Jumat, 28 Februari 2020

MERDEKA BELAJAR, MENANGGALKAN KASTANISASI?

Oleh Hendarman
Plt Kepala Pusat Penguatan Karakter, Kemendikbud RI

"Membuka diri" tampaknya menjadi salah satu faktor penentu utama untuk dapat memasuki penerimaan terhadap kebijakan MERDEKA BELAJAR (MB). Betapa tidak, karena kalau kita masih bermain dengan paradigma lama dalam diri, maka untuk menerima sesuatu yang baru dipastikan akan menjumpai sejumlah kendala. Kendala itu dapat dikatakan semacam "mental-block" yang ada di masing-masing kita yang mungkin sudah mengenyam kenyamanan dan "kebesaran kontrol" selama ini dengan yang selama ini dilakukan.

Tentunya "membuka diri" tidak hanya tinggal berhenti pada tahap tersebut, melainkan kita harus berani melangkah untuk menapak mencoba melakukan "koneksi batin" dengan berbagai pihak yang menjadi mitra dalam lingkungan kita. "Koneksi batin" dapat dimaknai bahwa kita mau menginisiasi "dialog" yang mungkin selama ini tertutup oleh jurang kewenangan atau batas demarkasi struktural yang dimiliki.

Dialog dimaksud pastinya akan membuka wawasan masing-masing agar lebih terbuka menerima berbagai ide yang berada dalam keberagaman. Karena selama ini keberagaman itu sudah terkekang oleh keseragaman yang diciptakan kita sendiri. Akibatnya, terjadi pengekangan ide kreatif, kritis dan inovatif yang membuat inspirasi merdeka menjadi kehilangan atau tidak mendapatkan tempat yang wajar.

Tidak didapatnya tempat yang wajar itu yang selama ini melahirkan "kasta-kasta" dalam label bermacam-macam. Sebut saja "sekolah unggulan" atau "sekolah model" atau "sekolah rintisan". Label tersebut bukan diperoleh melalui penciptaan ide-ide yang bersifat "out of the box" tetapi lebih sering karena campur tangan "penunjukan oleh yang berkuasa". Akibatnya sekolah dengan "label pemberian" tersebut masuk dalam zona nyaman, karena tidak berbuat pun pasti mendapat bantuan dari lembaga yang berkewenangan.

Merdeka Belajar tampaknya akan membelah sekat-sekat atau kompartemensi "kastanisasi" tersebut, karena yang dimunculkan adalah potensi atau ide yang kreatif, kritis dan inovatif yang selama ini jarang mendapat sentuhan lantaran tidak adanya "keeratan komunikasi" dengan yang memberikan rekomendasi. Merdeka Belajar ini tampaknya akan menebarkan tumbuhnya benuh-benih sekolah yang karena kepala sekolahnya kreatif dan penuh inovasi untuk mengembangkan diri tanpa adanya tekanan dari pihak-pihak yang mungkin selama ini "memanfaatkan" sekolah sebagai obyek finansialnya.

Waktu yang akan bicara apakah memang sekolah dengan label-label "buatan" tersebut akan tetap berkibar atau mereka akan "terjungkal" perlahan-lahan karena kompetisi bebas? Dan waktu yang akan membuktikan apakah Merdeka Belajar akan mampu menghilangkan "kastanisasi" di persekolahan dan pendidikan kita.

Hendarman, 22 Februari 2020

#MerdekaBelajar

Dikutip seizin penulis dari https://www.facebook.com/100004922025998/posts/1447719268735460/