Jumat, 28 Februari 2020

MGMP IPS Rayon 5 Garut Bahas RPP Sederhana dan AKM


Garut. Socius.  Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)  IPS rayon 5 Kabupaten Garut,  Jawa Barat mengadakan pertemuan rutin yang kedua di awal tahun ini.  Kegiatan dilaksanakan di SMPN 1  Malangbong, Kamis (27/2).

Pada kesempatan tersebut dibahas mengenai kebijakan penyederhanaan RPP dan Assesment Kompetensi Minimal (AKM).

Menurut Enang Cuhendi,  yang menjadi nara sumber dalam kegiatan tersebut,  dua kebijakan Kemdikbud ini merupakan bagian dari kebijakan  Merdeka Belajar yang dicanangkan Mendikbud Nadiem Makarim. Setiap guru tentunya harus merespon secara positif kebijakan ini.  Lebih lanjut narsum yang juga Ketua PW FKGIPS PGRI Jabar berharap dalam menghadapi pelaksanaan AKM setiap guru tidak termakan info hoax yang banyak bereder dan tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.


Untuk rayon 5  sendiri sebagai realisasi dari respon positif ini ditindaklanjuti dengan dilaksanakan workshop penyusunan RPP model Merdeka Belajar dan Pembahasan soal latihan AKM. (EC - Socius Media)


MERDEKA BELAJAR, METAMORFOSIS KEPRIBADIAN?

Oleh Hendarman
Plt Kepala Pusat Penguatan Karakter, Kemendikbud RI

Berbagai reaksi dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholders), masih terus bergulir menanggapi kebijakan MERDEKA BELAJAR (MB). Hal tersebut jamak saja sebagai suatu bentuk kepedulian terhadap suatu kebijakan. Justru akan menjadi lucu apabila para "inohong" hanya diam tanpa mengekspresikan opini mereka.

Yang sekarang perlahan muncul adalah sikap-sikap keberpihakan terhadap kebijakan ini. Yang tadinya skeptis tampaknya merasakan "ruh baru" untuk bertindak atas nama kreativitas, kekritisan dan inovasi, serta prinsip kebersamaan dan gotongroyong dalam kepedulian dan tanggung jawab bersama. Sayangnya dukungan-dukungan tersebut tidak diberitakan oleh berbagai media secara obyektif agar terjadi keseimbangan.

Kebijakan ini sebagai metamorfosis kepribadian maksudnya apa? Sederhana saja ketika ada kepala dinas pendidikan yang bertanya ,"Pak, apa yang harus kami lakukan (langkah) untuk merdeka belajar ini terutama fokus dinas pendidikan kabupaten?" Apakah kita harus prihatin dengan pertanyaan tersebut? Tentunya tidak, karena justru hal tersebut sebagai sinyal bahwa yang bersangkutan sebenarnya sudah menyadari bahwa kebijakan tersebut memiliki "makna sesuatu" atau penting. Pertanyaan tersebut merupakan awal dari fase yang dapat dikatakan munculnya kesadaran (awareness stage).

Ketika disampaikan secara sederhana kata-kata kunci yang penting terkait MERDEKA BELAJAR seperti koneksi batin, perubahan paradigma, gotong royong, mengembalikan otonomi atau kewenangan, menjadikan wadah kompetisi maka itu mampu membuka diri mereka. Karena kesadaran itu menjadi titik awal untuk berubah. Dari penjelasan sederhana itu keinginan untuk mengetahui menjadi amunisi berikutnya dimana sudah terlewati fase mengerti (understand stage).

Tidak mengherankan beberapa kepala dinas yang menghubungi kemudian berlari kencang mulai bergabung ke dalam barisan penerap atau penggerak kebijakan Merdeka Belajar. Memang tahap ini yaitu "join stage" bervariasi di antara masing-masing individu karena agak sulit terkadang menanggalkan "jaket kebesaran" atau "keangkuhan kekuasaan" bagi yang sudah merasakan kenyamanannya selama ini.

Sangat membahagiakan ketika ada seorang kepala dinas yang bercerita bahwa dia sekarang "sudah mampu" dan "sudah mau" berkompromi dengan bawahannya dan mau menapak dalam bentuk kesejajaran yang selama ini tidak pernah dilakukan. Apa yang dibanggakannya? Yaitu sekarang dia bahkan mau mengambilkan segelas air minum dalam suatu perjamuan atau rapat untuk kepala seksinya, karena merasa untuk menerapkan kebijakan dia tidak bisa sendiri. Dan figur seperti ini sudah memasuki tahap melakukan (do stage).

Mungkin ada yang tidak dapat terburu-buru untuk mengubah paradigma menyikapi kebijakan MERDEKA BELAJAR ini, tetapi yang pasti "membuka diri" dan "memakai hati" sudah menjadi awal yang membuat optimisme bahwa setiap dari kita mempunyai peran, tanggung jawab dan kewajiban untuk memulai kebijakan ini.

Hendarman, 21 Februari 2020

#MerdekaBelajar

Dikutip dengan seizin penulis dari https://www.facebook.com/100004922025998/posts/1446764092164311/


MERDEKA BELAJAR, PROSES MEMBUKA DIRI?

Oleh Hendarman
Plt Kepala Pusat Penguatan Karakter, Kemendikbud RI

Mungkin banyak yang tidak sepakat kalau dikatakan "membuka diri" sebagai tonggak dari perwujudan kebijakan MERDEKA BELAJAR. Sebagian mungkin bersikap defensif dengan selalu mengumandangkan bahwa dirinya siap berubah sesuai perubahan. Dan mengutip kata2 indah yaitu "yang kekal itu perubahan". Tetapi apa benar memang sudah berani untuk membuka diri?

Berbagai pemberitaan di media mengindikasikan bahwa proses membuka diri itu tampaknya mengalami kendala. Kendala tersebut beragam bentuknya. Ada yang cukup fatal dimana bahkan kepala dinas pendidikan tidak beranjak dari kebiasaan lama, sampai kepada tindakan pengawas yang belum menerima terjadinya perubahan dalam penyederhanaan RPP. Atau bahkan pendapat "inohong" bahwa Merdeka Belajar itu salah makna yaitu harusnya Belajar Merdeka. Atau yang mengatakan bahwa surat edaran kenapa menjadi sesuatu yang menakutkan ketimbang peraturan yang memiliki legalitas?

Tampaknya hal yang tidak salah kalau kita mencoba melihat dari kacamata sederhana dengan menanggalkan kekakuan pola pikir kita. Bisa saja secara sederhana proses membuka diri dimulai dengan introspeksi diri atau menggunakan istilah "koneksi batin". Masing-masing dalam perannya mencoba berdialog dengan dirinya sendiri atau berdialog dengan obyek yang selama ini menjadi mitra atau target kerjanya.

Yang sederhana, dimulai dari ruang kelas. Guru bertanya kepada siswanya apakah mereka senang dan bahagia dengan cara mengajar si guru. Kalau ternyata siswa menjawab TIDAK, ditanyakan kepada siswa apa yang mereka inginkan dilakukan ibu dan bapak guru agar siswa-siswa bahagia di kelas.

Demikian halnya dengan kepala sekolah yang menanyakan kepada guru-gurunya, "apakah saya memang pantas sebagai kepala sekolah?" "atau apakah saya selama ini hanya mendikte bapak/ibu guru tanpa memberikan kesempatan untuk mengembangkan ide-ide yang kreatif dan kritis serta inovatif?"

DIalog tersebut pada jenjangnya juga berlangsung antara pengawas sekolah dengan kepala sekolah dan guru-guru. Jangan-jangan pengawas sekolah hanya berkunjung sekali dalam satu semester; ataupun kalau berkunjung hanya dalam waktu beberapa menit saja. Akhirnya, kepala dinas juga harus berani "membuka diri" nya untuk dinilai bawahan dan bahkan jajaran pengawas, kepala sekolah dan guru.

Dialog tersebut tidak mudah dilakukan karena masih ada jubah-jubah kewenangan (power) dan jubah strata kepangkatan. Tetapi "membuka diri" itu bukan tidak mungkin menjadi awal dari kecairan interaksi yang berlanjut kepada proses pembelajaran yang membahagiakan bagi ekosistem pendidikan.

Hendarman, 29 Februari 2020

#MerdekaBelajar

Dikutip seizin penulis dari https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1452617181579002&id=100004922025998


MERDEKA BELAJAR, MENANGGALKAN KASTANISASI?

Oleh Hendarman
Plt Kepala Pusat Penguatan Karakter, Kemendikbud RI

"Membuka diri" tampaknya menjadi salah satu faktor penentu utama untuk dapat memasuki penerimaan terhadap kebijakan MERDEKA BELAJAR (MB). Betapa tidak, karena kalau kita masih bermain dengan paradigma lama dalam diri, maka untuk menerima sesuatu yang baru dipastikan akan menjumpai sejumlah kendala. Kendala itu dapat dikatakan semacam "mental-block" yang ada di masing-masing kita yang mungkin sudah mengenyam kenyamanan dan "kebesaran kontrol" selama ini dengan yang selama ini dilakukan.

Tentunya "membuka diri" tidak hanya tinggal berhenti pada tahap tersebut, melainkan kita harus berani melangkah untuk menapak mencoba melakukan "koneksi batin" dengan berbagai pihak yang menjadi mitra dalam lingkungan kita. "Koneksi batin" dapat dimaknai bahwa kita mau menginisiasi "dialog" yang mungkin selama ini tertutup oleh jurang kewenangan atau batas demarkasi struktural yang dimiliki.

Dialog dimaksud pastinya akan membuka wawasan masing-masing agar lebih terbuka menerima berbagai ide yang berada dalam keberagaman. Karena selama ini keberagaman itu sudah terkekang oleh keseragaman yang diciptakan kita sendiri. Akibatnya, terjadi pengekangan ide kreatif, kritis dan inovatif yang membuat inspirasi merdeka menjadi kehilangan atau tidak mendapatkan tempat yang wajar.

Tidak didapatnya tempat yang wajar itu yang selama ini melahirkan "kasta-kasta" dalam label bermacam-macam. Sebut saja "sekolah unggulan" atau "sekolah model" atau "sekolah rintisan". Label tersebut bukan diperoleh melalui penciptaan ide-ide yang bersifat "out of the box" tetapi lebih sering karena campur tangan "penunjukan oleh yang berkuasa". Akibatnya sekolah dengan "label pemberian" tersebut masuk dalam zona nyaman, karena tidak berbuat pun pasti mendapat bantuan dari lembaga yang berkewenangan.

Merdeka Belajar tampaknya akan membelah sekat-sekat atau kompartemensi "kastanisasi" tersebut, karena yang dimunculkan adalah potensi atau ide yang kreatif, kritis dan inovatif yang selama ini jarang mendapat sentuhan lantaran tidak adanya "keeratan komunikasi" dengan yang memberikan rekomendasi. Merdeka Belajar ini tampaknya akan menebarkan tumbuhnya benuh-benih sekolah yang karena kepala sekolahnya kreatif dan penuh inovasi untuk mengembangkan diri tanpa adanya tekanan dari pihak-pihak yang mungkin selama ini "memanfaatkan" sekolah sebagai obyek finansialnya.

Waktu yang akan bicara apakah memang sekolah dengan label-label "buatan" tersebut akan tetap berkibar atau mereka akan "terjungkal" perlahan-lahan karena kompetisi bebas? Dan waktu yang akan membuktikan apakah Merdeka Belajar akan mampu menghilangkan "kastanisasi" di persekolahan dan pendidikan kita.

Hendarman, 22 Februari 2020

#MerdekaBelajar

Dikutip seizin penulis dari https://www.facebook.com/100004922025998/posts/1447719268735460/



Kamis, 27 Februari 2020

Klarifikasi Video Keputusan Pengangkatan Tenaga Honorer, P3K, dan Pegawai Non PNS



Seiring dengan ramai beredarnya video berdurasi 4 menit 22 detik yang seolah sudah keluar surat keputusan Menpan RB terkait Pengangkatan Tenaga Honorer, P3K, dan Pegawai Non PNS, pihak Kemenpan RB secara resmi memberi klarifikasi.  Dalam realese klarifikasinya pihak Kemenpan RB menyatakan :

1. Telah beredar video berdurasi 4 menit 22 detik yang memiliki caption "Alhamdulillah keputusan Menpan terbaru Februari 2020 seluruh honorer, P3K, dan Pegawai Non PNS akan diangkat menjadi PNS minimal 12 tahun masa kerja".

2. Kementerian PANRB tidak pernah membuat video ataupun mengadakan pertemuan sebagaimana tergambar didalam video tersebut. Tidak ada satupun pegawai Kementerian PANRB yang terdapat didalam video tersebut.

3. Untuk itu, Kementerian PANRB menegaskan bahwa hingga saat ini tidak pernah mengeluarkan SK ataupun kebijakan terbaru terkait pengangkatan tenaga honorer, P3K, dan Pegawai Non PNS.

4. Sehingga video dengan caption tersebut dipastikan *PALSU/HOAKS* dan berisi informasi yang tidak benar. Oleh karena itu, bagi masyarakat yang menerima video tersebut agar tidak menyebarluaskan video hoaks tersebut.

5. Apabila terdapat pertanyaan yang terkait kebijakan aparatur negara/CPNS dapat menghubungi Kementerian PANRB di nomor (+62-21)7398381-89 atau email halomenpan@menpan.go.id

Demikian klarifikasi kami.
Terima kasih.

Jakarta, 27 Februari 2020.

Siaran Pers BSNP Terkait Isyu AKM


PERNYATAAN SIKAP PGRI ATAS TRAGEDI "SUSUR SUNGAI" SMPN 1 TURI


Rabu, 26 Februari 2020

Haruskah Para Guru Digundulin?

Oleh Catur Nurrohman Octavian

Malam ini saya terkejut. Antara kesal, sedih, kecewa, dan marah. Jantung saya seolah berhenti berdetak. Bukan karena kondisi batuk dan flu yang mendera beberapa hari ini pascakonkernas. Tapi karena kiriman potongan video yang menggambarkan tiga orang guru yang dijadikan tersangka digiring berjalan di lingkungan kantor polisi(kemungkinan di Polda atau Polres). Kondisi guru yang tampil dengan kepala plontos (sepertinya digundulin) dan berjalan tertunduk lesu diapit para petugas membuat dada ini sesak.

Mual. Mau muntah rasanya, melihat perbedaan perlakuan terhadap tersangka. Mengapa para tersangka koruptor maling uang rakyat tidak pernah rasanya diperlakukan yang sama. Ada apa dengan hukum di Indonesia? Mengapa guru yang belum tentu berniat jahat terhadap hilangnya 10 nyawa anak didiknya, harus diperlakukan seperti ini?

Kami para guru Indonesia memohon penjelasan terhadap video yang viral tersebut. Apakah benar ini ketiga guru yang menjadi tersangka akibat kelalaian kasus susur sungai sehingga menghilangkan 10 nyawa anak didik? Atau bukan? Kalau benar video guru yang terlihat botak karena diperlakukan saat menjalani proses hukum di kepolisian, kami para guru Indonesia menentang keras perlakuan seperti ini. Perlakukan para tersangka dengan mengedepankan asas praduga tidak bersalah. Silakan proses hukum berjalan tapi kedepankan etika dan perlakuan terhadap profesi mereka. Bagaimanapun mereka seorang pendidik. Kami sangat prihatin.

CNO, 25 Februari 2020

HATI BOLEH PANAS KEPALA TETAP DINGIN

Bapak Ibu yth,
Sejak awal peristiwa SMP N 1 Turi ini disesalkan dan menyisakan pilu mendalam pada orang tua, guru, dan kami semua yang terlibat dalam dunia pendidikan.

PGRI berduka dan amat sangat menyesalkan peristiwa ini.

Program ekskul wajib Pramuka terutama outdoor sering kami kritisi agar dievaluasi dengan mengutamakan keselamatan, keamanan dan kenyamanan peserta didik, guru dan orang tua.
Apalagi tugas guru sebagai Pembina adalah tugas tambahan yang tidak bisa dihindari oleh guru.

Kesalahan para guru kami terima dan kami serahkan proses hukumnya diberlakukan.

Kami akan dampingi mereka, hak-hak mereka dan sekaligus perlindungan dalam menjalankan tugas.

Ini bukan apologia tapi mereka sebagai profesi wajib dilindungi dan tentunya hal ini tidak menghindarkan mereka dari kesalahan.

Tetapi melihat perlakuan oknum aparat kepolisian yang membotaki, menggiring seperti residivis ini telah melukai hati, nurani, rasa kemanusiaan guru sebagai profesi.

Tiada sedikitpun niat mencelakakan anak-anak yang telah menjadi anaknya sendiri di sekolah.
Namun kesalahan tetaplah kesalahan yang harus dipertanggungjawabkan dengan segala konsekuensi hukumnya.

Seharusnya oknum kepolisian sebagai representasi masyarakat di bidang hukum bertindak profesional dan proporsional. Mengukati protap yang ada.

Di sisi lain kami sangat memahami kemarahan masyarakat, kemarahan orang tua.
Kami sampaikan permohonan maaf atas musibah ini.
Anak-anak tercinta telah pergi.
Kedukaan mendalam dan pernohonan maaf apapun tidaklah cukup mengobati rasa sakit merka ditinggalkan anak-anak tercinta.

Karena itu sekali lagi kelapangan hati orang tua kami mohonkan.

Peristiwa ini harus jadi Peringatan bagi semua, bahwa hal ini tidak boleh terulang lagi di masa yang akan datang di dunia pendidikan.

Bagi teman-teman guru, mari berdoa bersama sebagai dukungan pada keluarga yang ditinggalkan dan sebagai bentuk solidaritas bagi kawan-kawan yang tengah mendapatkan ujian dan musibah luar biasa.
Tak usah  bertindak di luar proporsi apalagi turun ke jalan.
Mari kita semua dengan dingin bersikap.
Dan menunggu penjelasan pihak aparat akan tindakan mereka ini.

Mari semua menjaga hati, kehormatan dan bekerja dengan tulus ikhlas.
HATI BOLEH PANAS KEPALA TETAP HARUS DINGIN.

Kami akan terus berkordinasi ke berbagai pihak dan jika ada perkembangan tertentu yang dirasa perlu kami akan sampaikan pada kawan-kawan.

Selamat bertugas,
Salam solidaritas

Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd

Selasa, 25 Februari 2020

Bukti PGRI Tidak Diam Atas Kasus SMPN 1 Turi







Guru Bukan Begal Motor!!

Sumber gambar: https://tagar-id.cdn.ampproject.org

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI)

Masalah kelalain dan keteledoran bukan kriminal.  Apa bila benar guru yang lalai dalam kasus viral “Susur Sungai” yang menyebabkan korban para siswa SMPN 1 Turi, Sleman, Yogyakarta dibotakin, sungguh tuna adab! Mengapa Saya katakan  tuna adab? Memang benar-benar tuna adab!

Si Pelaku Pembotakan terhadap guru atau yang memberi perintah pasti   sosok “setengah manusia”. Mengapa Saya  katakan demikian? Entah terbuat dari apa tangan, isi otak dan isi hati seorang pemberi perintah atau pelaku pembotakan terhadap guru-guru yang lalai dan khilaf dalam kasus susur sungai.

Seorang pendidik dan penulis buku, Ade Chairil Anwar  mengatakan, “Sebagai manusia, tentu khilaf dan lupa mereka perlu kita maafkan, kita akui ada korban jiwa dalam peristiwa itu, tapi memperlakukan mereka (baca; pendidik) tak ubahnya seperti maling, sungguh tak manusiawi”.

Komentar Nzank Kartiwa seorang guru muda berprestasi  dan pernah belajar di Australia  utusan dari Disdik Provinsi Jawa Barat mengatakan, “Guru tersebut silahkan untuk diadili sesuai pelanggarannya tapi akan terlihat berbudaya dan beretika tatkala guru itu tidak digunduli seperti itu”.

Cecep Taufiq Mubarak Yusuf seorang guru milenial menyatakan, sebelum ada vonis bersalah dari pengadilan  siapa pun termasuk penyidik tidak  bisa menentukan seseorang bersalah atau tidak.  Bersalah dan tidak bersalah adalah otoritas hakim di pengadilan. Baginya pembotakan para guru itu  sungguh melanggar etika.

Sejumlah komentar yang sangat menyayangkan  dugaan tindakan “pembotakan” terhadap guru mulai viral. Oknum jenis apa yang tega membotakin para guru ?  Adakah oknum penegak hukum yang tak punya etika memperlakukan seorang guru yang khilaf dan lalai sama persis dengan perilaku kriminal sekelas  begal?

Mari seluruh guru Indonesia memberikan dukungan moral pada guru yang diperlakukan bagai begal, pencuri motor dan pemerkosa.  Dimana pun dan kapan pun  warga negara bahkan guru yang lalai dan melakukan kebodohan tidak harus diperlakukan tak terhormat.   Ia manusia yang lalai dan tak berniat jahat!

Bangsa biadab adalah bangsa yang memulyakan koruptor  namun membotaki guru yang lalai karena sebuah kegiatan yang niatnya baik.  Kegiatan pramuka itu kegiatan yang baik,  bedakan dengan  kelalaian dan keteledoran. Bedakan antara  begal motor dengan guru yang lalai.

Sekali lagi! Bila benar ada guru yang dibotakin, tanpa alas kaki dengan  baju pesakitan layaknya begal sungguh ngeri dan sadis! Ngeri melihat, sejumlah orang menyaksikan saat petugas menggiring tiga orang yang dibotakin, kaki telanjang dan baju pesakitan.  Benarkah dalam video viral itu ketiganya ada gurunya?

Sesadis sadinya bangsa kafir Quraisy dan peradaban kuno tidak ditemukan  bukti memperlakukan guru sedemikian tak   adab.  Sungguh Ibu Pertiwi akan menangis dan kebathinan guru akan  terkoyak, memberontak bila guru yang khilaf dan lalai disamakan dengan begal motor! Hukum dan pengadilan itu harus ditegakan dengan baik.

Namun di atas hukum dan pengadilan mesti hadir etika, keadilan dan pemandangan elok bagi publik. Apakah tiga orang pendidik dan pembimbing pramuka yang dibotakin, kaki telanjang, baju pesakitan  bagi mata publik  pantas dan layak?  Jangan sakiti perasaan publik dan profesi guru.

Kita ketahui pasca kejadian peristiwa susur sungai,  Ketua Umum Pengurus  Besar PGRI Prof. Dr. Unifah Risyidi, langsung  proaktif terjun ke lapangan didampingi ahli hukum LKBH PGRI Dr. KH. Wahyudi.  Prof. Unifah melihat langsung dan memberikan bantuan hukum bagi para guru yang terlibat.

Hak guru dalam perlindungan hukum harus dadapatkan sesuai UURI No 14 tahun 2005  dan sebagai hak warga negara. Melihat saat ini ada “pembotakan” pada guru,  *dalam twitternya Prof. Unifah terlihat marah dan bahkan mengancam turun ke jalan*.

Bila Prof. Unifah memerintahkan para guru bersatu turun kejalan demi membela kehoramatan  guru, bahaya! Upaya penegakan hukum kepada guru tidak disamakan dengan begal. Guru bukan begal! Kelalaian guru dalam kegiatan pramuka bukan perilaku begal. Kehormatan guru mesti ditegakan dengan adil saat penegakan hukum  ditegakan.

Sabtu, 15 Februari 2020

Guru Pendamping KSN IPS di Latih di Cimahi



Cimahi.Socius (15/2). Lebih dari 120 guru IPS calon pendamping dalam Kompetisi Sain Nasional (KSN) mata pelajaran IPS tahun 2020 antusias mengikuti pelatihan bertajuk “Pelatihan Pendamping KSN IPS.” Kegiatan ini hasil kerjasama PW FKGIPS PGRI Jawa Barat, Pengurus Daerah FKGIPS PGRI Kota Cimahi dan MGMP IPS  Kota Cimahi ini dilaksanakan di kampus STKIP Pasundan Cimahi.

Peserta yang berasal dari berbagai kota di Jawa Barat ini mendapat pencerahan dari nara sumber, Wildan Insan Fauzi, M.Pd, dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Menurut Wildan, satu kesalahan terbesar guru-guru dalam melatih siswa calon peserta KSN cenderung hanya memberikan soal yang sifatnya hapalan padahal soal-soal KSN tidak hanya berupa hapalan, tapi berupa soal  yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Untuk itu siswa perlu dilatih dengan metode memorizings, sinektik, kosep dan mind map.

Untuk memperoleh hasil yang terbaik dalam KSN menurut dosen muda yang akrab disapa Wildan ini diperlukan manajemen khusus agar mendapatkan hasil yang terbaik. Manajemen khusus yang perlu dibuat meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. 

Lebih lanjut nara sumber yang juga tim pelatih KSN Provinsi Jawa Barat ini memaparkan proses pembinaan OSN IPS. Menurutnya dapat dilakukan pada sesi materi dan diskusi soal. Sesi materi akan ditekankan pada materi yang tidak terdapat pada silabus yang diajarkan di sekolah, sedangkan untuk materi yang terdapat pada silabus yang diajarkan di sekolah hanya berupa penjelasan singkat dan review saja. Sesi diskusi soal akan diisi dengan pembahasan contoh-contoh soal OSK, OSP dan OSN yang bersesuaian dengan materi yang sedang dibahas.


Sementara itu, Enang Cuhendi selaku ketua Pengurus Wilayah FKGIPS PGRI Jawa Barat menyambut gembira terlaksananya kegiatan ini. Ia memandang positif kerjasama yang dilakukan FKGIPS dengan MGMP IPS. Menurutnya ini membuktikan bahwa antara FKGIPS dengan MGMP IPS bukan pesaing atau kompetitor, tetapi keduanya hadir untuk saling melengkapi sisi ruang kosong yang ada dalam peningkatan kompetensi guru IPS.

Fadila Laili F. Raih Peringkat Satu Try Out IPS

Pada kesempatan yang sama, sekira 528 siswa mengikut uji coba atau try out KSN. Mereka datang dari berbagai SMP di Jawa Barat. Peserta terbanyak datang dari Kota Cimahi selaku tuan rumah. Sisanya berasal dari Kota Bandung, Kab, Bandung, KBB, Garut, Sumedang dan eberpa daerah lainnya.

Menurut Dedy Supriatna, selaku ketua paniti, pada kegiatan yang terselenggara berkat kerjasama FKGIPS, MGMP IPS Kota Cimahi dengan Bimbel Neutron ini nilai tertinggi diraih oleh Fadila Laili F dari SMPN 6 Kota Cimahi. Kedua dan ketiga masing-masing diraih oleh Elfrida Fathinah S dari SMPN 1 Purwakarta dan Muhammad Ibrahim dari SMPN 6 Kota Cimahi. Peserta terbaik memperoleh pila dan sertifikat. (EC Socius)


Jumat, 14 Februari 2020

Berpikir Positif Itu Keren

oleh Daner Purba
(SMPN Satu Atap Sarang Elang Muaro Jambi,  Provinsi Jambi) 

Kutatap sinis beberapa ibu, om, dan tante-tante yang berdiam di desa tempatku bertugas. Sejak pukul 12.00 WIB sampai malam menjemput sang siang kelihatannya mereka asik dengan hidup santuy-nya (santai). Artinya mereka tidak pergi ke kebun atau ke tempat lainnya untuk mencari nafkah sejak jam 12.00 WIB.

Menyaksikan pemandangan yang tidak biasa begitu muncul pikiran negatif di benakku, 
"Gimana mau maju,  wong hidupnya santuy (santai) dan agak malas, sih". batinku. 

Waktu terus melaju, sedikit demi sedikit aku mulai bertegur sapa degan mereka, bercerita tentang perjuangan, pengalaman,  tekanan dan  gaya hidup  serta hal-hal lain yang bisa dan terbiasa hidup. (Oufss,  kudu positif yoo) 

Sungguh,  aku terkejut dan terheran-heran ternyata sebagian dari penduduk desa tersebut  bahkan bekerja melebihi dosis yang dianjurkan. Rajinnya keterlaluan. 

Mereka sering menyebutnya dengan istilah  "Nyuluh",  yakni menyadap karet di subuh yang dinginnya menusuk tulang. Biasanya sejak pukul 03.00 WIB sampai menjelang siang, dengan mengikat senter di kepala sebagai penerangan dan pisau deres yang siap melukai kulit pohon karet. Mereka berjalan menyusuri perkebunan karet yang gelap. Semak belukar yang menyisihkan embun dingin dan binatang buas  yang bisa saja menyerang menjadi tantangan lain yang harus ditaklukkan. 

Jika keberuntungan tidak berpihak, bisa saja hujan tiba-tiba turun dan menghancurkan tetesan demi tetesan getah karet yang belum membeku secara utuh alias gagal panen. 

Ternyata anggapan awalku yang mengganggap beberapa dari  mereka terlalu santai salah.  Mereka adalah orang-orang rajin yang sedang berjuang untuk hidup lebih baik. Sebagian dari mereka bahkan ada yang ke kebun lagi setelah nyadap subuh dan menghimpun energi. 

Hikmah dari semua ini,  aku harus mulai berpikir positif pada semua hal.  Jauhkan diri dari pandangan negatif.  Berpikir positif itu keren,  karena akan memberi energi positif pada diri  semua hal. 

#Jantung_Sumatera
#Jambi
#Berpikir_Positif

Rabu, 12 Februari 2020

MAKIN TUA MAKIN JADI

Oleh Siti Aisyah,  M. Pd.
(SMPN 2 Telukjambe Barat, Kab Karawang,  Jabar)

Suatu hari ada yang bilang padaku,  "Ibu makin tua makin jadi."

Aku bertanya, "Kenapa, Bu? Yang bagian mana yang saya makin jadi?"
Aku tertawa sambil melihat badanku sendiri,  karena memang badan saya makin tua makin bertambah subur, tapi aku yakin maksudnya bukan itu.

"Maksud saya, ibu makin tua makin banyak bermain YouTube, bermain aplikasi-aplikasi pada laptop dan HP.
Sebenarnya apa sih yang ibu cari untuk kehidupan ini?"

Pertanyaan itu membuatku berpikir apa maksud dari kalimat dan pertanyaannya.

Akhirnya aku penasaran, aku bertanya lagi kepadanya, "Apa tidak boleh bu?"

Ibu itu menjawab, "Bukan begitu, Bu, tapi itu kan pekerjaan anak muda, kita yang semakin tua seharusnya banyak-banyak ibadah."

Aku sedikit berpikir. Akhirnya kujawab, "Begini Bu, justru aku semakin tua ingin berbagi dan beramal lewat HP, laptop, dan Komputer, lewat konten yang dilihat YouTubers, konten saya bermanfaat insya Allah. Ketika saya sudah meninggal nanti, saya berharap hal itu bisa dipakai orang lain dan dijadikan tutorial yang bermanfaat untuk anak cucu saya. Insyaallah saya tidak meninggalkan soal Hablum minallah itu semua insyaallah saya lakukan, hanya ingin menambah dari itu semua."

"Semoga apa yang ibu nasehatkan kepada saya, bisa saya amalkan." kataku.

Jadi kesimpulannya, pemikiran orang terhadap YouTube terhadap konten-konten dan terhadap aplikasi-aplikasi ini menunjukkan bahwa kita semata-mata eksis di dunia sehingga tidak memikirkan akhirat. Menurutku ini justru sebaliknya. Aku lakukan ini karena juga memikirkan akhirat ke depannya nanti. Aku yang tidak bisa berceramah, yang kurang amalannya hanya mampu seperti ini, mudah-mudahan bisa berbagi kepada murid-muridku sambil beristirahat di rumah atau sedang santai-santai. Aku masih bisa berbagi konten-konten yang sesuai dengan perkembangan teknologi. Insyaallah berguna.

Terimakasih atas nasehatnya dan perhatianya, Sahabatku.

Karawang,  Februari 2020

Senin, 10 Februari 2020

PERLUNYA GURU IPS MENGEKSPLORASI SEJARAH


Oleh : Yanuar Iwan*)

Sejarah menumbuh kembangkan karakter kebangsaan, nasionalisme dan sikap patriotisme. Sejarah sejatinya bukan hanya sekedar membahas peristiwa-peristiwa besar dalam perjalanan hidup suatu bangsa lengkap dengan tempat atau lokasinya, tokoh-tokohnya, tanggal, bulan, dan tahunnya.

Persoalan pembelajaran sejarah adalah persoalan merekonstruksi puzzle-puzzle peristiwa sejarah yang berserakan menjadi lukisan sejarah yang utuh. Kurikulum 2013 memberikan kebebasan besar kepada guru maupun siswa untuk mengeksplorasi suatu peristiwa sejarah dalam bentuk mencari sumber-sumber informasi kesejarahan baru yang bisa melengkapi proses pembelajaran sejarah di kelas. Model-model pembelajaran seperti discovery learning, problem based learning, project based learning dan window shopping memberikan peluang yang sangat besar bagi proses eksplorasi kesejarahan.

Proses pembelajaran sejarah di dalam kurikulum 2013 menuntut guru untuk mampu merekonstruksi suatu peristiwa sejarah berdasarkan situasi dan keadaan masyarakat pada saat peristiwa sejarah itu terjadi. Ini berarti guru harus memahami keterkaitan dan hubungan suatu peristiwa sejarah dengan keadaan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan pada masa tersebut. Hindarkan menjadikan buku paket IPS menjadi satu-satunya rujukan dan sumber bacaan, biasakan untuk menumbuhkembangkan sikap bertanya, berpikir kritis, sikap berani mengemukakan pendapat yang berbeda kepada seluruh peserta didik terhadap suatu peristiwa sejarah.

Kita bisa mengambil contoh peristiwa Rapat Besar di Lapangan Ikada 19 September 1945 peristiwa Show Of Force pertama dari rakyat marginal di dalam mendukung kemerdekaan RI. Di dalam buku-buku sejarah resmi untuk sekolah, seperti buku paket, buku pegangan guru, ataupun buku Sejarah Nasional Indonesia tidak pernah dibahas siapakah sebenarnya yang menjadi penggagas rapat besar tersebut? Bagaimana peranan pemuda yang tergabung didalam komite van aksi? Adakah peranan Tan Malaka di dalam peristiwa tersebut? Mengapa puluhan ribu rakyat berdatangan dengan membawa senjata? Bagaimana dampak dari rapat tersebut bagi konsolidasi dukungan masyarakat untuk proklamasi kemerdekaan? Sejatinya rapat besar di Lapangan Ikada tersebut bukan rapat elitis tetapi  rapat rakyat jelata yang mendambakan kemerdekaan yang tentu nuansanya berbeda dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Guru IPS ataupun Guru Sejarah bisa berperan membawa peristiwa Ikada tersebut ke dalam proses pembelajaran dengan nuansa sejarah masyarakat kebanyakan dan tidak hanya membahas peristiwa sejarah dengan peranan para elit pelaku sejarah. Bagaimana besarnya reaksi tentara Jepang terhadap pelaksanaan Rapat Besar Ikada dengan menggelar puluhan tank dan ratusan serdadu. Kita bisa menghubungkan dengan disiplin militer.

Guru IPS atau Guru Sejarah tidak hanya bertugas untuk menyimpulkan hasil diskusi siswa, hasil tugas siswa, kemudian menilainya. Guru diharapkan bisa memberikan informasi-informasi kesejarahan yang belum terungkap untuk memperkaya khasanah pemahaman sejarah siswa, dan membuat suasana kelas menjadi lebih dinamis, kreatif, egaliter, dan demokratis dengan dukungan media pembelajaran berupa in focus, video, gambar lukisan atau foto-foto peristiwa sejarah dengan kata lain guru bisa menghidupkan suatu peristiwa sejarah didepan kelas yang mendekati gambaran sejarah saat peristiwa itu terjadi. Guru tidak hanya duduk tenang menyimak diskusi sejarah siswa, menyimpulkannya bersama siswa, memberikan tugas merangkum dan rangkumannya dikumpulkan tanggal sekian, Guru IPS ataupun Guru Sejarah memiliki tugas kesejarahan untuk merubah kelasnya menjadi kelas sejarah yang dinamis dan kreatif, menjadikan pelajaran sejarah adalah pelajaran yang selalu ditunggu, dicintai, dan disukai siswanya, karena pelajaran sejarah menentukan karakter suatu bangsa di masa kini dan di masa depan. Ujung tombaknya adalah guru.

Cipanas, 10-Pebruari-2020.

*) Yanuar Iwan adalah Guru IPS SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Pengurus Pengda FKGIPS PGRI Cianjur 

Minggu, 09 Februari 2020

MERDEKA BELAJAR, MENGEMBALIKAN OTONOMI?

Oleh: Ir. Hendarman, M.Sc., Ph.D.
Plt Kepala Pusat Penguatan Karakter, Kemendikbud RI

Reaksi pro dan kontra terhadap sebuah kebijakan merupakan suatu hal yang wajar. Reaksi tersebut umumnya muncul karena ada pihak yang merasa diuntungkan dan ada yang sebaliknya merasa dirugikan. Reaksi tersebut pada hakekatnya terkait dengan mindset atau paradigma, bukannya pada hakiki dan filosofi kebijakan itu sendiri.

Merdeka Belajar sebagai salah satu kebijakan baru merupakan suatu "terapi kejut" yang mengembalikan hak atau kewenangan kepada yang memilikinya. Tetapi hal ini tidak disadari oleh yang memiliki, bahkan dilihat sebagai sesuatu yang mengusik kenyamanan (comfort-zone) selama ini.

Mengapa dianggap mengusik? Karena yang selama ini cenderung menunggu atau terbiasa dengan instruksi maka sekarang harus bergerak atau "memaksa" menggerakkan diri agar lebih kreatif, kritis dan inovatif. Karena yang selama ini bisa "berleha-leha" maka sekarang harus berpikir dan mengembangkan ide-ide, serta berani mengambil keputusan sekaligus mengambil resiko dari keputusan yang dibuat.

Merdeka Belajar mengembalikan atau pas nya memberikan kewenangan atau otonomi "sepenuhnya" kepada mereka yang sudah diatur dalam berbagai peraturan. Kebebasan menuangkan dan mengekspresikan pembelajaran dengan berbagai inisiatif dan pendekatan belajar sesungguhnya milik guru-guru. Pengelolaan sekolah sesungguhnya menjadi kewenangan kepala sekolah yang dari dahulu pernah dikenal adanya Manajemen Berbasis-Sekolah (School-Based Management). Dan yang tidak kalah pentingnya adalah memberikan daerah untuk sekarang harus "bertanggungjawab dalam membuat keputusan" untuk pendidikan di daerahnya masing-masing dengan "utuh" serta satu paket dengan implikasi anggarannya.

Menjadi sesuatu yang mengherankan ketika sejumlah pihak pada dinas pendidikan masih bersifat pasif seraya mengatakan "mari kita tunggu petunjuk teknis dari pusat" atau pengawas sekolah yang mengarahkan untuk bersabar menunggu arahan dinas. Akhirnya semua hanya saling menunggu. Padahal dengan Merdeka Belajar, semua harus bergerak dan berfikir kreatif, kritis dan inovatif tanpa harus menjadi "pencinta penunggu peraturan"..

Hendarman, 9 Februari 2020

Senin, 03 Februari 2020

SOEKARNO DAN MARXISME

Oleh : Yanuar Iwan

Belajar memahami Soekarno adalah berusaha memahami Indonesia, Soekarno lahir dan berkembang dari keluarga multikultutral, multi agama, kebudayaan Jawa dan kebudayaan Bali mempengaruhi proses sosialisasinya, karena berasal dari keluarga kelas menengah dan tergolong keturunan bangsawan Soekarno berhak untuk mendapatkan akses pendidikan yang kelak akan banyak mempengaruhi perjalanan karir politiknya.

Ide nasionalisme masa kecil banyak dipengaruhi ibunya Idayu Nyoman Rai melalui cerita-cerita kepahlawanan Kerajaan Singaraja didalam melawan Belanda, Ayahnya R. Sukemi Sosrodiharjo mempengaruhinya melalui cerita-cerita wayang dari Mahabharata dan Bharatayudha yang sarat heroisme, patriotisme, dan pengorbanan.

Bernard Dahm sejarawan Jerman dalam bukunya "Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan" mengatakan "Dia ( Soekarno ) yakin akan tradisi sinkretisme Jawa bahwa persatuan antara kelompok yang beraneka ragam, seperti Islam, Marxis, dan Nasionalis dapat terlaksana. ( Historia. id )

Sinkretisme Jawa memadukan unsur-unsur yang saling memperkaya dan melengkapi, membentuk harmoni kekuatan, nasionalisme, Islam, dan Marxisme memiliki persamaan di dalam menghadapi kolonialisme imperialisme bahwa kedua paham itu mengakibatkan penindasan, eksploitasi, dan ketidakadilan oleh karena itu harus dihancurkan, dalam hal ini Soekarno memiliki persamaan dengan Tan Malaka keduanya menolak dogmatisme total yang kerap dihubungkan dengan marxisme, menurut Soekarno masyarakat Indonesia yang tertindas kolonialisme memiliki sendiri alat dan perlengkapan hidup untuk memenuhi kehidupan, mereka bukan proletar mereka para Marhaen yang direkayasa oleh pemerintah kolonial untuk tetap miskin dan tidak berdaya, tidak ada kelas proletar dan kaum pemilik modal borjuis dan tidak ada perjuangan kelas didalam revolusi kelas proletar, kondisi di Indonesia berbeda dengan di Eropa tidak ada benturan dan konflik antar kelas didalam masyarakat Indonesia, yang ada adalah eksploitasi dan penindasan kekuatan politik kolonial.

Pemikiran Marxisme beserta analisis sosial politiknya menjadi populer dan lazim digunakan untuk menggambarkan sisi buruk kolonialisme disetiap organisasi pergerakan nasional yang non cooperasi.

Kebangkitan SI dan kemundurannya ditahun 1926, kegagalan pemberontakan PKI ditahun yang sama, perpecahan organisasi pergerakan nasional akibat perbedaan ideologi menjadi inspirasi Soekarno dalam tulisannya "Nasionalisme, Islam, Marxisme dimajalah Indonesia Muda, ide-ide persatuan dan sikap elitisme yang tidak mengakar kepada rakyat menjadi bahan kritikannya. Marxisme adalah salah satu unsur kekuatan didalam masyarakat Indonesia bersama Islam dan nasionalisme yang memiliki potensi besar untuk melawan kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme. Kita tidak perlu bersikap Islam phobi, nasionalis phobi atau marxis phobi ketiga unsur tersebut saling melengkapi. ( Rakyat dan Negara, Ong Hok Kham, 15, 1983 )

Di dalam pidato-pidatonya Soekarno banyak mengutip tokoh-tokoh sosialis demokrat barat seperti Karl Kautsky,  Jean Jaures, PJ Troelstra, dan HM Brailsford, justru Karl Marx dan Frederich Angels jarang dikutip oleh Soekarno termasuk didalam tulisan-tulisannya.

Cindy Adams dalam "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" hal 89 menuliskan Dalam bidang politik Bung Karno adalah seorang nasionalis. Dalam bidang keagamaan Bung Karno seorang yang percaya pada Tuhan. Tetapi Bung Karno menjadi seorang penganut dari tiga pemikiran. Di bidang ideologi, dia sekarang seorang sosialis. Ku ulangi bahwa aku seorang sosialis, bukan komunis. Aku tidak akan menjadi komunis. Aku tidak akan menjadi seorang simpatisan komunis. Masih saja ada orang yang berpikir bahwa sosialisme sama dengan komunisme. Mendengar kata sosialis mereka tidak dapat tidur. Mereka melompat dan berteriak. "Aha, aku tahu ! Bung Karno seorang komunis !" Tidak, aku bukan komunis,  aku seorang sosialis. Aku seorang yang beraliran kiri. Orang kiri adalah mereka yang menghendaki perubahan kekuasaan kapitalis yang ada, orde imperialistis, keinginan untuk menyebarkan paham keadilan sosial adalah kiri. Dia tidak perlu komunistis.

Saya melihat Soekarno menggunakan pemikiran marxis dalam tahapan revolusi masyarakat tertindas, pengorganisasian massa, agitasi dan propaganda serta mobilisasi massa.
Soekarno hanya menggunakan analisa marxis didalam menelaah kondisi bangsanya yang terbelakang lahir dan batin akibat kolonialisme.
Sikap merakyatnya, sikap anti feodalnya,  pemikiran egaliternya didasarkan rasa cinta terhadap bangsanya, Soekarno banyak belajar dari HOS Tjokroaminoto, M. Natsir, A.Hasan, Alimin dan Muso serta interaksi politiknya dengan Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda, Soekarno secara brilyan bisa menganalisis, mensintesakan hal-hal yang berbeda dengan harapan dan kesamaan tujuan dan cita-cita. Dia tampil sebagai "singa podium" yang menjadi icon kebangkitan rakyat tertindas, berkharisma, popularitasnya sudah terbentuk diera pergerakan nasional dan meledak diera revolusi kemerdekaan. Jarang kita melihat seorang pemimpin yang konsisten dengan pemikiran politiknya, Soekarno adalah salah satu pemimpin tersebut, dia tetap konsisten dengan revolusinya, dengan Marhaenismenya, dengan Nasakomnya, dengan demokrasi terpimpinnya, walaupun sejarah tidak selamanya indah bagi pemimpin yang konsisten.

Awal Pebruari, di Cipanas. 2020.

* Guru IPS SMPN 1 Cipanas,  Cianjur Jabar