Sabtu, 09 November 2019

SENJA DI TUGU PAHLAWAN



oleh Enang Cuhendi

“Kita tunjukkan bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin merdeka... lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.”
-Bung Tomo-

Senin, 3 Februari 2019, hujan baru saja reda, azan magrib mulai terdengar bersahutan dari  pengeras suara masjid-masjid terdekat. Setapak demi setapak langkah kuayun menuju gerbang Tugu Pahlawan Surabaya yang terletak di pusat Kota Surabaya.

Tugu Pahlawan berada di kawasan “kota lama”, lebih tepatnya terletak di Jl. Pahlawan, kelurahan Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur.  Tugu ini berada di tengah-tengah antara Jalan Pahlawan, Bubutan, Tembaan, dan Jalan Kebon Rojo. Tempatnya memang strategis dan mudah dijangkau. Di seberangnya terdapat  kantor Gubernur Jawa Timur. Aneka tumbuhan dan bunga-bunga menghiasi kawasan ini sehingga terlhat asri. Aneka tumbuhan dan bunga-bunga yang ada di kawasan ini menjadi daya tarik bagi masyarakat Surabaya atau wisatawan  yang ingin sejenak beristirahat atau menghabiskan suasana pagi dan sore hari dengan sekadar duduk-duduk sambil melihat bangunan-bangunan yang mengingatkan perjuangan masyarakat Surabaya.

Ketika memasuki gerbang pertama sebelum area parkir terlihat ada tiga orang petugas keamanan sedang bertugas. Salah seorangnya berbadan tegap. Akan tetapi, di balik badannya yang tegap ternyata tersimpan sikap ramah khas Jawa Timur-an. Saat kutanya apakah kami masih bisa berkunjung, petugas yang tidak sempat ditanya namanya tersebt menjawab bahwa pengunjung masih boleh masuk sampai pukul 22.00, kecuali untuk musium memang sudah tutup pada pukul 17.00. “Pengunjung ke tugu ini tidak dikenakan tiket alias gratis, kecuali ke museum ada tiket dua ribu rupiah.” jelasnya. 

Halaman Tugu Pahlawan ini cukup luas. Di dalamnya ada sebuah museum yang dinamakan Museum Sepuluh November. Selain itu, ada juga beberapa patung pahlawan, seperti Gubernur Soerjo, Doel Arnowo, dan tentu saja Bung Tomo.

Karena faktor hujan yang sangat deras perjalanan kami dari tempat kegiatan FKGIPS PGRI Nasional di  LPMP Jawa Timur, Wonokromo ke Tugu Pahlawan memang sedikit terhambat. Inginnya kami bisa berkunjung lebih siang, tetapi kondisi cuaca berkata lain. Walau begitu hal tersebut bukan masalah berarti yang penting salah satu target kunjungan historis yang telah kurencanakan bisa terpenuhi.

Setelah diizinkan  masuk kaki inipun melangkah menuju gerbang utama. Di sebelah  kiri bagian luar terlihat ada bangunan sekretariat dan dinding-dinding dengan relief-relief sejarah  menggambarkan serangkaian peristiwa yang terjadi di kota ini pada masa silam, di antaranya ada gambaran dari pertempuran di Jembatan Merah, peranan ulama dalam pertahankan bangsa, peristiwa penyobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, pendaratan tentara sekutu di Dermaga Ujung, dan beberapa peristiwa penting lainnya.

Setelah habis dinding relief, di sebelah kanan terlihat ada monumen seperti kilatan-kilatan api yang membara. Mungkin ini menunjukkan simbol gelora semangat perjuangan rakyat Surabaya. Monumen yang dicat tembaga tersebut sekira 5-6 meter. Kami pun sempat mengambil gambar dan berfose di sana.
Monumen  Simbol Gelora Perjuangan Surabaya

Melirik ke kanan terlihat gerbang utama masuk ke area tugu. Beberapa anak tangga menyambut kedatangan kami. Setelah anak tangga terdapat Patung Bung Karno dan Bung Hatta berwarna gelap dengan tinggi sekira 3 meter terlihat gagah. Beberapa pengunjung terlihat berfose di bawah patung.
Patung Proklamator dan Sisa Pilar Gedung Pengadilan


Hal menarik, di belakang patung ada beberapa pilar. Jumlahnya 10 pilar, terbagi tiga bagian, di tengah tepat di belakang patung Soekarno-Hatta ada 4 pilar. Sedangkan di kiri dan kanan masing-masing tiga pilar. Dari penjelasan petugas di sana, katanya pilar-pilar tersebut bagian yang tersisa dari bangunan bekas reruntuhan Gedung Peradilan  pada zaman Belanda yang selanjutnya digunakan sebagai markas Kempetai atau markas kepolisian di zaman Jepang sekaligus tempat penahanan bagi para pejuang yang ditangkap oleh Jepang. Gedung tersebut menjadi saksi bagaimana penderitaan para pejuang yang disiksa oleh Jepang. Bangunan tersebut hancur terkena serangan artileri ketika berhasil dikuasai para pejuang Surabaya. Sisa pilar yang ada mungkin saja lebih dari 10, tetapi karena dikaitkan dengan peristiwa 10 November maka yang diambil cukup 10.

Setelah melewati patung Soekarno-Hatta dan pilar yang 10, terlihat jelas sebuah lapangan luas seluas 1,3 hektar dan sebuah tugu tepat berada di seberang sana. Pinggir-pinggir lapang ditanami aneka tanaman bunga yang indah. Di beberapa titik terdapat kursi dari besi tempat pengunjung duduk menikmati indahnya taman. Di tengah lapang nampak beberapa genangan air  yang belum surut akibat hujan beberapa saat sebelumnya. Dengan datang maghrib dan setelah turun hujan sebenarnya ada untungnya, minimal kita terhindar dari suhu Surabaya yang cukup panas.

Keuntungan lainnya jika berkunjung malam hari, kita akan melihat tugu dengan sajian lampu aneka warna. Warna merah, hijau, biru saling berganti menghiasi Tugu Pahlawan yang dibangun dalam bentuk  lingga atau paku terbalik dengan ketinggian 40,45 meter, diameter 3,10 meter dan di bagian bawah diameter 1,30 meter. Di bawah monumen ini dihiasi dengan ukiran "Trisula" bergambar, "Cakra", "Stamba" dan "Padma" sebagai simbol api perjuangan. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (Canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. Sedangkan di bagian dalam tugu, terdapat Museum 10 November. Museum Sepuluh Nopember dibangun untuk memperjelas keberadaan Tugu Pahlawan tersebut dan sebagai penyimpan bukti-bukti sejarah di 10 November 1945.

Aku berdiri di pinggir lapang sambil menatap tugu yang ada di seberang. Ingatanku menerawang liar ke masa lebih dari 70 tahun silam saat terjadi pertempuran besar di Surabaya. Pertempuran Surabaya adalah salah satu pertempuran terbesar yang terjadi pasca kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut keterangan pertempuran 10 November Surabaya merupakan satu rangkaian peristiwa pertempuran yang terjadi antara tentara Indonesia dan tentara Sekutu yang berlansung sejak tanggal 27 Oktober sampai 20 November 1945. Pertempuran yang paling besar terjadi pada tanggal 10 November 1945.

Kedatangan Brigade 49/Divisi India ke-23 tentara Sekutu di bawah komando Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby pada 25 Oktober 1945 di Surabaya menjadi titik awal pemicu peperangan. Pada mulanya pihak Indonesia menyambut baik kedatangan tentara Sekutu yang mendapat tugas untuk  melucuti tentara Jepang dan menyelamatkan para tahanan perang Sekutu di Indonesia tersebut. Akan tetapi setelah diketahui bahwa NICA (Belanda) membonceng bersama rombongan tentara sekutu, munculah perlawanan rakyat Indonesia terhadap tentara Sekutu.

Pada tanggal 30 Oktober 1945, terjadi bentrokan antara tentara Indonesia melawan tentara Inggris. Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas dalam bentrokan ini. Hal ini mendorong tentara Sekutu mengirimkan pasukan dalam jumlah besar ke Surabaya. Pasukan baru tersebut berada di bawah pimpinan Mayor Jenderal R.C. Mansergh.

Pada tanggal 9 November 1945, pihak sekutu mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Surabaya. Batas waktu ultimatum adalah pukul 06.00 tanggal 10 November 1945. Ultimatum tersebut tidak dihiraukan karena dianggap sebagai penghinaan terhadap pejuang Indonesia. Pada tanggal 10 November 1945, tentara Inggris melakukan serangan besar yang melibatkan 30.000 pasukan, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang. Tentara Inggris mengira perlawanan rakyat Surabaya dapat ditaklukkan dalam waktu beberapa hari. Di luar dugaan tentara Inggris, para pelopor pemuda seperti Bung Tomo dan tokoh-tokoh agama yang terdiri dari para kyai dan ulama terus menggerakan semangat perlawanan pejuang Surabaya hingga perlawanan terus berlanjut berhari-hari bahkan berlangsung sampai beberapa minggu.

Meskipun akhirnya kota Surabaya berhasil dikuasai tentara Sekutu, namun Pertempuran Surabaya menjadi simbol nasional atas perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan. Untuk mengenang peristiwa heroik di Surabaya, tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.