Minggu, 26 Januari 2020

KEPALSUAN BUDAYA

Oleh : Yanuar Iwan

Sebuah Hati yang Jujur adalah Kerajaan itu Sendiri. ( Seneca )

Awal Januari 2020 Pangeran Harry dan istrinya Meghan Markle menyatakan meninggalkan keluarga kerajaan Inggris dan keluar dari peranan protokoler kerajaan. Harry dan Meghan sudah membuat keputusan yang semoga bukan keputusan "rekayasa". Dalam salah satu pernyataannya mereka ingin hidup mandiri secara finansial.

Dalam waktu yang hampir bersamaan di negeri tercinta ada "deklarasi" pendirian Kerajaan Agung Sejagat di Kabupaten Purworejo dan menyatakan keturunan dari Kerajaan Mataram. Kesultanan Selacau dan Sunda Empire di Jawa Barat.

Abad 21 dengan segala dinamikanya,  ternyata tidak cukup memberikan peluang-peluang eksistensi sosial, politik dan ekonomi. Untuk sebagian orang, budaya dan tata cara feodal serta gambaran kerajaan masa lalu dihidupkan kembali walaupun jauh dari konsep logika dan sikap rasional, sebagian orang tersebut sedang berusaha mencari gambaran-gambaran ideal kehidupan, dan jika dihubungkan dengan konsep umum nilai dan norma bisa dianggap salah ataupun abnormal, dalam film Joker jelas terlihat bahwa seseorang akan termotivasi untuk berperilaku abnormal jika keadaan masyarakat yang dianggap normal ternyata menyimpan "bara" pola perilaku menyimpang. Berperilaku abnormal adalah pilihan terbaik bagi individu yang frustrasi dan kecewa dari kehidupan normal yang menyimpan "bara" demi untuk membuktikkan eksistensi diri ataupun kelompok.

Atmosfer budaya kita terlalu permisif terhadap bentuk-bentuk perilaku abnormal ( suap, korupsi, manipulasi, bersikap curang, tidak jujur, penyalahgunaan kekuasaan dan kemunafikan. ) Akibat seringnya bersikap permisif, orang-orang jujur disekitar kita, kita anggap sebagai orang-orang "menyimpang", pahlawan kesiangan ataupun orang-orang yang tidak realistis, disebut realistis karena mengikuti arus pola perilaku yang sudah terlanjur masuk dalam sistem birokrasi dan  sistem sosial kemasyarakatan, disebut idealis karena menentang arus, padahal kita hanya manusia biasa tidak realistis tidak idealis kita manusia biasa dalam terminologi baik dan buruk.

Jika Harry dan Meghan lebih memilih untuk keluar dari lingkungan istana memilih jalan hidupnya sendiri, ditengah belantara masyarakat umum, mengejar keaslian eksistensi diri, sebagian masyarakat kita justru berlomba-lomba membuktikan eksistensi diri dengan kepalsuan melalui operasi plastik untuk tampil cantik, mencari penghargaan sosial dan ekonomi melalui rumah dan mobil mewah, mendewakan pangkat dan jabatan serta menjadi raja dengan legitimasi palsu.

Budaya kita terlanjur feodal sehingga sistem yang dibentuk sulit sekali untuk menghargai masyarakat kecil, wong cilik, ataupun kaum marginal, kita seringkali bersikap arogan terhadap mereka, kita sering menilai biasa pedagang somay dan pedagang baso yang lewat didepan rumah kita, sebagai kegiatan rutin belaka, padahal mereka sudah memberikan pelajaran bagaimana arti hidup dan kehidupan melalui kegigihan mencari nafkah, berangkat dari rumah tanpa jaminan dan kepastian apakah barang dagangannya akan laku ? Yang mereka tahu adalah kesetiaan terhadap pekerjaan dan profesi, untuk masuk dan keluar kampung, gang, ataupun perumahan demi mencari rezeki halal Rp5000 s.d. Rp10.000 yang dinantikan anak dan istrinya dirumah dan sama sekali tidak terpikir dibenak mereka bahwa mereka ingin menjadi raja ataupun presiden.