Sabtu, 25 Januari 2020

Bumi Terluka, Tanah Menghempas (4)

Oleh: Wijaya

Part 4

....



Histeris dan tangisan warga terpotret jelas sepanjang pinggir sungai Ciberang yang terhempas banjir. Tidak lagi nampak bangunan yang berjejer dan ramainya ibu-ibu yang mencuci baju. Begitu juga, tidak nampak kerbau-kerbau yang berguling-guling membersihkan badannya. Hanya tangisan, ratapan dan puing-puing berserakan. Hampir-hampir menjadi kampung mati. Aliran listrik terputus, jaringan komunikasi juga mengalami hal serupa. Ari, Suprit dan Jumar hanya terduduk dan meneteskan air mata.

Sepanjang pinggir sungai nampak jelas lubang-lubang yang ditinggalkan para gurandil, simbol ketamakan manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab, ujar Suprit dengan nada kesal. Meskipun mata pencaharian sebagai gurandil merupakan pilihan satu-satunya bagi masyarakat di sana, jelas Jumar. Keterbatasan lapangan pekerjaan dan pemutusan hubungan kerja di kota. Mendorong para pemuda kembali ke kampung dan berprofesi menjadi gurandil, tegas Ari. Kerusakan Gunung Halimun Salak, tidak terbayangkan, berapa ratus atau bisa jadi ribuan lubang-lubang yang ditinggal menganga para penambang emas.

Akses transportasi yang terputus, semakin menambah derita masyarakat di kampung Banjaririgasi, ucap Jumar. Tidak berselang lama, terlihat barisan pemuda mengenakan kaos putih panjang, dipadu warna hijau berlambang segitiga dan sepatu both. "Front Pembela Islam" ucap Suprit setelah terbaca jelas. Sholawat bergema di barisan yang akhirnya diketahui sebagai relawan HILMI FPI, yang berbasis di Pondok Pesantren Futuhiyah yang tidak terlalu jauh dari lokasi bencana. Sambil memikul karung yang berisi makanan dan selimut. Tanpa rasa takut mereka satu persatu menyebrangi derasnya sungai Ciberang untuk mendistribusikan bantuan. Hanya terlihat seutas tali tambang membentang sebagai pegangan.

Ari yang masih dibalut kesedihan, serasa tidak percaya akan peristiwa dahsyat yang menimpa kampungnya. Hal yang sama dirasa Suprit dan Jumar, semuanya terdiam. Dari kejauhan terlihat, lambaian tangan Ambu Rahmi, menanda panggilan, Ari segera menghampirinya. Suprit, Jumar mari kita menuju musholla. Ambu meminta kita membantu menyiapkan posko untuk menampung para korban. Siap, ujar mereka dengan mata terlihat masih sayu dan rasa sedih yang menggelayut.

Tanpa banyak bicara, ketiga sahabat tersebut tanpa perintah dari Ambu dan Kyai Sukri. Setelah satu persatu karpet sajadah digulung, diikat dan disimpan ke gudang di samping mimbar. Ari, Suprit dan Jumar langsung menghamparkan karpet khusus yang biasa dipakai pengajian atau syukuran. Bersama pengurus musholla dibantu santri Kyai Sukri, semua bahu membahu menyiapkan tempat senyaman mungkin. Setelah selesai, Jumar langsung mengerek air bersih menggunakan timbaan yang talinya masih terbuat dari karet ban bekas. Sedangkan Ari dan Suprit menyiapkan makanan seadanya, mulai ubi rebus sampai singkong goreng. Semua bekerja sama dan sama-sama bekerja.

Pemandangan yang hampir serupa, terlihat di samping musholla. Relawan dari HILMI FPI membuat tenda darurat dan dapur umum. Berbondong-bondong relawan memikul perlengkapan masak, bahan pokok masakan, mulai dari minyak goreng, beras, telur, mie, garam, teh, gula dan ikan kalengan. Tidak lupa juga selimut berwarna hitam putih yang sering terlihat di ruang UKS, ucap Ari. Semua tanpa tersirat ekspresi kelelahan terus bahu membahu, bersegera menyiapkan semua kebutuhan pengungsi. Di tenda satunya yang berwarna putih dengan lambang bulan sabit merah, terlihat ibu-ibu berseragam dokter dan memakai rompi putih menyiapkan velbed, oksigen, obat-obatan dan peralatan diagnosa, juga terlihat tidak kalah sibuknya, jelas Suprit.

Di tempat lainnya masyarakat mendirikan tenda seadanya, hanya berbahan terpal yang ditopang bambu sebagai tempat istirahat serta berteduh sementara. Beradu dengan Jerit tangis dan pemandangan hamparan tanah di samping Ciberang yang mendominasi. Sesekali Suprit melihat jam kesayangan yang berbalut lumpur, tertera jelas angka 17.53. Sambil menengok ke atas langit, sang Surya mulai perlahan kembali ke peraduannya. Gelap gulita mulai menyelimuti, segelap dan sedalam derita masyarakat terdampak banjir. Hanya dibeberapa titik yang jadi posko pengungsian terlihat cahaya yang bersumber dari lampu LED.

Ari, Suprit, Jumar beserta beberapa relawan yang dibantu warga sekitar yang tidak terdampak, mencoba menghimpun selimut, kain sarung atau pakaian bekas sekedar pelindung untuk melalui malam tanpa cahaya dan dinginnya angin yang berhembus. Rintik-rintik hujan merangkai cerita beserta tetesan air mata derita, histeris dan penyesalan. Tanpa disadari, Kyai Sukri sudah berada di dekat Ari dan para relawan Futuhiyah, "hibur dan ingatkan para korban untuk memohon ampunan dan memperbanyak membaca tasbih, tahmid dan takbir, tegas Kyai Sukri. Tanpa menunggu, Ari, Suprit dan Jumar mulai mendatangi para pengungsi dari satu tenda ke tenda yang lain menyampaikan amanah Kyai Sukri.

Malam semakin gelap gulita, dinginnya malam mulai menusuk-nusuk. Ho-ho, kuku-kuku, uhu-uhu, u-uh-uuh. Suara burung hantu terdengar semakin nyaring, menambah suasana malam yang gelap gulita, semakin membuat bulu kuduk merinding. Sesekali berbalas dengan suara katak, kero-kero, krok-krok, quack-quack, cra-cra. Tanpa disadari, Jumar tertidur lelap, hanya beralaskan terpal yang biasa digunakan untuk menjemur cengkeh, gigitan nyamuk sudah tidak lagi dihiraukan. Lain halnya, Ari dan Suprit masih terjaga bersama beberapa warga yang tidak bisa tertidur untuk melalui malam yang terasa panjang.


....