Senin, 10 Februari 2020

PERLUNYA GURU IPS MENGEKSPLORASI SEJARAH


Oleh : Yanuar Iwan*)

Sejarah menumbuh kembangkan karakter kebangsaan, nasionalisme dan sikap patriotisme. Sejarah sejatinya bukan hanya sekedar membahas peristiwa-peristiwa besar dalam perjalanan hidup suatu bangsa lengkap dengan tempat atau lokasinya, tokoh-tokohnya, tanggal, bulan, dan tahunnya.

Persoalan pembelajaran sejarah adalah persoalan merekonstruksi puzzle-puzzle peristiwa sejarah yang berserakan menjadi lukisan sejarah yang utuh. Kurikulum 2013 memberikan kebebasan besar kepada guru maupun siswa untuk mengeksplorasi suatu peristiwa sejarah dalam bentuk mencari sumber-sumber informasi kesejarahan baru yang bisa melengkapi proses pembelajaran sejarah di kelas. Model-model pembelajaran seperti discovery learning, problem based learning, project based learning dan window shopping memberikan peluang yang sangat besar bagi proses eksplorasi kesejarahan.

Proses pembelajaran sejarah di dalam kurikulum 2013 menuntut guru untuk mampu merekonstruksi suatu peristiwa sejarah berdasarkan situasi dan keadaan masyarakat pada saat peristiwa sejarah itu terjadi. Ini berarti guru harus memahami keterkaitan dan hubungan suatu peristiwa sejarah dengan keadaan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan pada masa tersebut. Hindarkan menjadikan buku paket IPS menjadi satu-satunya rujukan dan sumber bacaan, biasakan untuk menumbuhkembangkan sikap bertanya, berpikir kritis, sikap berani mengemukakan pendapat yang berbeda kepada seluruh peserta didik terhadap suatu peristiwa sejarah.

Kita bisa mengambil contoh peristiwa Rapat Besar di Lapangan Ikada 19 September 1945 peristiwa Show Of Force pertama dari rakyat marginal di dalam mendukung kemerdekaan RI. Di dalam buku-buku sejarah resmi untuk sekolah, seperti buku paket, buku pegangan guru, ataupun buku Sejarah Nasional Indonesia tidak pernah dibahas siapakah sebenarnya yang menjadi penggagas rapat besar tersebut? Bagaimana peranan pemuda yang tergabung didalam komite van aksi? Adakah peranan Tan Malaka di dalam peristiwa tersebut? Mengapa puluhan ribu rakyat berdatangan dengan membawa senjata? Bagaimana dampak dari rapat tersebut bagi konsolidasi dukungan masyarakat untuk proklamasi kemerdekaan? Sejatinya rapat besar di Lapangan Ikada tersebut bukan rapat elitis tetapi  rapat rakyat jelata yang mendambakan kemerdekaan yang tentu nuansanya berbeda dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Guru IPS ataupun Guru Sejarah bisa berperan membawa peristiwa Ikada tersebut ke dalam proses pembelajaran dengan nuansa sejarah masyarakat kebanyakan dan tidak hanya membahas peristiwa sejarah dengan peranan para elit pelaku sejarah. Bagaimana besarnya reaksi tentara Jepang terhadap pelaksanaan Rapat Besar Ikada dengan menggelar puluhan tank dan ratusan serdadu. Kita bisa menghubungkan dengan disiplin militer.

Guru IPS atau Guru Sejarah tidak hanya bertugas untuk menyimpulkan hasil diskusi siswa, hasil tugas siswa, kemudian menilainya. Guru diharapkan bisa memberikan informasi-informasi kesejarahan yang belum terungkap untuk memperkaya khasanah pemahaman sejarah siswa, dan membuat suasana kelas menjadi lebih dinamis, kreatif, egaliter, dan demokratis dengan dukungan media pembelajaran berupa in focus, video, gambar lukisan atau foto-foto peristiwa sejarah dengan kata lain guru bisa menghidupkan suatu peristiwa sejarah didepan kelas yang mendekati gambaran sejarah saat peristiwa itu terjadi. Guru tidak hanya duduk tenang menyimak diskusi sejarah siswa, menyimpulkannya bersama siswa, memberikan tugas merangkum dan rangkumannya dikumpulkan tanggal sekian, Guru IPS ataupun Guru Sejarah memiliki tugas kesejarahan untuk merubah kelasnya menjadi kelas sejarah yang dinamis dan kreatif, menjadikan pelajaran sejarah adalah pelajaran yang selalu ditunggu, dicintai, dan disukai siswanya, karena pelajaran sejarah menentukan karakter suatu bangsa di masa kini dan di masa depan. Ujung tombaknya adalah guru.

Cipanas, 10-Pebruari-2020.

*) Yanuar Iwan adalah Guru IPS SMPN 1 Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Pengurus Pengda FKGIPS PGRI Cianjur