Kamis, 23 Januari 2020

Bumi Terluka, Tanah Menghempas (2)


Oleh: Wijaya



....

Tidak menghabiskan 10 menit berjalan kaki, Ari sudah sampai di rumahnya. Bergegas berwudhu dan digelarlah kasur busa yang sudah lusuh serta pudar warna pembungkusnya di atas lantai yang berbalut acian semen. Do'a-do'a dirapalkan, selimut hijau bergarmbar robot pembelian ayahnya ketika usia 9 tahun pun dengan sigap menutup seluruh badannya kecuali mukanya. Krik...krik...krik...suara jangkrik terdengar harus, bersahutan dengan suara detik jam. Sebelum menutup kedua matanya, Ari menengok jam dinding yang menunjukan angka 12.37.

Kurang dari 4 jam, Ari tertidur dengan lelapnya, jiwanya terhentak kembali terbangun setelah suara terindah memanggilnya. Iya, suara adzan shubuh Suprit sahabat karibnya. Bergegas Ari membersihkan tubuhnya, berwudhu dan memakai pakaian terbaiknya. Tidak lupa sambil memakai minyak wangi malaikat shubuh pemberian Kyai Sukri. Sebelum berangkat, Ari pamitan terlebih dahulu ke Ambu Rahmi yang bersiap menanak nasi. "Ari tidurmu ngorok, tidak seperti biasanya ucap ambunya". Tanpa sepatah kata, hanya membalas senyuman. Sekelebat Ari pergi ke Musholla.

Sesampainya di Musholla, Ari bergegas melaksanakan sholat Sunnah sukrul wudhu. Tidak berselang lama, suara Iqomat dikumandangkan. Suara yang tidak asing baginya. Iya suara Jumar yang ngebass dan parau, menjadi penanda Sholat Shubuh didirikan. Kyai Sukri lebih dulu tampil dan memimpin Sholat. Tidak lebih dari 10 menit, sholat shubuh selesai ditunaikan, Ari dan Jamaah lainnya merapal zikir dilanjut satu persatu pergi meninggalkan musholla. Hanya tersisa Ari, Suprit dan Jumar.

Di Musholla La Tansa yang berukuran 10 x 10 meter dengan didominasi cat dinding berwarna hijau alpukat beratap genteng yang terbuat dari tanah. Seperti biasa Ari membuka percakapan. Suprit, Jumar, tidak seperti biasanya ya, musholla kita hampir penuh. Sholat shubuh yang biasa hanya 2 shaf, Alhamdulillah pagi ini hampir 5 shaf penuh. Syukur Alhamdulillah Ari, balas Suprit dan Jumar. Ari, seperti biasa hanya tersenyum. Ketiganya kompak melirik jam yang tertempel kokoh di atas mimbar yang menunjukkan angka 5.15. mereka bertiga bersegera kembali ke rumah masing-masing untuk bersiap sekolah.

Seperti biasa, sesampainya di rumah, mentari pagi mulai menyembul dan menampakkan kuasanya menerangi bumi. Ambu Rahmi telah menunggu di depan pintu. Ari  cepat mumuluk dulu pintanya. "Siap laksanakan Ambu", jawab Ari sambil tersenyum. Sekepal nasi hangat yang ditanak di atas tunggu berbahan bakar kayu tersaji di atas piring kesayangan Ari yang berwarna hijau, berbahan seng. Sepotong tempe dan telur dadar yang ditaburi bawang goreng merah menjadi asupan pelengkap. Ditemani secangkir teh melati hangat semakin menambah kesempurnaan dan kenikmatan di pagi harinya. Tidak berlama-lama dan disertai panggilan sahabatnya yang telah berdiri tegap di depan rumahnya. Ari bergegas pamitan untuk berangkat sekolah.

Ketiganya dengan pakaian batik khas sekolah dan tas gendong yang berisi buku dan botol minuman menemaninya ke sekolah. Sesekali Suprit melihat jam tangan berwarna hitam dengan angka-angka digital berwarna merah menyala dan mununjukkan 5.50. Ketika mereka bertiga hampir memasuki jembatan yang membentang dan membelah sungai Ciberang dengan bentang panjang hampir 70 meter. Ketiganya terkaget-kaget, mendengar suara mirip pepohonan tumbang, tanah longsor dan deru suara air yang tidak biasanya, meskipun mereka masih belum meyakini, ada apa gerangan.

Tidak berselang lama, terlihat warga berhamburan, sambil bertakbir dan beristighfar sambil membawa barang-barang berharganya menuju tempat tinggi.

Caah....caah....caah....teriak warga di seberang jembatan yang biasa dilaluinya menuju SMPN 4 Lebak Gedong. Sekolahnya memang berada dipinggir sungai Ciberang. Ari, Suprit, dan Jumar hanya berdiri dengan tatapan tidak percaya. Dilihatnya air mulai menghempas segala yang ada di depan, kiri, dan kanan sungai Ciberang. Suara kerbau dan kambing yang terbawa hanyut menambah riuh suara warga yang panik. Ari, Suprit dan Jumar bergegas untuk memutuskan tidak jadi ke sekolah dan pergi ke gubug untuk memukul kentongan tanda bahaya.

Sambil berteriak-teriak histeris dan memukul kentongan, Suprit melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 6.11 menit. Terlihat dari gubugnya, air hampir menghempaskan jembatan yang biasa dilaluinya menuju sekolah, meskipun jembatan tersebut masih berdiri kokoh. Selang 40 menit, banjir mulai surut, tampak bangunan-bangunan di pinggir sungai Ciberang sekitar Banjaririgasi terbawa hanyut. Hanya tersisa rasa kecewa, tangisan dan kalimat istighfar yang keluar dari warga.

....