Rabu, 13 November 2019

LOVE SOCIAL SCIENCE TO BUILD A BETTER CIVILIZATION

Diversity, Cultures, Worldwide, Network, Cooperation

Susiani Setyaningsih, M.Pd

SMP Al Hikmah Surabaya

Guru adalah salah satu sosok yang sangat berperan penting dalam membangun peradaban bangsa ini. Tugas utamanya, yaitu mentransfer ilmu dan nilai-nilai kehidupan yang dibutuhkan anak-anak didik kita di masa depan. Namun realitanya, guru sering terjebak untuk menuntaskan materi pembelajarannya. Tuntutan ujian  akhir di jenjang pendidikan, menyebabkan mereka harus mentransfer materi-materi yang harus dikuasai oleh anak didik. Akibatnya, fokus utama hanya pada ketuntasan materi. Dampaknya mungkin tidak bisa dirasakan satu, dua, ataupun tiga tahun ini. Tetapi bisa jadi dirasakan ketika mereka sudah dewasa. Ada banyak bekal hidup yang mereka tidak kuasai, sehingga permasalahan-permasalahan sosial akan semakin merebak di masa depannya. Bahkan mungkin mereka menjadi aktor timbulnya masalah yang terjadi di masa depan. Sebagai contoh meningkatnya kriminalitas, demoralisasi di mana-mana, bahkan peradaban masyarakat semakin menurun seiring menurunnya kualitas sumberdaya manusia.
Sebagai upaya preventif, tentu perlu ada upaya nyata yang harus dipersiapkan mulai dari sekarang.  Kondisi ini memberi tantangan tersendiri, bagi kita seorang guru agar dapat menyajikan pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran yang memberikan bekal untuk masa depan anak-anak didik kita. Pembelajaran yang dapat mempersiapkan mereka menjadi warga negara yang baik. Menurut Saxe dalam Sapriya (2012: 35), warga negara yang baik yaitu warga negara yang memahami dirinya sendiri dan masyarakatnya, mampu merasa sebagai warga negara, berpikir sebagai warga negara, dan bertindak sebagai warga negara.
IPS mempunyai tanggung jawab untuk membentuk anak-anak didik di sekolah agar menjadi warga negara yang baik. Tolok ukurnya yaitu warga negara yang mampu menghargai orang lain, dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Banks dalam Sapriya (2012:3) mengemukakan bahwa tujuan utama IPS yaitu mempersiapkan warga negara yang dapat membuat keputusan reflektif dan berpartisipasi dengan sukses dalam kehidupan kewarganegaraan di lingkungan masyarakat, bangsa, dan dunia.
Tujuan mulia ini akan tercapai apabila guru dapat merancang pembelajaran bermakna yang dapat melatihkan kompetensi siswa-siswanya. Love social science to build a better civilization merupakan capaian pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk mencintai belajar IPS agar terbentuk peradaban manusia yang lebih baik ke depannya. Jadi tidak hanya menguasai konsep saja, tetapi bagaimana memaknai bahwa untuk meningkatkan kualitas hidupnya, maka mereka perlu dilatihkan untuk terus belajar. yaitu pembelajaran yang menerapkan empat pilar pendidikan. Menurut UNESCO dalam Suyono (2011: 29), empat pilar belajar yaitu, learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to do (belajar untuk bekerja), learning to live together (belajar untuk hidup berdampingan dan berkembang bersama), dan learning to be (belajar untuk menjadi manusia seutuhnya).
Implementasinya dibutuhkan perencanaan yang matang agar terwujud pembelajaran yang bermakna. Seperti halnya pembelajaran IPS yang telah dilaksanakan di SMP Al Hikmah Surabaya. Sekolah memiliki tagline berbudi dan berprestasi, yang mengharuskan guru untuk dapat meluluskan anak didik tidak hanya berprestasi tetapi juga berbudi. Bahkan tagline berbudi didahulukan sebelum berprestasi. Artinya karakter dan adab lebih diutamakan pelaksanaannya, yang selanjutnya diikuti prestasi.
Diawali dengan niat bahwa semua yang kita lakukan sebagai bentuk ibadah kita kepada Allah SWT. Dengan didasarkan kepadaNya maka segala sesuatunya akan mendapat berkahNya. Pada konsep ini, guru menerapkan pilar learning to be. Adapun pembiasaan yang harus dilakukan yaitu mengawali dan mengakhiri pembelajaran IPS dengan berdo’a. Bahkan agar proses pembelajaran IPS dapat dipahami anak didik sampai pada kebermanfaatan ilmu yang diajarkannya, maka seorang guru harus sering mendo’akan anak-anak didiknya. Sesuai Q.S An Nashr 1-8, dijelaskan bahwa “Bukankah kami telah melapangkan dadamu? Dan kami menghilangkan bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan sebutan namamu. Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sunggh urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmu hendaknya kamu berharap.”
Ketika pondasi dasar bahwa IPS adalah media kita dalam menjalankan fungsi manusia sebagai khalifah di bumi, maka langkah selanjutnya yang perlu dilakukan yaitu pembiasaan-pembiasaan baik yang harus dilakukan di setiap pembelajaran IPS. Sebagai contoh mendo’akan negara agar selalu aman (kerusuhan di wamena pada 23 september 2019, sumber: www.kompas.com), dijauhkan dari bencana (gempa magnitudo 5.1 terjadi di Kepulauan Aru pada 3 oktober 2019, sumber: detiknews), disejahterahkan masyarakatnya (Utang Indonesia mencapai Rp 4.570 Triliun pada mei 2019, sumber Liputan6.com), dan keberkahan untuk negara Indonesia. Bentuk-bentuk kepedulian inilah yang perlu dibangun kepada anak-anak didik, agar mereka mempunyai rasa memiliki terhadap kondisi negaranya. Apabila ini dilakukan secara rutin dengan bentuk kepedulian menyesuaikan kondisi yang terjadi saat itu, maka pembiasaan-pembiasaan ini akan melekat dalam diri anak didik. Mereka akan memiliki rasa memiliki negaranya (self of belonging), sehingga dapat meningkatkan rasa cintanya pada negara dan meningkatkan nasionalisme mereka sebagai warga negara.
Selanjutnya, guru harus menganalisis setiap  kompetensi dasar untuk menentukan keterampilan-keterampilan hidup dan pembiasaan-pembiasaan karakter yang akan dilatihkan guru kepada anak didiknya. Sebagai contoh pada KD 3.1 kelas 9 yaitu menelaah perubahan keruangan dan interaksi antarruang negara-negara Asia dan benua lainnya yang diakibatkan faktor alam, manusia, dan pengaruhnya terhadap keberlangsungan kehidupan manusia dalam ekonomi, sosial, pendidikan, dan politik. Pada KD ini, guru dapat melatihkan keterampilan collaborative, critical thinking, creative comunicative, dan literasi IT dalam menyelesaikan tugas power point dan presentasi. Keterampilan collaborative dilatihkan ketika mereka menyelesaikan penugasan dalam bentuk kelompok. Keterampilan critical thinking dilatihkan ketika mereka menyusun materi power point dan menjawab pertanyaan ketika sesi tanya jawab disaat presentasi. Keterampilan creative dilatihkan ketika mereka mendesain tampilan power point. Keterampilan comunicative dilatihkan ketika mereka mempresentasikan materi pelajaran dan menjawab pertanyaan dari kelompok lain.  Dan literasi IT dilatihkan ketika mereka mendesain power point dibutuhkan kecakapan dan keterampilan dalam pembuatannya. Pada contoh tersebut, guru telah menerapkan learning to know, learning to do, dan learning to live together secara bergantian dan bahkan secara bersamaan.
Pemberian latihan-latihan tersebut harus diimbangi dengan pembiasaan-pembiasaan baik lainnya. Misalnya pembiasaan menghormati guru, pembiasaan menanggapi pertanyaan dengan baik, pembiasaan menghargai orang lain, dan pembiasaan-pembiasaan positif lainnya. Pembiasaan ini akan tertanam kuat dan dilaksanakan secara konsisten, apabila diawali teladan dari guru. Selain itu, stimulus guru pada setiap yang dilakukan anak didik sangat berpengaruh kuat pada pembiasaan yang dilatihkan oleh guru. Sebagai contoh, ketika ada anak didik yang mengumpulkan tugas di awal waktu, maka guru wajib mengapresiasinya dengan tambahan nilai atau memberi pujian di depan teman-temannya.
Sikap-sikap afirmasi dan motivasi juga berperan dalam memperteguh pembiasan-pembiasaan yang dilatihkan oleh guru. Hal ini dipengaruhi karena secara psikologis, mereka selalu diapresiasi positif ketika melakukan hal-hal baik dan positif. Dampak sikap-sikap tersebut yaitu meningkatkan rasa percaya diri siswa, memunculkan potensi-potensi anak-anak didik yang selama ini terhidden, dan meningkatkan hormon endorphin anak didik. Hormon endorphin ialah hormon rasa senang karena adanya stimulus positif (Haruyama, 2014). Dalam hal ini rasa senang belajar IPS karena stimulus dan apresiasi positif yang sering diberikan guru.
Dengan demikian, love social science to build a better civilization akan mudah tercapai. Selain itu, target tentang kualitas anak-anak didik harus lebih baik daripada kualitas guru ataupun generasi-generasi sebelumnya, menjadi kunci bahwa guru harus dapat menyajikan pembelajaran IPS secara utuh. Hal ini didasarkan pada kompleksitas permasalahan di masa depan yang lebih rumit, sehingga dibutuhkan kualitas sumber daya manusia yang lebih bagus juga. Dengan kondisi ini, diharapkan anak-anak didik kita mampu mengubah Indonesia menjadi negara yang lebih makmur dan jaya dengan peradaban yang lebih baik. Aamin ya Rabbal’aalamiin.

DAFTAR PUSTAKA
Chirzin, Muhammad. 2014. Permata Alqur’an. Jakarta: Gramedia Pusaka Utama.
Haruyama, Shigeo. (2014). The Miracle of Endorphin: Sehat Mudah dan Praktis dengan Hormon Kebahagiaan. Bandung: Qanita.
Sapriya. 2012. Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suyono; Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.