Minggu, 24 November 2019

SURAT TERBUKA UNTUK BAPAK MENDIKBUD


oleh Dyah Ayunda
(Sekretaris Umum PP FKGIPS Nasional PGRI)




Asalamualaikum w.w.

Yang terhormat,
Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI 
(Bapak Nadiem Anwar  Makarim)

Pertama saya sampaikan selamat atas terpilihnya Bapak sebagai Mendikbud RI.
Dengan terpilihnya Bapak Sebagai Mendikbud memang sempat menimbulkan beberapa pemikiran pada diri saya pribadi. Sebelumnya nama Bapak memang belum familiar di dunia pendidikan. Saya pun mengetahui Bapak karena sepak terjang yang sukses dengan mendirikan Gojek. Untuk hal ini saya angkat jempol, luar biasa!

Akan tetapi untuk dunia pendidikan saya belum mendengar sama sekali.
Terus terang saya juga lumayan kaget dengan terpilihnya Bapak menjadi mendikbud. Namun Presiden yang terhormat, Bapak Ir. H. Joko widodo tentunya tidak gegabah memilih Bapak menjadi seorang Menteri. Pasti ada kelebihan pada diri Bapak. Kami berharap ada hal yang baru yang bisa menyejukkan dan membanggakan untuk dunia pendidikan. Suatu harapan yang tidak terlalu muluk bagi kaum pendidik.

Ketika Bapak mengundang 22 organisasi dan mendengarkan tentang seputaran dunia pendidikan di Indonesia, saya juga sempat membaca yang beredar di media sosial (watshapp). Beberapa usulan sungguh membuat saya nyesek juga, karena mengecilkan jabatan tertentu, salah satunya pengawas. Hal ini mendorong beberapa teman membuat tulisan/tanggapan  tentang usulan tersebut. Saya ingin menulis juga untuk menanggapi hal tersebut, tapi karena sesuatu hal saya belum sempat menulis.

Beberapa hari ini muncul pidato Bapak pada “UPACARA BENDERA PERINGATAN HARI GURU NASIONAL TAHUN 2019” Di mana ada sekitaran 10 poin. Karena ada beberapa hal yang menurut saya kurang  pas (tidak tahu Bapak mendapatkan masukan dari siapa), maka saya mencoba untuk memberikan tanggapan.saya akan menanggapi beberapa point.

Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang bergitu padat menutup pintu petualangan

Kalimat di atas tidaklah 100% benar . Hal ini bukan salah sistem atau kurikulumnya. Dalam Kurikulum 2013 atau bahkan kurikulum sebelumnya tidak pernah mengharuskan pembelajaran selalu di dalam kelas, namun bisa juga di luar kelas. Pembelajaran  di luar kelas tentunya di desain sedemikian rupa sehingga pembelajaran tersebut mampu mengakomodasi tujuan pembelajaran dengan waktu yang tersedia. Memang  tidaklah mudah membuat desain pembelajaran di luar kelas kalau belum terbiasa. Apalagi hal ini selain ditentukan oleh kemampuan sang pendidik juga ditentukan oleh karakteristik materi juga siswanya.

Apalagi pemerintah juga mengeluarkan permendikbud nomer 63 tahun 2014 tentang  “Pendidikan Kepramukaan sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib Pada Pendidikan Dasar dan Menengah” di mana dalam Permendikbud tersebut menjelaskan bahwa pendidikan kepramukaan sebagai ekstrakuler wajib (Blok, Aktualisasi, dan Reguler). Dalam pelaksanaannya tentunya sangat bisa  dilaksanakan diluar kelas. Pada prinsipnya adalah pembelajaran yang menyenangkan, namun tetap beracuan pada tujuan pembelajaran.

Bentuk lain bisa juga pembelajaran dengan studi lapangan langsung, bisa terjadwal per semester atau per tahun, seperti di sekitar sekolah,  ke laut, gunung, pasar, pabrik, dll. Itupun  saya yakin sudah banyak yang menerapkan. Jadi kurang benar kalau dikatakan kurikulum yang begitu padat menutup petualangan. 

Anda frustasi karena Anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal"

Kata-kata tersebut di atas tidaklah cocok untuk disuarakan saat ini. Karena pemerintah melalui para fasilitatornya gencar mensosialisasikan pembelajaran abad 21, pembelajaran HOTS pembelajaran berbasis kegiatan dan sebagainya. Sis%wa tidak lagi diajari untuk menghafal materi tetapi lebih pada penguasaan konsep dan implementasinya di lapangan. Siswa diharapkan peka terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya . Semua itu sudah sangat diperhatikan oleh kurikulum yang berlaku saat ini, walaupun memang masih banyak kendalanya.

Saya sendiri sebagai pelaku bagaimana saya mencoba belajar bersama dengan teman-teman baik yang di Jawa maupun luar Jawa untuk terus meningkatkan ketrampilan mengajarnya sehingga tercipta pembelajaran yag menyenangkan, aktif, kreatif, inovatif, dan berpikir kritis.

Saya tidak mengerti apa alasan pak Mentri bicara begitu ya, sumbernya tidak pernah ikut bimtek Kurikulum 2013 kali pak...mohon maaf ya

Anda tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi”.

Saya kira selama ini pendidik diharuskan memberikan pelayanan individu yang berbeda baik secara kompetensi maupun minat dan bakatnya. Sehingga ada remidi, pengayaan, ekstrakurikuler wajib dan pilihan. Siswa bisa menyalurkan kepiawaiannya/bakatnya masing-masing. Hal ini tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah, baik tenaga/sumberdaya manusianya maupun sarana prasarananya.

Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi

Aduh Bapak Menteri mohon maaf ya, sistem pendidikan yang telah berjalan selama ini telah memberikan kesempatan pada dunia pendidikan baik guru maupun siswanya untuk selalu berinovasi, juga berkreasi.  Ada lomba tentang inobel, lomba literasi, kesenian, olah raga dll. Tentunya hal ini bisa memberikan peluang bagi siswa maupun guru untuk melakukan inovasi. Bahkan dalam pembelajaranpun guru dituntut untuk selalu berinovasi. Mungkin memang masih perlu ditingkatkan lagi karena tidak semua pendidik mempunyai kemampuan dan kemauan berinovasi.

Empat poin di atas yang menurut saya sangat mengecilkan usaha pemerintah selama ini juga usaha para pendidik. Seakan dunia pendidikan kita masih seperti era 1975 dulu yang bila siswa bisa menghafal nama menteri itu adalah siswa yang  pintar.

Saya berharap di bawah kepemimpinan Bapak dunia pendidikan akan lebih baik dalam segala aspeknya. Namun janganlah mengecilkan perjuangan pemimpin sebelumnya. Zaman terus berubah tentunya kebijakan juga bisa terus berubah. Di pundak Bapak kami menaruh harapan besar. Masa depan bangsa ini ditentukan oleh generasi saat ini. Selamat bertugas, selamat berjuang semoga selalu mendapatkan rahmat dan rida dari Allah SWT. Kami menunggu revolusi pendidikan dari buah pikiran Bapak.

Demikian surat terbuka saya ini bila ada yang kurang berkenan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wasalamualaikum wr wb

SEKRETARIS UMUM  
PP FORUM KOMUNIKASI GURU IPS NASIONAL PGRI

Dr. DYAH AYUNDA, M.Pd.