Sabtu, 02 November 2019

SSSTTT... NEENA

oleh Endang Purwaningsih, S.Pd. 


Telinga Neena pasti memerah, andai saja bisa dilihat dari dekat. Dia juga tidak pernah mengerti akan perasaannya sendiri. Baginya ada sisi ambigu yang sulit dia pahami. Neena memang selalu menikmati apapun yang ingin dia rasakan, baginya hidup adalah mengalir dan tak akan dia biarkan terbendung oleh tirai besi sekalipun. Anugerah Allah yang sebentuk apapun selalu indah bila disyukuri.

Perlahan langkah Neena menapaki satu per satu anak tangga menuju ke lantai dasar sekolah itu, sampai akhirnya langkahnya terheti sesaat. “Ah, susah sekali ya anak-anak ini diajak mengerti kalau bersih itu menyenangkan,” desahnya perlahan seraya memungut sampah bekas minuman dalam kemasan plastik yang masih tertempel beserta sedotannya, yang sengaja diselipin di pinggir sisi tangga sebelah kiri. Lalu dibuangnya  sampah plastik itu ke tempat sampah di pojok bawah tangga.

Baru dua langkah dia ayunkan, tiba-tiba Arini dan Salma menghampirinya seraya mengulurkan tangannya untuk menyalaminya. “Assalamualaikum, Bu Neena,” sapa keduanya serentak. “Waalaikumsalam,” jawab Neena sambil tersenyum. Ia pun melanjutkan kembali langkahnya menuju kantor.

Diteguknya teh manis buatan Bu Narti yang setiap pagi selalu diantar ke meja kerjanya. Hampir dua per tiga isi gelas telah membasahi tenggorokannya yang kering. Tiga menit kemudian keinginannya untuk buang air kecil tak terbendung lagi, karena sejak bangun tidur dia sudah membiasakan therapi minum air hangat, antara 2 sampai 4 gelas 30 menit  sebelum sarapan pagi. Dia telah merasakan efek positif bagi kesehatannya sendiri.

Sambil menata duduknya, Neena meraih handphone-nya yang diselipkan di sisi samping kotak pensil. Dia sentuh aplikasi whatsApp, lalu mencari grup kelas 9E. Ingatannya tentang chat video yang dikirim oleh Andra sekitar lima hari yang lalu belum ada yang mengomentari, kecuali Aulia yang merespon dengan simbol emoji wajah ketawa sampai keluar air mata. Perasaannya seperti digelitiki antara greget dan gemes jadi satu. Bagaimana tidak, kalau video berdurasi sekira tiga menit yang berisi lawakan ala cak Lontong itu telah menyita perhatiannya. 

Dalam video tersebut Cak Lontong mengatakan, “Setelah selesai menerangkan guru  menyuruh siswa mencatat. Siapa yang malas?” “Guru... ,” terdengar sahutan suara gemuruh penonton di salah satu stasiun TV itu sambil ketawa. Kemudian lanjutnya, “Jika istirahat murid-murid berlarian, main bola dan jajan di kantin, sedang guru masuk ruang guru, duduk dan ngobrol. Siapa yang malas?” Sekali lagi dengan respon sambil tergelak mereka serentak menyahuti, “Ya, guru... .” Mendengar respon bagus dari penonton rupanya Cak Lontong semakin semangat dengan lawakannya hingga keluar kalimat berikutnya, “Lha, kalau sehabis menjelaskan pelajaran, lalu  murid disuruh mengerjakan latihan soal, terus ulangan, siapa yang malas?” Ketawa penontonpun kembali meledak dan tentu saja mereka serentak koor menjawab “Guruu... .” 

Meski lawakan itu terkesan lucu,  tapi tidak sama sekali bagi Neena. Perasaannya justru prihatin ketika peran dan tanggungjawabnya sebagai pendidik dipertaruhkan demi sebuah lawakan yang menurutnya kurang etis. Lima, enam, hingga hari ke tujuh setelah unggahan dari Andra berlalu, dengan bertumpuknya chat-chat  berikutnya di grup WA kelas itu ternyata tak mampu menutupi sisi hati Neena yang tergelitik  tak henti-hentinya. Mungkin Andra sendiri sudah melupakan dan tak mau tahu setelah posting-an videonya ternyata tak memancing gelak tawa Guys-nyaPadahal mungkin saja dia berharap temannya mengkomen, “Wkwkwkw... .” atau “Qiii... qiii... qiii... .”

Diam–diam dalam batinnya Neena justru bersyukur, ternyata isu lawakan itu mungkin direspon  tersirat senyum-senyum saja dan tak tersurat di-chat berikutnya. Mungkin juga dia mengira, bahwa pemikiran siswanya sudah mulai dewasa dalam merespon suatu masalah.

Bel sekolah yang berdering lima kali, membuyarkan pikiran Neena yang sesaat ingin  mencari tahu kira-kira apa yang dipikirkan Andra ketika hendak mengunggah video itu. Dia sangat yakin ada “sesuatu” yang ingin disampaikan, bukan sekedar mentrasfer tanpa alasan. Akhirnya, dengan senyum-senyum dia mencoba mengerti sisi hati Andra, bisa jadi dia ingin kayak dirinya menengok dan sekedar mengkritisi gurunya. Dia mencoba memahami kalau murid zaman now itu, memang sangatlah beda dengan ketika generasinya dulu saat menjadi siswa zaman old.

Sesuatu yang mengganggu pikiran Neena, akhirnya terjawab ketika dia menyadari bahwa sebetulnya Andra mengirimkan anekdot. Neena pun sebetulnya memang menyadari ada di antara sesama guru sebetulnya memiliki kondisi keterbatasan dalam mengelola kelas mereka saat mengajar, tetapi tetap saja ia tidak rela jika peran dari profesinya dibuat bahan lawakan oleh seorang yang notabene masih muridnya sendiri. Namun dia juga heran, kenapa tidak ada teman guru yang merespon hal tersebut. Kelihatannya mereka menganggap video tersebut hanyalah sebuah lawakan semata.

Dengan mata nanar, Neena mulai mencari video dari Andra yang beberapa hari ini cukup menyita pikirannya. Dia scroll keatas mencari sekitar semingguan yang lalu diunggah. Untung video tersebut belum dihapus. Sekali lagi dia buka tayangan tersebut, sambil menahan nafas, tergambar jelas di wajahnya betapa dia sangat kecewa. perlahan diambilnya satu keputusan, bagaimanapun dia berkewajiban memahamkan Andra dengan merespon unggahaan tersebut. Dia tulis chat, ‘’@andra, Andaikan guru menjelaskan dan siswa tak mencatat, bisakah ilmunya bertahan lama? Andaikan saat istirahat guru ikutan main bola dan jajan di kantin, bisakah murid enjoy? Dan andaikan setelah diberi pelajaran murid gak mengerjakan soal latihan atau ulangan, darimana guru tahu isi memori otak murid dapat diukur? Bagaimana mengisi raport murid? Jadi, bukan guru malas, tapi guru berkelas yang senantiasa memberi kesempatan murid mencatat agar ilmunya awet,  memberi kesempatan bermain dan jajan agar fisik dan psikis murid segar kembali dan memberi kesempatan mengerjakan latihan soal dan ulangan agar tahu tentang seberapa mampu menerima pelajaran dapat diukur. Mengerti Andra? Chat-nya diakhiri dengan emoticon tersenyum.  Lalu, klik, dia kirim chat itu, dengan harapan Andra membaca dan menyadari bahwa video yang dia kirim dapat menggores sisi hati gurunya, meski hanya berupa bahan lawakan di Youtube dan Tik-Tok.  Dengan perasaan lega, dia letakkan handphone itu kembali di meja.

Sekira satu setengah jam kemudian, Neena meraih kembali handphone yang tadi diletakkan di meja ruang tamu itu. Mencoba membuka kembali beberapa chat WA dari beberapa pengirim, hingga akhirnya dia teringat chat terakhirnya, maka dibukanya Grup WA kelas 9E, beberapa chat muncul. Ada rasa haru dalam diri Neena manakala melihat chat dari Andra merepon hasil unggahannya dengan komen, “Siaaap, Bu.” Dengan diakhiri dengan emoticon telapak tangan menghormat.  Neena tersenyum dalam damai. Thanks Andra, pembawa baper yang mengispirasi.

Selepas perhatiannya pada Andra, tiba-tiba terlintas di pikiran Neena peristiwa yang juga mengendap di alam bawah sadarnya. Pikiran itu kembali liar meronta menyita perhatiannya. Siang dua hari yang lalu, Lala, murid kelas 9 F, menagis sesenggukan di mejanya seusai istirahat jam pertama. Neena masuk kelas itu karena ada jadwal satu jam. Dengan tatapan heran dia mendapati Lala mengusap matanya yang sembab. Didekatinya siswanya yang bertubuh tambun itu seraya bertanya, “Kamu habis menangis Lala, kenapa?” Dengan wajah tersipu malu Lala menajawab, “Ga apa-apa, Bu. Tadi teman-teman bercanda kalau saya dipanggil gajah bengkak, saya malu, Bu.”

Sejenak kemudian Neena terhenyak deengan jawaban Lala, dan dengan cepat disadarinya jika Lala telah menjadi korban Bullying dan Body Shaming, yang terkadang dianggap sebagai bahan candaan yang lumrah, meskipun dampaknya telah membuat si korban merasa dipermalukan dengan kondisi tubuhnya yang tidak biasa. Tentunya juga berakibat minder dan bahkan akan menutup diri serta menarik diri dari lingkungan pergaulannya.

Segera setelah membuka pelajaran dan mengabsen siswanya pada hari itu, Neena langsung mengangkat kasus Lala sebelum akhirnya masuk pada inti pembelajaran. “Coba mohon perhatiannya sebentar!” ujarnya datar untuk menenangkan kembali suasana kelas. Neena kembali melanjutkan, “Siapapun di antara kalian yang telah membuat Lala menangis, tolong disadari jika itu adalah salah satu bentuk perilaku yang tidak etis. Setiap dari kekurangan kita jangan pernah menjadi bahan bercandaan.” Dengan menatap beberapa wajah siswanya yang tertunduk, Neena melanjutkan imbauannya, “Berjanjilah ini adalah yang terakhir dan tidak akan terulang kembali.Bagaimana kalian sanggup?” Serentak mereka menjawab, ”Sanggup bu...!” Lamunan Neena pun buyar ketika suara azan Isya terdengar dari mushala sebelah timur rumahnya. Senyum pun mengembang tipis dibibirnya.

Serasa ringan mengembang senyum Neena, ketika disadari betapa banyak hal akan terjadi dialaminya. Menjadi bagian dalam proses pembelajaran dari kelas ke kelas adalah hal yang menjadi dunianya. Ada banyak peristiwa yang terjadi sebagai bentuk interaksi antara dia dengan banyak sosok yang memiliki karakteristik keberagaman.

Mengajar IPS Terpadu di SMP  membuat dirinya seolah berada pada suatu  habitat yang komunitasnya merupakan kelompok siswa  dengan  beragam keunikan. Baik latar belakang keluarga, kondisi perilaku dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi satu sama lain berbeda. Komunitas kecil dari miniatur masyarakat secara luas membuatnya semakin tertantang untuk mengenal lebih jauh dari sekedar menjalani kewajiban utamanya untuk  mengajar dan mendidik, serta  membimbing. Ada sisi humanisme yang lebih mengedepankan sisi memanusiakan manusia. Walau secara fisik dan mental mereka masih belia, Neena percaya dan yakin suatu saat kelak muridnya juga akan menjadi anggota masyarakat di luar dengan kondisi mental sosialnya yang sudah siap .

***
Begitulah sedikit berbagi cerita. Betapa bangganya penulis menjadi guru IPS. Selama melakukan proses pembelajaran IPS saya tidak hanya sekedar berteori di depan kelas dengan tema Interaksi sosial, tetapi juga mempraktekannya dalam keadaan yang sesungguhnya. Perlu pembaca ketahui bahwa sebenarnya tokoh Neena dalam cerita tersebut adalah tokoh yang saya pinjam untuk mewakili cerita saya yang sesungguhnya. Matur nuwun.



Endang Purwaningsih, S.Pd., lahir pada tanggal 12 September 1965 sebagai anak sulung dari lima bersaudara. Proses pendidikan diawali di SDN Krembangan 1, Kec.Gudo, Kab.Jombang, melanjutkan ke SMPN 2 Jombang, kemudian ke SPGN Jombang,  D3 Pendidikan Geografi FPIPS IKIP Malang, dan S1 Pendidikan Geografi FPMIPA  Universitas Negeri Malang. Saat ini, bertugas sebagai guru IPS di SMPN 4 Tanggul, Jember. Menulis adalah salah satu hobi yang sudah sekitar lima belas  tahun terakhir ditekuni, dengan berbagai karya mulai dari makalah, PTK,  Laporan Best Practice, puisi, cerpen, artikel untuk Jurnal dan sebagainya.