Senin, 18 November 2019

Perkembangan Geografi


Sulistyowati, S.Pd.
SMPN 1 Pujon – Kab. Malang



Erathosthenes ahli filsafat dan astronomi terkenal (276-194SM) ialah orang pertama yang paling berjasa memperkenalkan istilah geografi. Menurutnya geografi berasal dari kata Geographika artinya Writing about Earth or Description of The Earth (tulisan atau deskripsi tentang Bumi).  Pada masa itu, ilmu geografi pada umumnya menceritakan berbagai tempat di permukaan Bumi sebagai hasil penjelajahan ke berbagai penjuru dunia yang dikenal dengan aliran Logografi.
Selain memperkenalkan istilah Geographika, Eratosthenes juga merupakan orang pertama yang berhasil menghitung keliling Bumi secara matematis dan membuktikan bahwa Bumi itu berbentuk bola.
Ilmu geografi mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Bintaro dan surastopo mencatat empat tahap perkembangan ilmu geografi,yaitu geografi klasik,geografi abad pertengahan dan renaissance, geografi modern,dan geografi mutakhir.

Geografi Klasik
Periode geografi klasik dimulai pada abad ke-6 sampai abad ke-1 sebelum Masehi. Pelopornya, antara lain Horemus, Hesodius, Thales, Heraclides, Claudius Ptolomeus, dan Strabo.
Pandangan geografi pada masa ini adalah mempelajari bentuk dan dimensi suatu daerah, lokasi, serta korelasi antara lingkungan alam dan manusi

Geografi Abad Pertengahan dan Renaicance
            Geografi pada masa ini terjadi pada abad ke-15 sampai abad ke-16. Pelopornya adalah Bernhardus Veranus. Pandangan geografi pada masa ini dengan:
  • Geografi umum (sistematik) dan geografi khusus (regional);
  • Geografi fisik dan geografi manusia.

Geografi Modern
Geografi pada masa ini terjadi pada abad ke-17 sampai abad ke-18. Pelopornya adalah Immanuel Kant, Allexander Van Humbolt, Karl Ritter, John Wesley Powell, George Peskins Mars, Verdinand Von Ritchthofen, dan Vidal de la Blache. Pandangan geografi pada masa ini adalah mempelajari bentang alam dan sumber daya air, pengaruh lingkungan fisik terhadap kehidupan manusia, serta wilayah.

Geografi Mutakhir
Geografi pada periode ini terjadi pada abad ke-19 sampai abad ke-21. Pelopornya antara lain Wrigley, Petter Haggett, Gareth Dhaw, dan D. Wheller. Di Indonesia dipelopori oleh ahli-ahli geografi antara lain R. Bintarto, dan Surastopo. Pandangan geografi pada periode ini adalah interaksi yang berkaitan pada analisis keruangan, kelingkungan, dan wilayah.
Adanya berbagai pandangan mengenai geografi di atas, menyebabkan definisi geografi mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Definisi mengenai geografi, telah dikemukakan oleh berbagai ahli, antara lain sebagai berikut:
  • Frederick Ratsel (1844-1904), geografi mempelajari pengaruh lingkungan fisik terhadap kehidupan manusia.
  • R. Hartshorne (1959) dalam bukunya Perspectives on The Nature on Geography, mengemukakan geografi bertujuan menjelaskan secara akurat, teratur, dan rasional tentang karakteristik variabel di permukaan bumi.
  • Wregley, geografi adalah suatu disiplin yang berorientasikan kepada masalah interaksi antara manusia dengan lingkungannya.
  • M. Yeates (1986) dalam bukunya Introduction to Quantitative Analysis in Economic Geography, mengemukakan geografi adalah ilmu pengetahuan tentang pengembangan rasional dan loka.si berbagai karakteristik di atas permukaan bumi.
  • Komisi Ad Hoc Geografi, 1965, geografi menjelaskan bagaimana subsistem lingkungan fisik diatur di permukaan bumi dan bagaimana penyebaran manusia itu sendiri di atas permukaan bumi, dalam hubungannya dengan kenampakan fisik dan manusia lainnya.
  • P. Haggett dalam bukunya Locational Analysis in Human Geography, mengemukakan bahwa akhir-akhir ini geografi mengarah pada Sistem ekologi dan Sistem keruangan. Yang tersebut pertama merupakan hubungan antara manusia dengan lingkungannya, sedangkan yang kedua berkaitan dengan wilayah dan pergerakan-pergerakan yang kompleks di dalamnya. Kedua sistem menyangkut pergerakan dan saling kontak merupakan masalah pokok yang perlu diperhatikan.
  • Bintarto (1981), geografi mempelajari hubungan kausal atau timbal balik antara gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di permukaan bumi, baik secara fisik maupun menyangkut makhluk hidup beserta permasalahannya melalui pendekatan keruangan, ekologi, dan regional untuk kepentingan program, proses, dan keberhasilan pembangunan.
  • Bintarto dan Surastopo (1978), tiga macam pendekatan yang digunakan untuk mendekati masalah dalam geografi yaitu pendekatan analisis keruangan, analisis ekologi, dan analisis kompleks wilayah.
  • Seminar dan Lokakarya Peningkatan Kualitas Pengajaran Geografi (1988) di Semarang, berkesimpulan bahwa geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan.
Dengan berpedoman pada beberapa definisi di atas, maka ruang lingkup ilmu geografi seperti berikut ini:
  • Pengungkapan gejala-gejala atau fenomena-fenomena yang ada di permukaan bumi, seperti lapisan kulit bumi (litosfer), air (hidrosfer), udara (atmosfer), manusia (antroposfer), serta hewan dan tumbuhan (biosfer). Misalnya, tanah yang longsor merupakan gejala litosfer, akan tetapi bisa disebabkan oleh faktor hidrosfer, atmosfer, antroposfer, atau biosfer.
  • Interelasi atau interaksi antara gejala satu dengan gejala lainnya. Misalnya, banjir berkaitan dengan penggundulan hutan, sedangkan penggundulan hutan berkaitan dengan kepadatan penduduk. 
  • Mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer. Karakteristik suatu wilayah sangat ditentukan oleh perbedaan fenomena tersebut. Misalnya, daerah tropis mempunyai banyak hujan dan hutan belantara, sedangkan daerah arid sangat kurang hujan dan daerahnya gundul (gersang).
  • Mempelajari penyebaran fenomena-fenomena di permukaan bumi. Contoh: penyebaran penduduk, penyebaran daerah gempa, penyebaran gunung berapi, dan sebagainya.
  • Pemecahan masalah geografi dilakukan melalui pendekatan keruangan, ekologi, dan kewilayahan. Contoh: perencanaan tata ruang pedesaan dilakukan melalui pendekatan analisis keruangan, penebangan hutan yang mengakibatkan banjir merupakan pendekatan analisis ekologi, dan pembuatan rencana induk daerah aliran sungai merupakan pendekatan analisis wilayah.
Mengingat luasnya cakupan geografi sudah barang tentu dalam kajiannya membutuhkan dukungan ilmu lain. Bahkan antar ilmu pendukung tersebut dapat melahirkan ilmu baru, misalnya: antara Geografi dan Morfologi melahirkan Geomorfologi (bentuk muka bumi); antara Geografi dengan Antropologi melahirkan Antropogeografi (Etnografi);  antara Geografi dengan Biologi menjadi Biogeografi, dan masih banyak lagi yang kesemuanya membuktikan bahwa geografi sangat luas dan membutuhkan kerjasama dengan ilmu lain.
            Unsur pokok yang dipelajari dalam geografi dibedakan menjadi dua,yaitu: 
  1. Unsur alam (Fisik), meliputi aspek kimiawi, biologis, astronomis, hidrologis, geologis, matematis.
  2. Unsur Kemanusiaan (Sosial), antara lain antropologis, politis, ekonomis, sosiologis, historis, etnografis.

Di antara ke duanya terdapat hubungan yang sangat erat, bahkan tak dapat dipisahkan, karena terdapat hubungan timbal balik antara aspek alam dengan aspek kemanusiaan. Keadaan atau lingkungan kemanusiaan mengalami perubahan yang cepat, bersifat sangat dinamis. Berbeda dengan aspek alam, perubahan yang terjadi relatif lambat dan memerlukan waktu yang lama.
        Kegunaan geografi secara garis besar ada dua, yaitu membantu untuk memahami keadaan negara kita sendiri, dan juga membantu kita untuk memahami dunia. Sementara itu ada anggapan bahwa geografi mempelajari tentang kota, sungai, membaca peta. Anggapan tersebut harus sudah ditinggalkan, karena geografi mempunyai kemanfaatan lebih dari anggapan tersebut. Bahkan dengan geografi menunjukkan bahwasanya alam yang kita tempati ini, dengan segala isi serta serba keteraturannya semua itu sudah tentu ada yang mengatur dan menciptakannya, Dialah Yang Maha Kuasa, Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui Alloh SWT.
Sebagai manusia wajib memanfaatkan, memelihara dan melestarikan secara bijak agar semua bermanfaat bagi kehidupan manusia di muka bumi.





 DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar AS. 1992. Kepada Para Pendidik Muslim. Jakarta: Gema Insani Press
           
Depdiknas. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi IPS. Jakarta: Dirjendikdasmen
Kemendikbud. 2018. Buku Guru : Ilmu Pengetahuan Sosial. Buku Guru. Kelas IX. Jakarta: Kemendikbud
Sapriya. 2012. Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.