Rabu, 25 Desember 2019

SERPIHAN SEJARAH DI BUKIT WUKIR

 oleh Enang Cuhendi

Sejarah memang selalu menyimpan misteri. Dalam lintasan kehidupan rasanya tidak ada satu kisah masa lalu yang bisa terungkap secara utuh. Tidak ada satu pun catatan sejarah yang tidak menyisakan ruang kosong. Ini merupakan bukti dari ketidakmampuan manusia mengkoleksi memori secara utuh akan lintasan masa lalunya. Faktor kemampuan daya ingat dan ketidakutuhan sumber sejarah bisa dituduh sebagai biang keladi penyebabnya.

Gerbang masuk Dusun Kadiluwih
Siang itu, Minggu, 22 Desember 2019, sinar mentari terasa tidak terlalu panas. Bus menepi untuk mencari tempat parkir. Kaki pun turun dari bus. Sejenak menggerak-gerakan badan untuk sekedar menghilangkan penat setelah duduk cukup lama. Di seberang jalan terlihat sebuah jalan desa dengan gapura bertuliskan “Dusun Kadiluwih, Desa Kadiluwih”. Inilah titik destinasi perjalananku bersama tim Universitas Persatuan Islam (UNIPI) Kampus Garut kali ini.
Kaki pun melangkah menyeberang jalan menuju gapura desa. Dari sana langkah berlanjut menelusuri jalan aspal Desa Kadiluwih sekira 200 meter. Setelah itu langkah pun berbelok ke kiri menyusuri jalanan kecil beralaskan paving block. Beberapa kali belokan sempat dijumpai. Bahkan sempat salah belok, seharusnya ke kanan ini malah ke kiri. Seorang bapak mencoba menunjukkan arah kemana kaki harus melangkah.

Sebagian jalan setapak yang harus dilalui
Setelah jalan beralas paving block berakhir hati sempat merasa ragu. Apakah sudah benar jalan yang ditempuh. Di akhir jalan ber-paving yang terlihat hanya hamparan kebun milik masyarakat dan sebuah jalan setapak atau lebih tepat disebut pematang. Ah, aku percaya sama petunjuk bapak tadi, “Ikuti saja jalan itu”, katanya. Langkah pun kembali kuayun menyusuri jalan setapak di antara kebun milik masyarakat. Melintasi sebuah jembatan yang melintang di atas sungai selebar 4 sampai 5 meter. Jalan yang ditempuh semakin terjal. Bau tanah basah di antara rumpun bambu mulai terasa. Beberapa belokan ke depan terlihat jalan menanjak semakin menantang. Kebun kopi sudah terlewati. Tidak terasa hampir satu jam perjalan ditempuh. Keringat mulai membasahi jersey timnas Prancis yang kupakai. Setelah menempuh tanjakan terakhir, tanpa terasa di depan jelas terlihat. Sebuah papan nama bertuliskan “Candi Gunung Wukir”. Alhamdulillah destinasi yang dituju akhirnya tercapai. Benar saja kata info yang saya terima sebelumnya untuk menuju ke lokasi memang perlu mempersiapkan fisik yang ekstra bugar karena berada di bukit di belakang dusun penduduk. dan menuju ke lokasi tidak bisa ditempuh dengan kendaraan sehingga wajib melalui jalan kaki.

Reruntuhan candi utama di kompleks Candi Gunung Wukir 
Candi Gunung Wukir ini berada di atas Bukit Wukir setinggi 359 mdpl. Nama Bukit Wukir akhirnya disebut sering disebut orang dengan nama Gunung Wukir. Berada tepat di lereng barat Gunung Merapi atau timur laut kota Muntilan. Secara administratif Candi Gunung Wukir berlokasi di Dusun Canggal, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Berdasarkan temuan yang ada Candi Gunung Wukir bisa disebut sebagai kompleks candi. Memiliki ukuran sekira 50 x 50 meter dengan corak Hindu, khususnya Hindu Siwaisme. Hal ini terlihat dari keberadaan arca Nandi atau sapi betina tunggangan Dewa Siwa pada salah satu di antara tiga candi pewara dan lingga yoni yang menjadi simbol Dewa Siwa di candi utama dan dua candi pewara lainnya. Candi utama dan tiga candi pewara di depannya tersusun dari batuan andesit sebagaimana umumnya candi-candi di Jawa Tengah. Formasinya mirip dengan Candi Pramban. Ini setidaknya yang sudah ditemukan, walau belum tersusun sempurna. Di bagian dalam candi utama dan dua candi perwara yang berada dibagian kiri dan kanan terdapat sebuah yoni berukuran antara 50 sampai dengan 100 centimeter. Keberadaan yoni biasanyanya diikuti dengan adanya lingga, sebagai perwujudan sempurna kehidupan. Sayangnya keberadaan lingga ini tidak ditemukan, katanya akibat ulah tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.
Dilihat dari wujud bangunannya, keberadaan Candi Gunung Wukir yang pertama kali ditemukan pada masa kolonial Belanda dan dipugar pada 1937-1939 belum bisa dikatakan indah. Belum lengkapnya hasil temuan sebagian besar dinding bangunan menyebabkan masih banyak sisa fuzzle yang masih kosong dan belum tersusun. Faktor hilangnya material dan besarnya biaya penelitian juga menyebabkan tersendatnya penelitian dan pemugaran candi.   
Walau begitu terdapat hal yang menarik terkait Candi Gunung Wukir. Menurut informasi yang didapat candi ini merupakan candi tertua yang dapat dihubungkan dengan angka tahun. Merujuk pada sebuah prasasti yang biasa disebut Prasasti Canggal, candi ini didirikan pada masa pemerintahan Raja Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno pada 732 M atau 654 Saka. 
Prasasti Canggal merupakan prasasti yang dipahatkan pada pada batu berwarna kuning kecoklatan. Memiliki bentuk persegi empat dengan tinggi 160 cm, lebar 81,5 cm dan tebal 24,5 cm. Prasasti ini ditemukan oleh L. Poerbatjaraka dalam keadaan terbelah dua. Bagian kecil ditemukan di halaman candi Gunung Wukir, sedangkan bagian terbesar di bawah bukit Wukir. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Sansekerta dengan aksara Palawa akhir. Candrasengkala sruti indrya rasa atau 654 (Saka) atau 732 M menjadi petunjuk kapan prasassti ini dikeluarkan.
Hal terpenting dari keberadaan prasasti Canggal dan Candi Gunung Wukir memberikan keterangan tentang keterangan yang sangat penting tentang keberadaan kerajaan Medang di Mataram atau Mataram Hindu, terutama periode awal yaitu periode pemerintahan raja Sanjaya. Prasasti Canggal dibuat untuk menandai berdirinya lingga di atas bukit Sthirangga sebagai wujud rasa syukur Sang Sanjaya yang telah berhasil mengalahkan musuh-musuhnya dan membuat kerajaan menjadi tenteram. Bangunan tempat berdirinya lingga ini diyakini sebagai reruntuhan candi yang ditemukan di atas Gunung Wukir tidak jauh dari tempat ditemukannya prasasti atau candi Gunung Wukir yang kita kenal sekarang. Bukit Sthirangga sendiri bisa diartikan sebagai Bukit Wukir atau Gunung Wukir sekarang.
Prasasti Canggal juga memberikan informasi tentang silsilah kerajaan. Di sini disebut tiga nama penting berikut satu nama tempat, yaitu Sanna, Sannaha dan Sanjaya serta Yawadwiva. Sanna disebut sebagai raja besar yang telah memerintah dengan lemah lembut di Yawadwiva atau Pulau Jawa. Ketika Sanna wafat penggantinya adalah Sanjaya, anak Sannaha, saudara perempuan Sanna. Sanjaya disebut sebagai tipikal raja yang gagah berani dan telah berhasil menaklukan raja-raja di sekelilingnya. Sanjaya juga dipandang sebagai raja yang paham membangun ketentraman bagi rakyatnya. Sanjaya diyakini sebagai peletak dasar dinasti berikutnya yang akan berkuasa secara turun temurun di Mataram Kuno atau Mataram Hindu.
Arca nandi di reruntuhan candi pewara bagian tengah
Adapun Yawadwiva disebut sebagai tanah yang subur  dan makmur. Di Yawadwiva ini pernah dibangun sebuah bangunan suci untuk pemujaan Siwa yang sangat indah. Bangunan ini terletak di wilayah Kunjarakunja. Apakah  bangunan suci yang dimaksud adalah Candi Gunung Wukir? Wallahualam. Walau begitu, dari beberapa reruntuhan dan peninggalan yang ada secara pribadi penulis memperkirakan bahwa kemungkinan bangunan suci yang dimaksud adalah Candi Gunung Wukir. Keberadaan Nandi memberi petunjuk bahwa candi tersebut merupakan candi Hindu dengan fokus pemujaan kepada Dewa Siwa. Adanya yoni yang biasanya satu paket dengan lingga merupakan perlambang dari kemakmuran atau kesuburan, tepat seperti yang digambarkan dalam prasasti Canggal.
Salah satu dari tiga reruntuhan candi pewara
Bangunan candi sendiri secara pribadi saya membayangkannya sebagai satu bangunan yang indah, tidak jauh beda dengan Candi Prambanan. Seperti halnya Prambanan, Candi Gunung Wukir merupakan satu kompleks candi yang terdiri dari satu candi utama dan beberapa candi pewara. Konstruksinya tidak jauh beda dengan Prambanan atau candi-candi langgam Jawa Tengah-an pada umumnya, menjulang ke  atas. Bukan mustahil juga di dinding candi terdapat relief dengan ukiran yang indah.
Bagaimana dengan Kunjarakunja dan Sungai Gangga yang disebut dalam prasasti? Kunjarakunja atau desa Kunjarakunja adalah tempat berdirinya bangunan suci. Secara harfiah Kunjarakunja berarti “tanah dari pertapaan kunjara”. Nama ini diidentifikasi sebagai tempat pertapaan pendeta Agastya yang terkenal dalam epik Ramayana. Sedangkan Gangga adalah nama sungai di India yang dianggap suci. Menurut pendapat Dr. Soekmono mengutip dari pendapat Stutterheim dan N.J. Krom kedua nama tersebut jelas sangat India (Hindustan). Mengingat ada kesamaan topografi dengan daerah Jawa atau Muntilan, penyebutan kedua nama tersebut di prasasti hanya sebagai perumpamaan belaka. Jadi kesimpulannya Kunjarakunja itu daerah sekitar dusun Canggal atau sekitar Muntilan sekarang yang memang ada sungai yang mengalir di sekitarnya. Ini semakin memperjelas bahwa keberadaan Candi Gunung Wukir sangat strategis dalam sejarah Hindu kuno di tanah Jawa, khususnya awal berdirinya Mataram Kuno.
Masih banyak yang harus diungkap terkait Candi Gunung Wukir. Sisa-sisa fuzzle yang masih kosong menjadi misteri tersendiri dan menuntut untuk dicarikan pasangannya. Agar semakin terang misteri yang ada. Walau begitu, dari sisi wisata keberadaan Candi Gunung Wukir sangat pantas kalau dimunculkan kepermukaan secara lebih gencar. Wisata sejarah yang dipadukan dengan tracking  menjadi sensasi tersendiri, dibandingkan berkunjung ke candi-candi besar yang sudah terkenal. (EC-Socius Media)