Senin, 04 November 2019

MENGENANG SOE HOK GIE


oleh Yanuar Iwan
(SMPN 1 Cipanas-Cianjur-Jawa Barat

Kita jatuh sakit secara moral karena kita terbiasa mengatakan sesuatu yang berbeda dari apa yang kita pikirkan. ( Vaclav Havel )

Merefleksi Sumpah Pemuda dengan mengenang Soe Hok Gie selalu berdampak kepada pergulatan hati, perasaan, dan pikiran. Hok Gie demikian panggilan akrabnya adalah aktivis 66 yang memiliki kemiripan dengan Chairil Anwar, kaya akan nuansa idealisme, meledak-ledak, kritis, berpikiran terbuka dan egaliter, Hok Gie menimba ilmu di jurusan sejarah FSUI di tahun-tahun kritis 1965-1966 dialah konseptor long march mahasiswa dari Rawamangun ke Salemba berdemonstrasi menuntut turunnya harga-harga kebutuhan pokok, jarang pulang kerumah di Kebon Jeruk, hampir seluruh waktunya dihabiskan di kampus atau di jalan. Di kampus selain mengikuti kuliah juga merencanakan, mengorganisasi demonstrasi dan menghimpun kekuatan.

Hok Gie sudah memutuskan pilihan hidupnya sebagaimana tersurat dari catatan hariannya 20 Agustus 1968, "Di Indonesia hanya ada dua pilihan menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya. Kadang saya takut apa jadinya kalau saya patah-patah....." ( Jakob Oetama, Gelisah atas nama integritas, Soe Hok Gie sekali lagi )

Memandang dunia dengan hitam putih sikap dan pikirannya tidak pernah abu-abu baginya kebenaran harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Keteguhan, keberanian dan idealismenya jelas terlihat di dalam tulisan-tulisannya yang menukik tajam menguliti dan mengkritisi segala hal yang dirasanya tidak benar seperti dalam tulisannya yang berjudul Siapakah Saya ?
"Ya saya cuma bawahan kecil yang hanya menurut perintah atasan. Jika atasan saya bilang X maka saya harus patuh," kata seorang pembantu letnan pada seorang dosen ketika ditanyakan mengapa ia mau melakukan perintah yang jelas-jelas merupakan tindakan manipulasi. Sang pembantu letnan tadi telah menentukan dirinya sebagai manusia kecil dan ia tak pernah berkembang menjadi MANUSIA dengan "M" BESAR.

Seorang Jenderal membiarkan dirinya diperalat seorang pedagang besar ( katakanlah diangkat sebagai presiden direktur boneka ) biasanya berkata : "Gaji saya tidak cukup, dan anak saya banyak. Lagi pula teman-teman saya juga melakukan hal yang sama." Ia juga telah menjawab siapakah dia. Dia telah menentukan dirinya seorang alat dan sebagai alat ia harus memfungsikan dirinya sebaik-baiknya. Sebagai alat ia tak akan pernah menjadi pemimpin yang baik.
Orang Indonesia sekarang amat mudah merasionalkan keadaan. Kepengecutannya dirasionalisasi sebagai kepatuhan. Kemalasan dirasionalisasi sebagai kesulitan ekonomi ( ada seorang dosen malas yang selalu bilang tak ada ongkos jika ditanyakan mengapa ia tidak mengajar.)

Bagi Hok Gie tugas Cendekiawan untuk sementara selesai apabila rezim oligarkhi dan tirani sudah tamat. Tugas cendekiawan adalah mengkritisi dan memberikan solusi dia tidak perlu masuk kedalam lingkaran kekuasaan. Cendekiawan harus steril dari segala pengaruh politik dan kekuasaan yang akan menjauhkannya dari  masyarakat.

Hok Gie mengkritik dekan FSUI Soetjipto Wirjosuparto karena dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar FSUI, Soetjipto begitu mengagungkan pemikiran-pemikiran Soekarno. Hok Gie berujar bahwa segala bentuk puja-puji Soetjipto adalah dekadensi ilmiah. Perguruan tinggi seharusnya bebas dari segala kooptasi kekuasaan.

Pada saat Soekarno jatuh, Gie mengecam cara-cara Orde Baru didalam mengisolasi Soekarno, ia juga mengkritik pembunuhan terhadap orang-orang komunis pasca G.30.S/PKI, "Kita tidak harus bertindak seperti mereka" ujarnya. Yang terdepan baginya adalah memanusiakan manusia, sejauh yang saya lihat dalam tulisan-tulisannya termasuk catatan seorang aktivis Gie tidak pernah lepas dari prinsip kemanusiaan.

Hok Gie memilih menjadi dosen sejarah UI dan menolak bergabung dengan rekan-rekannya sesama aktivis 66 kedalam lingkaran kekuasaan Orde Baru. Ia sempat mengirimkan sebuah paket berisikan perlengkapan wanita dan pakaian dalam sambil menuliskan kata-kata "Gunakan ini agar tampil cantik di parlemen".
Kegusarannya terhadap sikap pragmatis rekan-rekannya dan "mengkhianati perjuangan" ia menulis puisi berjudul "Kepada Pejuang-Pejuang Lama" sebagai berikut.

Kepada pejuang-pejuang lama

Biarlah mereka yang ingin dapat mobil, mendapatnya.
Biarlah mereka yang ingin dapat rumah, mengambilnya.
Dan datanglah kau manusia-manusia
Yang dahulu menolak, karena takut ataupun ragu.

Dan kita, para pejuang lama.
Yang telah membawa kapal ini keluar badai
Yang berani menempuh gelombang ( padahal pelaut-pelaut lain takut)
( kau tentu masih ingat suara-suara dibelakang... "mereka gila")
Hai, kawan-kawan pejuang lama.
Angkat beban-beban tua, sandal-sandal kita, sepeda-sepeda kita
Buku-buku kita atau pun sisa-sisa makanan kita
Dan tinggalkan kenang-kenangan dan kejujuran kita
Mungkin kita ragu sebentar ( ya, kita yang dahulu membina kapal tua ini
ditengah gelombang, ya kita betah dan cinta padanya )

Tempat kita, petualang-petualang masa depan dan pemberontak-pemberontak rakyat
Disana...
Di tengah rakyat, membina kapal-kapal baru untuk tempuh gelombang baru.
Ayo, mari kita tinggalkan kapal ini
Biarlah mereka yang ingin pangkat menjabatnya
Biarlah mereka yang ingin mobil mendapatnya
Biarlah mereka yang ingin rumah mengambilnya
Ayo
Laut masih luas, dan bagi pemberontak-pemberontak tak ada tempat di kapal ini.
( Membaca Pikiran HAM  Soe Hok Gie, Stanley Adi Prasetyo, Soe Hok Gie sekali lagi )

Merefleksi Sumpah Pemuda dengan mengenang Soe Hok Gie adalah suatu pergulatan yang menimbulkan pertanyaan "Masihkah tersisa idealisme Hok Gie di masa kekinian"?

Cipanas di penghujung Oktober 2019