Selasa, 21 Januari 2020

Bumi terluka, tanah menghempas


Oleh: Wijaya

Ari, Suprit dan Jumar berlari tergopoh-gopoh. Tatapan dan ritme nafasnya tidak seperti biasanya. Tiga sekawan yang selalu bersama menjalani hari-harinya. Tertampak sumringah dan enerjik. Tetesan keringat nampak jelas terlihat dari raut wajahnya yang polos. Ketiganya memang kawan seiring sejalan sejak duduk di bangku sekolah dasar sampai sekarang duduk di kelas 9.

Sambil memakan buah Jatake, ketiganya berbincang santai di atas gubuk beratap injuk di pinggir sungai Ciberang. Ari membuka perbincangan awal. Suprit panggilan Ari kepada Supriatna (Suprit), besok kan pergantian tahun Masehi. Kita adakan yasinan yuk, seperti tahun-tahun lalu kita membersamainya. Hayuk, ucap Jumar dengan semangat. Mudah-mudahan pergantian tahun sekarang tidak ada bencana, ujar Jumar.

Suprit menimpali, Ari kamu lihat tadi awan hitam pekat bergumul di atas Halimun Salak? Iya Suprit, benar tadi kami sama Jumar melihat penampakan yang sama. Aneh ya, tidak seperti biasanya awan yang menutup gunung Halimun salak. Belum lagi angin yang berputar-putar di sekitar sekolah kita Suprit, ujar Jumar. Mereka bertiga terlihat kompak berbincang atas penampakan alam yang tidak terlihat biasanya. Ah sudahlah, kita lanjut lagi rencana kita mengisi pergantian tahun dengan pengajian.

Jumar dengan gesit turun ke pinggir sungai Ciberang sambil membawa Koja yang di dalamnya ada beberapa barang. Secepat kilat, dikeluarkan botol minuman yang biasa dibawanya ke sekolah. Sekejap botolnya penuh dengan air. Jumar cepetan geh, apinya udah menyala, panggil Suprit. Bersegera Jumar kembali ke gubuk tempatnya berkumpul dan bertukar ide gagasan.

Seperti biasanya, mereka bertiga memasak air memakai kastrol di atas tungku yang terbuat dari tanah merah. Ari bergegas mengeluarkan bungkusan pelastik dari saku celananya yang nampak pudar. Daun teh yang sudah tercampur melati dimasukan ke gelas masing-masing yang terbuat dari bambu. Diseduhlah dengan air mendidih. Kepulan asap putih menari di atas gelas mereka disertai harum bunga melati yang menambah sensasi rasa.

Di pinggir gubug yang berdiri kokoh  terlintas jalan setapak menuju gunung. Terlihat beberapa pemuda dan paruh baya sambil menggendong karung berisi cangkul, linggis,  Godam dan tali tambang bergegas ke atas. "Mang Sardi arek ka lobang" teriak Ari. Iya biasa, timpal singkat Mang Sardi yang tidak lain tetangga yang rumahnya tepat di pinggir rumahnya. Hati-hati mang, tong poho durian ucap Jumar sambil cengengesan.

Kampung mereka memang berada di kaki gunung halimun salak, masuk ke Kecamatan Lebak Gedong Kabupaten Lebak. Penampakan pepohonan hijau yang sesekali menari-nari tertiup angin dan jernihnya air anak sungai Ciberang yang menjadi sumber air utama salah satu pondok pesantren terbesar di Lebak. Kehidupan masyarakatnya tidak terlepas dari bertani dan menjadi gurandil yang aktivitasnya tidak terlepas dari bebatuan dan lubang-lubang di gunung Halimun Salak.

Sesekali terdengar suara mesin menderu yang berputar-putar dengan batu-batu yang telah dihancurkan di dalamnya. Pemandangan ini merupakan potret harian masyarakat di sana. Sekaligus menjadi sumber penghidupan, meskipun hanya 1/3 bagian yang mereka dapatkan ungkap Ari. Terus sisanya kemana dan untuk siapa?, tanya Suprit sambil mengercitkan dahinya. Memang kamu belum tahu Suprit, jawab Jumar. Iya, saya tidak tahu, ujar Suprit.

Suprit, Jumar habiskan dulu tehnya mumpung masih hangat tegas Ari. Tanpa menunggu obrolan mereka hentikan sejenak dan ketiganya langsung menyeruput teh melati masing-masing. Muantap ujar Jumar. Gelas terbuat dari bambu menambah sensasi rasa dan menguatkan aroma teh dan melatinya. Maknyos euy timpal Suprit. Ari hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya tersebut. Kalau udah kita lanjut lagi perbincangannya ya, pungkas Ari.

Segelas teh melati hangat, habis tidak bersisa. Ari, Suprit dan Jumar kembali melanjutkan obrolannya. Hampir 9 tahun kita bersama-sama, senang dan bahagia. Tidak terasa 3 bulan lagi kita lulus Sekolah, gumam Suprit dalam hatinya. Perasaan semakin panas di kampung kita, ungkap Ari. Heueuh...Jumar menimpali. Bagaimana jadi malam ini pengajiannya, tegas Ari. Iya jadi Suprit dan Jumar kompak menjawab. Siap-siap diumumkan ke teman-teman yang lain.

Diantara ketiganya usia Ari paling muda, tetapi Ari Sugema nama lengkapnya memang paling dewasa diantara teman-teman sebayanya, termasuk Suprit dan Jumar. Anak pertama yang perawakannya tinggi, kurus dengan tatapan mata yang tajam menjadi cirinya. Ari anak yang paling aktif di sekolahnya. Selain aktif, Ari selalu masuk 3 besar dari sisi akademik. Ditambah sikap sosialnya yang tinggi selalu menjadi perbincangan gurunya di sekolah.

Hampir genap 40 hari, Ari belum bertemu dengan Ayahnya. Ari hanya mengingat, pertemuan terakhir dengan ayahnya 40 hari yang lalu setelah berjamaah shalat shubuh di Mushola dekat rumahnya. Sebelum matahari terbit, ayahnya sudah pamit untuk menuju gunung halimun salak. Sama seperti kebanyakan warga lainnya yang bermata pencaharian sebagai gurandil. Sejak itu, ayahnya tidak pernah kembali dan jejaknya seperti ditelan bumi.

Ari menjalani kehidupannya sehari-hari dengan penuh semangat, ceria dan keoptimisan. Sikap positifnya menular ke sahabatnya Suprit dan Jumar. Suprit dengan perawakan pendek dengan ciri khas matanya yang agak sipit dan suaranya yang ngebass menjadi pembeda diantara teman lainnya di sekolah. Tarik suara menjadi kelebihannya, pernah di suatu lomba, Suprit tampil menjadi juara. Lain lagi dengan Jumar, perawakan tinggi besar, raut wajah tampak sangar dengan otot-otot menyembul disebalik lengannya. Tapi, kenyataannya. Jumar anak yang humble dan suka berbagi, meskipun sisi akademiknya berada di bawah Ari dan Suprit.

Tidak terasa, obrolan panjang mereka harus berakhir. Matahari tampak malu-malu mulai menyelinap di sela-sela dedaunan lalu hilang laksana ditelan gunung. Hayoo kita pulang, kita bersiap untuk pengajian Yasin dalam menyambut tahun baru nanti tegas Ari kepada Suprit dan Jumar. "Siap komandan" jawab Suprit dan Jumar dengan ekspresi lalagaan. Mereka bertiga bergegas pulang ke rumah masing-masing. Dari kejauhan terdengar suara Ari, "Suprit, Jumar, jangan lupa kita ketemu jam 11 malam" yang perlahan mengecil lalu hanya kesunyian dan gelap malam yang mulai menyelimuti.

Tepat pukul 10 lewat 47 menit, Jumar, lengkap memakai baju Koko dan Koja yang selalu menemaninya sudah duduk bersila di Mushola La Tansa. Satu persatu teman-temannya mulai berdatangan. Sekejap musholla pun penuh. Kyai Sukri yang telah duduk di tengah-tengah musholla mulai memimpin acara Yasinan dalam menyambut tahun baru Masehi yang diinisiasi Ari, Suprit dan Jumar. Tasbih, Tahmid, Takbir dan Tahlil menggema dan menyeruak perlahan dalam kekhusuan terucap dari lisan Ari dan teman-temannya.

Suara Tahlil beradu dengan deru motor pemuda dan pemudi yang akan menghabiskan akhir tahun di gunung luhur. Iya, gunung yang dikenal dengan sebutan negeri di atas awan. Meskipun menjelang akhir tahun para tokoh masyarakat telah mewanti-wanti, gunung yang telah viral menjadi destinasi wisata tersebut ditutup sementara. Akan tetapi tidak menyurutkan hasrat pemuda dan pemudi untuk tetap memaksakan datang ke sana. Tidak terasa tepat pukul 24.00 acara pengajian yasinan selesai. Ditandai dengan do'a yang dipimpin oleh Kyai Sukri. Hadirinpun menyembur keluar, menuju rumah masing-masing untuk beristirahat. Hanya terlihat Ari yang terakhir meninggalkan musholla setelah selesai mematikan lampu dan menutup semua pintu.

.....