saya berubah menjadi PNS. Sesuai SK saya pertama kali ditugaskan di SMPN 3 Leuwidamar.

Jarak tempat tugas baru ini lumayan jauh. Untuk mencapainya dibutuhkan sekitar 1 jam perjalanan. Sekolah dengan sebutan SMP Landbow ini terletak tepat di Km 27 arah ke Bojongmanik atau Ciboleger. Enam tahun bertugas di sana sarat suka dan duka.

Salah satu kisah suka duka bisa saya ceritakan di sini. Seperti biasa setiap hari saya harus menumpang mobil pengangkut sayur untuk pergi ke sekolah. Kendaraan tanggung sejenis minibus yang selalu dipenuhi tukang sayur. Para pedagang sayur dari Ciboleger atau Bojongmanik ini setiap dini hari pergi ke pasar Rangkasbitung. Mereka membeli sayuran dan barang-barang kebutuhan untuk dijual kembali di kampungnya.

Biasanya jam 5.30 mobil-mobil sayur itu sudah siap berangkat menuju pulang. Bersama dua teman saya pun biasanya sudah siap sedia menumpang. Kami duduk berdesakan. Bau keringat bercampur aroma sayuran menjadikan aroma tak lagi enak di hirup. Awalnya sangat terganggu. Namun kian lama terbiasa.

Perjalanan selalu diwarnai obrolan tentang perubahan harga barang kebutuhan. Dengan begini saya jadi bisa update harga-harga di pasar setiap hari. Ini bermanfaat bagi saya sebagai ibu rumah tangga.

Suatu pagi hujan turun cukup deras. Saya memutuskan untuk tetap pergi. Hari ini saya berjanji untuk ulangan harian. Dengan memakai jas hujan dilengkapi payung saya menembus hujan. Agak telat saya tiba di pangkalan mobil sayur. Hujan mulai reda menyisakan gerimis manja. Penumpang sudah menduduki seluruh kursi yang tersedia. Saya diminta naik dan langsung ke bagian belakang. Kursi belakang yang seharusnya untuk empat orang diisi lima. Geser-geser sedikit, terbentuk celah sempit tempat duduk orang ke lima. Saya terpaksa menduduki celah itu. Duduk dengan hanya menempelkan bagian belakang tubuh sedikit. Posisi badan maju dengan kaki menjadi tumpuan. Lengan kuat memegang kursi di depan. Satu jam menahan badan yang sering terdorong efek guncangan mobil menjadi siksaan yang luar biasa.

Tiba-tiba, saya merasakan ada sesuatu yang menimpa ubun-ubun. Satu kali, dua kali, semakin sering tetesan itu menimpa ubun-ubun. Sekian detik, bagian atas kepala saya sudah terasa basah. Bersamaan dengan itu tercium bau amis yang semakin lama menyengat hidung. Alangkah kagetnya saya ketika mendongakkan kepala ke atas. Terlihat butiran cairan keruh yang siap menetes tepat di atas kepala.

Mobil ini sudah tua. Bahan lempengan besi pembentuk atapnya telanjang tanpa lapisan. Kondisinya sudah berkarat di sana-sini. Seorang penumpang berujar, “Wah, Bu Guru tertimpa rezeki. Kaleng ikan di atas mobil sepertinya bocor”. Seluruh penumpang tertawa ditengahi teriakan keras seorang ibu yang berempati melihat kondisi saya. “Aduh, karunya amat Bu Guru, padahal kudu ka sakolah. Coba tadi ngelehan anu diuk di harep!” (“Aduh, kasihan sekali Bu Guru, padahal harus ke sekolah, coba tadi yang duduk di depan ada yang mengalah) tangannya menunjuk penumpang di depan.

Urang mah kan arek balik, Bu Guru mah arek ngantor!” (Kita kan mau pulang, Bu Guru mau ke kantor) lanjutnya. Saya sangat sedih. Inginnya menangis, tapi malu. Kerudung basah dan bau bahkan sudah mengenai baju. Saya berusaha tetap tersenyum. Ini ujian yang harus saya hadapi. Dengan menguatkan diri saya turun tepat di persimpangan jalan menuju sekolah. Suara tawa tertahan masih sempat terdengar ketika mobil menjauh. Hujan gerimis masih setia menemani perjalanan pagi ini.
Saya masih harus berjalan kaki sekitar 200 m untuk sampai ke sekolah. Sepuluh menit lewat dari waktu yang ditentukan. Tanpa ke ruang guru terlebih dahulu saya langsung masuk kelas.
Setelah memberi salam, saya meminta siswa untuk berdoa. Wajah polos anak-anak kampung terlihat keheranan melihat penampilan saya. Hidung mereka mengernyit seketika mencium bau tak sedap. Saya abaikan.
Ulangan berjalan sesuai rencana. Meski terlihat beberapa siswa menutup hidung dan berusaha mencari sumber bau. Saya tetap mengabaikan. Selama itu saya menjaga jarak dengan barisan siswa. Tetap berada di meja guru akan lebih aman.

Sebelum keluar kelas, saya memohon maaf pada anak-anak. Seperti di mobil tadi, tawa mereka pecah selepas saya bercerita. Kali ini saya tidak sedih lagi. Tawa anak-anak membuat saya ikut tertawa.

Insiden di pagi berbalut hujan itu menjadi kenangan yang sangat berkesan. Pengalaman lucu dalam perjalanan tugas saya sebagai guru IPS di daerah sekitar pedalaman Suku Baduy. Sejak 2011 saya mutasi ke SMPN 3 Kalanganyar. Alhamdulillah lebih dekat dari rumah. Cukup 10 menit saya sudah bisa sampai ke sekolah.