Selasa, 28 Januari 2020

Bumi Terluka, Tanah Menghempas (5)

Oleh: Wijaya

Part 5

....

Lantunan suara Adzan berkumandang menanda tibanya waktu Shubuh. Semua nampak bergegas terbangun dari tidur dan lamunannya. Ari, Suprit dan Jumar dengan mata terlihat seperti panda, satu persatu mengucek-ngucek kedua bola matanya untuk segera bangkit dan menuju musholla. Suara adzan shubuh yang berbeda dari hari-hari biasa. Tegas, indah dan menggetarkan hati, mengundang pesona dan semangat. Jumar berlari menuju sumber suara yang menyala menggunakan genset. Kyai Sukri yang adzan ucap Jumar ke Ari dan Suprit.

Ari dan Suprit membangunkan satu persatu para pengungsi yang masih tertidur lelap di musholla, meskipun suara adzan berkumandang. Potret raut wajah penuh kesedihan masih mendominasi. Dalam hitungan menit, semua pengungsi sudah menuju tempat wudhu dan bersiap melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Kyai Sukri dengan Serban khas Madinah dan kopiah putih kesayangannya sudah bersiap untuk memimpin Shalat. Tanpa aba-aba, Jumar langsung mengumandangkan Iqomat. Semua serempak berdiri laksana pasukan militer yang bersiap diinspeksi.

Sholat shubuh selesai dilaksanakan, Kyai Sukri langsung memimpin Dzikir yang dilanjutkan do'a. Dengan sigap Suprit mengambil mix dan memberikannya kepada Kyai Sukri. Sebelum jamaah membubarkan diri. Kyai Sukri menyampaikan Kultum (kuliah tujuh menit) dengan membacakan Al Qur'an Surat Al-A'Raf ayat 56 yang artinya "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan." Semua serentak terdiam dan meneteskan air mata. Maha benar Allah dengan segala firmanNya ucap kompak jamaah.

Tidak terasa 7 menit berlalu, tausiah Kyai Sukri ditutup dengan salam. Serempak semua jamaah dan para pengungsi berdiri dan bersiap menuju dapur umum, mengambil sarapan pagi dan dilanjut kembali ke tempatnya masing-masing. Di dapur umum, para relawan dibantu Ari, Suprit, dan Jumar membagikan nasi yang dibungkus daun pisang dan sebotol air mineral. Satu persatu para pengungsi dengan wajah mulai tegar dan semangat kembali ke tempatnya masing-masing. Hanya sekedar mencari barang-barang yang dianggap penting dan berharga yang masih bisa diselamatkan.

Di hari kedua bencana, di lokasi terdampak terdapat pemandangan yang berbeda. Terlihat orang-orang yang asing di mata warga sekitar, berlalu lalang. Terlihat ada beberapa rombongan dengan seragam yang sama dan membawa dus dan karung-karung yang dikumpulkan di satu titik. Meskipun tidak sedikit yang hanya sekedar selfi di spot terdampak, semisal jembatan yang terputus atau bekas berdirinya sekolah kami, ujar Ari. Tidak berselang lama mulai berdiri tenda-tenda besar mirip punya tentara di beberapa lokasi yang tinggi dan jauh dari sungai Ciberang, ungkap Suprit. Salah satu tenda berwarna oranye bertuliskan BPBD yang dibawahnya tertera jelas "badan penanggulangan bencana daerah Kab. Lebak" tegak berdiri.

Di lokasi lainnya, tepat di atas bekas berdirinya sekolah kami, terlihat jelas Kepala Sekolah, Pa Suganda beserta rombongan dari kota sedang serius berbincang. Sesekali kepala sekolah kami mengangkat telunjuknya ke beberapa titik yang sebelumnya berdiri kokoh bangunan sekolah yang baru diresmikan di akhir tahun 2018 dan rumah warga terdampak. Seorang yang nampak berada paling depan, memakai topi dan sepatu both tampak menyampaikan pesan kepada pa Suganda. Di kemudian hari, baru tahu bahwa yang memakai topi berlogo kabupaten Lebak adalah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak, ungkap Ari.

Selain rombongan BPBD, terlihat jelas beberapa orang yang mengenakan rompi hitam dan berlogo PGRI, turut berbincang dengan pa Suganda. Nampak beberapa orang memisahkan diri dari rombongan. Mereka tampak mengekplorasi dan mendokumentasikan beberapa titik daerah terdampak menggunakan kamera HP, celoteh Suprit. Lebih kurang 30 menitan, rombongan dari dinas pendidikan dan PGRI meninggalkan lokasi. Ari, Suprit dan Jumar ikut serta mengantarkan sampai perahu karet sebagai satu-satunya alat transportasi yang ada.

Hari semakin terik, Matahari mulai menampakkan kuasanya, menjalankan titah dan perintahNya menyinari bumi. Pemandangan di sekitar bencana berubah seketika. Masyarakat terlihat seperti berlomba-lomba menjemur barang-barang dan pakaian yang masih bisa diselamatkan, setelah beberapa hari dipayungi awan hitam yang terlihat jenuh dengan kandungan air yang ada di dalamnya. Hewan-hewan ternak yang tersisa, mulai terlihat bermain-main di kubangan pinggir sungai Ciberang dalam pengawasan pemiliknya. Di sisi lain sebelah jembatan, anak-anak mulai memberanikan diri berenang dan membersihkan diri seperti biasanya.

Di beberapa titik lokasi,tenda pleton berdiri kokoh yang difungsikan sebagai posko penanggulangan korban bencana. Meskipun warga terdampak hanya menjadikan posko sebagai tempat melewati malam. Dari kejauhan, terlihat beberapa orang berseragam BPBD berwarna oranye, mulai mendatangi posko yang ada dan mulai melakukan pendataan masing-masing kepala keluarga. Warga terlihat saling bergantian memberikan data sesuai pertanyaan dari petugas BPBD dengan raut wajah diliputi kesedihan yang sulit disembunyikan. Ari, Suprit dan Jumar berpisah dan ikut mendampingi petugas melakukan pendataan.

....