Jumat, 24 Januari 2020

Bumi Terluka, Tanah Menghempas (3)


Oleh: Wijaya

Part 3

....

Rabu, 1 Januari 2020, hari pertama di tahun yang baru, sejatinya semua mendamba kehidupan yang lebih baik, bahagia, damai dan menyenangkan. Ari, Suprit, dan Jumar yang berniat ke sekolah sebelum jadwal resmi semester genap dimulai. Mereka sudah berniat ingin membersihkan teras dan lapangan agar bersih dari rerumputan, setelah ditinggal liburan. Namun Allah SWT memiliki rencana lain. Sambil duduk di gubug tempat mereka berkumpul, Ari duduk termenung. Seketika teringat cerita Abah Kolot ketika usianya masih 7 tahun.

Ketika itu, tepat di hari Ahad di samping perapian dan mendidihkan air Kawung di atas tungku terbuat dari batu yang dipahat untuk dibuat gula merah. Abah Kolot bercerita, bakal datang satu waktu di mana manusia akan merasakan apa yang telah diperbuatnya pada alam. Sambil, mengaduk-aduk air Kawung yang mulai terlihat mengental. Abah kolot di usianya yang hampir genap 90 tahun menegaskan. "Gunung teu meunang dilebur, Lebak teu meunang diruksak", camkan ini Ari. Sambil mengernyitkan dahi dan tatapan yang penuh tanda tanya karena ketidakpahaman akan pesannya, Ari mengangguk tanda mengiyakan pesan Abah kolot.

Sesaat kemudian Ari tersadar dan terbangun dari lamunannya, setelah Suprit dan Jumar memanggilnya. Ternyata benar terjadi, apa yang Almarhum Abah Kolot pesankan 8 tahun lalu, gumamnya. Suprit dan Jumar dengan nada iseng, Ari kenapa melamun? Ingat sama Tanti, goda mereka. Dasar Suprit, ada-ada saja dariamah, cetusnya. Kamu mau tahu yang saya lamunkan, tanya Ari. Iya atuh, kompak Suprit dan Jumar menjawab. Caah yang barusan terjadi yang saya pikirkan Jumar, ucap Ari. Memang kenapa, timpal Suprit. Suprit, Jumar. Kamu masih ingat apa yang disampaikan Pa Roni guru IPS kita, tentang kondisi geografis kampung kita, tanya Ari dengan raut wajah serius. Sambil terdiam beberapa detik, Suprit dan Jumar mengangguk tanda mulai ingat.

Sungai Ciberang berada di bawah kaki gunung Halimun Salak sebagai hulunya. Melewati Kampung Muhara, Kampung Cileuksa, Banjaririgasi dan Sajira, ucap Ari. Bukankah ada anak sungainya, timpal Suprit. Iya, jawab Jumar, kalau tidak salah, waktu itu Pa Roni menjelaskan. "Ada sungai Ciear, Cikutawungu, Ciladaeun dan sungai Cihinis" Pungkas Jumar. Ari pun bertepuk tangan, mengapresiasi Jumar yang tidak seperti biasanya. Siapa dulu gurunya, timpal Jumar sambil tersipu malu. Suprit pun tidak kalah memberikan apresiasi kepada Jumar, sepotong ubi rebus ungu bekal dari ambunya. Perbincangan pun semakin hangat diantara ketiganya.

Seketika, mereka bertiga terdiam. Sambil menopang dagu memikirkan apa yang menyebabkan sungai Ciberang Banjir hampir-hampir menghancurkan jembatan yang menjadi akses menuju sekolahnya. Ari, apakah banjir ini karena penebangan hutan, itu yang bahasa Inggrisnya... Illegal logging, jawab Ari cepat, iya itu sambil tersenyum. Menurut kamu, penyebabnya apa Jumar, tanyanya. "Penambangan emas ilegal yang menggila" jawab Jumar. Hmmm...bisa-bisa, benar tegas Ari. Hujan besar bisa jadi pemicunya, menyebabkan longsoran dan tersumbatnya aliran sungai oleh gelondongan-gelondongan kayu hasil penebangan liar, akibatnya air mencari jalan sendiri, tambah Ari. Mereka bertiga sepakat dengan hasil perbincangannya.

Ari, Suprit, Jumar cepat kemari, suara lantang Ambu Rahmi memanggil. Mereka bertiga dengan cekatan dan segera menuju Ambu Rahmi. Siap Ambu, jawab Jumar. Ada yang bisa kami bantu, ucap Suprit. Daria malah caricing di gubug, lain nulungan nu kabanjiran, tegas Ambu. Astaghfirullah, uhun Ambu. Seperti biasa, Suprit melihat jam tangan kesayangannya yang tanpa disadari sudah menunjukkan pukul 8.50. 

Tanpa menunggu aba-aba mereka bertiga bergegas menuju Banjaririgasi, sesampainya di pintu masuk jembatan. Terdengar kembali suara reruntuhan pepohonan, urugan tanah longsor serta suara deras air yang lebih besar dari yang kali pertama didengarnya. Tanpa panjang lebar, mereka bertiga berlari ke Pos Ronda dekat sungai yang berada di atas jalan yang lebih tinggi. Dalam sekejap, mereka berteriak, caah....caah....caahh...leuwih gede. Jumar memukul kentongan dengan tenaga maksimal agar didengar warga kampung.

Secepat kilat, banjir setinggi 6 meter menghempaskan semua yang dilewatinya, termasuk menghancurkan sekolah mereka sampai tidak tersisa sedikitpun, sekalipun pondasi bangunannya. Selain itu, SDN 2 Banjaririgasi mengalami nasib serupa. Kepanikan semakin menjadi-jadi karena air yang membawa lumpur, gelondongan kayuk dan barang-barang yang hanyut semakin menjadi-jadi. 

Tidak luput, salah satu pondok pesantren terbesar di Lebak ikut tersapu, asrama putranya menjadi bagian yang terdampak. Belum lagi mobil-mobil terbawa hanyut. Tangisan, dan kepanikan mewarnai pagi itu. Banjir kedua yang lebih besar merangsek dan menghancurkan simbol-simbol keduniawian yang ada. Rusak, hanyut, hilang tidak berbekas. Ari, Suprit dan Jumar hanya merapal Takbir, Tasbih, Tahmid dan Istighfar. semampunya Tanpa disadari air mata menetes dari mata mereka.

Sekejap mata semua hilang, hanya puing-puing kayu yang tersangkut di sela-sela bebatuan dan pondasi yang masih tersisa. Termasuk gubug tempat Ari, Suprit dan Jumar menghabiskan waktu di luar sekolah dan membantu ambunya. Tidak lama dari kejadian itu, semua alat komunikasi tidak berfungsi. Hanya jeritan dan tangisan yang masih tersisa. Semua berlari secepat mungkin ke tempat yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri masing-masing, sudah tidak peduli lagi dengan barang dan harta kekayaan yang telah mereka kumpulkan.

....