Minggu, 26 Januari 2020

GURU IPS ITU, MULTITALENTA


Oleh: Dian Diana, M.Pd.
(SMPN 1 Cihampelas, KBB, Jawa Barat)

Menelisik asumsi tentang pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran yang membosankan. Ini merupakan tantangan yang membutuhkan perjuangan untuk mematahkannya. Tak dapat dipungkiri, saat kita sekolah dulu pun, kemungkinan besar berpendapat sama. Adakalanya guru pengajar IPS berganti dengan mudahnya, tanpa latar belakang pendidikan ke-IPS an yang mumpuni. Hal ini berlangsung lama, dan menjadi character assassination yang berkepanjangan bagi mata pelajaran yang satu ini.
Setelah bergulir tentang keprofesionalan guru, barulah seleksi alam terjadi. Latar belakang pendidikan guru IPS sekarang ini beragam. Misalnya, guru yang berlatar Pendidikan Geografi, di mana posisi keilmuannya berada pada 3 kaki. Satu kaki mempelajari lingkungan fisik yang berpengaruh pada kehidupan manusia, kaki kedua menggali hubungan manusia dalam bermasyarakat, dan kaki yang lain pengkajian penampakan dengan menggunakan teknologi, terutama untuk Sistem Informasi Geografi.
Latar belakang pendidikan ini, menjadi bekal, untuk memantaskan diri sebagai guru IPS. Tak cukup hanya bidang geografi saja yang harus dikuasai, tiga ilmu dasar lainnya dalam IPS, menunggu untuk dipelajari, bidang sejarah, ekonomi, dan sosiologi. Pendekatan interdisipliner menjadi kajian menarik dalam IPS. Bahkan pada pengembangan pembelajaran di kelas, saat membahas satu fenomena, ilmu lain pun turut mendukung mengungkap pemecahan masalah yang terjadi. Pendekatannya bertambah lagi menjadi multidisipliner.
Secara otomatis, kita harus mencari tahu berbagai informasi, untuk menambah wawasan keilmuan, agar setiap pembelajaran yang disajikan di kelas, dapat memperkaya pengetahuan dan keterampilan siswa. Dan yang paling penting dalam pendidikan sekarang ini, yaitu penanaman nilai-nilai karakter yang harus dimiliki oleh siswa. Talenta sebagai ilmuwan yang terus menerus belajar, menjadi dasar kita untuk mengembangkan diri.
Guru IPS harus berusaha untuk melayani siswa, baik di dalam kelas, maupun di luar kelas. Ketika di dunia nyata, maupun di dunia maya. Hal ini sangat membantu guru untuk mngenal nama siswa dan memahami karakteristik mereka. Saat berkomunikasi dengan anak didik kita kadang kala kita memposisikan diri sebagai seorang guru. Pada waktu yang lain, menjelama sebagai sahabat, bahkan pada waktu tertentu kita menjadi orangtua bagi mereka. Talenta pada diri kita yang muncul di sini, yaitu menjadi seorang psikolog dan ahli komunikasi.
Peran penting guru IPS dalam kegiatan belajar mengajar di antaranya untuk menghidupkan skenario yang telah dirancang. Rancangan ini dibuat untuk memberikan sajian menarik, yang diharapkan akan menambah wawasan, menginspirasi, menghibur, dan menghasilkan pembelajaran bermakna (meaningfull learning). Siswa yang menjadi sasaran utama, memainkan peran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirancang dalam susunan rencana pelaksanaan pembelajaran. Talenta guru yang harus dipoles, yaitu kita mampu menjadi sutradara yang menghidupkan cerita.
Penggunaan model pembelajaran yang tepat, dapat menolong guru untuk membangkitkan gairah siswa dalam belajar. Oleh karena itu, guru harus menguasai atau menciptakan beragam model yang akan mengantarkan kita dan siswa pada pembelajaran yang kaya pengetahuan, penuh keterampilan, pembiasaan bersikap, bekerjasama, saling menghargai, dan menyenangkan.
Model pembelajaran yang digunakan untuk mata pelajaran IPS, harus bervariasi pada setiap pertemuannya. Kreativitas guru untuk memilah materi akan medorong pembelajaran yang berkualitas, memadukan materi dengan model pembelajaran yang sesuai memerlukan skill khusus. Tentu saja, ini berawal dari perencanaan pembelajaran atau skenario yang kita buat.
Agar siswa selalu fokus belajar dan tidak jenuh dalam pembelajaran, guru dapat memberikan kegiatan yang akan memecah kebosanan. Salah satunya dengan ice breaking. Kegiatan ini dilakukan untuk mencairkan suasana dalam belajar. Tujuan penerapan ice breaking dalam pembelajaran, intinya untuk menggairahkan, dan membuat peserta didik lebih konsentrasi dalam belajar. Selain itu,  siswa dikondisikan untuk dinamis, kreatif, bekerjasama, komunikatif dalam proses pembelajaran. Jenis ice breaking dapat dibagi menjadi dua. Pertama, ice breaking tanpa menggunakan media yang hanya mengandalkan anggota tubuh saja. Kedua, ice breaking yang menggunakan berbagai media untuk menunjukkannya.
Penempatan ice breaking dalam kegiatan belajar mengajar dapat ditempatkan di mana saja. Bisa di kegiatan pendahuluan, inti, atau penutup. Guru harus tahu, bagianmana kegiatan yang akan penuh konsentrasi, dan kegiatan mana yang cenderung monoton, dan kegiatan mana yang perlu dinamis. Di sini talenta guru yang ditampilkanya itu sebagai motivator sejati.
Hal lain yang membuat cair suasana dalam pembelajaran, saat guru melemparkan humor-humor segar sebagai selingan dalam kegiatan mengajar. Siswa merima sekian banyak materi dan tugas setiap hari di sekolah. Ketegangan saat belajar akan memberikan beban lebih banyak pada siswa. Sebagai guru IPS yang menguasai keterampilan sosial, menyegarkan suasana belajar dengan banyolan-banyolan menghibur adalah satu kewajiban. Sejenak kita memoles talenta kita sebagai komedian.
Untuk mengembangkan keterampilan siswa, guru IPS dapat menggali jiwa ekonomi siswa agar menciptakan berbagai usaha sederhana dengan menggunakan prinsip ekonomi. Ide-ide brilian siswa harus dipancing agar mereka mampu berkolaborasi dengan kelompoknya untuk menciptakan ekonomi kreatif yang dapat membekali mereka bermanfaat di lingkungannya. Talenta yang harus kita gali dalam hal ini yaitu menjadi seorang enteurpreuneur.
Jika ada materi pembelajaran yang penting untuk dilaksanakan di luar kelas (outing class), agar siswa belajar dari pengalaman yang mereka lakukan saat mereka langsung terjun ke lapanganSiswa akan dapat mengalami langsung apa yang mereka pelajari. Biasanya kegiatan seperti ini, membuat siswa menguasai seluruh dimensi pengetahuan, dari sisi faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif, karena mereka terlibat langsung. Kecerdasan majemuk akan sangat nampak didapatkan oleh siswa. Talenta guru yang dapat ditemukan di sini yaitu menjadi seorang event organizer.
Saat mengajarkan sejarah, agar siswa merasakan makna mendalam dari cerita yang terjadi di masa lalu. Kadang kala guru bermain peran berbagai tokoh dengan karater yang berbeda-beda. Guru harus pandai membawa siswa seperti mengalami dan menangkap nilai dari cerita yang disajikan. Dari kegiatan bermain peran ini, talenta guru IPS yang nampak adalah sebagai seorang aktor.
Mempelajari berbagai wilayah dalam lingkup nasional, regional, dan internasional menuntut guru IPS mengenal berbagai wilayah. Bahkan wilayah-wilayah tersebut sudah menjadi peta mental (Mental Map) yang berfungsi secara otomatis ketika menerangkan atau menggambarkan tempat tersebut dihadapan siswa. Kemampuan membaca lokasi diterapkan kepada siswa dalam pembelajaran Guru mengembangkan talenta menjadi seorang kartograf.
Memancing siswa untuk bercerita tentang hal yang berbahaya bagi dirinya dan siswa lain. Mengajarkan siswa pentingnya assosiatif. Memahamkan pada diri siswa untuk senantiasa bekerjasama, berbuatbaik, dan menghindari konflik. Salah satu konflik yang marak di sekolah adalah  bullying/perundungan. Pencegahan perundungan penting segera dilakukan, karena akibat yang fatal bagi perkembangan mental siswa. Peran guru sebagai pendamai dan negosiator sangat penting dalam mengahadapi hal ini.
Penguasaan teknologi digital dalam pembelajaran masa kini harus dikuasai oleh guru IPS. Memberikan tauladan selain dari sikap juga dari keterampilan kita yang menguasai teknologi. Pembelajaran menarik dan menyenangkan penyajiannya, salah satunya dengan teknologi yang dikuasai oleh guru. Kreativitas berbagai pembuatan presentasi materi, video menarik, games-games menantang untuk selalu belajar, membuat guru harus meningkatkan kapasitas dirinya sebagai ahli teknologi masa kini dalam pembelajaran.
Kemahiran pelaksanaan tugas yang diemban oleh guru IPS, akan menentukan keberhasilan atau kegagalan bonus demografi Indonesia mendatang. Penanaman nilai karakter dan penguatan spiritual, serta tuntutan pemenuhan keterampilan peserta didik abad 21 yang meliputi: berpikir kritis dan memecahkan masalah (critical thinking and problem solving), kreatif dan inovatif (creativity and innovation), pandai berkomunikasi (communication), dan mampu bekerjasama (collaboration) menjadi jembatan untuk menghadapi tantangan yang penuh persaingan dalam era revolusiIndustri 4.0 ini. Jadilah guru yang multitalenta!